
Setiap dari satu menit, lima menit, dan berakhir lima belas menit kemudian, satu per satu kartu di ambil dari tumpukan kartu yang ada di depan mereka.
Semakin banyak kartu dengan gambar dan jumlah yang sama, bahkan jika bisa lebih besar dari dari lawannya, kemenangan bisa di dapatkan.
"Jangan di teruskan, ini sudah ke dua kalinya dan kau kalah tahu," bisik Ashera memberikan kecaman kepada Arvin, kalau apa yang di lakukan nya itu sangat merugikan.
"Tunggulah, aku ini masih mau main," jawab Arvin dengan cara berbisik juga.
"Hahh~ Kau membuang waktu dengan hal yang tidak berguna seperti ini." gerutu Ashera.
"Terserahku, kau hanya perlu berdiri saja, kan? Tidak usah banyak omel." sahut Arvin.
"Tapi ya beginilah, kau menghamburkan uang dengan permainan yang tidak berfaedah seperti ini."
"Hera, kau ini berisik sekali, konsentrasiku jadi terganggu tahu." protes Arvin, semakin di dengar, dia jadi semakin tidak bisa berkonentrasi dengan benar.
"Aku kan hanya bicara apa adanya, jika kau menganggap mulutku ini menganggu, sebaiknya aku per-"
BRUKK....
Ashera seketika langsung ganti posisi, jadi duduk di pangkuannya Arvin.
"Kau-"
"Bilang saja lelah berdiri, pakai sok-sokan bicara seperti nenek-nenek." sindir Arvin, dia pun kembali mengambil kartu poker, dan ternyata diam-diam dia mendapatkan kartu as.
'Arvin! Kenapa kau terus membuatku berharap terus sih, padahal sikap dan tingkahmu saja sangat menjengkelkan.
Jangan-jangan semakin lama aku di sisinya, justru aku akan ketularan dengan sikapnya itu.' benak hati Ashera, dia yang tadinya di tuntut agar bisa membuat Arvin berada di jalan yang benar, seketika jadi was-was kalau dirinya justru akan terjerumus dengan kebiasaan Arvin yang sangat buruk ini.
Mengambil kartu lagi, Arvin mendapatkan kartu dengan gambar joker, serta selembar dengan gambar hati berjumlah tiga.
Itu tidak baik, karena kartunya jadi semakin banyak.
"Kenapa pertengkarannya tidak di lanjutkan?" tanya wanita ini, menyindir dua orang anak muda yang berada di seberang nya persis.
"Apa kau iri karena aku bisa memangku wanita, sedangkan kau sendirian?"
"Adol, mulutmu-" Ashera yang terkejut dengan mulutnya Arvin yang tidak bisa di filter itu, langsung mencubit perutnya Arvin.
Hanya ada rasa geli saja, jadi Arvin pun berekspresi santai dengan senyuman cerahnya.
'Kenapa dia punya kulit seperti batu bata ha? Ini keras.' Ashera melirik ke bawah, dan mencoba melakukannya lagi, tapi Ashera justru seolah tidak bisa mencubitnya.
Sedangkan wanita yang baru saja di sindir ini langsung tersenyum tawar. "Mulutmu benar-benar tidak bisa di jaga dengan benar ya?" ucapnya, menegur Arvin.
"Iya nih, kenapa ya?" Arvin malah dengan sengaja memprovokasinya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Yang aku tahu aku kembali menang!" kata wanita ini sambil meletakkan ada empat kartu dengan gambar berbeda tapi punya angka sembilan semua, serta tiga kartu lannya adalah kartu AS.
__ADS_1
Kalah telak untuk ke tiga kalinya, Arvin hanya punya tujuh juta saja.
"Yah, sialan, kenapa aku terus saja kalah dengan nenek tua ini?"
"Pasti dia curang,"
"Huh, bisa-bisa aku bangkrut lagi."
Para pemain yang lainnya sudah tidak kuat lagi, memilih untuk mundur, tetapi tidak dengan Arvin.
"Padahal hanya iri saja karena aku bisa menang terus, tapi menuduh aku curang. Dasar ya," kata wanita ini dengan nada sombongnya.
"Tch..." sudah terlanjur sebal, dia pun pergi dari sana, tapi Arvin dan Ashera, dia malah masih duduk di tempatnya.
"Apa kau tidak kesemutan?"
"Apa itu kalimat kekhawatiranmu padaku kalau aku akan lelah memangkumu?' Arvin tiba-tiba saja menggombal kepada Ashera.
BLUSHH....
"Mana mungkin, sana duduk sendiri saja, aku lelah di pangku," akan tetapi Ashera yang hendak pergi dari pangkuannya Arvin, dengan cepat Arvin langsung melingkarkan tangan kirinya di depan perutnya Ashera dan langsung menyuruhnya untuk duduk lagi.
BRUK....
"...!" Ashera sangat terkejut.
"Bukan, dia bukan pacarku." jawab Arvin dengan lugas.
"Kalau bukan pacarmu, atau dia adik angkatmu?"
"Kenapa kau berpikir dia adik angkatku?"
"Ya kan bisa saja kan? Hanya menebak saja, apa salahnya?" balas gadis berambut coklat yang di gerai ini. Dia terus bicara karena memang penasaran dengan Arvin, sekaligus ingin mencari perhatian juga, sehingga diam-diam dia pun meletakkan tangannya di bahu kanannya Arvin.
"Salah dong. Karena hanya berasal dari pengamatan tanpa alasan yang sangat mendasar." jawab Arvin, dia mencoba untuk menghitung chip miliknya, karena dia ingin kembali melakukan taruhan, sambil berkata lagi : "Dan karena itu juga, kau bisa memberikan kesalahpahaman kepada banyak orang di depan orang yang bahkan baru kau temui seperti ini-"
Tepat di mana Arvin menambahkan ucapannya, dia pun langsung menoleh ke samping kanannya.
