
Satu hari setelah Ashera bangun.
"Apa kau tidak mau makan?" tanya Arvin, dia terus memperhatikan istrinya yang terlihat terus melamun dan hanya menatap makanannya saja. "Mau sampai kapan kau akan terus seperti ini?"
Arvin, jujur saja dia cukup merasa frustasi melihat gadis yang dari tadi sedang dia coba untuk diajak bicara, malah terus memilih untuk diam membisu, seakan dia malah bicara dengan tembok.
"..."
"Ashera! Kau mau sampai kapan seperti ini?! Aku bisa melihatmu terus saja melamun seperti itu, nanti kalau kesurupan bagaimana?" kata Arvin, lagi- lagi dia menegur dengan nada yang justru terdengar cukup mengancam.
Kesal sendiri melihat Ashera yang hanya duduk melamun, Arvin mau tidak mau jadinya terpaksa mengambil mangkuk berisi bubur itu, mengambilkannya dan langsung menyuapi Ashera dengan terpaksa.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan, tapi jangan salahkan aku, aku harus memaksamu agar perutmu itu tidak kosong," ucap Arvin dengan tegas, lalu menyendoki bubur itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya Ashera.
“Ehmm!” Ashera langsung mengernyitkan matanya dan langsung melengos ke arah lain, menolak bubur yang disuap oleh Arvin kepadanya.
“Ashera! Jangan buat aku emosi, makan atau kau bahkan sama sekali tidak akan bisa angkat kaki dari rumah sakit!” marah Arvin. Sebagai orang yang punya kesabaran setipis tisu, dia benar-benar tidak begitu memperdulikan apa yang sedang dipikirkan oleh Ashera selain menuntut perempuan itu untuk makan.
__ADS_1
‘Dia pasti sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadaku. Aku benar-benar tidak berani menatap matanya, aku takut.’ dadanya cukup merasa sesak. Dia sama sekali tidak bisa menatap wajah Arvin yang sekarang ini saja tampak cukup garang, dan Ashera tidak mampu untuk mengendalikan pikirannya yang terus saja memikirkan apa yang sudah terjadi kepadanya.
Bukan sekedar karena video nya yang sudah tersebar sampai satu sekolah, tapi juga fakta kalau dirinya ternyata keguguran?
Namun, dari kedua masalah itu, ada satu masalah yang tidak bisa Ashera abaikan, dan itu adalah pria yang sempat tidur bersamanya di dalam kamar di tempat bar.
‘Jika aku mengatakannya, dia akan seberapa marah kepadaku? Bahkan karena ini, aku di permalukan habis-habisan.’ Ashera sungguh, dia sama sekali tidak bisa tidur, bahkan untuk makan sajadia tidak enak.
Terlebih, Arvin terus saja ada di sampingnya dan terus menuntutnya untuk makan, padahal perutnya saja terasa sangat tidak enak untuk di isi makanan.
“Ashera!” Arvin tiba-tiba saja langsung mencengkram kedua bahunya Ashera dengan nada membentak, “Apa kau mau lebih menyusahkan aku lagi? Makan!”
Ashera yang cukup ketakutan untuk bicara berdua dengan Arvin yang tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri, tentu saja membuat Ashera takut setengah mati.
Ashera refleks menggelengkan kepalanya tidak mau.
Menatapnya dengan tatapan yang cukup beringas, Arvin yang melihat wajah Ashera yang ketakutan, akhirnya jadi kesal sendiri, dia langsung melepaskan cengkraman tangannya dari kedua bahunya Ashera dan bertanya, “Kenapa kau tidak jawab? Aku bukan orang yang begitu baik hati untuk bicara sendirian seperti bicara pada tembok.
__ADS_1
Katakan saja apa yang sebenarnya membuatmu gelisah seperti itu.
Jika kau memikirkannya sendiri, aku mana mungkin marah seperti ini. Ashera, apa kau masih ingin diam?”
Tepat setelah berkata seperti itu, Arvin pun langsung memberikan tatapan kepada Ashera dengan sorotan mata yang tampak begitu dingin seolah masuk ke dalam kegelapan.
‘Sudah satu hari dia sadar, tapi dia tetap saja tidak mau makan. Sudah kurus kering seperti kurang gizi, tapi tetap saja ngotot.’ pikir Arvin dalam diamnya, sambil mengacak rambut belakangnya dengan kasar, saking frustasinya menghadapi perempuan yang satu itu.
Ashera yang di tuntut untuk bicara itu, sekilas cukup segan, dan hanya terus mengatupkan mulutnya, tidak berani bicara persoalan yang terus membuat hatinya gelisah sepanjang hari.
Hanya saja, di satu sisi lain, Fajar terlihat sedang berdiri di depan pintu kamar inap yang di gunakan oleh Ashera.
Dia ingin menjenguk gadis itu, maka dari itu dia pun memakai pakaian rapi dan membawa buket bunga juga buah segar.
Tapi, begitu dia akan masuk, Fajar justru melihat Arvin yang tampak sedang menatap Ashera penuh dengan amarah.
Yah, Arvin adalah orang yang suka mengandalkan emosinya, jika lawan bicaranya tidak bicara sesuai dengan ekspektasinya Arvin.
__ADS_1
“Arvin, apa yang membuat dia begitu marah kepada Ashera? Tapi- Arvin bukanlah orang yang akan marah tanpa sebab.
Walaupun begitu, apa alasan mereka berdua punya ekspresi yang terlihat saling khawatir dan begitu akrab?” kata Fajar dalam gumaman lirihnya, melihat Ashera dan Arvin memang tampak begitu dekat sekali.