Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
Kegelapan


__ADS_3

Kegelapan itu terus menyertai dirinya semenjak ingatan terakhir kali yang dia ingat adalah dia melihat dirinya jatuh dari tangga setelah di dorong oleh orang yang paling membencinya. 


“Dimana aku?” gumam Ashera. Dia menengadah ke atas, dan entah dia melihat ke arah mana, dia hanya merasakan gelap yang berujung dengan rasa dingin yang tidak mampu dia kendalikan. 


Kegelapan. Adalah sesuatu yang tidak di sukai oleh Ashera. Tapi rasa tidak nyaman itu justru harus dia hadapi dalam berbagai cara, dan salah satunya adalah ini. 


Di dalam ruangan yang Ashera pikir adalah tempat tanpa batas, dia merasa kalau dirinya sendirian di sana. 


“Apa aku sudah mati?” Ashera celingukan ke kanan dan ke kiri, dan lagi-lagi dia tidak mendapatkan apapun yang diinginkannya. 


Ingin apa?


Cahaya. 


TES….


Tiba-tiba saja Ashera mendapatkan cairan yang menetes dan medarat di atas kepalanya. 


“Apa ini?” Ashera yang tidak mampu untuk melihat cairan tadi itu apa, hanya bisa menggunakan indera penciumannya saja. Lalu apa yang dia dapatkan ketika dia mencium aromanya, itu adalah aroma amis yang khas dengan ciri dari darah. ‘D-darah? Apa ini darahku? M-mungkin saja karena aku jatuh dengan keras, kepalaku bocor, dan aku jadinya pun kedalam situasi seperti ini?’


Hanya bisa bicara sendiri di dalam kesendiriannya itu, Ashera pun tersenyum getir. 


“H-hahaha, hahaha, kalau aku ini memang benar-benar mati, semoga saja aku bisa bertemu dengan Ayah. Ya, Ayah, orang yang paling aku rindukan selama ini, aku harap aku bisa bertemu sekaligus menemaninya,” ungkap Ashera dengan tangisan yang pada akhirnya terus membanjiri pelupuk matanya, dan akhirnya jatuh membasahi pipinya. 


Rasa sepi yang tidak bisa dia ungkapkan secara gamblang ketika dia sendirian, dia ungkapkan dalam diamnya. Dan disinilah, dia mendapatkan perasaan untuk meluahkan segala perasaanya itu, meskipun dia malah berada di tempat paling gelap yang pernah ada. 


“Hiks, hiks …, Ayah. Aku ingin bertemu denganmu, hiks …, huwah, apa aku benar-benar terjebak di tempat seperti ini selamanya? Kenapa dari awal hidup sampai akhir pun, aku tetap tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan? Hiks …” racau Ashera.


Seiring waktu berlalu, disitulah aliran air yang entah datang dari mana, terus merembes keluar dan mulai menggenangi tempat dimana Ashera saat ini meringkuk duduk sendirian sambil memeluk kedua lututnya. 

__ADS_1


“Apa tidak ada yang bisa menjawabku?! Apa aku akan terjebak sendirian terus disini?! Apa aku harus berada di situasi yang tidak bisa aku kendalikan semauku?!” jerit Ashera dengan perasaan hatinya yang sudah benar-benar kacau balau, Ashera sudah merasa hidupnya benar-benar sudah berakhir sampai sini.


Karena dia saat ini sedang sendirian, dia pun sama sekali tidak begitu mempedulikan soal dirinya yang terus menerus untuk menangis sesuka hatinya.


"Hiks ..., hiks ... Huwaahh. Apakah ini dosaku? Karena aku terlalu sembrono jadi perempuan? Karena gara-gara aku tidak bisa melindungi diriku sendiri untuk tidak terjerumus dosa yang aku lakukan tanpa aku sengaja dengan Arvin? Hiks ...., hiks ..., aku takut, huwaahh," tangisannya Ashera pun semakin kencang di iringi dengan air yang terus semakin banyak untuk menggenangi area sekitarnya.


"Shera-"


Sayup-sayup nama miliknya di panggil oleh seseorang.


Tapi karena Ashera sendiri sedang berada di bawah tekanan batin yang tidak bisa dia hentikan untuk sementara waktu, dia pun tidak begitu mendengarkan panggilan itu, dan terus menangis dengan wajah bersembunyi di atas tumpukan kedua tangannya yang berada di atas lututnya.


"Shera~" namanya Ashera pun terpanggil lagi.


