
Meskipun Dini sudah sempat mencekik leher Ashera, rupanya hal itu tidak membuat Ashera terlihat takut kepadanya, dan yang ada justru sorotan matanya yang begitu tajam itu, berhasil membuat Dini seperti baru saja dihadapkan pada orang yang berbeda.
"Kau takut padanya kan? Tapi karena kau hanya bisa main dalam bayang saja, kau pun jadi semakin tidak puas hati karena sekarang- kau bahkan tidak bisa menyentuhku seenaknya," seringai Ashera seraya mengusap lehernya yang sudah memerah, akibat dari cekikan yang di lakukan Dini tadi.
Dia bisa bicara seperti itu karena dia bukanlah Ashera yang mudah di tindas seperti yang biasanya Dini lakukan kepadanya.
Dan sekarang, berani-beraninya menantangnya secara langsung, hanya karena masalah yang di buat sendiri, Ashera pun sebenarnya jadi tertawa senang dengan melihat derita yang di dapatkan oleh Dini dengan caranya sendiri.
"Padahal aku hanya mengikuti permainanmu saja loh. Kau tidak punya undangan, maka aku juga bersedia membiarkan undanganku di curi, tapi kau dengan begitu bodohnya, mau mencuri barang milikku, dan menjiplak undangan itu agar kau bisa masuk ke pesta ulang tahunnya Fajar." Ashera pun bicara untuk memanas-manasi emosi Dini yang tidak stabil itu. "Jadi bagaiamana? Apa kau puas dengan hasil dari menipu? Menggunakan undangan palsu untuk masuk kedalam pesta, pasti belum masuk saja kau sudah banyak di tegur, apalagi pada pemilik pestanya, ya kan?" imbuhnya lagi.
Dini, mendengar apa yang baru saja di jelaskan oleh Ashera, matanya pun semakin melotot dengan perasaan yang benar-benar semakin tidak suka dengan Ashera itu.
"Makannya, Dini. Kalau kau mau melakukan sesuatu itu harus di pikirkan secara matang, bukan seperti jalan di aspal, jadi langsung di tinggal. Kau memang benar-benar bodoh ya? Padahal wajahmu secantik ini-" dengan sengaja Ashera yang tidak takut dengan cara Dini menatapnya itu, mengusap wajah Dini yang begitu putih, bersih, cantik, bahkan bisa memakai lipstik yang terlihat begitu bagus, sebenarnya sangat iri, tapi apa bagusnya jika wajah cantik tapi otak tidak bagus?
Sangat di sayangkan, ya kan?
"Tapi pikiranmu itu terlalu dangkal, Dini." imbuh Ashera sekali lagi.
'Ashera, aku benar-benar seperti menghadapi orang yang berbeda. Apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan ini? Setelah waktu itu tidak berangkat sekolah, begitu berangkat, dia punya sifat yang sangat bertolak belakang dengan sebelumnya.' pikir Dini.
__ADS_1
Dia pun memang memiliki kecurigaan besar kalau yang dia hadapi ini bukanlah Ashera yang sesungguhnya.
Tapi- apakah dia punya bukti kalau Ashera di hadapannya ini adalah Ashera yang sama dengan yang dulu?
'Tapi memangnya aku peduli soal itu?' Dini pun tersenyum tipis, sebab dia memiliki satu alasan paling bagus untuk membuat dirinya tidak mundur, yaitu 'kenyataan kalau Fajar itu benar-benar tertarik pada Ashera! Aku tidak akan membiarkannya terjadi, aku tidak rela jika kau di sukai oleh pria yang aku sukai!' pikir Dini.
Dia yang akhirnya sudah punya alasan paling besar untuk membenci Ashera lebih dalam lagi, membuat Dini yang tidak punya pilihan lain selain ingin membuat Ashera jera, dia pun sudah menyiapkan sesuatu, sebuah kejutan untuk Ashera secara pribadi.
