
"Bukankah Tuan terlalu kejam hanya untuk sekedar uang satu juta yang sudah anda buang itu?" Tanya Daseon, berdiri di tepi jendela dan menghadap ke arah bawah.
Saat ini Daseon sedang berada di dalam apartment milik Tuan muda nya itu.
Jika bukan karena teriakan yang sempat Daseon dengar beberapa waktu lalu, karena Ashera dan Arvin sempat bertengkar di balkon, saat ini tidak mungkin Daseon harus repot-repot pergi untuk memastikan kondisi dari Tuan muda nya itu.
"Apa kau menyuruhku untuk peduli dengan pelayan itu?" Tanya Arvin, membuat Daseon langsung meliriknya.
Saat ini, tanpa peduli apa yang sedang Ashera lakukan, Arvin kini sedang sarapan pagi, berkat Daseon yang datang dengan membawa makanan untuknya.
"Ya, setidaknya Tuan muda harus tahu, bahwa nantinya jika suatu tidak terduga terjadi kepada anda, apakah anda mampu untuk menutupi hubungan anda dan Ashera yang bahkan tidak terlihat ada baik nya sama sekali." Jelas Daseon, lalu menutup tirai jendela tersebut.
SRAKK.....
Daseon kemudian menyerahkan kembali cincin pernikahan yang sempat Arvin buang itu di samping kiri Arvin yang sedang duduk di depan meja makan.
Arvin terdiam, dia mengurungkan niatnya untuk memakan sesuap nasi lagi, ketika Daseon tiba-tiba menyerahkan cincin yang sempat Arvin lempar tadi.
"Meskipun kau mengatakan itu-" Arvin terdiam sejenak, mengolah kata yang akan keluar dari mulutnya itu. "Setiap kali aku berhadapan dengan pelayan itu, rasanya aku ingin terus memarahinya.
HIdupku berubah 180 derajat, kau pikir itu gampang? Maksudku kau pikir ini mudah untuk aku jalani?
Karena dia, aku harus menyerahkan masa mudaku dengan pernikahan paksa seperti ini. Padahal aku jelas ada perempuan yang aku sukai. Pernikahan tanpa cinta, betapa menyiksanya itu." Ungkap Arvin. Secara spontan, ia pun mengungkapkan kegelisahan yang ia simpan dalam tiga hari ini.
Itulah yang membuatnya begitu emosi, setiap kali melihat wajahnya Ashera, tentunya. Baik di saat wajah saat menjadi pelayan biasa, maupun di saat wajah itu diberi make up dalam upacara resepsi sederhana yang diselenggarakan kemarin.
"Jadi maksud anda, jika Ashera adalah perempuan yang tiba-tiba anda cintai, apakah anda akan memperlakukannya dengan cukup baik layaknya anda memberikan banyak kebaikan kepada semua perempuan yang pernah anda gunakan untuk main-main?" Tanya Daseon.
Daseon, sebagai pelayan pribadi nya Arvin, jelas dia tahu seperti apa sifat dari majikannya itu.
Seorang pria yang sering bergonta ganti perempuan layaknya baju sekali pakai, sudah ada di dalam diri Arvin sendiri.
Maka dari itu, menjalani hubungan paling serius, adalah sesuatu yang masih belum bisa Arvin ampu.
________________
__ADS_1
TOK...TOK...TOK....
Daseon dan Arvin pun menoleh ke arah pintu.
"Saya akan membukanya." Kata Daseon, kemudian pergi untuk membukakan pintu apartment itu.
KLEK.....
"Kenapa anda mengetuk pintu?" Tanya Daseon terhadap Ashera yang sudah setengah basah kuyup.
"Saya tidak tahu nomor sandinya." Jawab Ashera dengan lirih. Ia bahkan tidak berani untuk menatap wajah Daseon yang terkejut itu.
Sama hal nya dengan Daseon, Arvin yang sedang minum air, spontan menghentikan acara minumnya.
Sebuah jawaban yang menyatakan kalau Ashera tidak tahu nomor sandi pintu rumah, menjadi bahan pemikiran mereka berdua.
Apalagi Arvin yang teringat dengan beberapa puluh menit lalu, Ashera juga mengetuk pintu apartment nya seperti yang dilakukannya tadi, itu sudah jelas menandakan kalau Ashera semalam tidak masuk kedalam rumahnya.
'Apa aku harus bersalah tentang itu?' Detik hati Arvin, berusaha untuk tidak menggubris bahwa satu fakta menyatakan kalau semalam di saat Arvin tidur sampai bangun pagi, Arvin memang benar-benar sendirian di rumah tersebut, tanpa mengingat kalau ada satu orang yang seharusnya masuk kedalam rumahnya juga. 'Jangan pikirkan itu, toh dia baik-baik saja.' Batin Arvin lagi, lalu lanjut minum.
"Silahkan masuk." Tawar Daseon, mempersilahkan Ashera masuk.
Kenangan miliknya, traumanya, masih tertinggal, makannya entah apa yang sedang Arvin dan Daseon lakukan dengan terus menatap ke arahnya, Ashera hanya terus berjalan masuk lebih dalam ke dalam rumah.
"Aku sudah membeli semua bahan makanan untuk dua hari ke depan. Jika bahannya dirasa kurang bagus, bisa di buang, nanti aku akan berusaha pergi ke supermarket." Ucap Ashera tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
Dia pun meletakkan kantong plastik besar di atas meja depan sofa.
