Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
197 : Pilihan Yang Salah


__ADS_3

Esok harinya.


"Ok, karena rapatnya sudah selesai, kalian semua bisa kembali ke kelas kalian masing-masing." kata Fajar, dialah orang yang memegang posisi sebagai pemimpin rapat, akhirnya mengakhiri pertemuan itu tepat di jam delapan, sebelum pelajaran di mulai.


"Terima kasih wakil ketua." semua orang langsung berterima kasih dengan serentak, lalu mereka segera beranjak dari ruang rapat, termasuk Arvin, yang bahkan hanya mendengarkan saja.


Tidak seperti pengurus OSIS yang lain yang membawa buku, Arvin justru benar-benar terlihat seperti Bos dari mereka saja, karena hadir dengan membawa tubuh saja.


"Oh ya-" saat Arvin sudah berada di ambang pintu, Arvin tiba-tiba bersuara, sebagai kode awal pembicaraan antara dirinya dengan Fajar yang sedang duduk sambil bermain laptop.


"Apa kau meninggalkan sesuatu?" tanya Fajar tanpa mengalihkan pandangannya drai laptop nya.


"Salah, justru aku lupa meninggalkan barang di sini." ucap Arvin, dia pun berjalan mendekat ke arah Fajar.


Membuat Fajar yang tadinya sedang mengetik di laptop, tiba-tiba saja perhatiannya langsung teralihkan dengan satu barang yang baru saja di letakkan oleh Arvin di sebelah tangan kanannya.


'Itu kan jepit rambut yang aku berikan kepada Ashera kemarin? Kenapa ada di tangannya Arvin?' Fajar lantas menoleh ke arah Arvin. "Apa maksudnya ini?"


"Ashera, dia ingin menitipkan ini kepadaku untuk di berikan kepadamu." kata Arvin dengan lugas.


"Atau kau sebenarnya mengambilnya dari dia?" tuding Fajar.


"Untuk apa?" tanya balik Arvin.


Fajar jadi terdiam. Karena pertanyaan Arvin memang ada benarnya, kenapa Arvin mengambil jepit rambutnya Ashera?


"Dia tidak berani mengembalikannya sendiri, kalau alasannya, mungkin kau harus berbenah sendiri, kenapa dia mau mengembalikan jepit rambut ini lagi kepadamu?" seperti sebuah teka teki, Arvin pun tersenyum senang melihat ekspresi wajah Fajar yang sedang berpikir keras itu, karena tidak tahu alasan lain yang di rahasiakan oleh Arvin dan Ashera selama ini. "Sebaiknya kau berikan saja pada pacarmu nanti, kalau kau memang sudah mendapatkan pacar sih." imbuh Arvin, lalu dia pun pergi dari sana.


KLEK....


Fajar pun berdiam di tempat sambil memperhatikan jepit rambut itu.


'Ashera, aku pikir kau mau menerimanya, tapi apa ini artinya dia tidak mau bicara lagi denganku karena aku membohonginya?' ucap Fajar dalam hatinya.


Sedangkan Arvin, dia malah sedang tersenyum puas dengan aksinya tadi.


'Ok, aku sudah menyelesaikan permintaanmu, nanti malah aku hanya tinggal meminta jatahnya.' Arvin sampai tersenyum lebar, membuat setiap orang yang berpapasan dengannya, langsung memberikan jalan selebar-lebarnya, agar tidak terjadi tabrakan, seperti kejadian kemarin.


"Walaupun Arvin memang tampan, tapi saat dia senyum seperti itu, aku justru berpikir kalau dia baru saja menemukan ide jahat."


"Eh, ternyata kau juga. Aku pikir hanya aku saja yang berpikiran begitu." sahut temannya.


Mereka berdua sedang duduk bersama di depan ruang kelas, tapi karena melihat Arvin datang melewati mereka berdua dengan senyuman yang terus kian mengembang, mereka pun jadinya merasa merinding.


'Ini aneh, dia tampan, harusnya aku terpesona dengan senyumannya, tapi aku malah jadi merinding sendiri.' pikir perempuan ini, sambil mencoba menggosok tangannya sendiri, agar bulu kuduknya tidak lagi berdiri.

__ADS_1


Sedangkan di satu sisi lain, Ashera yang berada di kelas, hanya diam sambil menumpukan tangannya di atas meja, dan wajahnya pun kemudian dia sembunyikan.


Dan di sanalah, ekspresi wajah Ashera yang ketakutan pun muncul juga.


'Aku memang meminta Arvin untuk memberikan jepit rambut itu kepada Fajar, karena aku malu mengembalikannya dan tidak tahu apa alasan yang aku buat untuk menolak pemberianya itu. Tapi sepertinya aku melakukan kesalahan lagi. Arvin, suka minta imbalan, aku jadi cemas saat aku pulang sekolah nanti.' benak hati Ashera. Dia jadi ketakutan dengan pikirannya sendiri, kalau Arvin nanti akan melakukan sesuatu kepadanya.


_____________


Pulang sekolah.


"Dia belum pulang kan ya?" lirih Ashera, dia berjalan mengendap di koridor apartment, lalu begitu sudah ada di depan pintu apartment nya Arvin, Ashera pun masuk kedalam, dan mencoba untuk sekalian saja bersembunyi lebih dulu.


Klek....


Namun sayang sekali, begitu Ashera sudah bisa masuk, di belakangnya persis sudah ada seorang pria tinggi masih memakai helm berwarna putih.


'Dia jadi kelihatan seperti monster.' Ashera yang ketakutan, langsung mundur ke belakang dengan perlahan.


