Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
67 : Masuk rencana lagi


__ADS_3

BRRMM...BRMMM....


Suara knalpot motor itu mengisi keheningan di jalan raya yang sudah mulai sepi, sebab tidak lama lagi jam sudah menunjukkan pukul tujuh, dan Ashera, dia malah memakai sepatu roda untuk pergi ke sekolah, karena Arvin memang tidak mengizinkan Ashera memboncengnya.


"Kalau mau jalan, jalan saja sana, jangan menggangguku." cetus Ashera, menyuruh Arvin pergi terlebih dahulu.


"Kau kan masih kena skors, kenapa berangkat? Apa kau tidak mengerti arti dari hukuman yang kau terima itu?" Tanya balik Arvin, dia dengan sengaja memperlambat laju motornya, menyamai kecepatan Ashera dalam meluncur dengan sepatu rodanya. "Tapi, jika kau memang tetap mau berangkat, kau akan kena poin dan denda dariku sebanyak lima ratus ribu."


"Apa kau sedang memerasku?!" tanya Ashera dengan salah satu alis terangkat.


"Itu kan ada di pilihanmu, kau masih di hukum, jika melanggar ketentuan, kau harus bayar denda. Tanya saja sama guru, mereka juga tahu aturan itu, kenapa kau yang menjadi murid di sana tidak tahu aturan itu? Sudahlah, kalau kau mau berangkat, silahkan saja tapi tangung konsekuensinya. Apalagi, jika kau terlambat, kau akan kena poin pelanggaran." beritahu Arvin.


'Anak ini! Mentang-mentang jadi ketua, makannya bisa buat peraturan seenaknya, bahkan ketua Osis saja tidak ragu mengiyakan aturan yang dia buat itu.


Tapi ngomong-ngomong, sebenarnya siapa yang jadi ketua Osis ya? Di tahun ini, tidak ada pengumuman siapa ketua Osisnya selain wakil ketua Osis dan jajarannya saja. Ini aneh, mungkin bagi mereka tidak begitu memperdulikannya, tapi ini tetap membuatku kepikiran saja.' pikir Ashera, dia pun pada akhirnya tidak ada pilihan lain jika tidak mau terlambat, dan lagi pula Ashera sudah punya dukungannya sendiri untuk membebaskannya dari hukuman skors itu karena bantuan dari neneknya Arvin, dengan begitu berani, Ashera memegang besi di bagian jok belakang dari motornya Arvin.


Tanpa membuang tenaga, dia pun ikut berangkat dengan kecepatan yang sudah di buat oleh Arvin.


"Jika aku berangkat bersamamu, aku tidak akan telat, ya kan?"


'Apa dia tidak tahu apa yang namanya berbahaya?' Lirik Arvin, ketika ia baru saja mendengar suaranya Ashera yang masih terdengar jelas itu karena Ashera memang ada di samping kiri sedikit belakang motornya persis, atau lebih tepatnya, Ashera sedang jadi benalu, karena tidak mau melepaskan tangannya dari gagang besi motor yang ada di belakangnya.


Mau berdebat lagi, tapi jam sudah mau jam masuk.


Karena di jalan tidak mungkin ia akan terus bersilat lidah dengan perempuan ini, Arvin pun membiarkannya saja, karena toh tidak akan ada yang mau mempermasalahkannya, tidak akan ada siapapun yang bisa merekam mereka berdua, sebab sudah ada yang mengatur tentang sistem keamanan dari CCTV lalu lintas dan komunikasi di kota tersebut.


'Cara aling efektif, aku bahkan tidak perlu bersusah payah untuk mengeluarkan tenagaku untuk mendorong tubuhku terus.' Dengan perasaan senang bisa nebeng dengan caranya sendiri, Ashera pun bisa sampai di depan pintu gerbang sekolah dengan cepat.

__ADS_1


"Arvin, bagaimana kau akan mengurus si pacarmu itu? Apa kau akan memenjarakannya?" tiba-tiba saja Ashera mengungkit topik itu, karena kebenaran bahwa Marlina lah yang masuk kedalam rumah dan hendak mencuri, padahal di satu sisi perempuan itu adalah sosok yang menjadi pacarnya Arvin, tentu saja hal tersebut jadi sesuatu yang cukup penting untuk mencari tahu bagaimana kedepannya.


"Kenapa kau tanya soal itu? Kau sudah melakukan bagianmu jadi pelayan rumah untuk menjaga rumahku, jadi kau tidak usah memikirkan mereka, itu sudah jadi urusanku pribadi." Jawab Arvin sedikit ketus.


'Tumben, dia bicara dengan bahasa manusia? Biasanya dia juga memaki-makiku, tapi dia- memujiku? Yah, walaupun aku tetap di anggap sebagai pelayannya, karena berhasil menjaga rumah dari pencurian itu, tetap saja setidaknya dia punya pikiran waras untuk berbicara yang benar denganku.


Tidak seperti pertama kali dia bicara, di hari itu. Sangat- ekspresi wajahnya saat itu benar-benar terlihat sangat membenciku.' pikir Ashera. "Apa artinya kau putus dengannya?"


"Diamlah, jangan banyak bicara lagi, kau terlalu banyak mengoceh." Sahut Arvin dengan jelingan yang tajam.


"Eleh, padahal aku kan hanya tanya saja, kenapa kau selalu saja jawabannya begitu ketus. Sering marah cepat tua loh."