Sambil menatap wajah dari gadis yang dengan sembarangan menyentuh bahunya, Arvin kembali angkat suara. "Dia ini tunanganku, tapi sepertinya tanganmu cukup gatal, ingin menyentuh bahuku ya?" katanya dengan senyuman remehnya.
Sontak gadis tersebut langsung ragu dengan tangan yang dari tadi berada di bahunya Arvin.
Ashera yang penasaran dengan gadis yang sedang bicara itu, mencoba untuk menoleh ke belakang. Tapi Arvin justru dengan sangat cepat lebih dulu membenturkan kepalanya dengan kepalanya Ashera.
JDUG..
"Ah...kau ini kenapa sih?" merintih sedikit sakit dengan kepalanya.
"Kau tidak usah penasaran seperti apa wajahnya, kau lebih enak di cium aromanya ketimbang dia." tuturnya, membuat Ashera diam membeku. “Ayo main sekali lagi, aku masih belum puas,” Arvin langsung bicara kepada lawan mainnya itu untuk melanjutkan kembali taruhan mereka.
__ADS_1
“Kau belum kapok juga ya?”
“Justru itu, karena aku belum kapok, artinya kesempatan untuk bisa membuatku menang itu masih banyak,” jelas Arvin. Lagi-lagi ucapannya terus saja membuka lembaran baru dari pikiran semua orang kalau belum kapok, maka akan di coba terus sampai bisa menang.
Walaupun entah sampai kapan, akan tetapi dia sangat yakin dengan pernyataannya sendiri, itulah yang di pikirkan oleh Arvin.
Sedangkan Ashera?
“Huh, pasti hanya tunangan palsu, masa kau mau-mau saja menjalin hubungan yang bahkan kalah cantik denganku?”
“Oh ya?” Arvin menyahut gadis tadi, yang terdengar masih belum puas dengan semua sindirannya Arvin tadi. “Padahal kau sendiri saja jadi orang selalu pilih-pilih, jadi kenapa aku tidak bisa pilih-pilih soal tunanganku siapa? Apakah cantik atau tidak, semua itu kan tergantung aku.” tambahnya.
“Mulutmu itu, bisa diam atau tidak? Jangan memperkeruh suasana di sini.” Ashera mulai menyela ucapannya Arvin dengan cepat.
“Heh, kau sendiri juga berisik, kau semakin memperkeruh suasana, karena kau terus menyela ucapanku.” tatap Arvin kepada Ashera yang ada di pangkuannya.
Ucapannya terus membuat Ashera diam membisu, karena semua yang di katakan oleh pria ini selalu saja masuk akal.
‘Apa aku harus terus diam?’ detik hati Ashera seraya menatap kartu pilihan dari Arvin yang terus saja menunjukkan angka yang berbeda-beda dari jenis kartu yang tidak sama juga. ‘Sampai kapan kau akan terus kalah? Kau bahkan menghamburkan uang seperti ini. Bagaimana ke depannya nanti?’ batinnya.
“Apa masih ada yang ingin kau bciarakan lagi?” Arvin pun menoleh ke arah gadis yang dari tadi membuatnya terus bicara panjang lebar.
“Tch…!” berdecih kesal, gadis ini pun mengepalkan tangannya dengan erat sambil berhembus pergi dari sana, meninggalkan kelompok dari tempat permainannya Arvin. ‘Cara bicaranya itu, menyebalkan sekali. Walaupun dia tampan, tapi apa gunanya itu, jika ternyata judi saja tidak bisa. Pasti hanya anak yang minta-minta ke orang tuanya.’ batin gadis ini.
Dua puluh menit kemudian.
“Aku menang lagi- kau sepertinya butuh istirahat deh, dari tadi u kan terus kalah?” kata wanita paruh baya ini, lagi-lagi memenangkan permainannya.
“Apanya yang perlu di istirahatkan? Aku kan cuman duduk saja,” tapi respon yang di lakukan oleh Arvin, justru di bilang cukup santai.
Apakah ada orang yang bisa bermain dengan ekspresi sesantai itu?
Kehilangan uang secara berturut-turut!
Banyak dari mereka yang akhirnya merasa bosan, karena yang di lihat oleh mereka semua, kalau Arvin adalah anak bau kencur yang tidak akan bisa menang, bahkan sekalipun sudah delapan kali main.
“Membosankan, anak baru itu pasti akan terus kalah. Dasar bodoh ya, kenapa mau saja main, padahal uangnya tinggal sedikit lagi.”
“Iya, mending kita pergi ke tempat lain saja yuk,”
“Memang ya, kalau sudah ketagihan, pasti tidak akan bisa berhenti selama belum bisa menang dan belum bisa menghabiskan uangnya.”
Ucap salah satu pengunjung yang lainnya.
Bahkan Ashera yang mendengarnya itu, langsung menegur Arvin lagi. “Ini sudah ke delapan kalinya, kau mau menghabiskan uang ini dengan sia-sia ha?” bisiknya.
Arvin yang sedang memegang kantong berisi chip terakhirnya, lantas menatap Ashera yang terlihat cemas.
“Kalau kau mau aku bisa menang, kau harus bantu aku,” sahutnya dengan ekspresi wajah terus saja menghadap ke arahnya, sekaan sorotan mata dan ekspresi itu menyiratkan makna sebuah tawaran sekaligus paksaan kepada Ashera untuk membantunya ikut dalam taruhan terakhirnya.
__ADS_1