
'Enzo, aku sama sekali tidak pernah melupakan apa yang kau lakukan waktu itu. Mau buat curang, tapi aku juga yang dituduh curang.' Karena masalah dendam pribadi yang terjadi seminggu lalu, Arvin pun ingin melampiaskan kekesalannya pada permainan Voli ini.
PRITTT...!
"20 Dan 21." Suara wasit memberitahukan nilai poin dari dua kubu yang sedang bertanding itu.
"Enzo! Kau harus menang! Dapatkan hadiahnya!"
"Enzo, Enzo, Enzo, jangan kalah dengan Arvin. Ayo! Semangat!"
Suara sorak sorai itu menyatakan dukungannya kepada Enzo yang memimpin tim merah, dan Arvin dia adalah pemimpin tim hitam.
Dengan pertandingan yang semakin memanas, banyak diantara mereka yang juga sama-sama taruhan.
Walaupun pada akhirnya uang menjadi hadiah dari taruhan mereka, tidak ada yang lebih menyenangkan ketimbang bermain melawan orang yang Arvin musuhi itu.
"Arvin, kau mulai duluan." Ucap Arin, dialah yang menjadi wasit dalam pertandingan bola Voli yang di lakukan di kolam renang.
Arvin pun mundur ke belakang dan berhenti di sudut paling kanan untuk melakukan servis lebih dulu.
Dan Arvin pun langsung mengambil ancang-ancang. Begitu dia melemparkan bola voli ke atas, Arvin pun sedikit melompat ke atas dan satu pukulan yang cukup keras dan bertenaga itu berhasil melayang ke atas dan melewati net. Barulah buru-buru kelompoknya Enzo buru-buru melakukan pertahanan dari serangan pertama Arvin yang cukup telak itu.
Benar, dari tadi Enzo selalu saja mendapatkan pukulan servis dari Arvin yang begitu kuat, sampai setiap pukulan itu, jika Enzo tidak gesit dalam melakukan pertahanan itu sendiri, Enzo akan kalah dengan wajah bonyok.
"D-dia terus servis sekuat itu."
"Wow, Arvin di sekolah memang selalu unggul dalam olahraga. Dia bahkan tidak memiliki orang yang bisa menandinginya."
"Wah? Benarkah? Berarti dia memang cukup hebat."
"Bukan cukup, tapi sangat hebat! Dia itu juga kapten basket loh, siapa yang tidak populer jika dia saja selalu saja terus memenangkan pertandingan di setiap cabang olahraga yang dia ikuti."
Bisikan demi bisikan pun mulai mencuat, mereka terus mengunggah topik pembicaraan soal keunggulan Arvin dalam semua bidang olahraga, membuat dia jadi semakin menonjol ketimbang Enzo.
'Dia ini, mau pamer kekuatan ya? Awas saja, kau akan kalah seperti pembalap yang waktu itu, kau juga akan kalah Arvin.' Pikir Enzo.
"Enzo, bolanya! Pukul!" Teriak salah satu rekan satu tim nya.
Ketika tim milik Arvin sudah bersiap berjaga untuk menahan serangan yang bisa saja cukup membunuh dari tim nya Enzo, di satu sisi lain, Ashera pun membawa satu nampan berisi lima gelas cocktail untuk diberikan kepada tim yang akan memenangkan pertandingan.
'Aku akan memenangkan permainan ini!' Dengan percaya diri yang tinggi, Enzo pun melakukan serangan mematikan.
__ADS_1
BHUAK....
BYUR..
Akibat tidak ada yang bisa menahan serangan itu, akhirnya bolanya masuk dalam area milik mereka.
"22 dan 20. Enzo, kau lakukan servis." Ucap Arin, dia memerintahkan sang pemenang kali ini untuk memberikan servis sebagai awal permainan dari putaran ke 23 itu.
Rekan tim nya Arvin berhasil mendapatkan bola dan melemparkannya dengan kasar ke arah Enzo.
Dan kali ini, Enzo pun akhirnya punya giliran untuk melakukan serangannya. Tentu, dia pun akhirnya melakukan servis dengan gaya dia.
'Tinggal sedikit lagi, aku akan menang.' Dengan senyuman yang ia buat di dalam benaknya, Enzo akhirnya melakukan servis ke arah Arvin.
Hanya saja, saat Enzo berhasil memukul bola Voli tersebut, bola itu justru melambung tinggi.
"Waduh Enzo, kau kebanyakan tenaga ya? Pukulan bolamu sampai melambung tinggi keluar kolam, tim Arvin dapat poin." Kata Arin saat itu juga, langsung menilai poin yang Arvin dapatkan bertambah satu.
Namun, di saat mereka sedang dalam posisi baru saja tengah mengeluh karena kesalahan Enzo yang terlalu kuat dan kurang pas dalam membuat posisi, Enzo, Arvin, dan beberapa orang lainnya yang sadar kalau bola itu mengarah pada seseorang yang sedang berjalan sambil membawa gelas dengan nampan, sontak wajah mereka semua jadi terkejut.
"Hei! Yang di sana! Awas ada bola Voli datang kearahmu!" Teriak Enzo, mencuri ucapan Arvin yang mau berteriak juga.
