Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
50 : Peringatan


__ADS_3

Setelah sarapan, Arvin berniat untuk berangkat sekolah.


Akan tetapi, setelah dia memakai sepatunya, Ashera tiba-tiba saja mencegatnya pergi.


"Sebentar!"


"Apa lagi?" Dengan nada malasnya.


"Dasimu-" Dengan sigap, Ashera memperbaiki posisi dasinya Arvin.


"Apa kau sedang mencoba untuk menjadi Istri yang baik?" tanya Arvin. Toh, karena sudah terlanjur seperti ini, dimana hubungan mereka berdua sudah jadi suami istri, ia akan mencoba untuk tidak mempermasalahkannya lagi.


Jadi, untuk kegiatan yang bahkan tidak mungkin akan di lakukan oleh Ashera yang dulu dengan yang sekarang, Arvin akan memakluminya.


Setidaknya, sampai sebatas mana perempuan ini bisa menjadi perempuan yang berguna untuknya?


"Itu termasuk. Tapi, apa kau tidak berpikir untuk membuatku masuk sekolah lagi?" selesai membenarkan dasi seragamnya Arvin, Ashera langsung menarik kedua kerah baju itu agar anak ini membungkuk ke arahnya.


Dua pasang mata itu pun saling menatap. Ada keinginan besar yang terkandung di dalam tatapan mata Ashera kali ini, setidaknya tidak seperti sebelumnya yang terlihat akan mengiyakan apapun keputusannya, sebab sekarang Ashera sedang kena skors.


"Kenapa kau memintaku membuatmu masuk sekolah lagi? Yang membuatmu bisa kena skors kan bukan aku, tapi kau sendiri, dan keputusannya juga ada di pak Guru." Jelas Arvin.


"Arvin, memangnya aku tidak tahu kalau kau lah yang menyuruh pak Guru untuk membuatku kena skors."


Arvin yang begitu muak harus membungkuk terus, langsung menepis tangan Ashera dari kerah seragamnya, lalu berbicara : "Kalau tahu, berarti kau seharusnya tahu alasannya. Pikirkan saja dulu apa kesalahanmu, jadi jangan ganggu aku mau sekolah."

__ADS_1


"Eh~ Tunggu!" Ashera buru-buru memegang lengan Arvin agar tidak pergi dulu. "Jadi aku tidak boleh sekolah? Kalau gitu aku ikut kau keluar."


Arvin mendengus kesal, "Ashera, meskipun hubungan kita sudah jadi sepasang suami istri, atau saat di luar kau menganggapku teman atau apapun, di luar kau dan aku itu bagaikan orang asing. Jadi setidaknya jangan sampai orang lain tahu kalau kau dekat-dekat denganku. Aku benci itu."


"Apa? Apa kau lupa kalau kau harus aku disiplinkan?"


Arvin semakin mengernyit, Ashera mau mengancamnya? Lagi? "Kenapa kau harus mengungkit itu lagi? Aku masih ingat soal itu, tapi aku ini mau sekolah, kau sendiri yang menyuruhku berangkat pagi, tapi setidaknya ada satu syarat yang harus kau pahami, saat di luar, kita tetap orang asing." Begitu Arvin menyelesaikan ucapannya, Arvin langsung menepis tangannya Ashera dari tangannya itu, dan pergi begitu saja dari rumah tanpa salam apapun.


Melihat kepergian dari suaminya itu, Ashera hanya diam sambil terus menatap pintu rumah.


"Aku akan melepaskanmu hari ini saja. Tapi tidak dengan besok." Gumam Ashera. Dia mengeluarkan handphone nya dan tatapannya terpaku pada benda tersebut. Dan satu nomor yang belum Ashera save, langsung Ashera tekan dan segera menghubungi nomor tersebut.


_______________


"Apa ini?" tanya pria bernama Fajar ini, dan jabatan dari anak laki-laki ini adalah wakil ketua Osis.


"Enak, sejak kapan kau bisa masak?" Puji Fajar. Dia tidak berbohong soal rasa enak itu.


"Mamaku kan sudah mengizinkanku kalau Yuli jadi calon tunanganku, jadi aku masak bersama dengan mamaku lah." Bisik Alvia di samping telinganya Fajar.


"Masih sekolah, sudah punya calon tunangan?"


Alvian mengusap hidungnya yang tidak gatal itu, kemudian dia tersenyum bangga dan berkata : "Makannya, jangan sia-siakan wajahmu itu. Biarkan sesekali merasakan pacaran. Jika sudah seperti itu, lama kelamaan kau pasti akan suka dan semakin ingin mengikatnya denganmu."


Menghabiskan pangsit yang di berikan oleh Alvian, Fajar meliriknya. "Apa kau sedang menghasutku?"

__ADS_1


"Heheh, kan satu-satunya orang yang terkenal masih suka sendiri, hanya kau saja. Siapa yang tidak tahan untuk tidak membuatmu dihasut untuk pacaran coba?" Jelas Alvian, dia pun sempat mencicipi masakannya lagi, enak, dan bikin nagih. Jadi Alvian pun merasa kalau Yuli yaitu pacarnya akan senang.


"Dengar ya, aku sama sekali tidak punya niat untuk pacaran. Bagiku cukup membuang waktuku." Ungkap Fajar. Dia selama ini lebih suka belajar dan melakukan semua yang ia suka.


"Eleh~" Ejek Alvian. "Nanti kalau sudah pernah merasakan rasa suka, pasti jadi bodoh juga. Kau akan menganggap kalau cinta jauh lebih pentin ketimbang belajar." Imbuhnya.


"Tap-"


DRRTT.....DRRTT.....


Penasaran siapa yang sudah mengganggu perbincangannya, Alvian mencoba untuk mengintip nomor siapa yang sedang menelpon Fajar?


"Siapa tuh?" tanya Alvian.


"Mana aku tahu." singkat Fajar, dia sendiri juga tidak tahu. "Ini, terima kasih. Lain kali bawakan aku makanan lagi sebagai pencicip ya?" tutur Fajar sambil meninggalkan bangkunya.


"Ok, ok, tidak masalah." Alvian pun senang-senang saja dengan menawarkan makanannya lebih dulu ke Fajar, karena Fajar ini memang punya lidah yang cukup sensitif, sehingga apapun yang kurang di dalam makanan yang di makannya, pasti akan di komentar dengan baik.


Sedangkan Fajar, dia keluar dari kelas dan mengangkat nomor asing itu.


"Halo?" sapa Fajar untuk pertama kalinya.


-"Ini, fajar kan?"-


DEG....

__ADS_1


Suara yang begitu familiar, segera memproses otaknya untuk menentukan siapa pemilik dari suara itu. 'I-ini kan suaranya Ashera? Jadi dia akhirnya menyimpan nomor yang aku berikan waktu itu?' Pikir Fajar.


__ADS_2