Tapi, begitu Arvin di katai begitu oleh Ashera, Arvin tiba-tiba saja tertawa. "Tua? Bukankah yang tua duluan itu kau? Aku lihat ada sehelai rambutmu berwarna putih tepat di atas dahimu, jadi mana yang kau katakan lebih tua dulu? Kau atau aku?" Ejek Arvin. "Makannya, kalau bicara, pikir dulu, jangan langsung bicara. Kan kena sendiri."


Ashera yang merasa tersinggung itu, tangan kirinya pun tiba-tiba saja menyentuh rambutnya.


'Walaupun aku sudah mencabutnya, tetap saja yang tumbuh warnanya putih terus. Tapi karena aku lupa memotongnya lagi, aku jadi ketahuan deh.' Ashera pun merasa malu saat tahu itu. Yah, karena Arvin sendiri juga sudah tahu, ia tidak akan menyangkalnya dan hanya memilih untuk diam sambil menikmati perjalanan dari mereka berdua yang cukup mengundang perhatian untuk para pejalan kaki.


_________


"Hahahaha, selama beberapa hari ini terbebas dari anak itu, ini cukup menyenangkan, setidaknya tidak ada pemandangan buruk di sekitarku." Ucap Dini dengan tawanya yang sungguh lebar.


"Ya ampun, sebegitu senangnya dia, jangan-jangan kau yang membuat perkara dulu dengan Ashera." Sindir salah satu perempuan yang paling pendiam, tapi jika sekalinya bicara, mulutnya pasti akan mengeluarkan kata-kata menyindir yang cukup ampuh, dan itu adalah Arin sendiri.


"Ya, memangnya kenapa? Toh, jika tidak seperti itu, dia akan terus melekat di kelas kita ini. Aku sangat tidak suka dengan keberadaannya itu." Jawab Dini tanpa sungkan.


"Tapi, sebaiknya hati-hati loh, meskipun kami semua mana mungkin akan mengadumu, mungkin ada satu orang yang masih bersikeras ingin membuat orang yang berhasil terjebak itu, menuntutmu." Ucap Arin lagi, dengan seringaian kecilnya, sorotan mata Arin nampak tengah melihat ke arah pintu masuk.

__ADS_1


Dan begitu Dini serta semua orang yang ada di sana melihat apa yang sedang di lihat oleh Arin, Dini pun langsung sedikit memperlihatkan ekspresi wajah terkejutnya. 'Ashera? Padahal mereka bilang kalau dia di skors sampai delapan hari, tapi kenapa belum sampai setengah minggu saja, dia malah sudah berangkat?' Pikir Dini.


Dan sebaik mungkin, Dini pun mencoba mengatur ekspresi wajahnya lagi.


'Suasananya, tiba-tiba langsung berubah menjadi hening. Ya, tentu saja pasti karena mereka semua terkejut aku bisa masuk sekolah, padahal keputusan skors terhadapku sudah di layangkan dan aku di jatuhi hukuman delapan hari.


Tapi, berkat majikanku sendiri, tentu aku bisa menyelesaikan masalah ini, dan seperti yang di harapkan, di belakang pasti Dini ada kaitannya. Untung saja aku merekamnya.


Bukan untuk rekaman soal yang tadi, tapi karena dari awal diriku yang satu lagi juga punya sisi waspada terhadap teman-temannya, jadi di bawah kaki dari meja guru, sebenarnya sudah di letakkan alat perekam suara.


Jadi kira-kira sudah berapa lama ya kira-kira rekaman itu di rekam? Pasti banyak informasi yang tersembunyi.


Aku jadi tidak sabar membuka semua isi rekamannya.' Pikir Ashera.


Dalam diamnya itu, dia pun terus melangkah kakinya masuk kedalam kelas, memecah keheningan itu dengan sepatu yang menapak ke atas lantai, sampai Ashera akhirnya duduk di kursinya sendiri.


'Hmph, aku sangat menantikan mereka yang bicara di belakangku, dan mungkin memang ada berita yang menarik yang bisa aku dengar sebagai pengantar tidurku. Ashera, kau memang jenius, tanpa perlu banyak bicara, kau bisa mendapatkan banyak bukti yang bisa aku gunakan untuk membuka kedok mereka yang punya niat tidak baik.


Langkah awal yang cukup bagus, aku jadi bangga dengan diriku yang satunya lagi.' Pikir Ashera lagi, dan ia pun langsung bersandar ke sandaran kursi sambil menonton pemandangan luar.


Terlihat kalau Arvin sedang ada di luar sana tengah membariskan pasukannya itu untuk apel pagi.


'Anak itu sebenarnya rajin, tegas, hanya saja ucapannya yang menusuk dan emosinya yang naik turun itu, jadi kekurangannya.


Kalau dia masuk ke dunia militer, bagaimana jadinya ya? Padahal anak itu baru 17 tahun, tapi tubuhnya itu, dia justru sudah cocok jadi orang dewasa, memakai seragam militer, heh, pasti sangat cocok, ya kan?' Begitu membayangkan Arvin memakai seragam militer, Ashera pun jadinya senyum-senyum sendiri. 'Dia lebih tampan, ya, aku sangat memuji wajahnya yang tampan itu.


Untungnya, Marlina keluar juga dari posisinya sebagai pacarnya Arvin, dengan begitu Arvin jadi sudah tidak memiliki hubungan dengan siapapun lagi.'

__ADS_1


Dan suara cekikikan itu, sontak membuat mereka semua penghuni kelas, langsung merasa ada yang aneh dengan sikap tidak biasa Ashera itu.


__ADS_2