"Apa?" Dan orang yang di maksud mereka adalah Ashera, sontak Ashera pun menoleh ke samping kirinya.
'Kalian, apa tidak bisa bermain dengan benar?' Dengan peralihan nampan yang langsung berpindah ke tangan kiri, Ashera dengan cepat tangan kanannya langsung mengepal dengan kuat, dan begitu jarak bola tersebut tinggi satu meter lagi, sebuah pukulan langsung menerjang bola tersebut.
BHUAKK....
SYUUNGGG....
Seketika bola tersebut pun langsung dikembalikan, sampai arah bola yang melayang dan melambung jauh juga tinggi itu segera mengarah ke Arvin.
Arvin yang kala itu sudah punya posisi bagus untuk melakukan servis, sontak langsung sedikit melompat dan memukul bola tersebut sebagai awal serangan dari tim nya, dan akhirnya Enzo yang tidak langsung mengambil posisi untuk bertahan langsung kecolongan.
BHUAK...
BYURR....
PRIITTT...
Suara peluit kembali terdengar, dan Arin menyatakan poin dari kedua tim seimbang. " 22 sama. "
__ADS_1
"YEYYY! Tim Hitam dapat poin tambahan lagi!!
"Arin! Itu curang, kami bahkan belum siap, dan memangnya dia melakukan servis yang benar?" Protes Enzo terhadap penilaian yang di lakukan oleh Arin yang di posisikan sebagai wasit.
"Bukannya aturan pertama di permainan ini, apapun harus siap? Tanpa menunggu lawan sudah siap atau belum, jika sudah giliran ya tinggal gilirannya. Dan tadi Arvin sudah siap melawan, tapi kalian bukannya sempat melamun? Jadi yang salah di sini siapa?" jelas Arin, membuat Enzo semakin merasa kalau permainan ini akan berakhir seri jika dirinya tidak ada kemampuan untuk mengalahkannya.
"Eh, tapi ngomong-ngomong bagaimana dia bisa memukul bola voli di saat dia juga membawa minuman?"
"Bukannya dia termasuk hebat?"
"Keberuntungan saja kali."
"Ih, tapi dia benar-benar tetap saja keren, tau."
"Tapi, dia bawa minuman apa ya? Kenapa warna warni?
"Itu cocktail bodoh, dia sedang datang ke arah sini."
Ashera yang tiba-tiba saja berjalan mendekat ke arah mereka, langsung jadi pusat perhatian.
"Ashera, kau bawa cocktail untuk siapa itu?" tanya salah satu laki-laki yang memang kenal dengan Ashera.
"Ini untuk tim yang menang. Hanya ada enam buah, jadi semoga beruntung." Jawab Ashera. Dia pun meletakkan nampan itu di atas meja dan langsung pergi meninggalkan area pesta.
Sebenarnya tujuan dia tiba-tiba muncul, adalah untuk memberi peringatan kepada Arvin kalau jam malamnya sudah habis.
Jadi dia pikir ada bagusnya memberikan penyemangat pada laki-laki itu agar selesai menguasai pertandingan malam ini.
"Warna cantik, apakah dia yang buat?"
"Mana mungkin, aku tidak percaya jika dia yang membuat cocktail itu. Alfian pasti punya seorang master, dan dia hanya bertugas sebagai pelayan yang mengantarnya saja."
"'Ohh, benar juga, tidak mungkin perempuan semuda dia malah mencampur-campur air alkohol sampai seperti itu."
Banyak yang tidak percaya dengan cocktail itu, karena bagi mereka semua, rata-rata orang yang menjadi seorang bartender adalah orang yang sudah dewasa, jadi mana mungkin Ashera yang melakukan pencampuran alkohol bagaikan mainan anak-anak, karena bagaimanapun harus memiliki skill dan riset untuk membuat minuman yang cantik tapi juga pas.
'Terserah kalian mau membicarakanku seperti apa, yang penting sekarang aku hanya tinggal memantau, kira-kira diantara mereka berdua siapa yang akan memenangkan pertandingan kali ini?' pikir Ashera. Dia pun berjalan santai dan ingin duduk bergabung lagi dengan Yuli dan Alfian, menonton pertandingan dari atas adalah pilihan yang bagus, karena ia sendiri tidak begitu suka berada di dalam kerumunan seperti itu. 'Dan aku sangat tidak tahan dengan aroma tubuh mereka, benar-benar mengerikan. Kenapa mereka suka sekali memakai parfum padahal juga hanya pesta kolam renang saja sih?'
Ashera pun langsung menutup mulutnya dan menahan rasa mual nya itu.
'Memangnya sekarang sudah jam berapa?' Arvin pun sempat melirik ke arah jam yang di pakai oleh salah satu orang. Dan sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. 'Dia benar-benar, dengan dalih membuat cocktail sebagai hadiah, dia sedang memberi peringatan padaku untuk segera pulang.
__ADS_1
Ok, aku juga tidak mau berlama-lama disini, tapi setidaknya aku harus memenangkan pertandingan ini!' Dengan semangat yang kembali muncul di dalam dirinya, Arvin pun memulai pertandingannya lagi.
PRIITTT.....