Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
101 : Di balik titipan


__ADS_3

"Tuan muda, apa yang anda lakukan di sini? Sebaiknya anda masuk ke dalam." ucap salah satu pegawai hotel kepada Fajar, karena Fajar yang merupakan majikan mereka juga, bukannya masuk kedalam ballroom untuk menyapa para tamu yang sudah hadir, justru berdiri di pintu masuk.


Fajar yang terus saja melirik ke arah jam tangannya itu, akhirnya bertanya : "Apa kalian tidak menemukan tamu undangan bernama Ashera?"


"Walaupun di daftar undangan ini ada namanya, tapi sama sekali belum ada tanda tangannya, jadi Nona yang anda maksud, jelas belum datang." jawab pria ini seraya mengecek daftar hadir tamu undangan, dan di sana memang masih belum ada tanda tangan milik Ashera.


Bahkan Fajar yang belum percaya itu, sampai merebutnya dengan paksa dan melihatnya sendiri. Begitu sudah melihatnya dan benar, masih belum ada tanda tangan miliknya Ashera, Fajar akhirnya mau percaya.


'Tapi di sini, ada Ashera, Arvin, kak Luna, .. Mereka sama-sama belum hadir. Ini maksudnya apa lagi? Kenapa dua orang itu kelihatannya sama-sama punya urusan yang sama? Waktu itu sama-sama tidak berangkat sekolah, dan sekarang bahkan mereka berdua juga belum datang.


Di perpustakaan juga, saat mereka berdua keluar, rasanya ada sesuatu diantara mereka berdua.


Apa itu, aku masih belum tahu. Tapi pasti ada yang di sembunyikan oleh mereka.' pikir Fajar. Meskipun dia menjabat sebagai wakil ketua Osis, tetapi dia selalu memperhatikan semua sikap dan kegiatan dari semua orang yang satu angkatan.


Dan yang paling menarik perhatiannya selama beberapa hari ini adalah sikap dari Ashera yang cukup berubah daripada sikap sebelumnya.


Keberanian yang terlihat dari matanya, membuat Fajar cukup penasaran apa yang membuat gadis yang beberapa hari lalu sempat di tuduh mencuri itu, dapat membalikkan keadaan.


BRRMMM....BBRRMMM.....


Lalu baru juga dia sedang memusatkan pikirannya itu pada Ashera, tiba-tiba di luar pintu hotel, terdengar suara deru motor sport berwarna ungu.


"Siapa dia?"


"Saya tidak tahu, akan saya cek dulu." kata pria ini, lalu dia pun pergi menghampiri orang yang baru saja berhenti di depan teras hotel.


'Apa yang dia bawa?' Fajar yang penasaran dengan orang tersebut, memutuskan untuk pergi menghampirinya juga.


Seorang wanita berpakaian jas formal, menjadi pemandangan pertama yang Fajar lihat, sebelum matanya itu tertuju pada satu barang yang di bawa di belakang motor, sampai harus di ikat segala.


"Siapa anda?" tanya salah satu anak buah Fajar.


"Ini saya." Suara milik dari seorang wanita, benar-benar menarik rasa penasaran dari Fajar. Tapi begitu helm nya di buka, Fajar pun melihat wajah yang cukup dia kenal.


"Luna?" panggil Fajar.


"Tuan, anda kenal dengan wanita ini?" Tanyanya, karena melihat reaksi dari Fajar itu seperti orang yang cukup mengenal dengan wanita tersebut.


"Iya, aku mengundangnya, jadi tidak usah waspada." Kata Fajar. "Luna, aku tidak pernah berpikir kau akan pergi dengan menggunakan motor." ucap Fajar, kalimatnya di tunjukkan untuk Luna.


"Ini lebih menghemat waktu, karena jalan sedang macet juga." jawab Luna. "Lalu, saya tidak bisa hadir lama-lama di pesta anda, karena saya tidak bisa pergi lama-lama meninggalkan Nyonya saya."


"Iya, itu tidak masalah, karena yang penting Luna sudah mau pergi datang ke sini. Tapi apa yang kau bawa itu?" tanyanya, tidak bisa mengalihkan pandangannya dari barang yang di bawa oleh Luna.


