
Kedua tangan yang tiba-tiba saja menggebrak meja yang ada di belakangnya Ashera, sontak membuat gadis ini terlonjak kaget dengan sikap Arvin yang lagi-lagi tidak bisa mengendalikan emosinya.
Ya, siapa yang tidak emosi jika Ashera saja mengatakan hal yang cukup membuat Arvin cukup tersinggung, dan sangat tersinggung dengan ucapannya yang benar-benar menurut Arvin, Ashera kali ini cukuplah berani.
Lebih tepatnya, dari manakah nyali dari gadis ini datang?
“Ashera, sebenarnya apa yang sebenarnya kau inginkan? Aku sudah mencoba berbaik hati kepadamu, tapi kau sekarang? Kau sedang mencoba menguras kesabaranku? Aku memang dengan mudah cari perempuan lain untuk menemaniku, tapi kenapa kau yang sedang aku baikin ini malah tiba-tiba jadi melunjak? Sebenarnya kau maunya apa? Hm? Coba katakan sekali lagi apa yang barusan kau ucapkan itu.” bebel Arvin, dia yang hanya punya kesabaran setipis tisu itu pun pada akhirnya tidak bisa menahan emosinya sendiri, sehingga peralatan dan perlengkapan make up yang sempat tertata rapi di atas meja, kini akhirnya bergeser semua, dan bahkan ada yang sampai jatuh, saking kerasnya hantaman tangannya Arvin terhadap meja itu.
Dan karena itu pula, wajah mereka berdua pun benar-benar saling berhadapan satu sama lain.
“Tahu aku punya sifat tidak sabaran, tapi kau bahkan terus saja memancing emosiku.”
“Y-ya…, ya kan, kau kan biasanya melakukannya dengan mereka saja, tapi kenapa juga harus denganku?”
Mendengar jawaban itu, Arvin langsung mengernyitkan matanya. “Kenapa aku harus membuang waktu dengan mengajak orang asing, jika kau saja bisa aku manfaatkan?” tanya balik Arvin sekaligus menjawab pertanyaan Ashera itu.
“H-hahaha, j-jadi aku memang orang yang bisa di manfaatkan olehmu ya?” tanya Ashera dengan senyuman getir.
“Apa kau tidak pernah berpikir kalau pada dasarnya manusia itu adalah orang yang saling memanfaatkan satu sama lain, dan bahasa lembutnya adalah aku dan kau itu saling melengkapi. Aku sedang membutuhkanmu, jadi apa salahnya jika aku menggunakanmu untuk melengkapi kekuranganku?” jawab Arvin dengan sangat jujur, sampai Ashera akhirnya kehabisan kata-kata.
Sebuah pencerahan yang keluar dari mulut berbisa itu, Ashera yang tadinya merasa tersindir sekaligus merasa di rendahkan oleh suaminya sendiri, secara tidak langsung juga dia tiba-tiba saja jadi mendapatkan nasihat yang membuat pikirannya jadi kembali jernih.
Mungkin karena kebiasaan dari Arvin ini yang suka berkata dan bersikap kasar, serta punya hidup yang begitu bebas, Ashera pun terus saja punya pikiran negatif atas diri Arvin ini.
Namun, anehnya yang selalu tidak terduga pada diri dari laki-laki ini, Arvin selalu punya sisi lain yang bisa membangun percaya diri seseorang setelah di katai dengan kalimat yang cukup kasar.
Dan salah satunya apa yang di katakan oleh Arvin tadi, awalnya Ashera nampak malas untuk sekedar mednengarkan hinaan yang diberikan oleh Arvin kepadanya, akan tetapi tak berselang lama kemudian, di dalamnya ada bumbu pujian?
Karena itulah, Ashera pun jadinya kehabisan kata-kata.
“Apa yang aku katakan tadi, aku tarik kembali, maaf.” tutur Ashera, segera menarik kembali ucapannya tadi.
__ADS_1
Arvin awalnya terus menatap wajah Ashera dengan tatapan serta ekspresi yang cukup datar, sampai Ashera langsung salah tingkah sendiri dengan sikap Arvin yang terus membuatnya merasa tidak nyaman itu.
“Aku mau jujur saja, aku sebenarnya tidak begitu suka jika kau terus merasa rendah diri seperti ini, apa kau sadar? Kau itu seperti orang yang terlihat ingin di kasihani. Aku itu menyukai gadis yang punya rasa percaya diri yang tinggi, tapi bukan berarti sampai tidak sadar diri dengan posisinya.
Jika- aku mengatakan jika ini untukumu,” ucapan Arvin di barengi dengan jari telunjuk yang menunjuk persis ke arah dadanya Ashera, dan dia pun berkata lagi : “Jika kau ingin bisa menarik perhatianku sepenuhnya, maka kau harus berusaha lebih keras lagi. Baik dari segi penampilan, ucapan, bahkan sikapmu.
Jangan sok lemah, jadilah seperti Hera. Kepribadiannya yang bar-bar itu, aku justru lebih menyukai gadis dengan sisi seperti itu.
Tapi bukan berarti aku sedang membuatmu seperti dirnya, tapi aku hanya mengingatkanmu agar kau jadi dirimu sendiri tapi punya rasa percaya diri yang tinggi, itulah maksudku, mengerti?” jelas Arvin panjang lebar, bagaikan dongeng pengantar tidur, Ashera pun hanya diam dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban kalau dia paham.
