
"Menurut hasil yang saya dapat, anda tidak mengalami cidera ataupun masalah apapun pada milik anda, jadi apa anda sudah bisa tenang?" kata dokter ini.
"Huh, tentu saja bisa tenang. Karena tendangan dari dia cukup kuat, jadi aku memang cukup khawatir. Tapi jika hasilnya tidak ada masalah apapun dengan juniorku, berarti aku bisa lega." jawab Arvin dengan rasa bangga dirinya, dia pun sampai menghela nafas sendiri gara-gara cemas.
Sedangkan Ashera yang sudah berhasil sedikit melupakan apa yang sempat dia lihat, pikirannya berhasil teralihkan dengan rasa penasaran dari dua orang yang ada di samping dan di depannya itu.
"Apa yang sebenarnya kalian berdua bicarakan?" tanya Ashera penasaran kepada Arvin.
"Tendanganmu, kau hampir mencabut nyawa adikku ini," beber Arvin sambil menunjuk aset miliknya yang ada di dalam celananya.
"O-ohh," Ashera seketika salah tingkah atas jawaban yang diberikan oleh Arvin ini kepadanya. "Maaf," ucap Ashera sambil mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Kata maaf saja tidak bisa melupakan rasa sakit ini, kau nanti malam harus bertanggung jawab," kata Arvin.
"Aku harus tanggung jawab bagaimana?" bertanya, tapi dengan tatapan matanya yang sayu. Melihat hal itu, Arvin pun tidak bisa bicara soal tanggung jawab yang sempat dia katakan tadi.
"Beri aku makan sampai kenyang,"
"Bagian mananya yang harus di buat kenyang?"
"Kau sedang kode ya?" Arvin meliriknya dengan tatapan matanya yang cukup tajam itu.
"Tidak," jawab Ashera dengan lemah.
'Ada apa dengannya?' bisik Arvin dalam hati.
Karena satu masalah sudah selesai, Arvin pun bertanya lagi kepada dokter itu atas masalah dari tubuh milik Ashera yang tetap kurus itu.
"Dok, kira-kira apa, bisa membuat dia bisa jadi sedikit berisi? Aku lumayan heran, padahal dia banyak makan ini dan itu, daging, sayur, buah bahkan masuk semua, tapi sepertinya tidak ada perubahan selama hampir satu bulan ini. Berat badannya kelihatannya sama sekali tidak ada kenaikan," jelas Arvin.
Cerita yang cukup menarik untuk di dengar oleh dokter muda itu, membuat dokter tersebut sedikit tersenyum kepada Ashera.
'Ah, senyumannya, tampan sekali.' kata hati Ashera, diam-diam dia salah tingkah sendiri. 'Tapi apa yang sudah Arvin katakan kepada dokter ini, kenapa sampai tersenyum ke arahku?' pikir Ashera dengan wajah bingung.
"Oh, itu berarti tubuhnya memang tidak menyerap banyak nutrisi yang seharusnya di serap oleh tubuh. Maka dari itu, mau seberapa banyak kekasih anda makan, pasti tidak akan pernah gemuk, selain berat badan yang bisa bertambah.
Hanya saja empat puluh persennya hanya bisa di serap oleh tubuhnya. Itulah yang membuatnya tetap kurus.
Tapi hal itu masih bisa di atasi jika kekasih anda meminum obat ini secara rutin.
Ini suplemen untuk menambah nafsu makan, vitamin. Dan untuk jadi perhatian paling utama, dia terkena maag, jadi perhatikan asupan makanannya, jangan sampai dia telat makan juga." jelas dokter ini seraya memberikan resep obat kepada Arvin, dan Arvin sendiri harus menebus obat itu di lantai dua.
'Kenapa Ashera tidak pernah mengatakan kalau dia punya riwayat maag?' menatap kertas yang baru saja di berikan oleh dokter.
____________
Setelah tujuannya pergi ke rumah sakit itu bisa terpenuhi, Arvin pun akhirnya melanjutkan perjalanannya untuk berkeliling mencari spot yang bisa dia gunakan sebagai tempat dari awal liburan mereka berdua.