'Cekikannya, semoga saja tidak membekas. Tapi karena aku sudah mendapatkan rekamannya, aku pikir ini sudah lebih dari cukup untukku bisa ada di sini,' pikir Ashera, dia yang sudah merasa cukup dengan posisinya saat ini, segera berdiri lagi.
"Siapa yang bilang aku tidak bisa menyentuhmu seenaknya, Ashera, apa kau benar-benar meremehkanku?" ucap Dini, seraya membuat senyuman tipis dan mata yang menyipit. "Dan entah kau mau memprovokasiku dengan ucapan penuh hina itu, aku tidak akan terpengaruh."
'Dia mau apa?' Ashera pun langsung berubah jadi waspada.
"Dari pada kau keluar dengan membawa pena rekamanmu, bukannya lebih baik kau tidur saja di sini?" tutur Dini lagi, dia sudah tahu apa rencana Ashera sampai dengan sengaja berpura-pura tidak bisa berkutik di tangannya, dan semua itu hanya untuk memancingnya untuk bicara lebih banyak, sedangkan Ashera yang rela tercekik tadi, sudah menyiapkan pena yang berisi rekaman dari percakapan mereka berdua.
"Huh, jadi kau sudah tahu?" senyum Ashera, seperti orang yang sudah pasrah, lalu dia pun merogoh saku dari rok nya untuk mengeluarkan pena milik Ashera berwarna hitam.
"Sejak kau menipuku dengan undangan palsu yang kau bawa itu, jelas aku sudah mulai waspada dengan semua situasi yang aku buat untukmu, jadi tidak usah heran jika aku bahkan sampai tahu kau merencanakan apa, karena aku sendiri sudah punya rencana untuk mengatasimu, Ashera." jelas Dini, dan tanpa basa-basi lagi, Dini yang sudah menyiapkan kejutan untuk Ashera itu, tiba-tiba melemparkan sebuah botol kaca yang tadinya berisi cairan berwarna pink.
__ADS_1
Setelah itu, Dini yang sudah menyiapkan masker di dalam gudang itu, segera memakainya.
"Silahkan nikmati sisa waktumu," imbuhnya sambil melambaikan tangannya, lalu berjalan pergi dari sana.
'Jangan-jangan ini racun? Tidak- bahkan jika itu adalah racun, aku tidak akan membiarkan dia pergi dari sini.' kata hati Ashera, dia pun langsung panik.
____________
Sedangkan diluar, ada tiga orang laki-laki yang sebenarnya sudah menunggu.
"Kau yakin, mau melakukan apa yang di katakan oleh Dini untuk menjebak Ashera?"
"Tapi lumayan juga lah, dari pada kita tidak ngapa-ngapain, mending buat perempuan jelek itu lebih tenar dari Bunga sekolah ini,"
"Tapi apa yang akan kira-kira kalian lakukan? Sampai mengajakku, pasti ini hal yang tidak benar," satu orang lagi yang merupakan teman dari kedua orang itu, bertanya dengan satu alasan yang masih belum menemukan jawabannya itu.
"Halah, kita tidak akan melakukan apapun, selain membuat foto Ashera beredar sedang bermain dengan tiga orang laki-laki di saat bersamaan, pasti bagus itu buat sekolah ini hancur dengan deretan berita yang tidak pantas itu." jelas salah satu teman dari dua orang yang sedang berdiri itu.
"Iya, kita hanya perlu membuka baju, dan dia pun buka bajunya sedikit, tentu saja hanya perlu posisi yang pas untuk di anggap sedang melakukan itu, pasti sudah bisa di anggap sebagai melanggar citra sekolah ini."
__ADS_1
"Kalian berdua memang gila," ketusnya, membicarakan kedua temannya yang mengajaknya dengan hal yang tidak-tidak.
"Kau akan dapat bagiannya Bro, lihat ini, lima juta, apa kau bahkan tidak mau uang ini di bagi tiga, hm?" remaja ini pun memperlihatkan uang berwarna merah yang terlihat cukup banyak kepada mereka, membuktikan kalau pekerjaan mereka benar-benar di bayar.