
"Wow, rumahnya gede juga."
"Apa bagusnya gede, jika tidak ada barang mewah apapun di sini?"
"Ya, setidaknya cari dulu."
"Kau ini, memang suka sekali seenaknya."
"Itulah akibatnya, jika Arvin bahkan tidak mau aku mengunjungi rumahnya, maka aku juga terpaksa masuk. Setidaknya, jika bukan gara-gara dia yang punya banyak hal yang di sembunyikan dariku, aku tidak akan melakukan ini." Suara dari seorang perempuan, yaitu Marlina semakin kesini jadi semakin jelas.
Dan Ashera yang sedang bersembunyi di dalam gudang kecil itu, terus mengintip lewat lubang kecil yang memang ada di ada di tengah-tengah pintu.
'Perempuan itu, berani juga masuk ke rumah ini.' pikir Ashera, tidak percaya kalau pacarnya Arvin, rupanya tidak pernah sekalipun di undang ke rumah, dan hasilnya perempuan yang terlihat sangat bar-bar itu, masuk tanpa izin dari sang Tuan rumah. 'Tapi, kalau dia memang pacarnya Arvin, biasanya juga pasti pernah mengundangnya ke rumah.
Tapi jika dia yang mengaku pacarnya saja tidak pernah di undang ke rumah ini, artinya Arvin memang masih menjaga rahasianya, dan yang lebih penting lagi, orang yang saling suka sudah pasti akan di perbolehkan untuk melakukan apapun.
Hanya saja, karena dia bahkan bisa sampai di sini karena terpakasa, berarti mereka berdua tidak serius pacaran.
Karena rumah ini sudah termasuk jadi wilayahku juga, aku harus menyingkirkan mereka berdua, ya kan?' Karena Ashera lupa membawa handphone yang tergeletak di atas nakas dekat kamar mandi, maka ia pun tidak bisa meminta bantuan pada siapapun selain mengurusnya sendiri.
"Sudah, jangan banyak berpikir lagi, kita berpencar dan cari barangnya. Dan kalau bisa jangan barang yang bisa di lacak." Perintah Marlina.
"Ha? Lalu kau ingin kita pergi mencari apa jika tidak bisa mengambil jam tangan, atau mungkin saja ada perhiasan juga di sini." Tanya pria ini, rekan kriminal nya Marlina.
"Sepatu juga bisa, atau uang, ah..., brankas! Dia punya brankas di dalam kamarnya. Buka saja, di sana ada uang atau emas, juga pasti ada di sana." Ucap Marlina lagi, memberitahu rekannya itu agar segera pergi ke dalam kamarnya Arvin untuk mencari brankas.
"Wow, kau tahu dimana letaknya?" Tanynya lagi.
"Tentu saja karena aku terus mengamatinya, jadi aku tahu dong letaknya. Letaknya ada di salah satu meja yang ada di dalam kamar, mudah kok nyarinya." ungkap Marlina.
'Mengamatinya?' Begitu Ashera menoleh ke arah kiri, ia membayangkan kalau di luar gudang yang sedang ia tempati, memang ada jendela besar yang menjadi dinding dari rumah itu dengan area luar sana, 'Jika dia mengamatinya, tapi dia bahkan tidak pernah masuk kedalam rumah ini, berarti dia mencari tahu lewat jarak jauh?
Niat sekali anak ini, bisa-bisanya mengamati kehidupan orang lain. Apa dia sedang kekurangan uang, sampai akhirnya mau mencuri harta milik pacar palsunya sekalipun?
Hah, perempuan ini, jangan-jangan dia seorang mata-mata juga?
__ADS_1
Aku memang diberitahu, kalau cucu dari keluarga Ravarden itu memang tidak pernah di ungkapkan ke publik, dan dengan begitu, Arvin pun selama ini bisa hidup bebas tanpa ada yang mengenali siapa dia sebenarnya.
Alasannya juga cukup sederhana, karena pastinya banyak yang mengincarnya, makannya dia di sembunyikan layaknya anak haram.
Tapi lebih dari itu, jika mereka tahu siapa Arvin sebenarnya, bukankah sama saja hal itu menjadi ancaman besar untuk Arvin serta rencana dari Nyonya besar? Dan usahanya salama ini akan jadi sia-sia juga?'
Tidak mau ada masalah dari pihak eksternal, Ashera pun keluar dari tempat persembunyiannya. Tujuannya ingin memergoki mereka yang mau mencuri, tentu saja ia harus memegang senjata, maka senjata yang bisa ia gunakan saat ini adalah gagang dari alat pel yang bisa di lepas, selain itu, dia pun membawa bubuk lada yang ia dapatkan dari dapur.
"Jadi apa kau tahu nomor sandinya?"
"Pakai bubuk itu, lalu sinari dengan cahaya ultraviolet, dengan begitu kau bisa mendeteksi sidik jadi mana yang tertempel pada permuakan tombolnya." Perintah Marlina setelah memberikan pouch kecil kepada temannya. "Aku akan pergi ke bawah, dan cari barang menarik lainnya. "Imbuh Marlina."
"Cepat."
