Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
Rusak


__ADS_3

"Aku, aku ingin jujur..tapi- aku takut." kata Ashera, berakhir dengan gumaman kecil yang masih bisa terdengar oleh Arvin.


Arvin yang awalnya hendak pergi dengan tujuan untuk memancing Ashera untuk bicara, segera menoleh ke belakang.


Tampak raut muka Ashera yang terlihat ketakutan. 


Padahal Arvin sama sekali tidak memiliki niat untuk melakukan sesuatu kepada perempuan ini. 


"Jika kau takut terus, kapan bisa berubah?" interupsi Arvin.


Ashera terdiam sejenak, dia mengintip raut wajah Arvin Dibalik helaian rambutnya yang terurai.


Dimatanya, Arvin yang akhirnya menutup mulutnya itu, seperti tengah sedang menuntut Ashera atas kewajiban yang dimiliki oleh Ashera untuk menjawabnya.


Ashera yang meringis sambil menggigit bibir bawahnya, berakhir dengan menggertakkan giginya dengan keras dan menjawab, "Maaf, sebenarnya kemarin malam, kemarin malam aku-"


"...." Arvin yang masih diam memperhatikan, sudut matanya pun sempat melihat air mata yang mengalir membasahi pipinya dan berakhir jatuh ke atas selimut.


"Saat aku mencoba u-untuk men-carimu ke klub, aku dijebak, dan karena itu, aku-a- aku... Hiks.. di- ditiduri seseorang. Aku tidak tahu siapa, karena- karena wa-waktu it-itu, hiks, sua-sananya c-cukup ge-gelap." Ashera semakin menundukkan kepalanya, membuat rambut kusutnya pun menutupi seluruh wajahnya dan memejamkan matanya sambil menangis sesenggukan.


"Maaf- maafkan aku, aku bodoh, aku- aku tidak seharusnya pergi begitu saja, percaya dengan orang lain untuk pergi me-menemuimu. A-aku tidak tahu ka-kalau itu jebakan.


Ah, terserah- terserah kau mau percaya atau tidak, karena di-disini akulah yang cukup bodoh, aku pantas di marahi.

__ADS_1


B-bukan, terserah kau mau apa, aku tidak masalah. K-karena aku sadar, di-disini akulah yang bersalah.


Aku, aku mengkhianatimu, ah, tidak- bukan itu.


K-karena kecerobohanku, a-aku... Aku jadi mem-membunuh s-se-seorang bayi?"


Tepat kata terakhir yang dia katakan, seketika wajahnya jadi pucat pasi dan langsung menatap wajah Arvin yang terlihat biasa saja.


Tidak dapat dipungkiri kalau dia cukup terkejut dengan ucapannya sendiri. Tapi kira-kira apa yang sedang dipikirkan oleh Arvin ini?


"Aku membunuh? Arvin, katanya kau bilang kalau aku tidak ak-" seketika Ashera langsung menutup mulutnya sendiri.


"'Aku tidak mempermasalahkannya,"


Mendengar hal itu, Ashera jadi semakin tercengang.


Apakah itu hanyalah sekedar permainan?


Dalam sekilas pikiran itu, Ashera jadi tertawa mencibir.


Tawa yang begitu menyayat hatinya.


Ibarat sebuah kertas. Kertas itu bisa dijadikan lembar untuk menulis, mengisi kata demi kata untuk menjadi rangkaian kalimat yang mengandung banyak arti.

__ADS_1


Namun, dibalik sifat kertas yang tipis, dan mudah di bentuk, tapi juga bisa hancur dengan mudah, kertas juga mampu untuk melukai jari si penulis itu sendiri.


Dan disini, meskipun Arvin mengatakan kalau dia tidak mempermasalahkan apapun, untuk membuat Ashera tidak terbebani dengan pikiran itu, justru bagi Ashera sendiri itu adalah ungkapan yang begitu menyakitkan.


"Kenapa kau bilang begitu? Kenapa kau tidak mempermasalahkan soal aku ya-"


Belum selesai bicara, Arvin segera memotong ucapannya Ashera, "Kau pernah mengatakan kepadaku, kalau ucapan adalah doa, kan?


Di satu sisi aku pernah mengatakan dengan percaya diri kalau kau tidak akan hamil. Meskipun ini diluar perkiraan, tapi sepertinya itu terjadi dengan cara lain."


"Tapi kenapa kau begitu bias-"


Kembali memotong ucapannya Ashera, Arvin kembali angkat bicara, "Terserah aku Ashera.


Dengar, mungkin apa yang aku katakan terdengar kejam, tapi alasan kau masih bisa hidup sampai sekarang, itu karena dia rela mati untuk melindungimu.


Aku mungkin orang yang terlihat tidak peduli, tapi daripada kau menyalahkan aku yang terlihat kejam dengan perkataanku ini, atau kenapa janin itu akhirnya keguguran, lebih baik fokus saja pada kesembuhanmu.


Ibumu, nenek, Luna, Yuli, Alvian, mereka semua lebih khawatir pada dirimu ketimbang fakta nyata kalau kau ternyata-" melirik ke arah perutnya Ashera, Arvin menambahkan, "Hamil. Jadi jangan pernah salahkan dirimu sendiri.


Itu bukan kehendakmu, atau aku. Melainkan takdir, dan meskipun takdirnya cukup buruk untuk kau hadapi, tapi mau bagaimanapun kau tidak bisa apa-apa selain memikirkan masa depanmu."


"Walaupun begitu- aku-" ada satu masalah lain, malam itu menjadi malam yang cukup mencekam.

__ADS_1


Ashera yang masih mengingatnya dengan jelas, kembali menangis dan berkata, "A-arvin, sepertinya aku sudah rusak,"


DEG ...


__ADS_2