
"Arvin, tunggu~" tekan Ashera terhadap Arvin yang baru saja turun dari helikopter, sedangkan Ashera sendiri, dia sedang ganti baju di dalam helikopter, gara-gara muntahan tadi.
"Iya, akan aku tunggu, tapi cepatlah, aku tidak punya waktu menunggumu ganti pakaian." jawab Arvin kepada Ashera, yang kini masih berada di dalam helikopter.
'Ini sangat bau, kenapa aku harus pakai muntah segala? Kalau seperti ini, kalaupun aku sudah keluar, aku jadi malas masuk.' pikir Ashera.
"Aku hitung sampai tiga, tidak keluar, aku akan membukanya sekarang juga," ancam Arvin.
Begitu ancamannya sudah keluar dari mulutnya, Ashera pun jadinya semakin kelabakan sendiri.
"Satu,"
"Arvin, jangan begitu, tunggu dulu-" pinta Ashera, dia sedikit kesulitan, karena rasa sakit dari salah satu jarinya akibat ada yang patah, membuatnya tidak bisa melakukannya dengan buru-buru.
"Dua," kata Arvin lagi.
"Arvin, sebentar, tunggu dulu- Ahww..."
"Tiga," baru juga mengucapkan angka terakhir, Arvin yang sudah menyentuh pintu penumpang dari helikopter tersebut dan menggesernya, tiba-tiba saja Arvin langsung di hadirkan dengan Ashera yang malah tersandung ke arahnya.
"Kyaa-" Ashera seketika panik sendiri karena kakinya tersandung dengan tali sepatu boots yang dia pakai, alhasil tanpa bisa di hindari lagi, Ashera pun langsung jatuh menerjang suaminya sendiri.
BRUKK....
"Ahw..., adududuh, sakit-" rintih Ashera.
"Sakit palamu, aku yang sakit-" sela Arvin dengan nada protes kepada Ashera yang berhasil membuat kesan mereka berdua saat datang, berhasil dikacaukan oleh Ashera sendiri.
Ashera yang baru saja di sadari dengan suara protes dari Arvin, Ashera pun segera membuka kelopak matanya, dan melihat dengan jelas kalau ternyata tubuhnya berhasil selamat, berkat Arvin menjadi kasur keras sedikit empuk itu.
"Maaf- aku tadi tersandung karena tali sepatunya," jelas Ashera.
"Aku tidak peduli lagi soal itu, karena kau sudah merusak rencanaku untuk tampil keren di hadapan mereka semua tahu!" tekan Arvin dengan nada berbisik terhadap Ashera.
__ADS_1
Jika saja Ashera bisa berperan dengan bagus, sudah pasti dia tidak akan menemukan hal memalukan yang baru saja terjadi itu.
"Lalu aku harus bagaimana? Ini kan sudah terlanjur-" timpal Ashera, dia jadi bingung harus berbuat apa.
Terdiam sejenak, Arvin pun melirik ke arah bawah, dimana dia malah harus melihat Ashera yang ternyata belum mengancingkan pakaiannya sendiri dengan benar, sehingga Ashera pun tanpa sadar jadinya memperlihatkan aset kembarnya yang sedang menggantung dan di perlihatkan kepada Arvin.
"Kalau sudah terlanjur ya sudah, berarti kau harus menerima konsekuensinya sendiri." tatap Arvin terhadap wajah Ashera yang nampak cemas itu.
Terdiam lagi, Ashera menundukkan kepalanya, dan barulah dia menyadari kesalahan lain yang dia miliki itu, kalau ternyata dirinya benar-benar sedang memperlihatkan apa yang ada di dalam pakaiannya kepada Arvin di depan umum seperti ini.
"Ma-mphh..!" perkataan maafnya pun seketika menghilang di telan lagi, setelah bibirnya tiba-tiba saja di raup dengan sedikit kasar oleh Arvin.
CUP....
Dalam sepersekian detik itu juga, mereka berdua pun langsung jadi pusat perhatian semua orang yang melihat ke arah mereka berdua.
"Yaahh! Aku iri sekali! Ternyata dia sudah punya kekasih!" ungkap salah satu penumpang kapal tersebut, dengan ekspresi wajah penuh dengan kesedihan.
"Huwaahh, kenapa aku harus melihat pemandangan yang sangat tidak baik dengan aku yang jomblo?" sedih dengan apa yang sedang dia lihat itu, wanita ini pun memlih untuk pergi.
Tapi banyak juga yang masih menonton dua orang yang ada di depan sana, tengah saling memberikan kehangatan lewat sebuah ciuman.
