Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
13 : Ashera sebagai taruhan


__ADS_3

"K-kalian akan membawaku kemana?" Tanya Ashera dengan wajah gugup.


"Tunggu saja, nanti kau juga akan tahu." Jawab Arliana, masih terus menyetir mobil dengan kecepatan yang cukup lumayan tinggi, padahal masih berumur 17 tahun. Tapi karena orang kaya adalah orang yang tidak mengenal usia, keluarganya pun memberikan fasilitas mewah kepada Arliana dan salah satunya adalah diberikan kebebasan untuk menggunakan mobil.


"Walah-walah, Ashera, kau beli minuman apa tadi? Bau-baunya sih memang ada sisa aroma kopi, apa aku boleh mencobanya?" Tanya perempuan ini, salah satu teman yang tidak lain sebenarnya adalah anak buah Arliana, bahkan saudara kembarnya yang ada di sebelah kanan Ashera juga merupakan anak buah Arliana juga.


Mereka berdua ada Dini dan Doni, saudara kembar yang kebetulan juga anak dari seorang pelayan yang bekerja di rumahnya Arliana juga.


"Hm...aku jadi ingin coba. Sini, berikan termosmu ini." Doni pun mencoba mengambil termos yang di bawa oleh Ashera.


"J-jangan, ini juga bukan milikku, jadi jangan rebut ini dariku." Tolak Ashera kepada Doni yang hampir merebut termos yang sedang Ashera peluk kuat-kuat.


"Kenapa pelit sih, nanti kan tinggal beli lagi." Kata Dini, mencoba meraih termos tersebut dari tangan Ashera.


"Kan aku sudah bilang, ini pesanan dari majikanku, jadi jangan seenaknya mengambilnya dariku." Ashera tetap bersikukuh untuk melindungi termos itu, karena bagaimanapun itu adalah pesanan dari Arvin, sehingga tidak boleh ada yang menyentuhnya bahkan meminumnya.


"Doni, Dini, jangan usil sama dia. Lagian hanya kopi, kenapa jadi bahan rebutan sih? Paling itu kan kopi murahan, aku bisa membelikan kalian yang harganya lima kali lipat dari kopi itu jika kalian memang mau." Sela Arlina, membuat Doni dan Dini tidak lagi mengusik Ashera, karena apa yang di katakan oleh Arlina memang benar, kalau Arlina bisa membelikannya lebih mahal dan pasti lebih enak dari kopi yang dibeli oleh Ashera.


"Kau benar, itu hanya kopi murahan. Kalau begitu apa nanti saat kita pulang, kita ngopi saja?" Tanya Doni.


Arlina tersenyum, "Tentu saja, pasti enak di malam-malam seperti ini minum kopi." Jawabnya.


'Sebenarnya aku mau dibawa kemana sih? Aduh ..., bagaimana ini? Pasti Arvin akan memarahiku habis-habisan dan bahkan menuduhku dengan yang bukan-bukan seperti kemarin.' Pikir Ashera, ia benar-benar khawatir dengan malam ini, karena perasaannya saja sekarang sudah tidak begitu enak.


15 menit kemudian.


Mereka berlima pun sampai juga.


Selain Arlina, Ashera, Doni, Dini, tentu saja ada satu orang lagi yang ada di dalam mobil tersebut, yaitu Arin.


Dia adalah anak berkacamata bundar namun seorang yang cukup pendiam.


Di malam yang dingin, dan seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk berkumpul bersama di dalam rumah bersama dengan keluarga, maka tidak dengan mereka semua.


Banyak anak remaja dari berbagai kalangan yang datang. Baik itu datang dengan motor, maupun mobil, bahkan entah mereka datang sendirian maupun dengan pacar, ataupun teman, inti dari suasana kali ini adalah karena mereka akan mengadakan lomba balap motor.


Bahkan Ashera yang tidak tahu apa-apa jadi ikut terlibat juga dalam perkumpulan yang seharusnya tidak Ashera datangi.


BRRMMM.....BRRMMM......


Deru suara knalpot motor terus mengisi kebisingan yang sudah ada sejak tadi.


