
'Ashera.' Cemas dengan kondisi Ashera yang ada di lantai satu, Arvin tanpa basa-basi, langsung melompat juga.
TAP...
Berhasil mendarat dengan selamat, Arvin segera berlari menghampiri air mancur yang ada di depannya persis itu.
Dan baru juga mau memanggil namanya, Arvin kembali di kejutkan dengan Ashera yang sedang berlutut, sehingga separuh bajunya itu pun basah karena air kolam tersebut.
"Cepat! Kalian panggil ambulans!"
"Halangi orang yang mau mendekat!"
Dua orang scurity yang berjaga untuk memberikan batasan orang yang mau melihatnya lebih dekat, tiba-tiba juga di kejutkan dengan suara milik seseorang.
"Tidak usah memanggil ambulans." suara milik Ashera itu berhasil mewarnai keterkejutan mereka, karena Ashera yang di nyatakan pastinya terluka karena terjatuh dari lantai tiga ke lantai dua, lalu barulah ke lantai satu, pastinya butuh ambulans, maka semua itu salah. Sebab Ashera sama sekali tidak terluka karena ia memang bisa mendarat dengan sempurna sama seperti yang di lakukan oleh Arvin tadi.
"H-hebat, aku pikir endingnya akan berakhir tragis."
"Wah, untungnya dia bisa selamat."
"Itu tadi menegangkan sekali. Kalau dia tadi tidak punya keahlian untuk mendarat, nyawanya pasti sudah melayang."
"Aku jadi ikutan tegang, tapi syukurlah karena dia selamat."
Berbagai ucapan rasa syukur dan perasaan lega pun tercantum jelas di seluruh tempat pada semua orang yang menyaksikan peristiwa yang cukup memacu adrenalin mereka semua.
"Ashera, kau-" kalimatnya pun seketika menggantung di udara, ketika rasa syok nya pun masih ada di dalam benaknya dan terpampang begitu jelas bagaimana kondisi Ashera saat ini.
"Kan aku sudah bilang, tidak usah repot-repot menolong orang yang kau anggap aku ini tidak patut di sisimu." sela Ashera detik itu juga.
Sama seperti para pengunjung yang terpaksa menyaksikan kejadian menegangkan tadi, Ashera pun merasa bersyukur karena ia bisa mendarat dengan sempurna.
Ya, berkat pelatihan yang pernah ia jalani gara-gara Luna, ia pun bisa melakukan bela diri dan bahkan sebenarnya ia bisa melakukan parkour.
Tapi, semua keahlian itu hanya di miliki pada dirinya saat ini, bukan pada diri Ashera yang satunya lagi.
Dan sekarang, begitu semua masalah Ashera yang hampir mati itu selesai dengan selamat, Ashera yang masih berendam di dalam kolam air mancur besar itu, terus berdiri sambil menatap wajah Arvin yang masih menyisakan keterkejutannya.
__ADS_1
'Tapi- karena aku tadi menjatuhkan mainannya, sekarang kotak mainannya jadi terjatuh juga.' Tidak mau berurusan dulu dengan Arvin itu, Ashera pun beranjak dari sana dan mengambil barang bawaannya yang sempat ia jatuhkan tadi.
"Laki-laki itu juga hebat, sampai ikutan melompat dari lantai tiga."
"'Wah, ini akan jadi berita besar nih."
"Sebentar lagi pasti beritanya semakin ramai, tapi di satu sisi Mall ini juga pasti akan kena Imbas juga, karena antrian yang ada di lantai atas itu."
Mereka yang ada di lantai satu dan dua, bahkan beberapa lantai lainnya, sama-sama menatap ke arah lantai tiga yang masih di kerumuni banyak orang.
Jika bukan karena penyebab dari antrian panjang dan super banyak itu, tidak mungkin akan ada kejadian seperti ini.
"Nona, anda tidak apa-apa?" salah satu scurity itu bertanya kepada Ashera.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Ashera dengan singkat. Seluruh pakaiannya saat ini sudah basah karena tubuhnya sempat reciprat air kolam.
"Nona, ini handuk untuk anda."
"Nona, apa benar anda tidak mau di bawa ke rumah sakit saja untuk pemeriksaan?"
Tetapi- saat ini Ashera sedang tidak membutuhkan sebuah simpati ataupun perhatian dari mereka, sebab mereka semua tidak lain adalah sekedar penonton yang tidak tahu apa-apa selain ikut-ikutan untuk bersikap khawatir.
"Tidak perlu, aku hanya ingin pulang dengan barang belanjaan yang sebelumnya sudah aku beli." Kata Ashera seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
Perasaan ingin mual dan muntah karena ia tidak tahan dengan semua aroma parfum yang ia rasakan saat berdesakan tadi, akhirnya bisa teratasi. Tapi yang jadi satu masalah lagi adalah apa yang akan di pikir oleh Arvin ini?
Para scurity itu pun saling pandang satu sama lain, lalu mengangguk dan membantu Ashera keluar, dan di satu sisi pergi mencari barang belanjaan yang sudah di beli oleh Ashera dengan Arvin beberapa waktu lalu, namun sempat di titipkan di tempat penitipan barang lebih dulu.
'Jadi begitu, pantas saja dia sama sekali tidak terlihat ketakutan. Biasanya orang yang tahunya akan jatuh, pasti akan berteriak. Tapi dia- dia sama sekali tidak takut, dan yang ada malah bisa menyelesaikan dengan baik.