Ya, setidaknya seperti itu.
Awalnya memang seperti itu, dan seharusnya tujuannya yang selanjutnya itu juga bisa Arvin dapatkan, sampai mereka berdua tiba-tiba saja terjebak macet.
TIN...!
TIN...!
Arvin yang memang pada dasarnya punya kesabaran yang sedikit, terus menekan klakson.
TIN..!
TIN..!
"Berisik, apa kau tidak bisa sabar?"
"Padahal ini jalan tol bebas hambatan, bisa macet seperti ini siapa yang tidak sabar?" sindir Arvin atas pertanyaan Ashera.
Bahkan sampai sepuluh menit lamanya, mereka masih saja belum bisa lolo dari kemacetan itu.
"Sebenarnya apa sih yang sedang terjadi?" gerutu Arvin.
Arvin tidak tahu persis apa yang sudah terjadi di depan sana, sampai karena dia terlalu bosa untuk sekedar menunggu, Arvin pun memutuskan untuk turun dan bertanya kepada seseorang yang sedang berkerumun di depan sana.
"Aku mau cari tahu dulu, kau jangan buka pintu mobilnya selain untuk aku," peringat Arvin sebelum dia akhirnya turun dari mobil.
__ADS_1
BRAKK...
'Sebenarnya obat apa yang dia beli itu? Apalagi sambil terus menatapku seperti itu tadi, aku sangat penasaran.' ucap Ashera dalam benaknya.
Walaupun sebenarnya dirinya suka dengan semua budaya korea, tapi karena dirinya saja bahkan sama sekali tidak berguna dan apalagi tidak tahu bahasa korea, dalam perjalanannya selama hampir setengah hari ini, dia pun hanya mendapatkan rasa lelah.
TIN...TIN!
Suara klakson dari belakang mobilnya persis, membuat Ashera terkejut.
Suara klakson itu terus saja terdengar dan cukup mengganggu indera pendengarannya. "Kenapa dia berisik sekali sih?" gumam Ashera.
Sampai tiba-tiba mobil di depannya itu perlahan mulai berjalan, Ashera pun jadi bingung.
"Woi! Jalan! Mobilmu menghambatku!" teriak supir dari mobil yang ada di belakang mobilnya Arvin.
"Waduh, bagaimana ini? Aku kan tidak bisa menyetir? Kenapa Arvin pakai pergi lama seperti ini sih?" Ashera yang mulai kebingungan itu, langsung mengambil alih kemudinya, dan dalam keadaan bingungnya serta panik, Ashera yang sudah di protes oleh pengendara di belakang, dengan ragu menginjak pedal gas.
Baru berhasil menjalankan mobilnya beberapa meter, di depan mobilnya, mereka kembali berhenti.
Ashera yang terkejut itu, langsung menginjak pedal rem sedalam-dalamnya.
CKITT...
"Kyaa..!"
BUKH...
Alhasil Ashera pun kena imbasnya sendiri, dengan dahi yang langsung menghantam setir mobil.
"Aduh..., kenapa dia lama sekali? Apa dia sedang berak di tengah jalan?" kutuk Ashera, terhadap Arvin sebagai pemilik mobil, malah belum kunjung balik.
TIN..TIN!
Suara klakson itu kembali menyerukan rasa protesnya lagi dan lagi.
Mendengarnya saja, membuat kepalanya cukup pusing, apalagi dengan AC mobil yang membuatnya terasa semakin tidak nyaman serta tengah terjebak macet.
Jika itu menggunakan motor, Ashera jujur bisa menggunakannya dan bisa menyalip semua kendaraan di sini. Tapi karena yang dia hadapi itu adalah pengendara mobil, Ashera pun tidak bisa berkutik.
Secara tidak langsung sebenarnya dia berada di tengah-tengah banyak tekanan.
"Ugh..!" terkejut dengan rasa eneg di dari perutnya itu, Ashera seketika langsung membuka pintunya.
