Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
146 : Arvin bertemu ...


__ADS_3

Ketika Daseon akhirnya bisa melepaskan satu masalah di sekitarnya, sekarang dia akhirnya tiba-tiba harus menghadapi satu suara parau yang terdengar khas dari satu-satunya orang yang paling Daseon kenal, yang tiba-tiba saja keluar dari speaker handphone nya karena orang ini untuk pertama kalinya di minggu ini akhirnya menghubunginya.


Tapi yang jadi pertanyaannya Daseon saat ini adalah, Ashera baru saja memanggilnya Luna?


Luna adalah orang yang bekerja sebagai asisten sekaligus pengawal pribadi Nyonya besar, sedangkan Daseon sendiri adalah pelayan alias butller dari Tuan muda Arvin, jadi dengan kata lain, jika Ashera memanggilnya Luna, maka artinya Ashera menghubungi orang yang salah!


Apakah Ashera menyadari kesalahan yang di buatnya? Atau Ashera melakukannya dengan sengaja? Mengingat Ashera belum lama ini sebenarnya pernah menyatakan perasaan kepadanya tapi Daseon tolak?


Banyak dari segala perkiraan yang berhasil Daseon tebak hanya dalam waktu hitungan detik itu saja.


"Ad-"


-"K-kak Luna, apa ada obat pereda mual? huekk~"- tanya Ashera detik itu juga, sehingga tanpa sadar Ashera pun berhasil menyela ucapannya Daseon lebih dulu.


Namun, suara parau yang terdengar oleh Daseon itu, sontak membuat Daseon jadi terdiam sejenak, mengira-ngira apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Istri sang Tuan muda nya itu.


Tapi begitu mendengar alasan dari Ashera bisa salah menghubungi seseorang, mungkin karena terburu-buru?


Daseon pun seketika jadi paham betul alasan itu sendiri, yaitu karena Ashera, mual.


Tapi mual yang di maksud oleh Ashera ini adalah karena sakit? atau karena hamil?


Ada dua kemungkinan paling besar dari kondisi yang harus dihadapi oleh Ashera di minggu-minggu seperti ini.


Setidaknya, itulah yang membuat Daseon langsung berpikir lebih keras lagi, karena dia belum pasti apa yang sedang terjadi pada gadis itu.


"Ashera, aku bukan Luna tapi Daseon. Tapi apa alasan tiba-tiba menelepon bertanya obat pereda mual? Dimana Tuna muda?" Daseon bertanya untuk memastikan. Tentu saja dia tidak begitu peduli dengan pikiran Ashera yang bisa saja langsung menyadari suaranya yang ternyata bukan Luna yang di harapkan oleh Ashera atau tidak.


-"Aku tidak tahu, aku mencarinya seisi rumah tapi tid- huekk... Tidak ada di rumah. Sedang jalan-jalan sendirian mungkin,"- jawaban Ashera pun memicu Daseon untuk lebih penasaran kemana perginya sang Tuan muda, padahal yang ada di rumah, Ashera yang justru sekarang sedang meminta bantuan.


"Apa kau sudah makan?" tanya Daseon.

__ADS_1


-"Aku tidak berselera makan, tiap kali makan aku hanya ingin muntah,"- sahut Ashera lagi. "Huekk~ Katakan kak, obat apa yang harus aku minum?"- tanyanya.


"Kau tunggu saja di situ, aku akan kesana," jawab Daseon, dia segera memakai jas hitam miliknya dan bergegas pergi dari hotel menuju Villa yang terletak di selatan kota Seoul.


____________


Di tempat lain, setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, dia pun akhirnya sampai di sebuah danau besar, tepatnya adalah Danau Seokchon Lake yang tidak jauh terletak di kota Seoul.


Danau buatan yang memiliki kesan alam yang cukup melekat tapi masih memiliki pemandangan dari gedung-gedung pencakar langit, membuat banyak orang datang ke sana di bulan-bulan seperti ini.


Alasannya bahkan cukup sederhana, karena bunga sakura di sana memang sedang mekar-mekarnya, sehingga cukup cocok untuk mereka yang ingin menghabiskan waktu untuk berkencan atau lebih bagusnya adalah saling melepaskan rasa rindu mereka terhadap seseorang yang mereka anggap Istrimewa.


"Vani," panggil Arvin, berjalan menghampiri Vani yang rupanya sudah menunggu di dalam cafe yang tidak jauh dari sana. Tentu saja karena bangunannya bertingkat, mereka berdua bisa melihat danau itu dengan jangkauan lebih luas.


Arvin mengharapkan bisa datang kesini juga, tapi kalau bisa sendirian saja, karena ia sedang ingin ketenangan.


Tapi sepertinya itu tidak bisa mengharapkan hal itu untuk beberapa jam kedepan, karena sekarang dia memiliki pertemuan pribadi dengan mantan pacarnya sendiri di sini.


"Arvin, duduklah, kau mau pesan apa?" tanya Vani, sambil melambaikan tangannya ke salah satu orang pelayan.


"Pesan Jajangmyon 2, Jjampong 1, dan dua gelas jus jeruk," ucap Vani kepada pelayan tersebut.


Setelah memesan makanan kepada pelayan tersebut, Vani dan Arvin pun akhirnya mendapatkan momen mereka berdua untuk saling bertukar pandang, seraya sesekali melirik ke arah jendela luar, yang memperlihatkan pemandangan yang cukup indah.


"Apa kau memang sengaja datang kesini untuk liburan?" tanya Vani untuk membuka suara diantara keheningan yang terjadi diantara mereka berdua.


