Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
111 : Masalah


__ADS_3

Dalam posisi itu, Arvin segera memacu gas motornya sampai ke angka 100 km/jam dan akan semakin meningkat jika di depan, jalanan cukup lengang, dan akan menurun saat ada mobil yang menghalanginya.


'Kenapa aku terpicu dengan taruhannya itu? Aku tidak mau kalah darinya,' pikir Arvin, dia pun segera menarik gas motornya lebih dalam lagi, mengejar waktu dan di kejar taruhan yang dia buat dengan Ashera.


BRRRMMM.....!


____________


KLEK...


Pintu yang semula tertutup itu akhirnya terbuka, begitu sebuah dorongan yang cukup kuat, berhasil membuat si pemilik rumah masuk kedalam.


"Hah...hah..hah.." deru dari nafasnya yang memburu itu, sukses membuat Arvin segera berlari ke arah sofa dan duduk dengan sembarangan, lalu dia pun berteriak, "Ashera! Aku yang menang!"


Teriakan yang terdengar seperti ingin membuat keributan dengan Ashera lagi.


Hanya saja, di sela-sela dirinya saat ini sedang mengatur nafasnya yang terengah-engah, teriakannya itu sama sekali tidak di sahut oleh si empu.


'Terus saja seperti ini? Setiap kali aku pulang, dia justru tidak ada," gerutu Arvin. Karena sempat berlari sampai menguras tenaga, dia pun memejamkan matanya sesaat, sebelum dia akhirnya membuka kelopak matanya dan bangkit dari tempat duduknya. "Ashera! Kau tidak usah sok diam, bersembunyi seolah kau belum pulang, keluar sekarang jika kau memang sudah ada di sini," kata Arvin, setidaknya dia ingin mengecek keberadaan dari Istrinya tersebut.


Namun, begitu Arvin menggeledah rumahnya itu, dan mencarinya ke seluruh tempat yang bisa dia cari, Arvin pun benar-benar sama sekali tidak menemukan batang hidung dari perempuan tersebut.


"Huh, selalunya ya," gumam Arvin, lalu dia pun mengeluarkan handphone miliknya dari saku blazer nya, dan mencoba untuk menghubungi Ashera.


"Nomor yang ada hubungi, sedang tidak aktif, silahkan hubungi beberapa saat lagi,"


"..." Arvin pun sempat melongo, karena nomor yang di hubungi itu sama sekali tidak aktif? Tapi, mau berapa kalipun mencoba, pada akhirnya memang tetap tidak bisa di hubungi. 'Apa handphone nya kehabisan baterai?'


Satu pertanyaan yang kemungkinan besar yang sering terjadi pada semua orang yang tidak begitu memperhatikan isi dari baterai handphone nya sendiri.


'Dia bukan orang yang akan melanggar peraturannya sendiri jika dia tidak terkena masalah di jalan,' benak hati Arvin, menatap layar handphone nya sendiri dengan begitu serius, belum sampai lima menit di dalam rumah, Arvin dengan cepat segera melangkah keluar dari rumah.


BRAKK....

__ADS_1


Menutup pintunya dengan begitu kasar, Arvin melangkahkan kakinya dengan langkah lebar juga cepat, menuju pintu lift.


Tapi di saat yang sama, ketika lift yang dia tunggu itu sampai dan membukakan kedua pintunya untuknya, dia langsung di hadapkan dengan Daseon.


Tepat sebelum Daseon angkat bicara, Arvin dengan cepat segera masuk kedalam lift dan bertanya : "Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?"


'Kenapa Tuan muda terburu-buru? Atau jangan-jangan Tuan muda bertengkar lagi dengan Ashera?' terka Daseon, dan segera menyahut pertanyaan dari Tuan muda nya itu. "Saya hanya ingin memberitahu, kalau semua keperluan anda untuk terbang keluar negeri sudah siap, dan hanya tinggal memberikan ini kepada anda,"


Daseon pun memberikan dua tiket, paspor, dan beberapa dokumen serta identitas dari mereka berdua.


Melihat dua tiket itu sudah ada di depan matanya, yang mengartikan kalau apa yang di katakan oleh neneknya itu benar-benar terjadi, Arvin pun tidak bisa menolaknya.


"Karena aku akan pergi keluar lagi, kau pegang dulu," namun, karena sekarang dirinya sedang dalam kondisi yang cukup mendesak, dia pun menolak untuk menerima tiket itu, karena dirinya akan pergi lagi.


"Tapi, apa anda pergi keluar karena ingin mencari Ashera?"