Jalanan yang terang di padukan dengan arena balap yang sudah di siapkan untuk para peserta lomba, serta tidak ketinggalan dengan para penonton yang hadir untuk menonton pertunjukan itu, membuat suasana begitu meriah.


"Bagaimana aku bisa ada disini sih? Ya ampun, semoga saja dia tidak marah-marah saat aku pulang telat seperti ini." Harap Ashera agar nanti saat pulang, dirinya tidak dimarahi, walaupun ia tidak percaya kalau itu tidak terjadi kepadanya.


"Wah..wah...wah..., Arlina, siapa lagi perempuan yang kau bawa ini?" Seorang laki-laki berjaket berwarna biru pun mendatangi Arlina dan memberikan kecupan ringan di kening Arlina sebagai salam sapa mereka berdua.


Dan tentu saja laki-laki ini langsung melirik ke belakang, dimana Ashera saat ini masih berdiri di samping pintu mobil sambil membawa sebuah tas yang berisi termos dengan isi kopi.


"Oh dia, aku tidak sengaja bertemu dengannya di jalan. Dia kebetulan satu sekolah denganku, jadi sekalian saja aku bawa dia ke sini." Jawab Arlina dengan serta merta, bahkan terlihat ada senyuman yang terasa ada sesuatu yang di sembunyikan di balik niat Arlina yang tiba-tiba saja membawa Ashera pergi dengannya ke tempat perkumpulan para remaja seperti ini.


"Begitu ya, kau baik sekali membawa temanmu pergi kesini, bisa kau perkenalkan dia kepadaku?" Pinta laki-laki ini kepada Arlina.

__ADS_1


Arlina pun menoleh ke belakang, lalu dengan buru-buru meraih tangan Ashera dan membawanya bersama ke depan mobil untuk berkenalan dengan sepupu jauh Arlina.


"Enzo, perkenalkan dia adalah Ashera," Ucap Arlina sambil menekan kedua bahu Ashera dan mendorongnya sedikit lebih ke depan, agar Enzo dan Ashera bisa berhadapan dengan jarak yang lumayan dekat. "Dan Ashera-" Arlina pun sedikit mendekatkan wajahnya di samping wajah Ashera dan berkata : "Perkenalkan, dia adalah Enzo, sepupuku."


"Enzo," Pria jangkung ini pun mengulurkan tangan kanannya ke depan, untuk berkenalan langsung dengan berjabat tangan dengan Ashera.


"A-aku Ashera." Dengan wajah malu-malu, Ashera pun membalas jabatan tangan dari Enzo kepadanya.


"Ternyata tanganmu kasar ya, kau pasti bekerja keras ya?" Tanya Enzo kepada Ashera.


Entah itu adalah sebuah sindiran ataupun hanya tebakan yang di dasari karena ingin bicara basa-basi, Ashera tidak begitu memperdulikannya dan menjawab : "A-"


Tapi Arlina lebih dulu menyelanya. "Ya, dia adalah satu-satunya orang yang begitu bekerja keras, karena dia bekerja sebagai seorang pelayan. Dan bawaannya ini-" Arlina dengan sengaja malah merebut termos dari tangan Ashera, lalu memperlihatkan termos itu kepada Enzo. "Dia sebenarnya sedang membeli kopi untuk majikannya, tapi karena aku kasihan dia hanya suka bekerja, makannya perintah dari majikannya secara tidak langsung di abaikan. Apa kau percaya itu? Sekarang dia ada disini dengan termos yang berisi kopi pesanan dari majikannya itu."


"Hahahah...., Arlina, ternyata kau nakal sekali pada temanmu ya. Bisa-bisanya mengajak orang yang sedang bekerja ke sini." Tawa Enzo pun jadi sempat pecah karena ucapannya Arlina.


'Kan, ujung-ujungnya disini aku di tertawakan. Apakah hidupku memang akan di jadikan sebagai bahan tertawaan oleh mereka secara terus menerus?' benak hati Ashera. Ia sebenarnya ingin sekali menyumpal kedua mulut itu agar diam dan setidaknya berhenti tertawa.


