
"Apa kau bilang?" Tanya Arvin, nadanya begitu rendah, suasana tegang itu seolah berubah menjadi medan perang tanpa senjata, bahkan rasa yang cukup dingin itu langsung seakan langsung menusuk ke semua tulangnya. "Coba katakan lagi."
"Jangan pergi,"
"Bukan itu." Sorotan mata elang milik Arvin segera menembus wajah Ashera, sampai nyali Ashera yang tadinya begitu besar, kembali mengecil.
"I-itu, aku sudah masak, kenapa harus pergi?" suaranya perlahan jadi mengecil, sesuai dengan nyali yang Ashera miliki.
"Aturan nomor 5, bahasa formal, apa kau bahkan tidak ingat semua peraturan dalam kontrak itu? Atau jangan-jangan otakmu sudah kau buang ke toilet? Makannya sampai mau menentangku?" Arvin begitu dongkol sekali, padahal sudah enak mau pergi mengajak seseorang yang ingin ia kencani demi menghindari perempuan itu datang ke rumahnya, tapi apa?
Ashera dengan begitu beraninya mau mencegahnya pergi?
Merasa risih, sesak, dan terganggu dengan keberadaan dari Ashera yang tiba-tiba masuk kedalam ruang lingkup pribadinya, Arvin mulai bicara. "Coba aku tanya, kau siapa?"
"Aku Ashera?"
"Terus apa alasanmu ada di tempat ini?" Satu langkah, Arvin ambil. Membuat jarak diantara mereka berdua sedikit demi sedikit langsung terkikis.
"Tinggal bersama denganmu,"
"Untuk?" Dengan raut wajah yang begitu datar, Arvin terus maju satu langkah, hingga Ashera yang perlahan mulai disudutkan oleh posisi Arvin yang seolah sedang menginterogasinya, secara refleks jadi mundur satu langkah ke belakang, dan seterusnya.
"U-untuk melayanimu." Takut dengan ekspresi wajah Arvin yang begitu datar dan benar-benar tidak suka terhadapnya, Ashera justru menatap ke arah lain.
Mendengar kata melayani keluar dari mulutnya Ashera, kalimat itu pun seolah berubah untuk memiliki beberapa makna. Jika di dalam kontrak yang sudah di sepakati oleh Ashera sendiri adalah melayaninya dari posisi sebagai pelayan biasa, tapi satu makna tersembunyi itu benar-benar menyeret kata melayani yang mengacu pada hubungan mereka berdua yang sebenarnya.
__ADS_1
Maka dari itu, Arvin pun jadi semakin tidak suka saja dengan kalimat itu.
Padahal Arvin sendiri pula yang bertanya untuk apa, tapi setelah mendengar jawabannya, tentu saja ia tidak begitu menyukainya, bahkan jari merasa jijik.
'Kenapa aku jadi kesal sendiri dengan jawaban dari pertanyaanku tadi?' Arvin pun menyisir rambut serabainya itu dengan kelima jadi tangan kanannya. Setelahnya, Arvin berjalan dua langkah lebih cepat dari pada yang seharusnya sampai Ashera yang terkejut dengan Arvin yang tiba-tiba saja mendekat, segera berjalan mundur sampai mentok ke tembok.
"Dengar ya, aku tidak peduli soal kau tinggal di sini. Jika bukan karena gara-gara kau, hidupku tidak mungkin sekacau ini. Lalu-" Dengan nada yang begitu rendah, serendah rendahnya, Arvin pun sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan, mengambil jarak yang lebih dekat ke depan wajah Ashera, lalu Arvin pun membisikkan sesuatu di sebelah telinga Ashera : "Jika kau menghalangi kebebasanku seperti tadi, aku akan membuat perhitungan denganmu. Apa itu, aku sendiri masih belum tahu. Tapi itu pasti akan datang kepadamu jika kau memang menggangguku lagi dengan mencegahku pergi. Kau mengerti?"
Bagaikan bisikan dari seorang Iblis kepada korbannya, Arvin pun berhasil membuat Ashera terlihat begitu takut, sampai kedua kakinya pun gemetar.
"Bahkan ketika tubuhmu mengerti untuk takut kepadaku, sebaiknya kau tidak usah memaksakan diri berbicara kepadaku, apalagi sampai membuatku menghadapimu seperti ini. Kau harus tahu batasanmu, apalagi kau itu seorang pelayan. Kau..., di sini..., tidak punya hak apapun selain tugas yang sudah tercantum dalam surat kontrak." Sindir Arvin, menambahkan. Matanya menonton sepasang kaki yang begitu gemetar untuk sekedar berdiri saja, makannya, setelah di saat Arvin mengambil dua langkah mundur ke belakang, Ashera langsung jatuh terduduk.