Arvin yang baru saja di suguhi dengan jus jeruk itu, dia pun segera mengambilnya dan meminumnya, tanpa membuat matanya teralihkan dengan pemandangan yang ada di luar sana.


"Ya iya lah, memangnya kenapa? Apa kau datang kesini juga karena tahu aku liburan kesini?"


"Heh, percaya diri sekali aku datang kesini untuk mengikutimu. Aku pergi kesini itu untuk memesan alat medis pada salah satu rumah sakit di sini, jadi aku harus melihatnya secara langsung, cara kerja dan baru beli ke tempatnya langsung." balas Vani.

__ADS_1


Sama seperti Arvin yang terlihat sedang mencoba menikmati pemandangan di depan sana, Vani pun mencoba untuk mengikuti apa yang di lakukan oleh Arvin itu, agar dirinya tidak terlihat seperti benar-benar sedang mengharapkan pertemuan ini, walaupun sebenarnya memang sangat berharap.


Tapi mau bagaimana pun, dia harus menyembunyikan niat itu dari laki-laki yang pernah jadi pacarnya itu kan?


"Hmm...ok, tapi apa kita bisa membahas alasan darimu yang tiba-tiba saja mengajakku kesini?" tanya Arvin detik itu juga, tidak mau begitu berbaik hati untuk mendengar basa-basi dari Vani lagi, karena baginya sekarang tidak ada hubungan apapun diantara mereka berdua kecuali dua orang yang pernah kenal, pernah pacaran, juga tentu saja yang paling penting adalah berpisah.


"Kau ternyata banyak berubah ya?" gumam Vani dengan senyuman lemah, karena dia dengan jelas merasakan kalau Arvin ini tidak lagi begitu menganggapnya siapa-siapa lagi, selain mantan pacar saja.


"Anak kecil saja bisa berubah dari pendek jadi tinggi, jadi kenapa aku tidak bisa berubah? Dulu memang, yah...terlalu polos untuk mengejarmu sampai menyatakan perasaan di depan kelas, tapi setidaknya berkat hari itu, aku jadi seperti ini. Apa kau kecewa kalau aku berubah, karena apalagi jika kau mengharapkan untuk membuatku jatuh cinta lagi padamu, itu jelas tidak mungkin, " jawab Arvin dengan culas.


"Arvin, kata-katamu kasar juga ya, Jadi sakit hati deh." sela Vani dengan cepat. "Tapi tenang saja, karena kau sudah mengatakan kalau tidak mungkin balik denganku, maka aku tidak mempermasalahkannya juga. Aku terdengar seperti wanita licik ya?"


"Atas, tengah, bawah, wajah, sudut matamu, dan senyuman yang terlihat lemah ingin memelas," Arvin tiba-tiba memperhatikan penampilan dari Vani yang memang karena pada dasarnya cantik, dia tidak bisa melihat kekurangan dari wanita di depannya itu, selain niat yang sudah di katakan dengan jelas oleh Vani itu, tentunya. "Kau memang terlihat sudah punya niat licik untuk menggangguku, apa kau bahkan punya paparazi agar saat aku keluar dari sini, aku akan terlihat seperti orang yang sedang berkencan denganmu?" tambahnya.


DEG....


"Arvin, aku mana mungkin punya niat yang seperti itu. Aku jelas-jelas punya alasan kenapa aku memanggilmu kesini, itu karena aku ingin memberikan ini kepadamu, Ok."


Vani pun tiba-tiba saja memberikan kotak cincin yang pernah Arvin kembalikan kepada Vani.


"Ya ampun, Vani! Kau itu-"


Tidak bisa marah-marah di depan umum karena yang menjadi sorotannya adalah Vani adalah orang yang terlihat akan menjadi korban dari alasan paling sepele yang pernah ada, Arvin pun langsung tutup mulut, meredakan rasa kesal di dalam dada, dan segera mengambil cincin itu dari atas meja.


"Aku sudah bilang untuk membuangnya, tapi kau bisa-bisanya ingin membuatku bertemu denganmu disini, hanya karena cincin saja. Apa kau tidak pernah berpikir kalau aku bisa saja tidak jadi datang karena aku lebih sibuk dari pada yang terlihat?" bebel Arvin, dia benar-benar merasa di permainkan oleh Vani yang memang suka seenaknya, dan sering tidak mudah di tebak itu.


"Arvin, apa salahnya aku ingin bertemu denganmu sih? Hanya satu dua jam saja, apa kau mau sampai semarah itu denganku karena pertemuanku yang di dasari alasan cincin itu?" balas Vani di saat yang bersamaan. "Padahal jika kau memang tidak ingin bertemu denganku, kau kan kemarin tinggal menolak pertemuan ini kan? Tapi apa? Buktinya kau bahkan bisa datang tepat waktu. Bukankah artinya kau juga punya perasaan yang sama, yaitu ingin bertemu denganku" imbuhnya.


'Vani, dia suka sekali ya, bersilat lidah denganku.' pikir Arvin, dia pun jadi terdiam tanpa bisa mengatakan apapun selain helaan nafas yang cukup kasar juga panjang, saking kesal, juga dirinya yang sudah kehilangan kata-katanya.


Vani yang merasa bangga karena menang debat dengan anak di depannya itu, dia pun tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Sudahlah, jika tujuanmu hanya seperti ini, ingin bicara dan debat denganku, lebih baik aku pergi," tapi ketika Arvin selesai bicara, dan hendak beranjak dari sana, tiba-tiba saja dia langsung di cegat dengan cengkraman tangannya Vani.


"Tunggu, apa kau tidak mau menghabiskan beberapa waktu denganku untuk naik perahu di danau?" tanya Vani, ingin mengulas masa lalu mereka berdua di tempat yang sama itu.


__ADS_2