Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
Nasib


__ADS_3

PLAK...!


Suara tamparan itu begitu keras, sampai semua orang yang mendengarnya langsung menarik perhatian mereka untuk melihat ke arah sumber suara.


"Adik tidak berguna," hina Doni kepada adiknya, menggantikan ayahnya yang tidak mau memberikan tamparan kepada Dini.


"Kau mengecewakan kami, Dini,"


"A-ayah! Aku itu di jebak, aku di kunci di kamar itu, ada orang lain yang menjebakku!" teriak Dini, dia terus berusaha untuk memberikan alasan lain yang tidak sepenuhnya bohong.


"Meskipun kau sendiri juga menjebak teman sekelasmu sendiri?"


DEG...


Suara milik Arvin langsung memotong semua arus ketegangan antara anak dan ayahnya serta kakaknya Dini.


"Walaupun kau membuat alasan kalau kau itu korban juga, tapi tidak bisa menghapus fakta kalau kau menjebak Ashera.


Dini, kalau salah tetap saja salah, tidak ada yang bisa di benari." imbuh Arvin.


Dia berdiri sambil bersandar di ambang pintu kantor polisi.


Di sana ada Doni, Dini, dua orang polisi, Arvin, serta seorang jaksa yang sedang hadir untuk menangani kasus tersebut secara langsung.


"Din, Ayah kecewa padamu, padahal Ayah yakin kalau kau selalu berkecukupan, kau hanya seorang anak pelayan, tapi kau bisa menikmati semua kebutuhanmu layaknya orang kaya.


Apa yang sebenarnya membuatmu seperti ini? Kenapa kau begitu benci kepada teman sekelasmu itu, Din?" ucap sang Ayah.


"Arggh! Tidak akan ada yang mengerti aku! Aku benci dengan Ashera karena dia selalu menghalangi apa yang aku inginkan.


Padahal dia anak seorang pelayan juga, tapi dia-dia, Arggh! Dia sering membuatku kesal, orang yang aku sukai saja, dia embat, semua nilai lebih tinggi dariku, dan sekarang dia bahkan punya kehidupan yang bahkan lebih baik ketimbang aku.

__ADS_1


Aku benci semuanya! Dan kau!-" Dini akhirnya mengatakan semua unek-uneknya dan kali ini dia bahkan menunjuk jarinya ke arah Arvin. "Kau, kau orang yang sok berkuasa, apa-apa salah aku, da-"


"Dini, sepertinya kau masih tidak paham. Aku ini ketua seksi kedisiplinan, jadi wajar kan jika aku menindak tegas yang mengganggu mataku dengan posisiku.


Dari semua kejadian ini, kau yang selalu lebih dulu membuat onar di kelasmu, sampai memfitnah orang dan pada akhirnya kau-" tertahan dengan kata selanjutnya, Arvin langsung menatap bengis Dini yang masih menangis dalam posisi ketakutan setengah mati.


Yah... Jika bukan karena Dini, tidak mungkin ada yang meninggal, ya kan?


'Walaupun aku masih belum siap, tetap saja-' meringis karena ikutan kesal dengan sikap Dini yang begitu kejam, Arvin langsung berjalan menghampiri Dini mencengkram kerah bajunya Dini sampai kedua kakinya Dini terangkat. "Mungkin akan di jadikan bahan ejekan, tapi apa kau tahu? Kau- sudah membunuh seseorang," ucap Arvin dengan menekankan kata membunuh pada Dini, yang membuat Dini langsung menggertakkan giginya.


"Hahha, berarti itu sudah takdirnya,"


"Arvin, lepaskan tanganmu darinya," peringat Doni kepada Arvin.


Meskipun dia kesal dengan Dini, tapi Doni tetap saja tidak bisa membiarkan Dini seperti hampir mati kena cekik karena lehernya tercekik oleh kerah pakaiannya sendiri gara-gara Arvin.


"Kau bahkan masih membela adik tidak bergunamu ini," sindir Arvin.


"Karena kebetulan kau usianya sudah di atas standar dari anak di bawah umur, kau akan mempertanggungjawabkan perbuatanmu itu." jawab Arvin, lalu pergi meninggalkan mereka semua.


"Din, kau mempermalukanku sebagai kakakmu. Apa kau puas? Karena rasa iri dan dengkimu yang terlalu berlebihan, akibatnya harus kau tanggung sendiri," omel Doni.


"Padahal kau juga kesal, kau juga iri dan dengki dengan mereka, padahal kaulah yang lebih dulu membuatku seperti ini, tapi kenapa hanya aku saja yang mendapatkan hukuman seperti inii?!" tegas Dini.


"Karena kau tdiak pernah bisa mengontrol emosi, dan pikiranmu, aku sudah pernah memperingatkanmu kan? Agar tidak berlebihan, tapi buktinya sekarang apa?!"


"Doni, kau emosi," peringat Ayah mereka berdua.


Doni yang sempat menaikkan nadanya dan sampai emosi begitu, seketika langsung diam dan menutup mulutnya rapat-rapat.


"Din, dengar, walaupun kau sudah melakukan kejahatan, Ayah hanya bisa menerima konsekuensi kalau kau akan di penjara," ucap Ayahnya Dini.

__ADS_1


"Ayah!" Dini mencoba memohon kepada Ayahnya untuk dibantu


"Berhenti bertengkar, saya akan menuntut proses ini kepengadilan. Jika mampu, kalian di persilahkan untuk memiliki pengacara," kata jaksa penuntut.


Dini semakin takut. Doni yang tidak rela, tidak bisa apa-apa, karena buktinya saja sangat kuat dengan saksi hampir seluruh kelas, dan juga fakta kalau Ashera di bawa ke rumah sakit.


Maka dari itu, dengan wajah kecewa Doni dan Ayah nya akhirnya memutuskan untuk pergi.


"Ayah! Doni! Tunggu! Jangan tinggalkan aku!" teriak Dini sedang dibawa paksa oleh kedua polisi di belakangnya untuk kembali di masukkan ke dalam sel tahanan.


Namun, kedua nama panggilan itu sama sekali tidak menggubris teriakannya Dini.


"Ayah! Doni! Tolong aku! Aku memang salah, tapi aku juga korban!" pekik Dini.


________


BRAK ...


Arvin akhirnya masuk ke dalam mobil.


Di sana ada Daseon yang bekerja sebagai supir pribadinya.


"Apa yang akan anda lakukan selanjutnya?" melirik ke arah sang tuan muda.


"Aku ingin pulang ke rumah," kata Arvin dengan wajah penat.


Benar, jika bukan karena begadang, dia tidak mungkin akan punya wajah lelah dan mood yang begitu hancur, karena setiap kali melihat Dini, dia ingin sekali memb*n*hnya.


Entah itu dia lempar ke laut, atau di pukul seperti samsak, atau juga dia cekik dengan kekuatan tangannya, dia benar-benar ingin menyingkirkan orang yang sudah mengganggu hidupnya.


Memang, yang di ganggu itu Ashera, tapi karena kasusnya juga menyeret nama sekolah dan juga dirinya yang merupakan anggota osis dari seksi keamanan, membuatnya ingin menghentikan apapun yang bisa mengacaukan masa depan.

__ADS_1


Tapi dia tidak bisa sepenuhnya terpaku pada posisinya saja, karena dia juga harus memikirkan dengan kepala dingin juga.


__ADS_2