Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
87 : Undangan Palsu


__ADS_3

"Bagaimana? Apa undangannya sudah jadi seperti yang di contohkan?" Tanya Dini pada seorang yang membuka jasa untuk cetak undangan.


Karena dia berhasil mencuri undangan tersebut, Dini pun dengan cukup berani membuat undangan untuk dirinya sendiri, sebab mau bagaimanapun undangan yang sudah memiliki nama, tidak bisa di manipulasi, jadi dia harus punya rencana cadangannya sendiri dengan membuat undangan itu semirip mungkin dengan yang asli.


"Sudah, hanya tinggal di cetak." Jawab laki-laki ini, lalu dia pun menyesuaikan kertas yang harus dia gunakan untuk mencetak hasil dari desain undangan yang sudah ia buat.


Tidak perlu waktu lama, dia pun berhasil mencetaknya seperti yang asli.


"Tapi ngomong-ngomong, kau seharusnya jangan asal ambil undangan."


"A-apa? Siapa yang kau maksud asal ambil undangan?" Tanya Dini, dia panik karena rupanya ketahuan oleh orang tersebut.


"Aku tidak peduli kau mau membuat alasan apa, tapi sebaiknya kau tetap hati-hati, jangan asal mabil keputusan hanya karena kau tidak bisa mendapatkan undangan pesta ulang tahun."


"Nah, tidak usah banyak bicara seolah sedang mengancamku jika hanya ingin uang lebih banyak. Aku bayar kau melebihi harga yang kau tawarkan itu." Dengan cepat, Dini pun memberikan uang kepada orang tersebut dan segera pergi membawa undangan yang sudah dia peroleh itu dan segera pergi dari sana.


KLING...


Setelah suara lonceng pintu sebagai tanda kalau Dini baru saja keluar, Ashera tiba-tiba saja muncul dari balik lemari, dimana dia sesaat tadi baru saja makan secara diam-diam sambil mendengarkan percakapan mereka berdua.


"Apa dia sudah pergi?" Tanya Ashera, dia mencoba melihat dari balik jendela, dan melihat Dini sudah pergi naik motornya sendiri.


"Seperti yang di lihat, dia sudah pergi." Jawab pemuda ini. Sebagai anak kuliahan yang harus memiliki tambahan biaya, laki-laki ini pun melakukan pekerjaan sampingan di sebuah pusat alat tulis dan perlengkapan kantor, dimana ia membuka jasa sendiri di sana.


"Apa yang membuatmu harus seperti itu kepadanya?" Tanya anak ini, dia membuka kembali layar komputernya dan melihat kembali desai jiplakan dari undangan yang baru saja dia cetak.


Sebenarnya, di balik undangan yang terlihat kosong itu, ada sepatah puisi yang di tulis dengan menggunakan tinta khusus yang hanya bisa di lihat dengan sinar ultraviolet. Dan karena alat scan itu sendiri juga memiliki sinar khusus, hasil dari scan tersebut pun memang memperlihatkan kalimat lain di dalam surat undangan itu.


Apalagi soal barcode, maka akan jelas mana yang asli dan yang palsu.


"Yang membuat undangan ini pasti termasuk jenius. Sama sekali tidak ada celah untuk di palsukan." Ucapnya, memberitahu kepada Ashera bahwa undangan itu tidak bisa di palsukan.


"Alasan agar kau tidak memberitahukan kalau undangan itu tidak bisa di palsukan agar dia bisa kena malu sendiri. Siapa suruh dia mencurinya dariku, walaupun sebenarnya undangan yang dia curi dariku adalah undangan palsu juga. Tapi kau dapat salinan yang asli dariku." Jelas Ashera.


Demi membuat Dini terjebak dalam rencananya sendiri, Ashera pun sama-sama membuat jebakan sendiri agar Dini di permalukan.

__ADS_1


"Tapi berkatmu, rencana ini akan berjalan lancar. Ini upahmu."


"Makanan?" tanya pria ini begitu dia di berikan kotak bento kepadanya.


"Aku tidak ada uang, tapi aku jamin makananku tidak bisa membuatmu melupakan cita rasa yang aku berikan di dalam makananku ini." Beritahu Ashera. Alasan dia tidak bisa memberikannya uang adalah karena Ashera sendiri tahu kalau orang di depannya itu adalah orang yang merindukan makanan rumahan, maka dair itu, Ashera pun dengan sengaja berkata demikian.


"Ya sudahlah, tidak apa-apa. Lagian ini sudah jam siang, aku juga kebetulan sudah lapar. Oh ya, apa kotaknya mau aku kembalikan?"


"Tidak usah, di lemari aku punya banyak. Jadi sekalian untukmu saja." jawab Ashera, lalu dia pun memberikan anak itu air mineral satu liter, serta air jeruk yang ia beli di dalam perjalanannya ke tempat itu.


Karena di berikan banyak hadiah berupa makanan dan minuman, laki-laki ini pun melongo. "Kenapa kau memberikan semua ini?''


"Lah, kan makanan juga butuh minuman. Sudah sewajarnya ya kan, jika aku memberikanmu makanan, minuman, serta jajan agar kau bisa punya energi saat kau bekerja." Jawab Ashera tanpa ragu sedikitpun.


Dan yang di berikan makanan, jadi merasa ia sedang di urus oleh pacar sendiri, padahal sejatinya dia tidak memiliki pacar. Tapi setidaknya ia jadi mendapatkan kebaikan dari orang lain dengan cara yang berbeda dan lebih berkesan.