Luna pun meliriknya, dan melepaskan ikatan tali dari kotak kardus yang di bungkus dengan kertas berwarna coklat, sehingga tidak terlihat begitu mencolok.


"Ah, anda tahu Ashera kan?" Tanya Luna, dia mengambil barang itu dan menyerahkannya kepada Fajar.


"Iya, tapi apa hubungannya dengan Ashera? Apa-"


"Ya, dia tidak bisa pergi karena ada urusan. Lebih tepatnya, dia bekerja dengan saya, jadi dia tidak bisa datang, dan menitipkan ini pada saya untuk di serahkan pada anda. Apa anda mau menerimanya?"


Fajar yang tahu kalau Luna bekerja di bawah tangan Nyonya keluarga Ravarden, saat itu juga dia langsung tahu juga kalau ternyata Nyonya yang di layani oleh Ashera adalah orang yang sama dengan yang di layani oleh Luna.


Sebuah alasan yang cukup tepat untuk Luna agar Fajar tidak tahu fakta sebenarnya atas ketidakhadiran dari Ashera.


"Tentu saja. Ini kan hadiah miliknya yang di titipkan padamu. Aku akan menerimanya." Dengan senyuman lemah, Fajar pun mengambil barang itu dari tangan Luna.


"Tuan, mau saya bantu bawa?" Tanyanya.


"Tidak perlu, kau layani saja tamu yang datang itu." jawab Fajar atas tawaran dari salah satu anak buahnya itu.

__ADS_1


"Baik Tuan."


"Dan ini dari saya." Luna juga tidak lupa memberikan hadiah miliknya itu kepada Fajar dan meletakkannya di atas kotak hadiah milik Ashera yang sudah di pegang oleh Fajar itu.


"Sampai merepotkanmu, tapi terima kasih ya."


"Itu tidak masalah, yang penting saya bisa datang kesini dan bertemu anda. Karena tugas dan permintaan saya sudah saya penuhi, saya pamit pergi dulu." kata Luna. Dengan ekspresi wajahnya yang datar itu, Luna pun menunggu jawaban yang di berikan oleh Fajar.


"Kalau begitu hati-hati." kata Fajar, mengakhiri percakapan diantara mereka berdua.


"Baik Tuan Muda." Jawab Luna, dia pun sedikit membungkukkan tubuhnya ke Fajar, kemudian kembali memakai helm nya sebelum akhirnya dia kembali naik ke motor dan pergi dari sana.


"Kira-kira hadiah macam apa yang di buat oleh Ashera untukku ya?" Gumam Fajar seraya melirik ke bawah, tepat di mana hadiah dari Ashera sudah ada di tangannya. 'Akan aku buka sekarang saja lah. Dari pada aku membuang waktuku untuk memiliki rasa penasaran seperti ini.'


Karena dia sudah tidak sabar untuk melihat hadiah macam apa yang di buat oleh Ashera padanya, Fajar pun kembali ke lobi dan pergi ke meja resepsionis untuk membuka kado miliknya.


"Kelihatannya hadiahnya berat, ya Tuan?" Tanya perempuan ini, dia bekerja di balik meja resepsionis.


Karena Tuan muda nya ada di depannya dan ingin membuka hadiahnya, dia pun jadi ikut penasaran.


"Iya, ini kira-kira ada sampai setengah kilogram." jawab Fajar. Dengan serta merta dia pun membukanya. Kertas kado yang tidak menarik itu, karena terlihat begitu murahan, rupanya tidak membuat apa yang ada di dalam sana adalah barang yang murahan.


"Ya ampun, Tuan! I-itu sangat cantik Tuan!" puji perempuan ini dengan wajah terkejutnya melihat ada hadiah yang sedemikan bagus.


"I-ini-"


Fajar yang melihatnya pun jadi tidak percaya dengan hadiah itu, sebab sebuah karya seni dengan ukuran panjang 40 x 35 itu, adalah karya seni seperti lukisan yang di padukan dengan resin bening. Tapi yang menjadi menariknya adalah karya seni yang di buat oleh Ashera ini adalah karya seni Quilling dengan menggunakan nama Fajar sebagai objek utamanya, dan di padatkan dengan menggunakan resin, sehingga bisa menciptakan papan bernama Fajar yang begitu cantik dan indah.