Tapi karena dirinya tidak berani untuk membuat perkara dengan dua orang yang pastinya memiliki pengaruh yang cukup besar, maka dari itu Ashera pun hanya diam saja sambil mendengarkan dirinya sedang direndahkan oleh mereka berdua.


"............" Sampai akhirnya, Enzo yang memperhatikan reaksi Ashera terhadap tertawaan yang mereka berdua lakukan tidak begitu di tanggapi seolah sudah terbiasa, Enzo pun akhirnya memutuskan untuk mengakhiri tawanya, karena merasa hal itu sudah tidak begitu berguna lagi. "Sudah-sudah, jangan menertawakan Ashera lagi, dia terlihat seperti hendak menangis."


"Oh...!" Arlina pun langsung menutup mulutnya seolah tidak tahu.


"Ashera, mumpung kau ada di sini, kau mau mendukung siapa?" Tanya Enzo, dia juga salah satu dari peserta yang akan ikut dalam turnamen balapan motor yang tidak lama lagi akan di mulai.


"Mendukung apa? Memangnya apa yang mau kalian lakukan?" Tanya Ashera dengan polosnya, lalu menyimpan kembali termos yang ia bawa itu ke kedalam pelukannya, karena dengan memeluk termos itu, ia jadi sedikit merasakan rasa hangat yang cukup nyaman itu.


"Kau belum memberitahunya?" Enzo melirik ke arah Arlina.


"Hahh~ Arlina, bagaimanapun ini sesuatu yang cukup penting." Meskipun Enzo berkata demikian kepada Arlina, namun tatapan matanya justru tertuju pada Ashera yang sedang di landa kegelisahan.


"Mending tidak usah beritahu, biarkan ini jadi kejutannya juga." Bisik Arlina kepada Enzo.


Enzo pun diam sambil berpikir 'Benar juga. Kalau memberitahunya lebih dulu, ini tidak akan menyenangkan sama sekali.' Pikir Enzo.


BRRMMM....BRRMMMM.......


"Enzo, sudah mau mulai tuh, sebaiknya kau pergi." Kata Arlina menepuk bahu Enzo.


Enzo mengangguk paham sebelum akhirnya melambaikan tangan kepada Ashera. "Dukung aku ya?"


"..........?" Ashera masih kebingungan.


"Dia memang bilang agar kau mendukungnya, karena sebentar lagi balapan akan dimulai. Jadi Ashera, kau mau mendukung siapa? Kebetulan warna motornya beda-beda, kau bisa pilih sesuai keinginanmu." Tunjuk Arlina kepada Ashera, bahwa di depan sana perlombaan untuk adu kecepatan pun di mulai, dan di hadiri ada dua belas pembalap motor yang siap untuk mengadu nasib menemukan kemenangannya atau tidak.


"Jadi seperti itu ya?" Gumam Ashera, baru tahu kalau ia datang ke tempat untuk menyaksikan balapan motor.


Ashera pun jadi berminat untuk memilih warna motor yang akan jadi jagoannya, jika dihadapkan untuk memilih salah satu diantara mereka semua.


Ada beberapa motor yang memiliki warna yang sama. Tapi karena perbedaannya di bagian plat nomor motor serta pakaian yang mereka semua kenakan, Ashera puna akhirnya memilih. "Aku pilih motor warna hitam dengan plat nomor 1b3xxxx."


Dan secara kebetulan, Ashera pun memilih orang yang sebenarnya Ashera kenal, yaitu Arvin.

__ADS_1


BRRMMM......BRRMMM......


Semua motor sudah bersiap di tempatnya. Dan adu suara dari knalpot motor pun terjadi, ingin membuktikan kepada mereka bahwa suara knalpot motor yang paling keren adalah miliknya.


Ketika Ashera terfokus pada apa yang ada di depan, diam-diam Arlina pun menyuruh seseorang untuk datang mendekat dan berbisik kepada laki-laki yang baru saja datang itu.


"Kau lihat dia? Dia akan jadi barang taruhan utama di balapan kali ini. Tentu saja uang tunai nya akan tetap ada. Jadi pastikan kalau dia tidak pergi dari sini. Itu yang aku pertaruhkan kepada kalian." Bisik Arlina kepada laki-laki tersebut.