"Sebenarnya mereka berdua itu siapa? Bisa-bisanya mendarat sembarangan di kapal ini," tapi dari sekian banyak orang, ada satu orang perempuan yang sedang duduk di kursi taman yang terletak di lantai 5, dimana lantai itu adalah letak dimana Mall berada.
"Mungkin saja mereka berdua adalah penumpang yang tertinggal, kabarnya emang ada dua orang yang ketinggalan kapal, jadi mungkin saja mereka berdua. " jawab seorang pria berpakaian jas hitam hitam, yang senantiasa berdiri di samping dari gadis yang dia layani itu.
"Tapi- hebat juga ya laki-laki itu, bisa mengendarai helikopter tanpa bantuan orang lain. Biasanya kan mereka ana di antarkan oleh dua orang pilot, tapi yang aku lihat, justru mereka berdua keluar dari helikopter tersebut." ucapnya lagi, lalu ice cream yang hendak meleleh dan meluncur ke tangannya, dengan buru-buru gadis ini langsung melahapnya dalam sekali percobaan.
"Sepertinya anda tertarik dengan anak tersebut." terka bodyguard dari gadis yang sedang memakan ice cream itu, sampai mulutnya pun benar-benar penuh.
"Tentu saja, siapapun yang berhasil menarik perhatianku, aku harus membuat laki-laki yang ada di bawah sana itu, datang kepadaku. Apapun itu, kau harus bawa laki-laki itu kepadaku, apa kau mengerti?" perintah gadis ini kepada anak buahnya tersebut.
"Baik, akan saya laksanakan. Tapi, anda ingin sekarang atau nanti setelah dia masuk ke dalam kapal?" tanya pria ini kepada majikannya tersebut.
__ADS_1
"Nanti saja. kau kan harus membawa barang belanjaanku." selanya dengan cepat sambil menoleh ke samping kanannya, dimana di sebelahnya persis ada puluhan tas belanja yang berjejer rapi, dan tugas dari bodyguard yang ada di sebelhanya tentu saja adalah membantunya.
________________
Kembali ke tempat dimana Arvin dan Ashera berada.
Banyak di antara mereka yang terus memperhatikan pemandangan di depan mereka yang nampak begitu cukup mesra.
"Wow, baru juga keluar dari helikopter, tapi mereka berdua langsung membuatku sangat iri sekali. Aku jadi ingin sekali punya pacar seperti dia." ungkap salah satu diantara puluhan penonton yang sedang berdiri bersama dengan teman-temannya itu.
"Memangnya kau saja yang iri? AKu juga sangat iri dengan mereka berdua. Bisa-bisanya berciuman di depan kita, ahh! Aku kan masih jomblo, kenapa aku harus melihat pemandangan yang menyakitkan mata dan hati ini sih" pikirnya teman dari perempuan yang baru saja mengungkapkan perasaan irinya juga seperti dirinya.
Karena sungguh, dia merasa sakit mata dengan melihat pemandangan itu, di apun memilih untuk pergi dari sana.
"Aku pergi sajalah." cetusnya.
"Kira-kira anak itu siapa ya? Aku belum pernah melihatnya sekalipun." di satu sisi, ada beberapa laki-laki yang sedang menatap ke arah bawah. Dia pun bicara sendiri tapi masih di dengar oleh teman-temannya yang lain.
Sedangkan di posisi dimana Arvin dan Ashera berada.
Dua orang dengan penampilan mereka yang sangat berbeda dari penampilan asli mereka berdua, membuat mereka di cap sebagai orang asing, tentunya.
"S-sudah, aku tidak bisa bernafas," pinta Ashera, mendorong dirinya agar kepalanya terlepas dari tekanan yang di lakukan oleh Arvin kepadanya.
Tersenyum puas dengan apa yang baru saja dia dapatkan Arvin pun melepaskan tangannya dari belakang kepalanya Ashera dan angkat suara: "Ini enak, untung saja aku memakaikanmu lipblam rasa stroberi." ungkapnya.
"...?" Ashera yang tidak tahu kalau rasa itu adalah rasa stroberi, refleks saja lidahnya pun menjilati bibir yang sudah basah karena air liurnya Arvin.
"Kau ternyata menyukainya juga ya?" Sini, aku akan memberikanmu air liurku lagi kepadam-mmphh..!"
Selepas saja bicara seperti itu, Ashera pun dengan buru-buru langsung menutup mulutnya Arvin dengan ekspresi wajah yang cukup panik, sebab dia harus menahan rasa malu, akibat di tonton oleh banyak orang.
'Kenapa dia terus-terusan seperti ini?Aku kan jadinya salah tingkah dengan sikapnya itu.' pikir Ashera.
__ADS_1