"Tuan, ini bahkan lebih cantik ketimbang di galeri seni. Saya baru melihat ada karya seni yang memadukan antara seni Quilling dengan resin. Ini baru pertama kalinya saya melihat yang seperti ini.


Anda beruntung Tuan, ada yang memberikan anda hadiah sebagus ini. Dan ini jelas hasil karya dari tangan emas." pujinya lagi.


Mendengar pujian itu terus mengalir dari pegawai hotel itu, Fajar pun jadi merasa ikut merasa tersanjung, karena malam ini dirinya sebenarnya adalah tokoh utama dari acara kali ini.


"Wah Fajar, darimana kau mendapatkan ini? Apa kau memesannya dari seseorang?" Akhirnya sang Ibu, datang juga.


"Nyonya, anda sudah datang?" Tanya pegawai resepsionis ini kepada Ibunya Fajar.


"Hmm.., tapi Fajar, darimana kau mendapatkan ini? Ini begitu indah, bahkan paling menakjubkannya, ada namamu di dalam karya seni resin ini." tanya wanita ini, dia terus mengusap permukaan dari hadiah yang di buat oleh Ashera itu dengan kelembutan dan melihatnya dengan tatapan penuh dengan aasa tertarik.


"Ini hadiah untukku Bu. Orang yang Ibu anggap sebagai orang yang aku sukai, dialah yang menghadiahkannya untukku." Jawab Fajar tanpa bisa mengalihkan pandangannya dari seni tersebut.


"Apa? Jadi maksudmu dia yang membuat ini untuk di jadikan hadiah darinya untukmu?" tanya sang Ibu.


"Wah, jadi Tuan sudah punya orang yang anda sukai?"


"Aku harap tidak. Tapi dia yang sampai membuat hadiah ini untukku, aku jadi tidak bisa menyangkal kalau aku menyukainya. Hanya saja-" dengan menggantungkan kalimatnya dengan sengaja, Fajar langsung kembali menutup hadiah dari Ashera dengan bungkus kertas tadi, dan langsung dia angkat lagi bersamaan dengan hadiah dari Luna. "Aku akan tetap sadar diri apa posisiku, jadi ibu tidak perlu khawatir kalau aku akan jatuh cinta pada orang yang bukan selevel denganku." imbuhnya, dan setelah selesai bicara seperti itu, Fajar pun pergi dari sana dengan hadiahnya juga.


"Tuan muda." perempuan pegawai hotel ini pun jadi merasa bersimpati.


'Fajar, padahal aku tidak pernah sekalipun menyuruhmu untuk membatasi rasa sukamu. Kenapa kau sampai punya pikiran untuk membatasi keinginanmu itu karena Ibu?' batinnya.


Sebagai Ibu, dia sadar kalau keluarga mereka dari keluarga terpandang, namun tanpa memberinya perintah apapun kepada anak semata wayangnya itu, dia jadi merasa cukup bersimpati sekaligus merasa bersalah melihat Fajar benar-benar menganggap bahwa pasangan yang nantinya ada di sisinya itu harus setara dengan posisinya Fajar yang akan menjadi kepala keluarga selanjutnya.


Dan perhatiannya itu tiba-tiba teralihkan oleh salah satu anak buahnya yang bertugas untuk berjaga di pintu masuk, mengawasi tamu undangan yang masuk itu.


"Nama Nona siapa?"


"Dini."


"Tapi maaf Nona, nama anda sama sekali tidak tercantum dalam daftar tamu."

__ADS_1


"Tapi Fajar saja memberikanku undangan, masa tidak ada di dalam daftar tamu sih? Ini bukti kalau aku mendapatkan undangannya juga, jadi tidak usah pakai daftar-daftaran segala." ucap Dini, dia sedang berusaha untuk masuk kedalam hotel.


Dan mereka yang bertugas dalam pemeriksaan undangan, akhirnya memeriksa undangan milik Dini.


Dengan berbagai prosedur yang ada, sampai menggunakan cahaya ultraviolet, petugas tersebut pun langsung menjawab. "Maaf Nona, anda tidak di perkenankan masuk."


"A-apa?! Masa aku tidak boleh masuk? Kan aku sudah punya n-"


"Bahkan sampai berani memalsukan undangan yang Tuan buat secara pribadi, apakah anda berusaha untuk menyusup?"


