
ZRASSHH.....
Tanpa pemberitahuan, langit yang begitu cerah dan bahkan matahari pun ada di posisi untuk bisa menyinari bumi, hujan deras pun turun.
Arvin yang baru saja hendak pergi dengan motornya, seketika langsung berhenti di ambang pintu basement.
"Yang benar saja, kenapa cuacanya tidak sesuai sekali sih?!" Arvin yang masih dilanda kekesalan, memukul stir motornya yang tidak bersalah itu. 'Mau cari makan saja susah. Aku malas bertemu dengan Daseon, tapi hanya dia saja yang bisa masak untukku saat ini.'
Maka mau tidak mau, Arvin pun tidak jadi pergi keluar dan justru pergi untuk menemui Daseon yang tinggal di lantai tepat di lantai 24, di bawah lantai tempat Arvin tinggal.
"Hahh! Kenapa hidupku jadi serasa kacau seperti ini?! Bersama dengan dia, rasanya aku akan mendapatkan banyak kutukan setiap hari." gerutu Arvin, ia masih saja tidak terima dengan posisinya saat ini yang harus tinggal bersama dengan Ashera, pelayan dari neneknya. 'Aku harus beri dia pekerjaan yang banyak, setidaknya dia harus menanggung apa yang aku rasakan ini.' Pikirnya.
Dan di hari pertama pernikahannya itu, Arvin pun akan memulai perannya itu kepada Ashera dengan cukup baik. Baik dalam hal untuk memberikan banyak pekerjaan kepada Ashera.
_____________
Sedangkan di dalam rumah.
'Kenapa di tong sampah ada uang?' Ashera awalnya hendak membuang sampah dari nasi goreng yang tidak bisa ia makan lagi karena sudah tumpah ke lantai, dan sisanya, satu piring lagi dengan isi yang sama, tidak bisa Ashera makan juga, gara-gara secara mengejutkan ada cicak jatuh tepat ke atas makanannya.
Alhasil, Ashera tidak bisa sarapan karena tidak ada makanan yang tersisa di dapur, sebab di hari sebelumnya, Daseon sudah menggunakan semua bahan makanan tersebut.
"Ini bukan uang palsu kan?" Dengan wajah polosnya, Ashera yang penasaran itu langsung berjongkok dan mengambil lembaran uang berwarna merah yang tercampur dengan sampah. 'Ya ampun, ini banyak. Satu juta, kenapa malah di buang seperti ini? Tidak tahu di untung apa, ada rezeki tapi malah di buang. Dasar anak manja.'
Ashera yang begitu perhatian terhadap setiap apapun yang ia dapatkan akan ia gunakan dengan sebaik mungkin, melihat uang sebanyak itu di tong sampah, tentu saja langsung Ashera pungut. Antara bertanya kenapa di buang kepada Arvin atau akan ia simpan untuk dirinya sendiri, Ashera akan memikirkan itu, setidaknya setelah ia mengumpulkan nya dan membersihkan uang tersebut.
Hingga di saat bersamaan, Arvin yang kembali dari luar, langsung melotot melihat Ashera memungut uang yang sudah di jadikan sampah olehnya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Arvin sambil berjalan menghampiri Ashera yang masih berjongkok.
"Mengambil uang." jawab Ashera dengan cepat, tanpa mengalihkan perhatiannya dari uang yang sudah ada di tangannya itu.
"Apa kau sebegitu inginnya punya uang, makannya mengambil milikku yang sudah aku buang ke tempat sampah?" Tanya balik Arvin dengan nada yang begitu tegas.
__ADS_1
"Bukankah jika sudah di buang, artinya ini sudah bukan jadi milik siapapun?"
"Kau ternyata masih saja berani menjawab ucapanku. Buang itu!"
"Tidak." Ashera yang tidak mau membuang uang itu, langsung mengantonginya ke dalam saku dari jaketnya.
Di mata Arvin, semakin di lihat membuatnya semakin kesal. Uang yang seharusnya di buang, karena mengingatkannya dengan apa yang terjadi semalam, dan membuatnya benar-benar di permalukan, sontak membuat Arvin segera menarik kerah jaket coat yang di pakai oleh Ashera dengan kasar.
"Apa kau tuli?! Apa kau mau menantang majikanmu ini?! Gara-gara kau aku jadi dipermalukan! Buang itu sekarang juga!" Bentak Arvin. Setiap kali berhadapan dengan Ashera, hawanya ingin memarahinya terus.
Itulah yang Arvin rasakan, karena ia masih saja mempermasalahkan apa yang terjadi dua hari yang lalu.
"Memangnya apa hubunganku denganmu yang dipermalukan anda? Saya kan tidak melakukan apapun." Cemas Ashera, sampai kakinya pun sudah menggantung di udara, gara-gara cengkraman tangan Arvin yang begitu kuat itu berhasil membuat tubuhnya menggantung.
"Argghh! Dasar perempuan munafik! Kau pasti tahu kan kalau aku ada di sana, makannya menyusulku dan mempermalukanku?!" Arvin terus bicara tanpa jeda membuat Ashera semakin kebingungan dengan apa yang Arvin katakan kepadanya itu.
'Apaan sih yang dia katakan? Kenapa aku sama sekali tidak mengerti? Menyusulnya? Memangnya dia kemana? Aku saja semalam di bawa pergi ke tempat entah berantah oleh Arlina, dan sekarang dia malah menuduhku kalau aku pergi menyusulnya?' Seketika isi kepalanya seolah baru saja menemukan cahaya terang, walaupun agar tidak yakin dengan apa yang baru saja Ashera pikirkan. "Saya tidak mengerti apa yang anda katakan."
