
"Eh, ternyata dia orangnya ya?"
"Ya ampun, aku tdiak tahu ternyata di balik wajahnya dan sikapnya yang terlihat baik itu, bisa melakukan hal itu ya?"
"Tidak bisa di pungkiri, kalau dia pasti bukan sekedar pelayan yang melayani majikan pada umumnya, pasti ada saja yang akan di lakukannya untuk menambah pemasukan, ya kan?"
"Kalau tahu seperti ini, mending kita tidak usah dekati dia lagi."
"Ashera, hih, ternyata dia di balik tampangnya yang baik itu, menyimpan rahasia yang mencengangkan."
"Bahkan masih bisa berangkat sekolah, setelah melakukan itu semalaman, kelihatannya dia memang punya energi banyak ya?"
"Hahaha, dasar dia sangat memalukan sekali."
Cibiran demi cibiran, Ashera dengar, tepat di saat Ashera baru saja masuk ke dalam gedung sekolah.
Ashera celingukan, dan merasa cukup aneh dengan situasinya tersebut yang terasa cukup menekan.
'Kenapa mereka semua melihatku seperti itu? Ada apa ini? Apakah aku melakukan kesalahan yang tidak aku ketahui?' tiba-tiba saja Ashera jadi merasa tertekan sendiri dengan semua suara dan tatapan mata mereka semua yang sedang merendahkan ke arahnya.
Ashera merasa tidak nyaman dengan semua tatapan mata yang di berikan oleh mereka kepadanya.
Bahkan, setiap langkah yang Ashera ambil itu, bagaikan langkah yang akan membawanya ke jurang penghakiman.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Ashera benar-benar, sama sekali tidak tahu apapun soal itu.
Sekalinya dia masuk ke dalam gedung sekolah, maka di sanalah, situasinya seketika berubah jadi sangat suram.
"Punya muka tebal, ya seperti Ashera dong. Bahkan sudah melakukan hal yang memalukan, masih saja bisa berangkat sekolah seperti itu."
"Iya yah. Kira-kira majikannya itu tahu atau tidak ya, apa yang di lakukan pelayannya di tempat lain saat malam hari?"
DEG...
Sudah jelas, dan Ashera sendiri pun merasakannya, kalau semua ucapan mereka tadi memang benar-bena tertuju kepadanya.
'Sebenarnya ada apa ini? Kenapa aku jadi takut seperti ini?' batin Ashera. Dia sekarang sudah berada di depan kelasnya sendiri. Akan tetapi, dia bahkan sama sekali tidak berani untuk melangkah masuk kedalam kelasnya sendiri.
__ADS_1
"Hei Ashera, apa kau mau jadi penjaga pintu?" tanya salah satu orang di koridor, sambil menatap ke arahnya.
Hanya saja, bukan satu atau dua orang saja yang sedang menatap ke arahnya, melainkan semua orang di sana, bahkan yang ada di dalam kelas pun sama-sama menatap ke arahnya.
"Atau mau jadi penjaga pintu yang satunya lagi?"
"Sepertinya dia sedang memilih dulu siapa giliran selanjutnya untuk membuka pintu untuknya." senyuman sinis miliknya terus menyiratkan makna lain yang lebih dalam.
Ashera yang tidak tahu apa artinya, hanya diam, tidak menanggapi ucapannya, meskipun dia tahu kalau itu jelas ucapannya mereka di tunjukkan untuknya.
'kenapa aku jadi cemas sendiri ya? Sebenarnya apa yang terlewat olehku sih?' dengan langkah cemas dalam melangkah masuk ke dalam kelasnya, Ashera pun kembali mendapatkan tatapan sinis, atau bahkan setidaknya senyuman sinis yang terukir di bibir para anak laki-laki yang nampak berkumpul dan sama-sama memegang handhphone.
"Ashera, kau ternyata punya nyali yang besar ya? Sudah berapa lama, kau melakukan itu? Apakah setiap malam?"
DEG....
Mendengar kata setiap malam, itu seolah tertuju pada dirinya bersama dengan Arvin.
Setiap hari tidur di rumah, makan bersama, dan kadang tidur bersama, tapi apa alasan dari mereka semua bisa berkata demikian kepadanya?
"Ashera, kau tuli ya? Atau pura-pura tidak tahu?" salah satu teman sekelas yang tidak di anggap teman oleh Ashera, tiba-tiba saja angkat suara juga.
"Atau sebenarnya semenjak kau merubah penampilanmu itu, kau akhirnya menggunakan tampangmu untuk mendapatkan uang dari pria lain?"