"Iya-iya." Marlina pun keluar dari kamarnya Arvin, dan ketika ia hendak berbalik, suara dering handphone milik Ashera yang sempat tertinggal, langsung menarik perhatian Marlina untuk mendekati dan mencari tahu. "Punya siapa ini? Tidak mungkin ini handphonenya Arvin. Tipe, dering, bukan punya dia." gumam Marlina. "Tuan A?" Semakin bingung Marlina, itu handphone milik siapa.
Tapi karena ia penasaran, siapa yang sedang menelepon, Marlina pun mengangkat teleponnya.
-"Kau seharusnya sudah bangun, ada buku yang tertinggal di dalam kamar, berikan pada Daseon, agar dia yang datang."-
"Terpancing kau." Dengan semangat yang tinggi, Ashera langsung mengangkat tongkat besi itu ke arah Marlina.
BUKHH...
PRANK...
_____________
Di satu sisi, Arvin yang saat ini sedang ada di area parkir, karena sedang berpatroli, dan memang ia teringat ada buku yang tertinggal di rumah, makannya ia sengaja telepon Ashera gara-gara Daseon sedang tidak bisa di hubungi.
Tapi, bukannya dia mendapatkan jawaban dari Ashera mengenai perintahnya barusan, suara pukulan dan kaca yang pecah di ujung telepon, langsung membuat Arvin terdiam.
-"Akhh..., kurang ajar kau, ternyata kau ada di dalam rumah ini. Akan aku balas kau."-
CTANG...
__ADS_1
BRUKK....
DORR...!
'Baru juga di tinggal setengah jam, kenapa di rumahku jadi ribut seperti ada perang?' Pikir Arvin, dia sedang mendengarkan apa yang sedang terjadi di rumahnya.
"Arvin, apa yang kau lakukan dengan berdiri di sini terus? Bel masuk sudah hampir bunyi, kita harus selesai satu putaran lagi." Ucap rekan kerjanya Arvin, menyapa sekaligus memberikan peringatan kepadanya, karena tidak lama lagi, bel pertama di jam tujuh kurang lima belas menit itu, menjadi awal peringatan untuk semua anak sekolah.
Dan tentu saja akan ada bel kedua sampai bel masuk yang sebenarnya, akan berkumandang memenuhi seluruh area sekolah.
"Ap-"
"Vian, beritahukan guru, aku izin pulang." Ucap Arvin dengan wajah seriusnya.
"Eh? Kenapa kau mau pulang?!" teriak Vian.
Sejujurnya Vian sangat penasaran dengan alasan dari laki-laki itu ingin segera pulang sampai berlari begitu, tapi orangnya sudah keburu pergi dengan menaiki motornya, dan langsung pergi dengan kecepatan tinggi.
"Yah, malah sudah kabur begitu. Sebenarnya ada apa dengan dia? Apa ada masalah di rumah? Tapi bukannya dia mengatakan kalau dia tinggal sendirian? Aku memang tidak pernah kerumahnya juga sih, tapi semoga tidak terjadi apapun di rumahnya itu." Ucap Vian, berharap kalau masalah yang sedang di tanggung oleh Arvin, teman dekatnya itu akan segera di selesaikan.
Seperti Vian tadi, muncul dengan ekspresi wajah penasaran, ada salah satu orang yang datang menghampirinya juga dan bertanya juga.
"Apa yang terjadi pada Arvin? Dia terlihat sangat terburu-buru tuh." tanyanya, sambil menepuk bahunya Vian.
"Katanya dia mau pulang ke rumah. Mungkin ada yang tertinggal di rumah, atau ada tamu tak di undang kali?" Dan tebakannya itu memang cukup benar.
"Hmm," Tapi pria ini terus memperhatikan kepergian dari Arvin itu, sebab ada yang merasa janggal. "Tapi ini pertama kalinya aku melihat dia punya ekspresi wajah yang terlihat cemas. Apa kau tidak merasa kalau dia punya satu rahasia lagi yang sedang di tumpuk dalam gudang rahasianya?"
"Yah, memangnya kita harus apa, kalau dia memang punya satu rahasia yang dia tambah? Lagian kita hanya teman saja, dan tidak punya hak untuk membujuk dia untuk memberitahu kita. Memangnya jika kita sudah tahu salah satu dari rahasia darinya, kita akan melakukan apa?" Tanya Vian.
Dengan senyuman simpulnya, temannya Vian ini pun merangkul pundaknya Vian dan berjalan bersama untuk berpatroli keliling gedung sekolah sambil berkata : "Yang namanya manusia pasti punya rasa penasaran. Wajar dong, jika ingin tahu, setidaknya bisa memuaskan rasa penasaran yang timbul, walaupun ujung-ujungnya tidak akan melakukan apapun dengan rahasia yang sudah kita ketahui.
Kesenangan bor, memangnya bisa mencari kesenangan itu hanya di dapat jika kita puas belanja, dan bermain dengan kekasih kita? Rasa puas dari itu juga kesenangan yang tanpa sadar, bisa rasakan juga."
"Iya deh, sudah jangan bicara lagi soal kepuasan dan rahasia, aku lagi malas membahasnya." Keluh Vian, dan dia pun berjalan bersama dengan temannya itu.
__ADS_1