Dan Arvin sendiri, dia melangkah maju ke depan, seraya melepaskan helm nya.


"K-ka- kabur!" melihat peluang itu, Ashera langsung kabur dari sana. Persetan kalau kedua kakinya masih memakai sepatu dan masuk kedalam lantai rumah, yang penting dia harus melindungi diri, dengan langsung masuk kedalam kamar yang ada di lantai bawah.


BRAK....


"Uang?" sok tidak tahu apa maksudnya.


"Bukan!" Arvin ternyata berhasil menahan pintu kamar itu sebelum pintunya benar-benar tertutup rapat dan di kunci oleh Ashera.


"Arvin, ini baru pulang sekolah, kau jangan gila deh." Ashera masih mengotot untuk terus menahan pintu itu di terobos oleh Arvin.


"Kan aku sudah melakukan apa yang kau inginkan dariku, aku minta imbalannya." Arvin yang punya tenaga besar pun, tidak mau kalah dengan Ashera yang benar-benar berusaha keras untuk bisa membuat pintu kamar tersebut di tutup.


"Tapi tidak begitu juga kali!" balas Ashera, masih mencoba menahan pintu kamar semampu yang dia bisa. 'Kenapa Arvin malah jadi seperti ini? Dia juga kelihatannya sudah jarang keluar bermain dengan perempuan lain, walaupun kelakuannya masih sama sih.


Tapi kasus yang ini jelas agak berbeda, dia masa mau seperti ini terus denganku? Masih sekolah, tapi aku dan dia dengan bodohnya malah melakukan hal yang seharusnya belum di lakukan.


Kalau ada orang lain yang tahu, aku jelas akan sangat malu sekali.'


Tapi pada akhirnya..


Krekk...


Engsel pintu kamar pun akhirnya berderit, menunjukkan tanda-tanda malfungsi.


Ashera yan mendengarnya, jadi semakin panik, kalau sebentar lagi, pintu itu akan jadi korban kedua setelah pintu kamar mandi.

__ADS_1


Krekk...


"Arvin, nanti pintunya rusak!"


"Nanti Daseon yang ganti, jadi apa masalahnya?" sudah bicara seperti itu, Arvin pun akhirnya mengumpulkan tenaganya dengan lebih banyak lagi.


Dan Ashera yang mulai kelabakan dengan kondisi terkini dari perdebatan diantara mereka berdua, akhirnya langsung kalah.


BRAKK....


"Akhhh...!" Pintu yang berhasil terbuka dengan cukup kasar itu, sukses membuat Ashera langsung terjungkal ke belakang.


Tentu saja, pemenang dari adu kekuatan itu adalah Arvin sendiri.


"Arvin! Jangan dekati aku!" pekik Ashera.


Arvin yang akhirnya bisa melangkahkan kakinya masuk kedalam kamarnya, langsung di perlihatkan Ashera yang sudah jatuh itu, dalam posisi kedua kaki yang sudah terbuka lebar, dan memperlihatkan celana hitam pendek yang ada di balik rok seragamnya, menyelimuti pahanya dengan cukup baik.


Ashera yang tahu dengan tatapan itu, dan sadar dengan posisi dari kedua kakinya, langsung menutup rapat kedua kakinya, dan bergegas untuk segera berdiri, dan setidaknya kabur dari jangkauannya Arvin.


"Heh, kau mau kemana? Disini saja." Arvin berhasil menangkap ujung blazernya Ashera, dan akhirnya dia tarik dengan kasar, sampai tubuh Ashera pun langsung masuk kedalam pelukannya.


BRUKK...


"Arvin, lepaskan. Kau bau masam, jangan peluk aku seperti ini, Ahh!" Ashera yang niatnya memberontak itu, langsung merintih sakit saat pergelangan tangannya di cengkram dengan kuat oleh Arvin.


Arvin yang sadar dengan kekuatannya sendiri dalam memegang pergelangan tangannya Ashera, segera mengendurkannya, dan tanpa banyak kata, dia bawa pergi menuju tempat tidur, tempat dimana mereka berdua waktu itu pernah menghabiskan tidur bersama untuk pertama kalinya.


"Ahh..Arvin, apa pikiranmu sudah tidak bisa di bersihkan lagi?"


"Aku sendiri juga tidak tahu tuh," seringai Arvin, tangan kirinya lantas menarik dasinya, dan melepaskan dasi yang terasa menjerat lehernya itu, sampai dia buang ke sembarangan tempat. "Kalau kau memang bisa mencoba untuk membersihkannya, aku akan memberikannya kesempatan, kok. Tapi setelah ini selesai," kata Arvin dan Ashera yang sudah terjebak di bawah tubuh Arvin, hanya bisa pasrah.


'Kalau melakukan seperti ini setiap saat, meskipun aku beberapa kali sudah makan obatnya, apakah aku benar-benar tidak akan hamil?'


SRET....


Arvin pun melepaskan dasi yang melingkar di lehernya Ashera, membuangnya, kemudian menarik ujung seragamnya ke atas, tanpa terkecuali bagian bawahnya pun dia tarik dan dia buang juga.


"Arvin- pelan-pelan." pinta Ashera dengan nada lirih.


Entah apakah ucapannya itu akan di gubris atau tidak, Arvin pun kembali mengeksekusinya.


"AHH~"


Dan raungan tidak berdaya dari Ashera, akhirnya keluar begitu Arvin bisa menjebloskan muridnya kedalam penjara.

__ADS_1


__ADS_2