Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
86 : Gara-gara ayam tertawa


__ADS_3

"Huft...huft...huft..." Dengan begitu nyenyak, Ashera tertidur lelap, meskipun tubuhnya sudah jatuh dari sofa, ke lantai yang sudah beralaskan karpet berbulu, sehingga ia tetap merasakan kehangatan dan kelembutan yang berasal dari karpet tersebut.


Tapi, di malam hari yang masih panjang itu, di dalam kamar Arvin justru sedang terbaring dengan mata masih terbuka lebar.


Dia kadang kala melihat ke arah miliknya sendiri yang masih menjulang ke atas.


'Masih seberapa lama lagi aku harus menahan ini?' Arvin meraba permukaan tempat tidurnya, mencari-cari remot Ac, begitu sudah mendapatkannya, dia langsung menurunkan suhu kamarnya menjadi lebih dingin layaknya berada di salju.


Dengan perasaan gelisahnya, dia pun mencoba untuk tertidur.


_____________


Esok harinya.


Kukuluruyuk..kuk..kuk..kuk...kuk..kuk..


Berkerut-kerut dahi Arvin mendengar suara ayam berkokok, dan suaranya cukup nyaring dengan nada seperti ayam tertawa.


Kukuluruyuk..kuk...kuk..kuk...kuk...


"Arghh! Suara ayamnya siapa itu?!" Pekik Arvin, begitu dia melihat ada ayam di atas tempat tidurnya, dia langsung menendang-nendang selimutnya untuk membuat ayam jago tersebut takut.


Kukuluru...


BHUAKK....


Arvin berhasil memotong suara kokokkan ayam itu sebelum lebih mengusik kamarnya dengan melempar bantal ke arah ayam tersebut.


WUSHH....


Begitu Arvin melihat ke arah samping kirinya, jendela ternyata terbuka.


Dan setelah itu, pintu kamarnya pun terbuka. "Ayamnya ada di sini ya?" Tanya Ashera, dia melihat ke arah samping kanan dan kiri, dan akhirnya bisa melihat ayam si pemilik kokokkan seperti tertawa.


"Apa yang sebenarnya kau bawa masuk? Apa ayam pun kau bawa masuk juga? Keluarkan makhluk itu dari sini, berisik." Kicauan pagi pun terdengar dari mulutnya Arvin.


"Kau pikir aku yang melakukannya ya? Apa selalunya aku terus yang di salahkan? Padahal itu ayam tetangga yang ada di lantai bawah." Jelas Ashera. Dia pun mencoba untuk menangkap ayam jago tersebut. Tapi sebelum itu dia pergi menutup jendela dan mencoba untuk menjebak ayam itu untuk di giring ke suatu tempat yang lebih enak untuk di tangkap.


"Ha? Ayam tetangga? Apa ada orang sinting, memelihara di apartemen berkelas seperti ini?"


"Nah itu buktinya ada ayamnya, sedangkan pemiliknya sedang datang kesini." jawab Ashera sambil menunjuk ke arah ayam tersebut.


Arvin yang tidak mau tahu itu, segera kembali tidur, karena selain kamarnya yang dingin gara-gara Ac di setel di suhu terdingin, sinar mentari pagi pun cukup mengusiknya.


KEPAK...


"Ayamnya naik ke atasmu! Arvin, tangkap!" Perintah Ashera.


"Kaulah yang bertanggungjawab dengan rumah ini, jadi ya kau yang tangkap saja."

__ADS_1


Dengan tatapan malasnya, Ashera menjawab : "Tapi apa artinya kau mau kalau ayamnya berak di atas tempat tidurmu?" Sebuah pertanyaan bersisi ancaman pun membuat Arvin membuka selimut yang menyelimuti wajahnya itu. Dan karena Ayamnya terkejut, ayam tersebut langsung pergi saat Ashera sudah ambil ancang-ancang untuk menangkapnya.


Tapi karena ayamnya keburu pergi, Ashera lantas mendarat di atas tubuhnya Arvin.


BRUKK...


"Ashera, kau tidak punya akal sekali, pakai saja selimutnya agar dia masuk ke perangkap dan tidak bisa kabur." Solusi berhasil di dapatkan dari si jenius ini.


"Benar juga ya?" Ekspresi wajah Ashera yang cukup polos itu menjadi bukti kalau Ashera memang baru menyadarinya. "Sini, aku pinjam selimutmu." Dengan senyumannya yang mengembang, Ashera pun segera menarik selimut yang menutupi tubuh Arvin yang ternyata polos itu?


Persetan mau polos atau apa, Ashera hanya ingin menangkap ayam itu agar bulunya tidak berhamburan ke semua tempat, karena sekalinya terbang, pasti ada juga bulu yang terjatuh.


"Kok..!"


Ayamnya yang melihat Ashera sudah bersiap untuk menerjang ke arahnya, ayam jago tersebut pun langsung mencoba untuk terbang. Tapi, Ashera yang lebih gesit itu, segera menerbangkan selimut lebar dan tebal itu ke arah ayam. Dan hasilnya sukses besar.


"Kok...! Kok!" Ayamnya berusaha untuk kabur, tapi Ashera justru langsung menerjangkan tubuhnya ke lantai, dan segera menghimpit tubuh jago tersebut.


BRUKK....


Tapi, begitu Ashera berhasil mendaratkan tubuhnya ke atas selimut yang berhasil mengurung ayam jago itu, Ashera tiba-tiba saja membulatkan matanya.


"Arvin, apa kau baru mengompol? Tapi kenapa baunya aneh?" Tanya Ashera dengan gamblang.