"....!" Dini langsung terkejut dengan jawaban itu, sebab usahanya itu langsung ketahuan. 'Undangannya di buat secara pribadi? Artinya-'


"Ada apa ini?" Tanya Ibunya Fajar.


"Itu, dia mau menyusup masuk kedalam pesta milik Tuan muda." jawabnya.


Ibunya Fajar pun langsung mendelik ke arah Dini.


'Siapa dia?' Dini langsung memberikan tatapan penuh selidik pada wanita yang ada di depannya itu, karena Dini masih belum tahu siapa orang yang ada di depannya tersebut.


"Kau mau masuk ke pestanya Fajar? Dengan undangan palsu yang kau bawa? Apa kau bahkan tidak pernah berpikir bagaimana caranya Fajar bisa mendapatkan posisi sebagai wakil ketua Osis? Maka dari itu kau pikir bisa membodohi dia? Dini, kau pasti orang yang tidak baik."


Satu kesan paling buruk pun jadinya tanpa sadar langsung tertangkap di sudut mata dari wanita ini, membuat Dini langsung memasang wajah terkejut sampai wajahnya sudah mulai pucat pasi.


'P-padahal undangan saja, kenapa aku tdiak bisa masuk?!' batin Dini.


Dan acara yang sudah mepet dengan jam mulai pesta ulang tahunnya Fajar, ternyata masih ada orang yang datang, dan mengenal Dini sebagai orang yang katanya tidak bisa pergi ke pesta.


"Eh Dini, kau ada di sini? Bukannya saat itu kau bilang kau sedang merawat Ibumu yang sedang sakit?"


"Iya. Tapi jika kau datang juga, kenapa kau tidak masuk saja?"


Kedua teman kelas Dini pun bertanya yang langsung membuat Dini merasa terpojok.


Dan jawaban yang tidak bisa di jawab oleh Dini secara langsung, akhirnya di wakili oleh ibunya Fajar. "Itu karena dia memberikan undangan palsu, jadi dia tidak bisa masuk."


"Dini? Undanganmu palsu?"


"Pasti ini ada kesalahan, memangnya bagaimana bisa undangan milik Dini palsu?"


Tanya lagi mereka berdua.


"Tidak ada yang namanya kesalahan para nona sekalian. Kami menggunakan barcode serta sinar ultraviolet untuk memastikan keaslian dari undangan yang di buat khusus oleh Fajar sendiri.


Jadi mana mungkin bisa di palsukan." Imbuh Ibunya Fajar dalam memberitahu pertanyaan dari rasa penasaran teman sekelas dini itu.


"Itu karena, pasti ada yang menukarnya. Aku tidak tahu siapa, tapi pasti ada yang sengaja menukarnya agar aku tidak bisa masuk." Dini dengan sengaja malah membuat alasan kepada mereka semua.


Sampai Ibu nya Fajar, dan beberapa anak buah yang masih berdiri di tempatnya, saling memandang satu sama lain, memberikan sebuah kode untuk menanyakan masalah ini kepada si pihak penyelenggara.


Begitu salah satu pegawai hotel yang bertugas menjaga di pintu masuk itu mendapatkan pesan singkat dari majikannya, dia pun akhirnya tahu kalau Dini pada dasarnya tidak di undang.


_"Jika dia membuat alasan agar menjadi pihak yang bersalah, biarkan dulu, biar aku yang urus Dini."_


Satu pesan yang di sampaikan oleh Fajar kepadanya.


"Begitu ya, masa sampai seperti itu sih? Ini keterlaluan."


"Padahal sudah secantik ini, masa tidak diperbolehkan masuk. Tante, dia boleh masuk atas nama kita berdua kan?" Tanya salah satu teman Dini agar Dini tetap di biarkan masuk kedalam pesta nya Fajar.


Ibunya Fajar yang baru saja mendapatkan kode dari salah satu anak buahnya itu hanya diam dan berbalik.

__ADS_1


"Kalau seperti itu, masuk saja. Lagian acaranya juga mau di mulai. Aku tidak mau ada kakacauan apapun di pestanya Fajar." ucap Ibunya Fajar setelah mendapatkan jawaban kalau Dini diperbolehkan masuk.


'Yes, bisa masuk.' Dini dalam dia pun tertawa girang.


__ADS_2