
Meskipun mereka berdua sebenarnya sudah bukan orang asing lagi, tapi masing-masing dari kemarahan dalam diri mereka, membuat mereka saling terdiam dan membuat suasana menjadi begitu suram.
Di malam di dalam ruang makan iu hanya ada suara peralatan makan yang terus bergesekkan dengan satu alat makan dengan satu alat makan lainnya.
Tidak ada pembicaraan apapun diantara mereka berdua selain makan malam yang di siapkan oleh Ashera sendiri.
'Apa dia akan terus saja seperti ini? Ini malam pertama di sini, tapi kenapa suasananya malah jadi seperti sedang perang dingin?
Jika aku angkat bicara, takutnya dia malah kembali menghujat aku lagi. Hahh~' Arvin yang sebenarnya lelah pikiran itu, refleks rasa penat itu terbuang dengan cara menghela nafas.
Ashera yang mendengar helaan nafas milik Arvin sendiri, sebenarnya sempat sedikit terkejut.
'Silahkan saja, dia pasti sedang menggerutui aku, kesal sendiri dan akhirnya menghela nafas juga. Haih, kenapa aku sensitif sekali dengan semua ucapan dan tindakannya ya?' kata Ashera dari dalam hati, seraya menggaruk belakang kepalanya yang gatal itu. 'Aku terus saja merasa marah, bahkan sekarang saja, hawa naf*su aku itu justru ingin meninju dia.
Tapi mana mungkin juga ya kan, masa aku meninju anak ini, yang ada aku malah di lempar ke masuk ke kolam lagi, karena aku mencari gara-gara.
Tapi betulan ini, aku ingin melampiaskan bogem mentah tanganku ini.'
Seking terhanyut dengan pikirannya itu, Ashera tanpa sengaja jadi menusuk sosis goreng yang dia masak tadi dengan kekuatan yang sedikit besar, hingga ujung garpunya saja langsung menghantam permukaan piring dengan kasar.
RAKK...!
Arvin dan Ashera pun sama-sama jadi menghentikan aksi makan mereka selain terkejut dengan cara saling menatap satu sama lain.
'Apa dia benar-benar masih merah kepadaku?' tanya Arvin dalam hatinya.
Dia sungguh-sungguh ingin bertanya langsung pada perempuan yang ada di depannya persis, tapi bahkan sampai menancapkan garpu ke sosis sampai sekasar itu, Arvin pun jadi tidak berani angkat bicara.
'Huhh, itu hampir saja. Piringnya tidak pecah kan? Kalau pecah aku pasti harus membayar ganti rugi piring ini.' benak hati Ashera.
Alih-alih makan sosis yang sudah menancap di garpu, dia sebenarnya sedang memeriksa apakah piringnya retak atau tidak. Karena tidak retak, Ashera pun merasa lega untuk masalah yang satu itu, kecuali masalah miliknya yang lain, yaitu tatapan dari ekspresi wajah Arvin yang begitu serius.
"Ini tidak retak kok, jadi tidak usah khawatir," kata Ashera, akhirnya membuka suara di tengah-tengah keheningan itu.
'Lah, apa dia pikir aku menatapnya karena aku lebih memperhatikan piringnya itu? Apa sampai seperti itu pikiran Ashera padaku, gara-gara aku menatap wajahnya itu?' Arvin yang merasa terjerat dengan situasi canggung diantara mereka, segera mengalihkan pandangannya ke arah piringnya dan berkata : "Apa kau mau keluar denganku?"
'Hih? Apa dia sedang membujukku untuk menemui wanita cantik di negara ini?' pikiran suram milik Ashera pun langsung terlihat di matanya Arvin. "Tidak mau, aku lelah," ketus Ashera. Dia menolaknya karena tidka ingin matanya sakit melihat banyak wanita cantik berkeliaran di jalan.
Itu membuatnya cukup iri, karena terakhir kali saja, Arvin mengatakan kalau dirinya (Ashera) adalah pelayannya.
Jadi dengan mengingat hal itu saja, Ashera pun jadi kesal sendiri.
__ADS_1
"Ya sudah, berarti tidak masalah jika aku tinggal, kan?"
"Silahkan saja kalau mau jalan-jalan," ketus Ashera sekali lagi.
Dan benar saja, setelah mereka berdua selesai makan, mereka berdua pun masing-masing punya tujuannya sendiri.
Arvin yang sudah memiliki tenaga lagi, bersemangat untuk mengelilingi kota Seoul, tapi lain hal dengan Ashera yang memilih akan tinggal di rumah.
_______________
BRRMMM....
Mengarungi jalan dari kota Seoul, sebenarnya memiliki suasana tersendiri.
Akan tetapi, Arvin yang sudah berpakaian sedikit tebal, dan baru saja melewati lima menit pertamanya di jalan, tiba-tiba saja mobil yang dia miliki itu, langsung berhenti di tengah jalan sepi.
"Ahh! Apa tidak ada pikiran lain selain memikirkan aku merasa kasihan meninggalkan dia sendirian di rumah?!" dengan kesal, Arvin sempat memukul stir mobil.
Sambil melewati tepi lautan, Arvin yang sebenarnya sudah separuh jalan untuk keluar dari wilayah pantai, tiba-tiba saja memutuskan untuk putar balik.
"Dia memang perempuan yang cukup meresahkan. Bahkan setiap menit, bahkan detiknya, dia terus saja mengganggu pikiranku. Jelas ini bukan hal yang normal, ya kan?" gerutu Arvin pada dirinya sendiri.
Karena dia menjalankan mobil dengan cepat, tidak sampai lima menit, dia pun sampai di rumah dari Villa yang dimiliki oleh kedua orang tuanya itu.