BRUK...
'R-rasanya seperti hari itu.' Detik hati Ashera. Matanya sudah tidak bisa fokus untuk melihat ke depan, selain pikirannya terus saja teringat dengan kejadian di hari kesuciannya yang di renggut.
'Sepertinya aku berhasil membuatnya diam, tanpa membuatku melakukan sesuatu yang kasar.' Karena sudah selesai mengurus Ashera, Arvin pun langsung pergi dan membiarkan Ashera terduduk di lantai.
BRAK....
'Saat hari itu, hari...hari aku-' Kalimatnya terhenti ketika rasa sakit yang mendera di area bagian pangkal pahanya seolah datang kembali, tepat di hadapan pria ini.
Karena selain pangkal pahanya yang di jadikan tempat pelepasan oleh ca*ran dari jutaan benih kedalam tubuhnya, pusaka itu pun sempat di paksa untuk di masukkan ke dalam mulutnya.
Sekali mengingatnya.
__ADS_1
Ashera langsung merasakan mual yang luar biasa. 'A-aku tidak bisa melupakannya.' Pikir Ashera.
Rasa mual nya pun datang juga.
"Huekk...." Derai air mata yang mulai membasahi sudut matanya, perlahan keluar. "Huekk...."
Tangis dalam diamnya, tidak membuat rasa jijik dari mulutnya yang begitu kotor, terus menerus memicu sensasi, rasa dan perasaan tak karuan yang akhirnya membuat suara mualnya terus muncul.
"Huekk...." Ashera tidak bisa menghentikannya, dia yang masih terduduk di lantai, langsung membungkukkan tubuhnya tepat ke atas lantai. "Huekk....akh...aku...au huekk..."
Dan tangisan tanpa suara pun melanda Ashera yang mulai kesulitan untuk mengatur perasaan hatinya, tubuhnya yang ketakutan, pikiran, dan mulut yang masih saja mengingat dengan jelas, semua hal yang sempat Ashera rasakan secara langsung, sampai melampaui batas dari mulut yang ia ampu.
"Hueekkk..., huekk...uhukk, huekkk..." Ashera semakin tidak bisa mengontrolnya, hingga air yang sempat Ashera minum, langsung ia muntahkan, hingga makanan ringan yang Ashera makan dalam perjalanan pulang tadi, juga keluar. "Heuk.., aku tidak bisa melupa..huekk....Uhuk...uhuk, hueekk.."
Di dalam rumah sendirian, tanpa sebuah kekerasan fisik, ia terus saja mendapatkan tekanan mental yang begitu kuat, di saat kondisi tubuhnya yang sebenarnya sudah mulai drop dari beberapa hari lalu, gara-gara masih tidak terima dengan takdirnya yang begitu menyedihkan.
'Kenapa aku tidak bisa melupakannya? Hiks...aku jadi merasa jijik....aku jijik pada tubuhku sendiri.' Pikir Ashera, dan Ashera pun terus mual, memuntahkan semua isinya, sampai isi perut yang bahkan sudah di keluarkan semua, tetap tidak mampu untuk menghentikan rasa jijiknya pada tubuh, perut, bahkan mulutnya itu.
Mulut yang secara paksa di gunakan untuk tempat pembuangan jutaan makhluk yang tidak bisa di lihat dengan mata kecuali menggunakan alat bantuan yang memiliki rasa dan aroma yang begitu menjijikan.
Ashera yang sudah begitu lelah dengan tubuhnya itu, langsung terbaring di lantai sambil menatap pemandangan lantai pertama yang bisa Ashera lihat.
Akan tetapi, kemewahan dan status yang sudah resmi masuk kedalam bagian keluarga Ravarden, pada akhirnya tetap tidak bisa membuat hidupnya bisa merasakan tenang.
Hingga makanan yang seharusnya bisa di nikmati selagi masih bisa makan, karena masih bisa di beri nikmat untuk bisa merasakan makanan enak, harus mubazir seperti itu.
__ADS_1
Siapa yang akan memakannya? Di saat Ashera perlahan menutup matanya.
'Kenapa aku harus punya takdir seperti ini?' Pikiran terakhir milik Asher sebelum ia tiduran di lantai dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan lagi.