"Sebenarnya apa sih yang kalian bicarakan? Apa yang terjadi?" Ashera, dengan polosnya malah bertanya, dan pertanyaan itu pun menarik perhatian semua orang untuk tertawa bersama-sama.
Bahkan Lidia dan teman-temannya pun sama juga, tertawa, tapi tawa meeka justru lebih ke mengejek.
"Ashera, kau lebih baik tidak usah bersandiwara, apalagi sok tidak tahu apapun. Itu menyebalkan, tahu." sela Lidia dengan nada menghina.
"Aku masih tidak mengerti, bisakah kalian menjelaskan apa maksudnya ini?!" tegas Ashera.
Tapi apapun tindakan yang di ambil oleh Ashera, justru menjadi bawah tawa oleh mereka semua.
"Hahahaa, ada yang benar-benar sok tidak tahu, ya ampun, tapi setidaknya sebentar lagi juga akan di keluarkan dair sekolah, iya kan teman-teman?!" kata Lidia lagi.
Dan semua orang pun menyetujuinya.
"Pada awalnya kau itu memang tidak di peruntukan untuk sekolah di sini Ashera," salah satu teman Dini akhirnya bicara.
__ADS_1
"Iya, kau itu hanyalah seorang pelayan. Tapi ternyata kau punya pekerjaan lebih dari sekedar pelayan rumah, yaitu pelayan laki-laki, ya kan?!"
DEG...
Bagaikan di sambar petir di pagi yang cerah seperti itu, Ashera langsung mendapatkan rasa sakit yang tidak tahu, asalnya dari mana, tapi begitu dia mendengar kata laki-laki lain, seperti yang di katakan oleh temannya Lidia, Ashera pun samar-samar jadi ingat soal pria asing yang tidak Ashera ketahui itu siapa.
"K-kenapa kau bicara seperti itu kepadaku?"
"Kalian dengar, dia malah tanya? Apa dia benar-benar sangat idiot?" ledek salah satu dari mereka lagi.
Sampai salah satu dari laki-laki yang berkumpul di sana, tiba-tiba saja memperlihatkan sebuah video ke arah Ashera, dan mengeraskan volume suara tersebut, sampai pada akhirnya. Ashera langsung membelalakkan matanya.
-"Ahh~ Ahh~"
Suara yang begitu menggoda, dan juga terdengar cukup menjikikan, membuat Ashera jadi diam membisu.
"Kau lihat itu? Itu videomu. Kau malam tadi pergi ke bar, dan bermain dengan banyak pria, ya kan?" lontar salah satu teman Lidia lagi.
"Suaranya benar-benar sangat vulgar sekali. Pasti sangat menyenangkan, ya kan? Bisa di puaskan oleh empat laki-laki secara bergiliran seperti itu?" dan salah satu teman Doni pun jadinya bicara juga. "Atau- kau mau jadi membuat kami jadi giliranmu selanjutnya?" imbuhnya, membuat sebagian besar orang di sana, wajahnya jadi langsung tersipu juga.
"Ha~ Kau diam, artinya benar kan? Kalau orang yang ada di dalam video ini adalah kau?" tunjuk salah satu dari mereka lagi.
"T-dak. Itu bukan aku," Ashera pun menjawabnya dengan penuh keraguan.
"Hei, lihat dia, bahkan tidak bisa berbohong, berarti yang ada di video ini itu, memang benar-benar dia." tudingnya.
'Kenapa jadi seperti ini?! Bagaimana merkea bisa punya video seperti itu di tangan mereka? Sebenarnya apa yang sudah terjadi kepadaku? Padahal-' begitu Ashera mencoba mengingat kejadian malam tadi, Ashera tiba-tiba saja kepalanya jadi pusing. 'Aku yakin, itu bukan aku, itu bukan aku. Bahkan jika itu aku, aku hanya ingat kalau aku ini sepertinya hanya berdua dengan seseorang saja. Tapi itu kan-'
Sampai tiba-tiba saja, suara pengumuman pun datang.
//Kepada Ashera, dari kelas 11-D, untuk segera ke ruang BK, sekarang.//
"Hayo, ketahuan, kau sebentar lagi di usir dari sini, Ashera!"
"Huuu~ Dasar, perempuan murahan,"
"Dia dari awal memang tidak pantas berada di sini."
Satu per satu dari mereka terus merundung Ashera yang terjebak dalam jebakan yang di buat oleh Dini.
__ADS_1
Lantas, bagaimanakah permasalahan ini akan di atasi?
Apakah Ashera harus di keluarkan, atau bagaimana?