"Lalu, apa aku bisa pinjam kamar mandinya?" Bahkan tanpa nada tinggi ataupun rendah, suara yang jelas, tapi seperti tidak memiliki warna, Ashera pun meminta izin kepada pemilik rumah tersebut untuk meminjam kamar mandi yang akan Ashera gunakan untuk mandi sekaligus membersihkan jaket yang ada di kantong plastiknya juga.
'Jangan-jangan itu memang sangat berharga. Aku belum pernah sekalipun mendapatkan respon secuek itu kepadaku, walaupun hanya berpapasan dengan orang lain. Ini pertama kalinya. Dia-' Arvin pun menghentikan pemikirannya itu, dia mundur dan duduk kembali ke kursi dari meja makan yang ada di belakangnya itu.
'Jaket itu, aku pernah melihatnya. Seorang pria yang selalu memakai jaket coat coklat, entah kemanapun pergi. Jaket itu bahkan pernah pria itu gunakan untuk menghangatkan tubuhku yang saat itu sedang demam tinggi. Jaket penuh kenangan ya?' Deseon pun jadi merasa bersimpati dengan Ashera yang terlihat sangat terpukul karena jaket mendiang Ayah nya, sudah sangat kotor karena terlindas ban dari banyaknya kendaraan yang lewat.
Daseon memang sempat melihat jaket yang digunakan oleh Ashera dibuang dan terlindas, tapi ia baru menyadarinya kalau jaket itu milik dari pria yang dulu pernah merawat Daseon ketika Daseon sakit.
__ADS_1
"Anda boleh menggunakannya. Lagi pula rumah ini sama saja dengan milik anda, jadi anda tinggal gunakan saja sesuka hati anda." Jawab Daseon atas pertanyaan yang sebenarnya di tunjukkan untuk Arvin, tapi karena Arvin sediri seperti sedang mengalami mode untuk mikir keras, juga antara Arvin terlihat sedang merasa bersalah?
Entahlah, Daseon hanya menggantikannya berbicara, itulah yang bisa ia lakukan saat ini.
“Terima kasih.” Ucap Ashera. Bahkan meskipun ia sudah mendapatkan izin, Ashera masih enggan untuk bertatap muka secara langsung dengan Arvin yang sudah membuatnya luka di dalam.
“Ada dua kamar mandi, di atas dan di bawah. Jadi anda tinggal pilih saja.” Daseon menambahkan.
Ashera hanya diam sambil memeluk jaket yang sudah ada di dalam kantong plastik.
Dan seperginya Ashera, Daseon yang masih begitu memperhatikannya sampai Ashera akhirnya memilih kamar mandi yang ada di atas, Daseon langsung mengalihkan pandangannya ke arah sang Tuan muda.
“Apa anda mau marah soal saya yang mengizinkannya menggunaan kamar mandi atas dan bawah?” Lirik Daseon, mencari jawaban oleh si pemilik Apertment.
“Aku sedang dalam suasana hati yang lebih buruk dari semalam. Aku lelah berdebat lagi. Jadi jangan mengajakku bicara lagi.” Jawab Arvin tanpa memperdulikan soal Daseon yang lagi-lagi mencuri-curi pandang dengan senyuman tipis yang langsung menghilang selepas Arvin hampir menangkap perbuatan Daseon yang selalu saja mencurigakan itu.
‘Ternyata dia kalau marah akan lebih suka diam seperti itu.. Yah, itu lebih baik ketimbang dia terus mengomel tidak jelas.’ pikir Arvin, menyesap kopi karamel yang diberikan oleh Daseon.
‘Kelihatannya Tuan muda tidak waspada, kalau aku memberikannya kopi yang ada di termos itu.’ Dalam diam Daseon jadi ingin tertawa sendiri, sebab Tuan muda nya pura-pura dalam mode sombong, sampai tidak memperhatikan apapun yang sudah Daseon lakukan terhadap air kopi yang sudah sempat Arvin tolak saat ditawari oleh Ashera, tapi pada akhirnya masih mau meminumnya.
__________
Di dalam kamar mandi.
Ashera sudah berjongkok didalam kamar mandi, dan menjembreng jaket yang sudah kotor itu.
‘Apa aku bisa membersihkan semua noda ini?’ Tatap Ashera terhadap jaket yang sudah menjadi harta paling berharga yang pernah ada. Tapi semuanya harus kandas setelah jaket tersebut kotor, selepas dianiaya oleh semua orang.
Ashera mengeluarkan sikat pakaian, sabun, serta beberapa produk yang kemungkinan untuk menghilangkan noda pakaian.
Dan Ashera benar-benar memerlukan waktu yang cukup lama untuk membersihkannya, sampai sekian lama waktu berlalu, hasil akhirnya ia tidak mampu menuntaskan semua noda itu.
Dalam kondisi tubuh sudah benar-benar berkeringat banyak, Ashera pun kembali menangis. Dia membayangkan kalau noda yang tidak mampu Ashera hilangkan itu cukup sama persis ketika dulu kedua tangannya berlumuran darah milik sang Ayah, dan sekalipun sudah terkena air hujan, tepat di waktu setelah kecelakaan itu terjadi, darah yang ada di kedua tangannya pun sama sekali tidak bisa hilang.
Sehingga, Ashera pun diam-diam selalu membawa trauma itu.
__ADS_1
‘Hiks….hiks…maafkan aku Ayah, aku tidak bisa membersihkan jaket Ayah. Aku tidak bisa.’ Benak hati Ashera yang paling dalam, kemudian memeluk jaket yang masih basah itu.
Sebuah kerinduan yang tidak mampu dia dapatkan kembali, karena jaketnya masih dipenuhi dengan noda.