Tapi sayangnya, ketika Ashera membuka pintunya dengan cepat, di saat yang sama pula ada seseorang yang sudah berdiri di samping pintu mobilnya, alhasil Ashera pun mendorong orang asing itu sampai terjatuh.
BRUKK...
"Akhh..! Dasar! Kau senga-" pria yang hendak marah-marah kepada Ashera ini, seketika ucapannya langsung terpotong begitu saja setelah tubuh Ashera tiba-tiba saja membungkuk keluar dari mobil dan langsung muntah di sana.
"Hueekkk..."
"Hii! Kau, jorok sekali," bebel pria paruh baya ini dengan bahasa koreanya.
Sebenarnya tujuan awalnya dia akan memarahi Ashera yang berhenti sembarangan, karena tiba-tiba mengerem mendadak. Tapi karena melihat Ashera tiba-tiba saja memuntahkan semua isi perutnya tepat di depan matanya, semua keinginan itu langsung di selimuti rasa jijik yang sangat besar.
"Hueekk..."
"Sial! Kalau memang tidak bisa menyetir mobil, jangan di sini!" pekiknya, dan akhirnya pria ini pun kembali ke dalam mobilnya.
"Apa yang dia katakan sih? Marah-marah tidak jela- hueeek~" perempatan siku di dahinya Ashera pun muncul. Betapa menjijikkannya dirinya tiba-tiba muntah di tengah jalan raya yang bersih seperti lantai itu. 'Kenapa aku juga jijik dengan muntahanku sendiri ya?'
Tapi sekali lagi Ashera pun memuntahkan semua makanan dari sarapan yang dia makan pagi tadi ke atas jalan raya itu.
"Hueek~"
Di ujung jalan, Arvin yang sedang berlari tergesa-gesa, seketika sadar dengan posisi mobilnya yang sudah berbeda dari sebelumnya, tapi yang justru yang paling menarik perhatiannya itu saat dia melihat pintu mobilnya yang terbuka.
"Ashera!" teriak Arvin, dengan nafas yang memburu, Arvin kembali berlari menghampiri mobil yang pintunya sudah terbuka itu.
Terbesit rasa khawatir saat melihat pintu itu terbuka, karena di balik banyaknya orang memakai mobil yang terlihat bagus-bagus, bukan berarti semua orang di dalam mobil itu orang baik semua.
Itulah yang di khawatirkan Arvin saat melihat pintu itu, sampai ketika Arvin sampai, Arvin justru langsung di hadapi dengan air yang baru saja di muntahkan.
__ADS_1
"Kau kenapa muntah-muntah?" tanya Arvin, dia segera mengambil semua rambut yang terurai itu agar tidak terkena air yang di muntahkan oleh Ashera lagi.
"Kenapa kau lama sekali? Tadi mobilnya pada jalan, aku bingung harus bagaimana, dan orang yang di belakang mobil juga terus klakson, kau tahu? Tanganku bahkan sampai gemetaran! Ac mobil ini juga aromanya tidak enak, apalagi di tambah macet, aku stress tahu!" Ashera pun akhirnya langsung protes kepada Arvin.
"...!"
TIN...! TIN...!
"Kan tuh, di depan sudah mulai jalan lagi, cepat masuk, kepalaku jadi pusing dengar dia terus klakson," tambahnya lagi, lalu meneguk air sampai habis, Ashera pun pindah dari tempat dia memberikan tawaran pijakan jalan aspal yang sudah di lumuri muntahannya itu kepada Arvin.
"Woi! Cepat jalan! Atau aku tabrak mo-" pria yang terus membuat keributan ini pun tiba-tiba langsung terdiam saat melihat Arvin yang seketika itu langsung mendeliknya dengan tatapan matanya yang cukup tajam itu.
"Apa kau sudah selesai bicara pak tua?" Arvin tiba-tiba saja angkat bicara dengan pengendara di mobil van hitam yang berada di belakang persis mobilnya Arvin.