"Huwahh, apalagi? Apa itu malaikat yang akan menjemputku ke neraka?" tanyanya dengan hati gusar. Dia takut, benar-benar takut kalau dirinya akan masuk kedalam neraka karena pernah melakukan perbuatan maksiat yang seharusnya tidak di perbolehkan tapi dia malah melakukannya?!


"Shera~ Kau deng-"


PRAKK....


Dalam sekali hentakan kaki, air yang menggenang di sekitar Ashera pun seketika langsung membuat cipratan air jadi menyebar dan mengenai tubuh Ashera saat itu juga.


"Ashera! Dengarkan aku!" teriak seseorang dengan suara yang sama.


Ashera pun langsung terkejut dengan suara yang begitu sama persis dengannya. 'Suaranya? Kenapa sama dengan suara milik aku?'


Ashera yang terheran dengan suara yang sedari tadi terus memanggil namanya, membuat Ashera pun akhirnya mengangkat wajahnya ke atas dan detik itu juga, dia pun akhirnya menemukan sosok dari dirinya sendiri?


"Nah, kalau ada orang bicara, tatap matanya, jangan mengabaikanku seperti itu," peringat perempuan ini, dia adalah Hera, sisi lain dari kepribadian Ashera yang satunya lagi.

__ADS_1


Dengan ekspresi wajah melamun, Ashera pun terheran-heran, kenapa kepribadian miliknya yang satunya lagi ini tiba-tiba muncul di hadapannya?


"Kenapa kau muncul?" tanya Ashera dengan polosnya?


"Itu karenamu sendiri," jawab Hera dengan singkat.


Dua kepribadian itu membuat mereka berdua pun saling menatap satu sama lain, dengan penampilan mereka yang sama, yaitu masih memakai seragam sekolah.


Yah, awalnya tempat itu gelap. Tapi begitu Hera datang, Ashera pun mampu melihat Hera sekaligus dirinya sendiri.


Tapi, apa yang membuat Ashera tiba-tiba saja memasang wajah terkejutnya adalah ketika dia melihat kedua kakinya Hera bersimbah darah.


Tidak hanya Hera, tapi ketika Ashera melirik ke arah kakinya sendiri, dia pun melihat hal yang sama dengan apa yang dia lihat pada diri Hera.


"A-apa ini? Kenapa kau dan aku berdarah? Apa yang terjadi? A-apakah aku juga tertusuk? Dan membuat darahnya jadi mengalir deras ke kaki kita?" tanya Ashera dengan spontan.


Hera yang punya ekspresi wajah yang cukup serius, dan berbanding terbalik dengan raut muka Ashera yang dipenuhi dengan dilema, kecemasan, dan rasa takut yang begitu mendalam, hanya berdiam diri dan mengamati wajah Ashera itu.


Ashera yang panik itu, mencoba untuk mengelap pahanya dengan roknya. Tapi begitu sudah mulai bersih, Ashera justru bertambah panik ketika darahnya kembali merembes keluar dan menyusuri kedua kakinya.


"H-hera! Jawab! Ini apa?! Kenapa darahnya tidak bisa berhenti?! Apa aku mati kehabisan darah? Tapi kenapa malah keluar dair bawah?! HERA! JAWAB!" Ashera yang sudah kehilangan kesabaran itu pun pada akhirnya berteriak ke pada Hera yang notabene nya adalah kepribadian miliknya yang punya sisi tenang, cerdas, dan juga tangguh.


Ashera mencoba untuk membersihkan kakinya dengan tangannya, atau bahkan menggunakan air yang menggenang di sekitarnya. Tapi begitu kedua kakinya sudah mulai bersih, Ashera mendapati darahnya kembali keluar, sampai air jernih yang berasal dari genangan itu, malah berubah jadi warna merah juga.


"Akhh! Kenapa tidak bersih! Kenapa? Aku ini sebenarnya kenapa? Bukannya aku ini seharusnya sudah mati? Tapi kenapa kau bisa ada disini dan membuatku seperti ini! Kapan aku bisa punya hidup tenang, hiks.., hiks, hiks, huwaahh~"


"Hah~ Dari pada kau menangis disini, lebih baik kau kembali ke tempatmu, atau aku yang menggantikanmu lebih dulu?" tanya Hera sambil menyibak poninya ke belakang dengan jari-jemarinya.


Mendengar pertanyaan itu, Ashera pun jadi diam sejenak, "Apa?"

__ADS_1


Ashera dan Hera kembali menatap satu sama lain, dan disitulah seringaian miring pun muncul dan menghiasi bibirnya Hera. "Kau atau aku?"


__ADS_2