“Tapi- mungkin jika kau mengharapkan itu dariku, hal itu tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat,” jawab Ashera merasa canggung karena Arvin kalau menatap mata orang benar-benar tidak akan sungkan sama sekali, sampai Ashera yang terus ditatap demikian olehnya, jadi merasa salah tingkah sendiri.
Arvin yang tidak berkata apapun itu, seketika menjauhkan wajahnya dari hadapannya dan kembali merapikan pakaiannya sembari berkata : “Terserah, tapi usahakan malam ini jadilah orang gila sekalian, kau aku manfaatkan sebagai tameng. Walaupun aku tidak tahu persis akan berguna atau tidak, tapi lebih baik aku memberitahumu lebih dulu ketimbang tidak sama sekali.” jelas Arvin lagi.
“Aku akan mencobanya,” jawab Ashera dengan antusias.
‘Sebenarnya aku tidak begitu menuntutnya sih, tapi jika dia mau berusha untuk menuruti kemauanku, aku akan benar-benar memujinya.
Kalau begitu biarkan dia memakai parfumku saja, dengan seperti itu mereka pasti akan langsung tahu kalau dia adalah orangku.
Ini tidak masalah, karena kami sudah menyamar dengan cukup baik.’ menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju, Arvin pun segera pergi dari sana untuk mengambil parfum miliknya.
‘Argghh~ Kenapa dia malau membuatku harus memakai make up yang paling aku benci? Aku ingin menghapusnya. Tapi jika itu terjadi, yang ada aku benar-benar akan dimarahi habis-habisan.
Tapi bagaimana laki-laki seperti dia bisa mendandani aku? Lihat ini, bahkan aku seperti bukan diriku saja. Dari mana dia belajar soal make up? Padahal kelihatannya dia orangnya setiap hari pastinya keluyuran.
Tapi ngomong-ngomong soal keluyuran, kira-kira dia akan membawaku kemana?’ pikir Ashera dengan sangat keras.
Tidak lama kemudian, Arvin kembali dengan membawa sebuah botol kaca berwarna hitam.
Seketika Ashera langsung waspada, karena apapun yang Arvin pegang itu bagaikan sebuah senjata, jadi secara refleks saja Ashera pun memasang wajah terkejutnya.
__ADS_1
“Itu apa?”
“Racun,” ketus Arvin, apalagi dengan memperlihatkan wajahnya yang begitu serius itu, Ashera pun jadi semakin salah tingkah sendiri.
“Kau mau membunuhku?”
“Apakah aku harus membunuh orang yang sudah terikat denganku?” tatap Arvin kepada Ashera yang ternyata gadis di depannya itu sungguh, suka dengan permainan ekspresi wajah yang seketika berubah, bahkan lebih cepat ketimbang membalikkan halaman lembar buku. “Jangan pernah berpikir aku akan membunuhmu, sekalipun aku mengatakan tidak suka kepadamu. Aku bukan orang yang seperti itu, kecuali…, mungkin jika aku menemukan alasan lain, karena lawan bicaraku main-main denganku, ceritanya jelas akan berbeda.” imbuh Arvin, dengan bumbu kalimat horornya, Ashera langsung menelan salivanya sendiri.
Merasa malas menanggapi Ashera yang mudah sekali di tipu, Arvin tanpa basa basi lagi langsung membungkukkan tubuhnya ke depan, mengurung Ashera dalam posisinya yang membuat Ashera tidak bisa pergi kemanapun, saat itu juga Arvin pun mengulurkan tangannya kearah Ashera.
Ashera yang refleks memejamkan matanya ketika Arvin mengarahkan botoh berwarna hitam itu ke arahnya, saat itu pula Arvin pun menekan ujung dari botol spray itu tepat ke arah lehernya Ashera.
SPROOT….
‘Dingin?’ penasaran dengan rasa dan roma yang begitu familiar, hal tersebut membuat Ashera akhirnya membuka matanya.
“Racun pemikat, kau sedang menggunakan parfumku,” peringat Arvin.
“Aku kan tidak perlu pakai parfum, lagian itu bukannya mahal ya?”
‘Justru itulah, jika kau tidak memakai parfum, bisa saja aroma tubuhmu secara alami malah menarik perhatian mereka.’ pikir Arvin, mencoba mengantisipasi apa yang ada.
Dari leher kanan lalu kiri, setelah itu Arvin dengan sengaja malah membantu menyemrotkan parfumnya ke tengkuk Ashera, dan setelah itu, ia pun menyemrpotkannya ke bagian pergelangan tangannya Ashera.
Selesai sudah, gadis yang tadinya nampak biasa saja, dengan kinerja dari tangan emasnya, Arvin pun akhirnya bhasil memoles istrinya sendiri dengan tampilan lebih cantik.
Setidaknya harus sesuai dengan levelnya Arvin, itulah yang dia pikirkan kenapa dia dengan sengaja me make over Ashera sendiri.
“Ok, semuanya sudah, sekarang kita tinggal berangkat, hehehe,” tawa Arvin yang tampak di buat-buat itu pun sukses membuat Ashera memasang ekspresi wajah aneh, karena meilhat Arvin begitu girang untuk sesuatu yang bahkan Ashera sendiri tidak mengerti apa yang sedang di pikirkan oleh Arvin ini. ‘Aku dapat uang lagi dari dia, bagusnya aku gunakan untuk itu-’
Sebuah rencana yang baru muncul di pagi hari itu pun akan di laksanakan oleh Arvin sendiri, dan salah satunya dengan membawa Ashera pergi juga .
__ADS_1