"Dasar anak muda! Cepat jalan! Apa kau pikir ini jalan nenek moyangmu?!" teriaknya lagi, membuat kesabaran Arvin yang sudah benar-benar menipis itu, seketika mengambil pistol yang ada dia simpan di bawah jok mobil, dan menodongnya ke arah orang tersebut.
"Kalau saja aku bawa jarum dan benar, aku pasti akan menjahit mulutmu," tidak perlu membuang waktu lagi, dia segera menarik pemicunya, dan
DORR....
"Akhh...!"
"A-arvin! Apa yang kau lakukan? Cepat naik, jalannya sudah bisa di lewati lagi," perintah Ashera kepada pria pemarah itu.
Karena Arvin tidak kunjung masuk kedalam mobil, Ashera pun langsung menarik paksa tangannya Arvin untuk masuk, dan dari situ mereka berdua pun segera pergi dari sana.
BRRMM....
Laju mobil yang begitu gesit, membuat Arvin dan Ashera sudah pergi dari pandangan orang tersebut.
TIN....TIN....!
"Yang di depan, apa yang sedang kau lakukan? Mobilnya sudah bisa jalan semua, tapi kau malah terus berhenti!" akhirnya salah satu sipir taxi yang berada di barisan yang sama dengan orang yang tadi sempat memprovikasi Arvin, memarahinya.
Sebenarnya banyak dari mereka yang terkejut dengan ulah yang di lakukan oleh Arvin.
Tapi ternyata pistol yang di gunakan oleh Arvin itu adalah pistol dengan peluru karet, sehingga ketika pistol tadi menembak, peluru karet itu pun mendarat di permukaan kaca depan mobil.
"Untung aku tidak ikut campur,"
"Orang luar negeri memang lebih brutal, tapi untungnya itu bukan pistol asli."
"Ya, lagian berisik sekali paman itu, terus saja teriak-teriak, kan kena imbasnya,"
Pelan-pelan satu persatu dari pengendara mobil pun menertawainya dan menyindirnya selagi mereka semua pergi.
'A-aku pikir aku akan di tembak beneran. Tapi untuk ukuran masih anak muda, dia sudah punya aura yang cukup kuat.' dengan perasaan yang masih tidak dapat dia kontrol untuk tidak terkejut, paman ini segera pergi dari sana, sebelum di mendengar banyak omelan yang di ucapkan secara tidak langsung itu.
_________
Sedangkan di dalam mobilnya Arvin, Ashera merebut pistol yang sempat Arvin gunakan untuk menakut-nakuti paman tadi.
"Ini seperti senjata asli." kata Ashera, kagum dengan senjata yang dia pegang itu, bahkan punya berat yang hampir mirip dengan yang aslinya.
"Apa kau sudah baikkan?"
"Belum,"
"Kau mau aku ganto mobil?"
"Boros sekali jadi orang, aku hanya perlu istirahat, dan menghirup udara seger saja. Tidak usah berlebihan seperti itu," jawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari senjata mainan itu.
"Itu sebenarnya aku membawanya untuk berjaga-jaga. Jika ada yang membegal, maka aku justru akan membegal mereka balik, kau setuju juga kan dengan pikiranku ini?" tanya Arvin.
"Ya, kau memang mirip dengan preman jalanan, jadi tidak masalah juga mereka jadi takut denganmu, tapi-" namun, begitu Ashera bicara dengan sengaja menggantungkan kalimatnya, raut mukanya pun jadi sedih lagi. "Sebenarnya aku sendiri juga takut padamu,"
DEG...
Arvin yang ingin angkat bicara, untuk membalas ucapannya Ashera itu, tiba-tiba saja mendapatkan telepon dari seseorang. 'Vani? Apa dia masih mau menagih janji untuk bertemu denganku?'
"Kenapa tidak di angkat saja?" lirik Ashera, melihat handphone milik Arvin terus berdering.
"Aku akan menelepon balik jika kita sudah di rest area,"
__ADS_1