"Anggap saja begitu," ketus Arvin.


TING....


"Kelihatannya Tuan memang perlahan sudah mulai berubah. Meskipun hanya dari segi perhatiannya saa, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Tuan sedikit-demi sedikit peduli," kata Daseon pada dirinya sendiri.


Dikarenakan majikannya itu pergi, dia pun segera menyimpan kembali dua tiket itu kedalam saku jas miliknya, dan memeluk dokumen yang ia pegang itu kedalam pelukannya, sebelum akhirnya kedua pintu lift itu kembali tertutup, dan membawa Daseon naik kembali ke atas.


__________


"Nomor yang anda hubungi, tidak bisa di hubungi. Silahkan coba sesaat lagi,"


Lagi-lagi mendapatkan pesan singkat dari operator, Arvin pun tidak bisa menghubugi orang yang yang harus dia tanyakan keberadaannya.


BRRMMM...........


'Padahal aku hanya tinggal menunggunya pulang, tapi bisa-bisanya aku malah pergi mencarinya.' gerutu Arvin, dengan kecepatan tinggi, dia pun mengendarai motornya membelah jalanan kota.

__ADS_1


DRRTT...


DRRTT....


Sampai Arvin tiba-tiba saja mendapatkan telepon dari seseorang, Arvin yang pada dasarnya selalu memakai earphone nirkabel, tanpa membuat dirinya harus berhenti di tengah jalan, dia pun menjawab panggilan itu.


"Halo, ada apa menghubungiku?"


-"Arvin, apa kau tidak mau melakukan apapun kepada orang ini?"- tanya Arin, orang yang menjadi teman dari kelompok khusus miliknya, yang diam-diam dia bentuk.


Arvin ingat, sebenarnya dia sedang menyembunyikan seseorang yang berhasil dia tangkap, yaitu pria asing tak di kenal, yang di duga adalah seorang dokter.


Namun, di sini sayangnya ada yang lebih penting lagi, yaitu dirinya harus pergi mencari Ashera.


"Ah, Arin. Aku akan pergi ke sana malam nanti, tapi ada satu hal yang harus kau lakukan sekarang," sahut Arvin, dia yang sedang mengendarai sepeda motornya, dia pun segera mengambil lampu sen ke arah kanan.


-"Memangnya apa lagi yang harus aku lakukan? Cepat, jariku ini sibuk,"- ucap Arin dengan sedikit ketus dan terkesan tergesa-gesa.


"Retas Cctv kota, cari Ashera sekarang ada di mana, hanya itu yang harus kau lakukan. Dan, jangan tanya apapun," jawab Arvin seraya memperingatkan Arin agar tidak bertanya apapun soal alasan dari diri Arvin yang tiba-tiba menyuruhnya, hanya karena ingin mencari keberadaan dari Ashera.


Ashera yang notabene nya masih cukup sulit di pahami bagi Arin, karena Arvin dan Ashera bukan dua orang yang terlihat saling mengenal satu sama lain.


Tapi, apa sekarang ini?


Arvin yang bukan seorang pria yang suka terlibat untu urusan mencari seseorang seperti itu, tapi tiba-tiba saja mencari keberadaan dari Ashera, tentu membuat siapapun yang mendengarnya akan punya prasangka mereka sendiri, kalau Arvin dan Ashera benar-benar mempunyai hubungan.


Hubungan yang masih tersembunyi dari orang luar.


-"Baiklah, tapi kau janji kan, malam nanti datang?"- tanya Arin, dia sekarang sebenarnya ada di dalam sebuah kamar, dimana di dalamnya ada tiga komputer sekaligus, dan di satu sisi lagi di pun sedang makan mie seraya sesekali jarinya itu beradu dengan keyboard komputer.


"Iya, memangnya aku pernah ingkar janji? Nanti malam aku akan pergi ke sana. Jadi jangan buang waktu lagi, cepat cari perempuan itu sekarang, aku sedang membutuhkannya," balas Arvin.


-"Nah, yang seperti ini nih, kau bicara seperti itu, dan membuatku jadi penasaran, apa alasan kau membutuhkan perempuan itu,"-

__ADS_1


"Kau tahu sendiri kan, aku butuh sesuatu untuk memuaskanku, itulah manfaat dari dia, Jadi jangan banyak bicara lagi, cepat sana, aku beri kau lima menit, dan segera hubungi aku lagi," kata Arvin lagi, lalu dia pun segera memutuskan panggilan antara dirinya dengan Arin secara sepihak.


BRRMMM..........


__ADS_2