"Siap. Kau selalu saja memberikan kita kejutan, makannya, banyak yang hadir di sini." Ucap laki-laki ini kepada Arlina.


Arlina hanya melirik dan memperhatikan Ashera yang tidak tahu apa-apa itu, dan seterusnya, Arlina pun menyunggingkan sebuah senyuman tipisnya.


'Dia memang perempuan bodoh. Memangnya dia kira aku mengajaknya ke sini secara cuma-cuma?


Lihat saja nanti, aku sangat ingin sekali melihat wajah ketakutannya saat tahu dirinya sendiri jadi bahan taruhan, dan akhirnya yang menang akan mendapatkanmu. Tubuhmu yang sok suci itu, aku pastikan agar malam ini kau dinodai.' Pikir Arlina.


BRRMM....BRRMMMM........


"Sudah mau mulai ya? Aku yang akan menghitung mundur." Tiba-tiba saja Arlina bersuara, dan membuat sebagain besar penonton yang ada di sana langsung bersorak sorai dengan kehadiran Arlina yang mana penampilannya malam ini begitu cantik dan seksi, sampai para kaum laki-laki, ingin sekali menyentuh paha putih mulus yang dipadukan dengan kaki Arlina yang memang jenjang itu.


Arlina dengan percaya diri yang begitu tinggi, berjalan dengan begitu anggun serta menampilkan sosok yang terlihat memperlihatkan lekuk tubuhnya yang cukup menonjol baik depan maupun belakang.


Setelah di tengah-tegah jalan, Arlina pun melepaskan kain yang sempat menutupi lehernya, lalu ia angkat digunakan sebagai pengganti bendera.


BRRMM.... BRRMMM.... BRRMM....


Arlina menyeringai, dan menatap ke semua peserta dari para rider.


"Semuanya siap?!" Teriak Arlina.


Semakin kencang lah suara knalpot motor mereka semua.


'Aku memenangkan pertandingan ini.' Pikir Arvin, ia berada di posisi paling depan bersama dengan Enzo dan dua peserta lainnya yang ada di kiri dan kanannya. 'Lumayan kan, uang 10 juta dalam semalam. Tabunganku jadi tambah banyak.'


'Siapa orang di sebelahku ini?' Batin Enzo saat melihat di samping kirinya ada satu orang yang dari awal kedatangan sampai pertandingan ini, helm sama sekali tidak di buka, sehingga menimbulkan rasa penasaran dari Enzo sendiri.


"Oh, sebelum itu aku ingin menginformasikan kepada kalian." Sela Arlina di sela-sela mereka semua sudah begitu tidak sabaran untuk memulai balapan mereka. "Orang yang menang di pertandingan kali ini, selain mendapatkan uang, juga ada bonus hadiah spesial. Aku tidak akan memberitahunya sekarang, karena jika aku memberitahu kalian, maka sama saja dengan bukan kejutan. Jadi bagi yang penasaran, maka salah satu diantara kalian harus menang."


"Itu cukup menarik."


"Arlina, kau selalu saja mengejutkan kami semua. Aku jadi tambah penasaran siapa dia."


"Berarti nilai balapan kali ini lebih tinggi dong."


"Aku tidak sabar."


Satu persatu diantara mereka pun jadi semakin bersemangat ingin memenangkan perlombaan yang mereka lakukan.


"Maka dari itu, bersiaplah untuk kalian yang akan meraih kemenangan dariku." Jawab Arlina dengan senyuman lebarnya, sehingga banyak yang langsung terpikat dengan senyuman cerah itu. "Ok, aku tidak mau membuang waktu lagi. Kalian bersiap!"


Mereka semua sama-sama memperlihatkan jempol mereka.


"Baiklah, Satu! Dua! Tiga!"

__ADS_1


Dan tepat di teriakan ketiga, mereka semua akhirnya langsung memutar gas motor mereka sedalam-dalamnya.


Lalu perlombaan pun akhirnya di mulai, dengan barang taruhan yang tersembunyi dan mulai di nantikan oleh mereka, sekarang sedang berdiri ikut menonton dengan wajah polosnya, yaitu Ashera.


__ADS_2