'Pasti bagus, jika punya kekasih seperti dia.' Senyum pira ini secara tiba-tiba.


"Oh ya, aku lupa buahnya. Kan seharusnya makan-makanan yang seimbang." Gumam Ashera, dia kehabisan makanan yang ada di dalam tas, padahal seharusnya ada buah segar juga, setidaknya apel atau jeruk.


"Jus ini kan sama-sama buah, kau tidak usah memikirkannya. Ini sudah lebih dari cukup." tutur laki-laki ini.


'Pfft...., ada juga ya yang memberikanku imbalan seperti ini?' Batin pria ini, dan dengan perlahan, dia pun membuka tutup bekal dari makanan tersebut.


_____________


"Kau habis dari mana?" Di dalam rumah alias apartment nya Arvin.


"Aku baru saja mengurus Dini. Karena dia yang menjebakku sampai aku di tuduh mencuri, jelas aku membalasnya, ya kan?" jawab Ashera, dia melepaskan sepatunya dan meletakkannya di dalam kotak sepatu yang di jejer rapi di samping pintu rumah.


"Caranya?" Arvin yang penasaran mengekori gadis ini sampai duduk di depan meja dapur.


"Undangan yang tidak bisa di palsukan, dia memalsukannya sendiri. Kan dia tidak tidak dapat undangan, jadi kemarin aku berhasil memprovokasinya agar dia merasa bukan orang yang tidak memiliki undangannya. Jadi hasilnya, besok pasti akan kelihatan." Jelas Ashera, dia mengambil air dingin di kulkas lalu dia duduk dan meminumnya sampai habis.


'Tinggal beberapa hari lagi. Karena dia menurutiku untuk tidak pergi ke pestanya, kira-kira dia akan membuat hadiah apa untuk si anak itu?' Yang di maksud oleh Arvin pun adalah Fajar. 'Tapi- jika dia membuat hadiah untuk anak itu, kenapa aku rasanya tidak rela ya?' pikir Arvin lagi.

__ADS_1


____________


Sedangkan di dalam salah satu kamar, seorang perempuan tengah tersenyum senyum sendiri melihat apa yang sudah dia miliki akan dia gunakan untuk pesta malam ini.


"Yes, sekarang aku sudah punya pakaian pesta ku sendiri, undangan, uang, dan perhiasan, apalagi ya?" Gumam Dini, dia adalah orang yang berhasil memiliki undangan dari hasil curian, dan selain itu pula, dia juga berhasil membuat undangan hasil curian itu untuk menjadi undangan miliknya sendiri.


Dengan kata lain, walaupun dirinya kenyataannya memang tidak memiliki undangan asli dari Fajar, tapi dia akan tetap berangkat ke sebuah pesta.


Walaupun sebenarnya dia tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, sebab ada sebuah rencana licik yang sudah di persiapkan oleh seseorang, dan orang itu adalah Ashera.


Tidak lama kemudian, tiba-tiba saja sebuah ketukan dari pintu kamarnya pun terdengar.


TOK...TOK....TOK.....


"Din, ini aku." Ucap Doni, saudara kembar Dini, yaitu sang kakak.


"Masuk saja." Ucap Dini, dia segera membereskan pakaian dan segala barang yang membuat kamarnya begitu berantakan.


KLEK....


Begitu sudah di izinkan seorang pria seumuran dengan Dini pun masuk kedalam sebuah kamar yang tidak seberapa besar itu, dan pria itu adalah Doni.


"Din, apa kau yakin dengan apa yang sudah kau lakukan itu?"


"Ha? Melakukan apa?" Tanya Dini seolah dia tidak paham apa yang di katakan oleh Doni itu.


"Kau, bukannya kau mencuri undangan milik Ashera?"


Dini yang awalnya berusaha untuk menyembunyikan niatnya itu, karena sudah terlanjur ketahuan, dia pun terpaksa untuk memberitahunya. "Ya, lalu kenapa? Memangnya salah jika aku mencuri?" Tanya balik Dini kepada Doni.


"Terserah apa yang akan kau lakukan, tapi aku ingatkan untuk tidak melakukan hal sembrono lagi, karena kau di awasi. Hanya itu yang ingin aku katakan kepadamu, jadi pikirkan baik-baik." jelas Doni.


Doni dan Dini pun saling menatap satu sama lain. Dini menatap sang kakak seperti seorang musuh, sedangkan Doni sendiri dia menatap Dini dan situasi apa yang ada di dalam kamar itu dengan tatapan penuh selidik.


"Aku pikir kau harus lebih pintar lagi selain hanya mengandalkan mulut untuk memprovokasi orang lain." Beritahu Doni kepada Dini sebelum akhirnya Doni memutuskan untuk pergi keluar dari kamarnya Dini.

__ADS_1


KLEK....


'Hiih..!' Dini yang sedikit geram dengan kakak nya itu, dia pun sempat mengepalkan tangannya dan ingin meninjunya, tapi karena Doni sudah keburu pergi keluar dari kamar, Dini pun hanya meninju angin saja. 'Dia itu selalu saja merendahkanku, dan sok pintar juga. Awas saja kau-' Pikir Dini, karena dia merasa tersindir dengan semua yang di katakan oleh Donni kepadanya, seakan merasa yang paling benar.


__ADS_2