"Kembalikan jaketku!"
"Kan kau sendiri yang tidak mau membuang uang yang aku buang, jadi lebih baik aku buang saja sekalian dengan jaketmu ini." Sebagai pembalasan atas Ashera yang tidak mau menuruti perintahnya, Arvin pun berjalan menuju balkon kamar, setelah keluar, dengan serta merta Arvin langsung melempar jaket itu, sehingga uang yang sudah sempat Ashera pungut, langsung terang terbawa oleh angin yang disertai hujan.
Melihat hal itu, Ashera berlari dan mencoba menggapai jaket berwarna coklat itu.
"Tidak! Arvin!" Teriak Ashera secara gamblang, tanpa memperdulikan panggilannya terhadap Arvin yang seharusnya di panggil Tuan muda.
".........!" Arvin yang melihat Ashera begitu histeris sampai ingin menggapai jaket yang sudah terbawa terbang oleh angin dan hampir membuat tubuhnya keluar dari pagar pembatas, langsung menarik ujung baju Ashera dengan cepat.
Sehingga Ashera yang hampir terjatuh itu, bisa di selamatkan sebelum ada perkara kecelakaan atau bahkan yang lebih buruknya adalah pembunuhan.
"J-jaket! Jaketku! Kenapa kau membuang jaketku?!" Marah Ashera sambil mendorong keras tubuh Arvin.
Arvin yang tidak rela tubuhnya di dorong, langsung membalas dorongan Ashera. "Kan salahmu sendiri. Jika saja kau mengikuti perintahku untuk membuangnya, harusnya kau buang saja bodoh! Jadi terima saja konsekuensi dariku!" Sarkas Arvin tidak begitu memperdulikan perasaan apa yang sedang di miliki oleh Ashera saat ini.
__ADS_1
"Apa kau harus seperti ini?! Itu jaketku yang berharga!" Balas Ashera. Matanya sudah berlinangan dengan air mata yang sudah terbendung sejak lama selepas jaket itu di bawa oleh Arvin dan membuangnya.
Dan sekarang, Ashera pun akhirnya menangis, karena ia harus menelan rasa pahit dari orang yang bahkan tidak tahu caranya bersyukur.
Ada uang, tapi di buang. Dan jaket yang Ashera pakai merupakan pemberian dari Ayahnya sebelum meninggal, harus melayang terbang jauh layaknya sebuah sampah.
Baru juga tiga hari ini, tapi ia harus meghadapi orang yang tidak memliki perasaan sama sekali terhadap orang seperti Ashera, mentang-mentang karena kaya raya, dan menganggap kalau apapun yang ia miliki, tidak selevel dengannya, bahkan termasuk hidupnya yang sekarang ini seharusnya di tunjukkan untuk berada di sisi pria ini terus.
"Jaket murahan seperti itu dibilang berharga, memang ya, jika bukan jika bukan berasal dari status orang sepertiku, pemikirannya pun beda juga." Hina Arvin secara terang-terangan di depan Ashera.
"Kau!" Ashera langsung menutup mulutnya dan digantikan dengan tatapan tajam tapi bercampur dengan kesedihan.
"Apa? Mau nyolot denganku? Berani menatap majikanmu sendiri seperti itu?!" Arvin yang masih saja kurang puas dengan perilaku Ashera yang begitu berani kepadanya, perlahan berjalan ke depan, satu langkah demi satu langkah menghampiri Ashera, membuat Ashera yang semakin takut dengan wajah Arvin yang begitu garang, segera memerintahkan kedua kakinya berlari pergi dari sana.
'Kenapa dia seperti ini? Dasar tidak punya perasaan!' Teriak Ashera dari dalam hatinya, lalu dalam diam di bawah tekanan ia masih ingin menangis, dia berlari keluar dari apartment.
_______
Dengan menggunakan mantel hujan, Ashera berlarian untuk mencari keberadaan dari jaket peninggalan dari Ayah nya.
"Tadi jaketnya terbang kemana?" Ashera mencoba melihat kearah atas, berpikir kalau jaketnya nyangkut di pohon atau manapun itu.
Hujan deras yang mengguyur tidak membuat Ashera untuk berhenti mencari.
Semuanya, demi jaket itu. Satu-satunya barang paling berharga, barang yang sering ia pakai dan terus menganggap kalau jaket tersebut membuat dirinya seperti bersama dengan satu-satunya orang yang sudah lama di tinggal pergi.
Hanya itu yang bisa Ashera rasakan, ketika bisa memakai jaket tersebut. Walupun sudah ketinggalan zaman, tapi apa pedulinya itu? Di sini yang hanya Ashera pedulikan hanya berharap kalau ia bisa menemukan kembali harta berharganya.
'Bahkan Ibu yang lebih sedih dariku, rela memberikan jaket Ayah kepadaku ketimbang di simpan oleh Ibu. Arvin, kau benar-benar jahat, kau tidak pernah merasakan seperti apa rasanya hatiku ini.
Ya, aku tidak menganggap itu sebagai prioritas untuk ikut merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Tapi setidaknya apa dia tidak bisa pakai logika? Mulutnya menjadi pisau yang bisa membunuh siapapun.
Apa dia selalu seperti itu dengan orang lain?' Pikir Ashera.
__ADS_1