Dan ketika Ashera menoleh, dia pun memang sempat melihat permukaan tempat tidur yang di tempati Arvin juga basah.


Ashera menatap Arvin dengan begitu lekat.


''Kalau kau mau tertawa, silahkan saja tertawa, aku tidak mempermasalahkannya."


"Jangan-jangan karena yang tadi malam ya?" Tanya Ashera, ia masih menindih tubuh Ayam tersebut.


"Kokk...kok...kokkk..."


"Bereskan dulu ayam itu dan keluar dari sini!" suasana dari hati yang langsung berubah itu, membuat Arvin jadinya berteriak.


Dengan buru-buru Ashera menggulung ayam itu lebih dulu dan memasukkan salah satu tangannya hingga dia berhasil menangkap kedua kaki ayam itu, Ashera segera keluar dari sana.


BRAKK...


"..." Arvin menatap pintu itu dengan begitu lekat, dan tak lama kemudian, Arvin menunduk dengan wajah penuh sesal, sebab miliknya kembali berdiri. "Wah, hebat sekali ya kau. Wajah sih, biasanya aku juga melakukannya dengan seseorang, tapi karena orang itu sudah tidak ada, aku harus menahannya seperti ini." gumam Arvin.


__________


Di luar kamar, Ashera pun mengembalikan ayam itu kepada si pemilik.


"N-nona, maaf ya, Joniku kabur dan membuat kekacauan di rumah anda" Ucap perempuan berkacamata bundar ini kepada Ashera.


"Ya, lain kali hati-hati ya? Karena kalau ayamnya kembali masuk lagi, ada kemungkinan saat anda datang kesini, sudah jadi ayam goreng." Kata Ashera, dengan ucapannya yang terkesan lembut, sebuah ancaman itu pun tertuju pada si pemilik agar tidak membuka membiarkan ayam yang sedang di jemur itu tidak di letakkan di luar, meskipun kakinya sudah di ikat.

__ADS_1


"B-baik, terima kasih sudah mengembalikannya kepada saya." Ucap perempuan ini sekali lagi lalu dia pun pergi.


"Ada-ada saja penghuni apartemen ini. Bukannya burung, kucing, atau tikus, ular, tapi dia malah pelihara ayam. Bukannya mengganggu ya, jika ayamnya berkokok. Walaupun berkat dia, Arvin jadi bangun. Apakah aku harus mengucapkan terima kasih pada ayam?" Dengan senyuman mengejek, Ashera kembali masuk kedalam rumah dan menemui Arvin lagi.


Di dalam kamar, terlihat kamar nya Arvin jadi berantakan.


Tapi yang lebih penting lagi, itu adalah Arvin yang masih duduk dengan wajah frustasinya.


"Apa kau butuh bantuan?" Tanya Ashera, sida sudah tiba di samping tempat tidurnya Arvin.


"Memangnya kau bisa apa?" lirik Arvin, wajahnya begitu dingin karena ia tetap saja sedang berusaha menahan has*at yang terkandung di dalam menara itu.


Padahal beberapa saat lalu, Arvin begitu galak, tapi sekarang melihat pria ini begitu menyedihkan, Ashera pun tidak tega untuk tidak menawarinya bantuan.


Sungguh, pemandangan menarik untuk dirinya seorang saja.


"Apakah ada perempuan lain yang pernah melihat tubuhmu yang polos seperti itu?" Dengan wajah tenang, Ashera duduk di samping tepi tempat tidur tersebut dan perlahan dia membungkukkan tubuhnya ke arah tubuh Arvin, sampai di titik di mana Ashera berhasil melihat benda pusaka itu dengan mata kepalanya sendiri tidak jauh dari wajahnya. Hanya berjarak kurang dari dua puluh centimeter, dia dengan jahil menyentuh ujung helm keselamatan?


Bukan, dengan sengaja Ashera malah menyentuh helm bahaya itu dengan senyuman yang cukup lebar.


Arvin mengernyitkan matanya sambil menggertakkan giginya. "Kau kelihatan kagum."


"Ya, terakhir kali kan kau langsung tancap gas, aku mana bisa lihat sosok asli benda berbahaya ini."


Arvin sontak tersenyum paksa, dia tidak menyangka kalau mulut dari perempuan ini cukuplah blak-blakan.


"Ternyata ada banyak ototnya, sepertu tubuhmu."


Sepasang telinganya Arvin pun terus memerah, dan bertambah merah sambil menahan kendali akal sehatnya sendiri dari hadapan Ashera ini.


"Kayanya besar ini dari timun. Timun ijo, ini coklat. Tapi coklatnya sayangnya tidak bisa di makan, gara-gara tidak manis." tambahnya lagi.


TUING...


TUING...


Ashera terus menyentuh ujung timun.


"Kayanya mau meleleh ini timun."


"Hei, teruskan."


"Kau tidak usah menahannya, lagian untuk apa? Tidak ada gunanya juga, karena yang ada kaulah yang tersiksa." Kata Ashera.


"Aku tahu bodoh, makannya teruskan saja sesukamu, lagi pula ini kan gara-gara kau juga, jadi tanggung jawab saja."


"Ok, karena kau sudah berkata seperti itu, aku tidak akan segan." Tanpa sepatah kata lagi, Ashera pun berurusan dengan timun mentah itu, dan suara erangan pun menyeruak menyelimuti kamar itu di pagi hari yang cerah.


'E-enak sekali, akan aku akui kalau dia memang bisa untuk melayaniku dengan baik seperti ini.' Pikir Arvin dengan rona merah di kedua pipinya itu.

__ADS_1


__ADS_2