Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
177 : Godaan Di Tengah Penonton


__ADS_3

“Aku kan tidak bisa main?” mulutnya tiba-tiba saja menjawab tanpa bisa Ashera hentikan, kalau dia sempat terhanyut dalam ucapannya Arvin tadi. 


“Hehh, kau ingin bisa kan? Makannya akan aku ajari. Lagian, kau tadi juga sebenarnya sudah melihatnya berkali-kali, seharusnya kau sih bisa langsung paham,” jawab Arvin, antara memuji Ashera yang mau duduk di pangkuannya terus, maupun sedang membisikkan kalimat hasutan agar Ashera mau ikut dalam taruhan tersebut, karena kali ini Arvin akan bertaruh di dua juta miliknya yang terakhir itu. “Kau ingin uangku kembali dengan utuh kan? Makannya, kali ini itu harus bisa menang dengan nenek peyot itu,” ucapnya lagi, namun meskipun Arvin bicara dengan nada berbisik, akan tetapi wanita yang sedang dibicarakannya tadi itu masih bisa mendengarnya dengan cukup jelas. 


“Mulutmu itu kurang ajar sekali ya.” akhirnya wanita ini pun jadinya angkat bicara juga, karena merasa tersinggung dengan perkataannya Arvin tadi. 


“Aku hanya bicara yang sebenarnya,” ledek Arvin, malah memancing emosi dari wanita tersebut. 


Tidak terima, wanita yang sudah bergelompangan dengan ratusan chip di sampingnya, langsung mendorong seperempat dari jumlah chip itu untuk kembali di adu dengan jumlah taruhan miliknya Arvin. 


“Lebih baik kau pulang saja tidur, kan sebentar lagi masuk sekolah lagi.” tuturnya, mencibir Arvin yang masih anak sekolah itu. 


“Pfftt~ Sekolah? Jika kau mengkhawatirkan soal ujian berikutnya, bagiku tidak masalah, bahkan sekalipun aku bermain sampai begadang denganmu, aku bisa menyelesaikan ujianku dengan sempurna,” jawab Arvin, dia pun menyombongkan diri berdasarkan tema yang sedang di angkat oleh si pencibir itu sendiri. 


“Apa? Sombongnya dia ini.”


“Yah, sok pintar pasti punya kesombongan yang tinggi juga.” 


“Biasanya sih seperti itu. Tapi aku tidak peduli dengan soal ujiannya, yang aku pedulikan itu, apakah uang terakhirnya itu akan di renggut semua sampai habis oleh beliau?”


Mereka yang masih bertahan ingin menonton taruhan dari kedua orang tersebut, hanya terfokus pada hasil akhir yang bisa mereka lihat secara langsung. 


‘Kau secara tidak langsung sedang menyindir aku yang bahkan seperti semut, karena aku tidak bisa pintar seperti dia.’ Ashera sendiri, dia menggerutu merasa tersindir dengan ucapannya Arvin. 


“Itu yakin? Mau menyumbang seperempat penghasilanmu malam ini di sesi permainan kali ini?” tanya Arvin, tidak percaya karena uang yang cukup banyak itu, membuatnya ragu dengan keputusan yang di ambil oleh lawannya itu. 


“Katakan saja jika kau sebenarnya takut kalah lagi denganku.”


“Tidak juga, aku hanya takut itu terlalu banyak untuk kau pertaruhkan dalam permainanmu denganku, dan hasilnya kau tidak bisa melunasi hutang-hutangmu.” sindir Arvin sekali lagi. 


“Adolv, aku lelah, aku ingin duduk sendiri saja,” pinta Ashera. 


“Husttt~ Tidak, kau harus da di pangkuanku, atau karena kau tidak mau membantuku?” 


“Kenapa malah alasanku malah di putar balik sih?” lirih Ashera, dia benar-benar tidak tahu kenapa Arvin terus bersikap sok dekat seperti itu kepadanya, padahal bisa di bilang malam ini dirinya jadi seperti koala yang terus saja menempel pada batang pohon.


“Makannya, kalau mau bantu aku yang tulus dong,” kernyit Arvin. 


Ashera pun jadinya ikut mengernyitkan matanya, karena salah satu kakinya itu benar-benar suah cukup kesemutan. 

__ADS_1


“Dasar-” ketus Ashera dengan ekspresi wajah malas. 


“Kau akan menyesal nanti-” kutuk wanita ini kepada Arvin, sebagai lawan dari permainan judi mereka berdua. 


“Kalau tidak di coba, mana ada yang tahu kan?” Arvin menimpali ucapannya dengan cepat. 


Sehingga ucapannya itu pun membuat suasana di sana jadi semakin tegang. 


“Ok, agar terilhat lebih bagus dan adil, saya akan menggunakan mesin untuk membanggikan kartu untuk kalian berdua.” kata panita ini, dia pun mengeluarkan sebuah mesin khusus yang biasa di gunakan untuk membagikan kartu poker secara otomatis, agar bisa lebih adil tanpa adanya kecurangan. 


Tentu saja, sebelum itu kartu di kocok secara manual, lalu balik, di bagi jadi dua, dan di satukan dengan cara yang lebih rumit, sampai di tahap terakhir karunya di masukkan kedalam mesin. 


Mendapapatkan lima kartu, mesin itu berhenti, dan mengeluarkan kartu itu dair mesin lalu di bariskan secara rapi di atas meja, agar para pemain bisa mengambilnya secara suka hati mereka. 


“Silahkan, dimulai,” ucapnya. 


