
"Memangnya salah jika aku pulang lagi? Aku niatnya ingin membawamu pergi, tapi karena kelihatannya kau masih lelah setelah penerbangan kita seharian tadi, aku tidak jadi pergi deh, apa itu masalah?"
'Ada apa ini? Dia tiba-tiba bicara sebanyak itu padaku, dan kenapa kedengarannya dia bicara atas dasar memperhatikanku?' Ashera yang merasa aneh dengan sikap Arvin ini, dia pun memberikan tatapan mata penuh selidik kepada Arvin. "Kalau mau pergi sendiri tinggal pergi saja, aku tidak akan mempermasalahkan aku di tinggal di sini, juga."
"Aku itu tiba-tiba punya niat untuk membawamu keliling kota, tapi yang ingin aku bawa saja sedang ingin santai-santai di sini, lalu aku harus pergi sendirian, begitu? Jika kau tidak bisa pergi, ya aku tidak jadi pergi juga, itu saja sih."
"Hah~" dengan ekspresi wajah Ashera yang datar itu, Ashera menghela nafas dengan panjang. "Jika seperti itu, itu terserah padamu saja," Ashera yang sudah lelah untuk berdebat dengan Arvin ini, lebih memilih untuk mendiamkannya saja tanpa banyak bicara lagi.
"Ngom-"
"Aku tidak ingin ngomong lagi, jangan ganggu aku," ketus Ashera, menyela ucapannya Arvin yang ingin bicara basa-basi lagi, tanpa ada kata maaf apapun dengan apa yang sudah di lakukan Arvin seharian ini.
"Kau mau sampai kapan marah seperti itu kepadaku?"
"Sampai aku puas,"
"Hei tunggu, kenapa langkahmu tiba-tiba jadi cepat? Padahal tadi pagi saja seperti siput!" Arvin yang tidak mau tertinggal dengan langkah kakinya Ashera, langsung berusaha untuk menyamakan langkahnya.
"Kau pergi saja dengan tenang, jangan ikuti aku!" jerit Ashera, sambil membawa tripod dan kursi lipat di kedua tangannya.
"Tapi aku kan penasaran apa lagi yang mau kau lakukan, bukannya tadi kau bilang terserah aku mau ngapain?"
Seperti kena karma sendiri dengan ucapannya tadi, Ashera pun benar-benar di buntuti oleh Arvin.
"Tidak! Aku ingin sendirian, jangan usik aku, aku ingin tenang, aku tidak mau dengar suaramu yang sadis itu," papar Ashera, pada akhirnya dia yang sedang tidak ingin dekat-dekat dengan Arvin, langsung berlari terbirit-birit di menuju pantai.
Dan Arvin yang justru merasa tertantang dengan penolakan Ashera yang begitu terang-terangan, dengan sengaja terus berlari mengikuti Ashera kemanapun Ashera ingin berlari pergi menjauhinya.
"Hahaha, coba saja kalau bisa jauh dariku," sindir Arvin.
Dan akhirnya di malam dimana awalnya hari itu berisi banyak singgungan, kemarahan dan kecanggungan yang terjadi diantara mereka berdua, semuanya tiba-tiba bertolak belakang dengan sekarang ini.
"Tidakk! Jangan dekati aku!"
"Semakin kau menolak, justru semakin membuatku ingin menangkapmu,"
Suara tawa dari Arvin sangat kontras untuk berhadapan dengan teriakan dari keluhan milik Ashera yang terus saja menolak untuk di dekati.
CKREEKK....
Di suatu tempat di dalam kegelapan itu, seseorang berhasil memotret keberadaan dari dua orang di depan sana.
__ADS_1
"Nyonya, saya sudah kirimkan beberapa foto yang saya dapatkan," ucap pria ini, tidak lain adalah Daseon.
Demi menjalankan perintah yang di berikan oleh sang Nyonya besar, Daseon pun mengikuti sekaligus mengawasi kedua majikannya itu dalam diam.
Memotret keseharian dan apapun yang di inginkan oleh majikan besarnya, Daseon pun tetap akan menjalankan tugas itu tanpa harus di ketahui oleh majikan mudanya, yaitu Arvin.
-"Baiklah, untuk hari ini kau sudah cukup bekerja keras, kau bisa istirahat sekarang,"- ucap nenek Tina kepada Daseon.
"Baik Nyonya," jawab Daseon.
Daseon pun untuk beberapa alasan, di luar perintah yang diberikan oleh Nyonya besar, Daseon sengaja mengambil kembali beberapa gambar dari dua anak muda yang ada di sana.
Terlihat wajah dari Tuan muda nya itu nampak girang karena bisa mengejar derita Ashera yang tidak ingin di dekati.
CKREKK...CKREKK....
Melihat hasil yang Daseon dapatkan, mulutnya tiba-tiba saja bergumam lirih, "Tuan muda, apakah anda sadar kalau perlahan anda sudah mulai berubah saat memandang Ashera?"
Dengan lidah yang terasa masih sedikit kelu untuk merubah nama panggilan dari Ashera dengan di awali Nona, Daseon pun segera menutup mulutnya itu rapat-rapat, dan memilih untuk pergi dari sana dengan segera, sebelum ketahuan sang Tuan muda yang mempunyai insting yang tajam untuk merasakan kehadiran seseorang di sekitarnya.
__________
"Kyaa..!" karena tiba-tiba dia hihadapkan seekor penyu, Ashera yang tidak sempat menghindari hewan bertempurung kuat itu, akhirnya jadi tersandung tempurung penyu itu sendiri, dan berakhir dengan dirinya yang harus terjatuh?
GREPP...