Tapi- kenapa aku bisa sampai ketakutan setengah mati seperti ini?' Dalam dada yang tidak bisa Arvin sentuh itu, dia merasakan debaran jantung yang masih belum kunjung berhenti, alias berdetak normal.
Perasaan kacau balau bahwa ia sempat yakin kalau Ashera akan terluka parah, atau bahkan akan menjemput kematiannya, masih bersemayam di dalam benaknya.
'Aku belum pernah sekalipun merasa seperti ini, jadi ini cukup menggangguku. Ashera, apalagi yang bisa kau perlihatkan kepadaku? Hah, lama-lama aku jadi semakin tertarik apa yang bisa dia lakukan untukku. Tapi akan lebih menarik lagi jika Ashera yang satunya lagi itu kembali.' Batin Arvin, merasa terganggu sendiri karena ia tidak bisa mengontrol tubuhnya untuk melakukan apa yang sedang ia pikirkan saat ini, kecuali menunggu apa yang akan di lakukan oleh Ashera kedepannya lagi.
Sebuah penantian menunggu sebuah kejutan, Arvin pun akan menunggunya.
__ADS_1
'Parkour ya? Boleh juga, aku setidaknya ingin menantang dia parkour, jika dia memang benar-benar bisa melakukan itu.' Dan begitu dia sudah menarik kesimpulannya sendiri itu, Arvin pun pergi mengikuti kemana Ashera itu pergi bersama dengan pakaian basahnya. "..."
_______________
KLEK....
Malam itu, Arvin yang akhirnya bisa pulang dan melakukan ritual malamnya dengan mandi, untuk menyegarkan tubuhnya, langsung keluar dengan bermodalkan tubuhnya hanya berbalut dengan handuk kimono miliknya.
"Ashera, aku sudah lapar, masak sana." Perintah Arvin seraya menggosok-gosok rambut pendeknya itu dengan handuk kecil.
Hanya saja, begitu Arvin berjalan turun dari lantai dua, dia malah melihat perempuan yang sudah menjadi istrinya itu sudah terbaring di sofa yang memang bisa di jadikan tempat tidur.
"Kau itu, kau- ya..itu kau. Kau seharusnya ikut terjun bersama denganku." Gerutu Ashera dengan nada kesalnya. Dia mengigau, sampai kedua alisnya pun berkerut dan menyatu juga. "Arvin, kau seharusnya....dar, ka...ka." Begitu menyelesaikan kalimatnya yang terpotong itu, Ashera pun kembali menutup mulutnya dan dengkuran halus pun terdengar juga.
Begitu Arvin mendengar sekaligus melihat apa yang di lakukan oleh Ashera sesaat tadi, membuat ia merasa ingin mengusik tidurnya itu.
"Apa yang sebenarnya kau katakan tadi?" gumam Arvin, begitu dia membungkukkan tubuhnya ke depan dan menatap wajah Ashera yang sedang kalem itu. 'Karena kau tidur duluan, jangan salahkan aku mengusik tidurmu.'
Dengan senyuman liciknya, Arvin pergi ke kamarnya lagi, mengambil sesuatu yang sudah ia pegang di tangannya, dan tanpa basa-basi lagi, sebuah hewan kecil mungil, di letakkan di depan leher Ashera persis.
'A-apa? Ini geli, tapi kenapa bergerak-gerak?' Ashera yang perlahan tidurnya jadi terusik dengan benda yang hidup itu, tangannya langsung meraba lehernya.
'Pfft, ini kelihatan menyenangkan, karena ada yang aku gunakan sebagai hiburan.' Tawa kecil itu pun keluar dari mulutnya Arvin, melihat Ashera yang belum sadar kalau di lehernya ada sebuah makhluk kecil berwarna putih tengah mengusik hibernasi nya Ashera.
"Apa ini? Hidup?" Ashera terus mengernyit sampai ia jadinya terpaksa untuk membuka matanya. Sampai, tepat di saat Ashera berhasil menangkap makhluk kecil itu, dan memperlihatkannya di depan matanya, seketika Ashera membuka matanya lebar-lebar dan langsung menjerit. "Kyaa..! Kenapa ada tikus?!" Pekik Ashera sambil membuang tikus putih kecil itu dengan kasar ke arah dinding.
Karena saking terkejutnya Ashera, dia pun jadi terlonjak kaget dan melompat turun dari tempat tidurnya.
"Tikus! Kau yang meletakkannya ya?!" Tuding Ashera terhadap satu-satunya orang yang sedang duduk sambil memberikan senyuman penuh kemenangan.
"Hahaha, lucu juga. Padahal tikus, apa kau sampai setakut itu?" Ledek Arvin.
"Aku bukannya takut, tapi terkejut!" Balas Ashera dengan tegas, bahwa ia memang tidak takut tikus, karena hanya tikus putih, tapi ia cuman terkejut saja. 'Padahal sedang enak-enak tidur, tapi dia mengganggu tidurku.' Masih tidak terima atas sikap Arvin yang suka mengerjainya.
"Nah tu, tadi apa? Kau teriak dengan wajah terkejutmu." Arvin semakin memprovokasi Ashera yang sudah di landa amarah.
Dan dengan jawaban penuh penekanan, saking kesalnya, Ashera berkata : "Kan aku sudah bilang, lagi tidur tapi di kejutin tikus, siapa yang tidak teriak? Padahal kau sendiri tadi siang teriak memanggil namaku gara-gara aku jatuh, jadi apa bedanya kau dengan aku yang sama-sama terkejut?!"
__ADS_1