
"Arvin, lepaskan!" Ashera mendorong bahunya Arvin, agar pria ini segera pergi menjauh dari dirinya.
Diam tapi berulah, Arvin yang tidak menjawab apapun yang dikatakan oleh Ashera itu, justru malah menaikkan kaki kirinya itu ke atas pahanya Ashera, dan tangan kiri Arvin yang berada di punggung Ashera itu, segera menarik tubuh Ashera lagi agar tubuh mereka berdua saling menempel satu sama lain.
"Arvin! Ahh! Lepas, itu geli, hahahaha..tunggu, itu hah..hah, Arvin, jangan- e-ei...tidak!" Ashera terus saja meracau di saat wajah Arvin yang berada di depan dadanya persis, tiba-tiba saja menyambut salah satu asetnya itu untuk di lahap oleh Arvin, dan hasilnya Ashera yang benar-benar merasakan geli yang cukup luar biasa itu, mulai kehilangan akal.
"Heimh...ini enak," Arvin yang memang diam-diam itu terkenal nakal dan juga pernah berbuat ini dan itu dengan perempuan lain, dia pun tanpa sungkan memperlakukan Ashera dengan sedemikian rupa, hingga akhirnya Ashera yang tak kuasa untuk menahan geli dan juga trauma dari ingatan miliknya yang bahkan masih belum sembuh itu, seketika itu juga kakinya akhirnya turun tangan.
DHUAKK...
"Arghh!"
Kwak...! Kwak...!
Teriakan dari Arvin pun berhasil membuat sebagian besar dari burung camar yang ada di luar rumah itu langsung berhamburan terbang pergi.
_____________
"Fajar, kira-kira kita mau pergi kemana?" tanya Yuli kepada Fajar yang baru saja memakai blazer berwarna abu, sehingga pria tinggi yang memiliki status sebagai wakil ketua Osis ini nampak seperti seorang model.
"Aku sih terserah kalian berdua, lagi pula yang mengajakku kan kalian berdua juga," jawab Fajar, lalu dia memakai parfum di beberapa tempat bagian tubuhnya.
Alfian dan juga Yuli pun saling pandang satu sama lain, karena melihat Fajar ini malah memilih untuk mengikuti saja, ketimbang memberikan rekomendasi tempat-tempat yang bagus kepada mereka.
"Fajar, disini yang lebih tahu tempat-tempat yang bagus itu kan kau, kenapa malah bilang terserah pada kami? Asal kau tahu ya, aku mengajakmu bukan sekedar membuat kau itu ikutan liburan dengan kami berdua, tapi karena selain kau satu-satunya teman kami yang paling bagus, kau juga satu-satunya orang yang bisa membantu masalah liburan kami juga.
Jadi kami berdua ingin kau merekomendasi tempat bagus kepada kami, itulah tujuanmu loh ya," ucap Alfian panjang lebar, membuat Fajar yang baru saja selesai bersiap itu, langsung bengong.
"Dengan kata lain, aku ini aset untuk jadi penerjemah untuk kalian berdua juga ya?" tanya Fajar tanpa ragu.
"Heheh, seperti itulah tujuan kami berdua membawamu ikut dengan kami. Lagi pula ya, dari pada kau terus-terusan belajar di rumah atau di tempat les, yang setiap orang saja pasti akan punya titik jenuh, jadi ini juga kesempatan terbaik untukmu bisa liburan juga, ya kan?" imbuh Alfian lagi.
Dengan dijelaskannya alasan dari Alfian dan Yuli mengajak Fajar pergi bersama mereka berdua, Fajar tiba-tiba jadi terkekeh.
"Ternyata begitu, aku bahkan sampai tidak sadar kalau kalian berdua benar-benar memperhatikanku, terima kasih.
Kalau seperti ini, aku setidaknya bisa punya alasan lagi kenapa aku bisa berada di sini kepada seseorang, ayo, ikut aku, nanti aku tunjukkan tempat yang bisa membuat kalian serasa seperti sedang bulan madu berdua," jawab Fajar dengan panjang juga.
Hingga jawaban Fajar yang begitu lugas itu, membuat Alfian dan Yuli refleks jadi langsung tersipu malu.
__ADS_1
"Fajar, kau bisa jaga mulutmu itu kan?"
"Pfft, sayangnya tidak bisa. Lagian aku iri juga dengan kalian berdua seperti amplop dan perangko, jangan buang waktu lagi, aku akan memberikan tour terbaik untuk kalian berdua, ayo pergi," goda Fajar kepada dua orang sejolin yang sudah tidak dapat di pisahkan itu.
_____________
"Aduh, kenapa tendanganmu itu bisa kuat sekali? Apalagi yang kau tendang itu aset milikku. Kalau aku punyaku ini bermasalah bagaimana? Apa kau mau tanggung jawab?" tunjuk Arvin kepada satu adik miliknya yang tersimpan rapi di dalam celananya.
"Y-ya, itu kan salahmu sendiri, kenapa kau seperti itu? Padahal aku sudah hampir melupakan kejadian waktu itu, tapi gara-gara kau yang berulah itu, aku jadi ingat lagi," di balik perbuatannya yang refleks menendang satu-satunya aset milik Arvin yang berharga itu, sebenarnya dia pun terbesit rasa bersalah yang cukup, yah.., lumayan besar juga.
Tapi jika saja Arvin tidak melakukan hal yang membuat ingatannya itu memicu kilatan memori kelam miliknya di hari itu, dia tidak mungkin akan refleks membela diri sampai menggunakan kakinya untuk menendang Arvin sampai terjatuh dari tempat tidurnya sendiri.