Ketegangan kembali terjadi, Arvin mendapatkan banyak kartu yang tidak sesuai. 


“Ambil dua yang menurutmu benar-” perintah Arvin kepada Ashera. 


“Kau yakin?” Ashera ragu. 


“Ok, aku akan memilihnya, tapi jangan salahkan aku kalau itu tidak sesuai-”


“Makannya cepat,” cicit Arvin, dia tidak suka jika Ashera kebanyakan bicara, di saat genting seperti ini. 


“Hish,” dengn hati sudah membuak ingin berteriak, karena terus saja berdebat dengan Arvin, Ashera pun langsung menarik salah satu kartu, dan memberikannya kepada Arvin. 


Ashera mengambil di ujung, dan di tengah, setelah Arvin mendapatkannya dari Ashera, bahkan ketika Arvin kembali menyuruhnya, belum lima menit itu, Arvin tiba-tiba saja melempar empat kartu As semua. 


“Aku menang.” 


“Hah?” Ashera yang tadinya mau mengambil kartu lagi, langsung melongo, begitu juga dengan lawan mainnya Arvin. Dia dan semua penonton pun sama-sama terkejut bukan main. 


“Kau pasti curang-” tuding wanita ini terhadap Arvin, karena tidak puas dengan hasilnya. 


Padahal beberapa waktu yang lalu, Arvin selalu kalah, tapi kenapa bisa tiba-tiba jadi menang dalam waktu yang singkat?


“Untuk apa aku curang? Cctv ada, bahkan kau-” menunjuk ke arah wasit itu sendiri. “Apakah aku terlihat seperti orang yang baru saja curang?” tanyanya. “Tadi lihat sendiri, aku hanya menerima kartu yang di ambilkan oleh Hera. Apa itu termasuk di anggap sebagai kecurangan?”

__ADS_1


“Kenapa malah aku juga?” Ashera menyipitkan matanya, dia tidak habis pikir kalau dia malah jadi kena dalam masalahnya Arvin. 


“TIdak ada masalah, Tuan Adolv lah yang menang,” ucapnya sambil menghela nafas pelan namun panjang. 


‘Heh- ini berguna, tepatnya Ashera ini memang berguna juga. Aku tarik lagi kalau Ashera adalah perempuan tidak berguna yang tidak bisa apa-apa, buktinya setelah aku membawanya ke sana dan kesini, dia malah sangat menguntungkanku, meskipun dalam beberapa hal saja.’ pikir Arvin, dia perlahan jadinya merasa beruntung juga, bisa memanfaatkan Ashera dalam kesehariannya. “Jadi, semua yang chip yang sudah di persembahkan ini artinya sudah jadi milik aku.” tuturnya, menimbulkan masalah yang semakin berlanjut, karena lawan mainnya itu emosinya sudah mulai terpancing. 


“Aku-”


“Jadi artinya uangku yang tujuh juta, kembali kepadaku, luamyanlah, walaupun masih kurang untuk menutupi kerugianku yang kehilangan tiga juta. Atau masih mau main denganku? Pasti dalam hatimu masih penasaran, kenapa aku bisa menang? Mungkin?” Arvin lagi-lagi tidak berhenti untuk memprovokasi orang tersebut, sehingga banyak penonton yang merasa kagum dengan cara bicara Arvin yang benar-benar berani dan sangat menyindir wanita itu. 


“Dia sangat berani ya, bicara itu kepadanya?”


“Mungkin dia masih belum tahu siapa dia, makannya bicara seenak jidat.”


Bisikan demi bisikan jadi sebuah gosip yang terdengar oleh Arvin dan Ashera. 


“Apa kau tahu siapa orang yang terus kau sindir ini ha bocah?” tanyanya dengan ekspresi wajah yang begitu dingin, karena saking geramnya dengan Arvin yang bicara dengan sangat sembarangan. 


“Aku tidak tahu kau itu siapa, karena lagi pula kita itu sama-sama manusia, tapi hanya beda jenis, beda kepribadian beddmphh…!” mulutnya Arvin seketika langsung di bungkam oleh tangannya Ashera. 


“Diam, jangan buat kehebohan dengan cara bicaramu itu.” ucap Ashera dengan nada yang begitu tegas, dia tidak ingin ada keributan di situ, makannya dengan berani, Ashera pun menutup mulut dengan lidah tajam itu dengan tangannya sendiri. 


Tapi Arvin yang tidak suka mulutnya di bungkam, segera mengeluarkan lidahnya. 


SLURP…


“Hihh…!” Ashera langsung melepaskannya. 


“Tanganmu itu asin ya?” tapi Arvin menjilati bibirnya sendiri dan Ashera jadi malu sendiri dengan perkataannya itu. 


“Hahahaha, ada-ada saja, belum cuci tangan kan.”


“Ya, mungkin malah sempat pegang ikan asin tapi belum cuci tangan.”


Mereka yang mengikuti candaannya Arvin, langsung di timpali dengan ucapannya Arvin lagi. “Tapi setidaknya tangannya enak untuk bisa aku jilati sampai ke seluruh tubuhnya.”


SLURP…


“Akhh! Kenapa kau bicara seperti itu?!” teriak Ashera, dia pun jadinya langsung berjongkok, dan malu sejadi-jadinya, sehingga banyak diantara mereka semua yang malah kembali tertawa, karena lelucon yang membuat suasana jadi berkontrakdiksi dengan suasana hati dari wanita yang dari tadi terus melawan Arvin dalam judinya. 

__ADS_1


__ADS_2