Arvin yang sebenarnya malas untuk turun itu, dengan sengaja memanggil Ashera dengan klakson.
Hanya saja, setelah menunggunya beberapa saat sampai dia telepon juga, Arvin sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun.
"Kenapa dia tidak keluar-keluar? Bahkan aku telepon saja, sama sekali tidak di jawab," ngedumel Arvin. "Hahhh~ Padahal aku ingin bersenang-senang, tapi kenapa aku rasanya terus tertahan dengan keberadaan Ashera yang terus mengganggu pikiranku?"
Tidak tahan untuk menunggu, Arvin segera mematikan mesin mobilnya, dan keluar dari sana.
KLEK...
"Ashera!" panggil Arvin dengan sedikit keras, seraya masuk kedalam rumah tersebut. "Ashera, aku ingin kau bersiap, dan ikut aku sekarang," kata Arvin memberitahu satu-satunya orang yang masih berada di rumah.
Tapi ternyata, bahkan setelah dirinya harus berteriak-teriak tapi tetap tidak ada sahutan sama sekali, tanpa kehilangan akalnya, Arvin pun mencoba menghubungi Ashera lagi. Dan tiba-tiba saja terdengar suara dering handphone milik dari Istrinya itu ada di luar.
"Di luar? Apa dia ada di belakang rumah?" lirih Arvin, melihat ke arah pintu dari belakang rumah.
Karena pintu kaca dengan bingkai kayu itu rupanya sedikit terbuka, Arvin pun terpancing untuk pergi ke belakang rumah.
__ADS_1
"Apa yang sedang dia lakukan?" ucap Arvin, dia akhirnya bisa melihat keberadaan dari satu orang yang dari tadi dia cari itu.
Ashera, melihat perempuan itu berdiri sendirian di depan sebuah Gazebo, Arvin pun entah kenapa merasa kasihan sendiri.
"Waahh..., berhasil. Heheh, ini cukup bagus," ucap Ashera pada dirinya sendiri.
Entah apa yang sedang di lakukan oleh gadis yang selalu melakukan hal yang aneh setiap saat, Arvin pun tiba-tiba jadi merasa terpancing untuk berjalan mendekatinya.
Langkah pen dan begitu senyap, di tengah-tengah besarnya hembusan angin yang menerjang tubuh mereka berdua, Ashera pun sama sekali tidak sadar dengan keberadaan dari Arvin yang sudah berada di jarak dua meter dari tempat Ashera berdiri.
Dengan di temani kursi lipat, tripod dan juga handphone, Arvin pun sekilas langsung tahu apa yang sedang di lakukan oleh gadis ini sendirian di tempat yang cukup gelap itu.
CKREKK....
"Oh, sudah, coba aku cek," Ashera yang terlihat begitu senang dengan bicara pada dirinya sendiri, membuat Arvin sepintas jadi merasa iri.
Ya, dia sebenarnya iri karena ternyata tanpa dirinya, Ashera pun bisa tersenyum lebar hanya dengan bermodalkan hasil dari kemampuannya untuk memotret langit malam di sana.
Ketika banyak perempuan di luar sana lebih suka bersenang-senang dalam mencari kemewahan serta kebahagiaan dengan cara mereka sendiri, tapi masih terikat dengan kata uang, sebab sebagian besar masyarakat kebahagiaan itu berasal dari uang yang banyak, maka hal itu justru tidak dirasakan oleh Arvin di saat dekat dengan Ashera.
Kebahagiaan Ashera sendiri justru terletak pada hobi dan kesukaannya yang tanpa perlu mengandalkan banyak uang.
Perbedaan yang cukup kontras dengan kehidupan sebenarnya dari orang kaya. Sebuah perbedaan yang begitu menonjol bagaimana perbandingan itu di rasakan dan di pandang dalam sekali lihat.
"Ini bagus juga, lumayan-lumayan, tidak sia-sia juga aku tidak ikut dengan anak itu.
Yah, wajar saja sih, dia kan punya tenaga strong kali ya? Baru juga sampai pergi ke hotel, tidak jadi ke hotel, langsung ke sini dan berenang, dan mau pergi lagi.
Dia enak, bisa punya tenaga sebanyak itu. Sedangkan aku ya, inginnya santai-santai dulu lah," ungkap Ashera, masih tidak tahu kalau di belakangnya itu, Arvin bahkan mendengar keluhan darinya juga.
Setelah berhasil memotret satu objek yang sudah dia ambil cukup banyak, dia pun sekarang akan pindah ke pantai lebih dulu.
Di malam yang cukup dingin itu, tidak membuat Ashera terganggu dengan hobi kecilnya untuk menjadi seorang fotografer.
"Tapi tidak sia-sia juga ikutan grup itu, aku jadi tahu fungsi kamera handphoneku sendiri," ucap Ashera lagi, sambil membawa tripod dan kursi lipatnya ke tempat lain.
"Jadi kau ternyata punya hobi seperti ini juga?"
"Kyaa!" teriak Ashera saking terkejutnya dengan keberadaan kepala Arvin yang tiba-tiba saja muncul dari sisi kanan wajahnya Ashera. Sampai membuat kursi lipat yang di pegangnya itu terjatuh, Ashera pun membuktikan kalau kemunculan Arvin yang begitu mendadak itu, memang sangat mengejutkan.
"Kenapa kau seterkejut itu?" tanya Arvin seolah tidak memiliki salah apapun.
__ADS_1
"B-bukannya kau sudah pergi keluar? Kenapa malah ada disini?" pekik Ashera, karena jantungnya itu benar-benar seperti mau copot, gara-gara Arvin ini.