Bahkan saat Ashera mengatakan alasannya, Ashera pun mengepalkan tangannya dengan kuat, saking dia harus menahan rasa malu, sakit, juga aib yang dia buat sendiri dengan cucu dari majikannya sendiri.
Itu benar-benar aib paling besar yang bisa saja mempengaruhi reputasi keluarga Ravarden, jika ada yang tahu fakta dari hubungan mereka berdua yang sebenarnya.
Sampai Arvin, dia pun jadinya terdiam.
'Walaupun aku ingin mengatakan alasan kalau aku tidak bermaksud untuk membuatnya ingat dengan kejadian waktu itu, di sini jelas yang salah juga aku sendiri.
Haishh, ujung-ujungnya aku juga yang salah.
Tendangannya juga cukup kuat, dan ini masih cukup sakit.' dan Arvin pun benar-benar pergi ke rumah sakit bersama dengan Ashera.
Setidaknya sekalian saja membawa Ashera untuk segera di periksa.
____________
"Hoh~ Siapa itu? Walaupun dia pakai masker, aura dari wajah rupawan nya sama sekali tidak bisa di tutupi."
"Apa dia artis ya?"
"Kenapa kau tidak tanya saja sendiri?"
Para suster dari salah satu rumah sakit yang ada di kota Seoul itu, secara serentak menatap kedatangan dari Arvin yang baru saja berjalan melewati mereka semua.
Tapi harapan bahwa kalau Arvin pergi sendirian dan masih lajang, itu salah besar. Karena Ashera yang datang bersama dan berjalan di belakangnya persis, membuat banyak perawat yang ada di sana memutuskan untuk diam dengan terus memperhatikan dua orang asing yang sama-sama memakai masker.
'Lagi-lagi tatapan mata mereka itu, aku salah mengira kalau korea adalah tempat yang ramah.' detik hati Ashera. Entah di manapun dirinya berada, jika ada Arvin dan di situ juga ada dirinya juga, Ashera pun akan benar-benar mendapatkan tatapan yang cukup menyiksa mentalnya. 'Aneh, padahal mereka juga tidak melakukan apapun kepadaku, tapi kenapa aku justru takut dengan tatapan mereka semua?
__ADS_1
Lagi pula di sini juga ada Arvin, jadi seharusnya aku tidak terpengaruh dengan sudut pandang mereka tentangku juga, ya kan?
Apalagi di tambah karena aku tidak mengerti apa yang mereka katakan saat ini, ini juga jadi keuntungan untukku untuk tidak memperdulikan apapun yang mereka katakan kepada kami berdua.'
Dengan pikirannya yang seperti itu, Ashera pun perlahan jadi bisa menikmati perjalanannya saat harus mengikuti laki-laki yang ada di depannya itu.
Setelah melewati lorong dari koridor rumah sakit yang sedang mereka berdua kunjungi, Arvin akhirnya berhenti pada salah satu pintu dari satu ruangan yang menjadi tujuannya kali ini.
'Apa yang sebenarnya dia lakukan sampai harus pergi ke rumah sakit?' kata hati Ashera.
KLEK....
"Selamat datang Tuan,"
"Ya, aku ingin periksa milikku ini apakah masih berfungsi atau tidak," dengan percaya dirinya yang cukup tinggi itu, Arvin pun benar-benar mengatakan apa yang terjadi sebenarnya kepada dokter yang sudah dia hubungi itu untuk temu janji pagi ini.
"Ya? Apakah ada sesuatu yang sudah terjadi kepada anda sampai harus datang kesini"
"Jelas lah dok, jika bukan karena dia yang pagi-pagi bangun tidur, tiba-tiba menendang milikku, aku mana mungkin ingin melakukan pertemuan denganmu," jawab Arvin dengan begitu lugas, sampai dokter muda yang masih berumur 25 tahunan itu langsung melirik ke arah Ashera yang masih berdiri di ambang pintu dan tengah celingukan ke kanan dan kiri untuk melihat kondisi dari ruangan tersebut.
"Jadi karena alasan itulah anda datang kesini ya? Hmm, tapi jika anda sampai di tendang oleh kekasih anda, berarti anda pasti melakukan hal yang tidak seharusnya anda lakukan, ya kan?" tanya dokter ini kepada Arvin.
Ya, Arvin yang terdiam itu pun tidak mampu untuk menyangkalnya, sebab apa yang di katakan oleh dokter itu, memang benar adanya.
"Kalau begitu mari ikut saya," pinta dokter ini kepada Arvin.
Arvin pun melepaskan mantel coat nya, dan pergi bersama dengan dokter tersebut untuk melakukan pemeriksaan.
'Dia diperiksa apanya sih? Kenapa aku penasaran ya?' Ashera yang dari tadi terdiam itu, karena penasaran dengan apa yang sedang di lakukan oleh Arvin itu, dia diam-diam pun pergi mengikuti mereka berdua.
Dokter ini sebenarnya terkejut karena Ashera yang dia pikir adalah kekasihnya Arvin ini tiba-tiba saja mengikutinya, dia pun sempat bertanya, "Tuan, kekasih anda mengikuti kita,"
"Biarkan. Jika dia takut, dia akan kabur sendiri," jawab Arvin.
Lalu begitu dokter tersebut tengah memakai sarung tangan medis, Arvin yang tiba-tiba duduk di tempat tidur pasien, serta membuka ikat pinggang serta menurunkan sedikit CD, Ashera yang terkejut dengan pemandangan itu pun sontak langsung kabur.
'A-apa yang barusan aku lihat tadi ha?! Ya ampun Ashera, kenapa matamu jadi kemabli ternodai?!' pekik Ashera dalam hatinya.
Arvin yang melihat keterkejutan di wajah Ashera, hanya terkekeh.
__ADS_1