"Ceroboh sekali, makannya aku bilang berhenti ya berhenti. Kau hampir saja membuat si penyu terguling, padahal dia sedang menggali lubang," kata Arvin, dia menegur Ashera yang ceroboh karena tidak mau berhenti berlari, hanya demi menghindari dirinya. "Apa kau benar-benar sebenci itu padaku, sampai ingin terus berlari menjauhiku?" tanyanya, membuat Ashera jadi tidak bisa berkata-kata lagi.
"..."
Merasa tidak enak hati jika harus bicara lebih panjang lagi, dan ujung-ujungnya dirinya membuat keributan dengan Ashera sekali lagi, Arvin pun tidak menuntut Ashera untuk menjawab selain membantu Ashera untuk berdiri lagi.
"Penyu nya mau bertelur, apa kau ingin lihat?"
"Bertelur?" Ashera yang tidak tahu kalau penyu itu bertelur, dia pun akhirnya jadi terpancing dengan pertanyaannya Arvin tadi.
"Penyu yang mirip dengan kura-kura ini berkembang biak dengan bertelur. Spesies ini namanya penyu belimbing, salah satu penyu terbesar di dunia, dan salah satu reptil ke empat terbesar setelah tiga jenis buaya.
Dia akan pergi ke pesisir pantai dan menggali lubang untuk menampung 110 butir telur yang harus dierami di dalam pasir ini.
Butuh waktu dua minggu sampai menetas dan menjadi seekor tukik." penjelasan dari Arvin ini pun berhasil membuat Ashera paham dengan betul, apa jenis penyu yang cangkangnya memang terlihat seperti buah belimbing ini, dan cara membuat telur itu menetas, dan sekaligus membuat Ashera tahu kalau penyu itu adalah penyu terbesar di dunia?
__ADS_1
"Apa aku boleh bawa pulang?"
"Kau bawa ini saja," dengan cepat, Arvin memberikan tempurung dari kerang laut yang sempat Arvin ambil saat dia berlari mengejar Ashera ini. "Membawa penyu sama saja tindakan ilegal. Aku memang bisa memeliharanya, tapi apa kau mau membuat dia terkurung?"
"Tidak," Ashera yang merasa lelah untuk terus berdiri itu, akhirnya duduk di kursi lipat yang sempat dia bawa itu.
"Kenapa kau tidak memotretnya saja? Katamu ingin jadi fotografer, walaupun abal-abal,"
Mendengar lanjutan dari ucapannya Arvin ini, perempatan dahi Ashera pun berkerut-kerut.
Walaupun tidak suka dengan cara Arvin bicara kepadanya, momen langka seperti ini, bagi Ashera, kesempatan seperti ini pun tidak bisa dia sia-siakan.
Dengan begitu, tanpa perdebatan lagi diantara mereka berdua, Ashera berhasil mengambil banyak spot foto yang bisa dia anggap punya pemandangan yang cukup bagus.
'Padahal aku sendiri punya handphone sebagus ini, tapi aku sendiri bahkan tidak tahu cara untuk menggunakan kamera ini dengan baik. Dia sebenarnya punya banyak potensi yang tidak aku ketahui.
Memang, dibandingkan dengan ilmu dari pelajaran sekolah, dia justru lebih tahu di bidang lain.' kata hati Arvin, diam-diam dia pun memuji Ashera yang bisa membuat sekaligus mengerjakan beberapa hal yang tidak akan terpikirkan oleh orang lain seperti dirinya.
_____________
Di bawah langit malam yang di hiasi dengan taburan bintang yang tidak terhitung jumlahnya, setelah melewati banyak waktu bersama di banyak situasi yang membuat mereka akhirnya bisa saling bicara satu sama lain, mereka berdua sekarang pun akhirnya bisa duduk bersama di bangku lipat yang Ashera bawa itu.
BYURR....
Deburan ombak dari laut yang tidak akan pernah habisnya membuat suara yang begitu menenangkan, Arvin dan Ashera pun akhirnya bisa terdiam sejenak, merasakan suasana malam yang dingin, tapi berakhir dengan rasa hangat di masing-masing punggung mereka berdua.
"Aku pusing mendengarmu mejelek-jelekkanku," Ashera mulai angkat bicara.
"Aku juga pusing karena harus menghadapi dua kepribadian dari Istriku sendiri,"
BLUSHH....
"Hei, kenapa kau tiba-tiba menyebutku istri? Aku pikir itu kalimat paling tabu untuk di ucapkan oleh mulutmu." ucap Ashera, dia duduk sambil bersandar di belakang punggungnya Arvin, dan sebaliknya juga, Arvin pun mendapatkan pinjaman untuk bersandar di belakang punggungnya Ashera.
"Kau sepertinya harus tahu apa yang terjadi saat kepribadianmu yang bar-bar itu menguasai tubuhmu,"
"A-apa? Bar-bar? Apakah seburuk itu kepribadianku yang satunya lagi?" tanya Ashera saking terkejutnya dengan penuturan Arvin yang begitu blak-blakan.
"Bukan buruk, tapi terlalu over protektif, dia bahkan menyebutku suami loh, jadi apa salahnya jka aku sekarang menyebutmu Istri?"
"Hah, apa kau pikir aku percaya dengan ucapanmu itu?"
__ADS_1
"Aku tidak menyuruhmu untuk percaya apa yang aku katakan. Tapi setidaknya aku harus memberitahu orang yang tidak ingat dengan sisi dari kepribadian satunya lagi kan? Agar kau tidak penasaran gitu," sela Arvin saat itu juga.
Dan begitulah, dua orang yang punya sisi bertolak belakang itu pun akhirnya bisa duduk tenang, setelah perang.