
"Tapi pada akhirnya kau akan dapat posisimu sendiri sebagai istriku juga kan? Jadi sebenarnya apa yang kau khawatirkan?" tanya Arvin. Dia hanya bisa bicara dengan terus terang tanpa filter apapun, jadi dia pun berharap kalau Ashera bisa menjawabnya dengan alasan yang cukup logis, setidaknya seperti itu.
"Yang aku khawatirkan itu adalah saat orang yang sudah jadi milikku, justru bersama dengan perempuan lain," ungkap Ashera dengan serta merta.
TES....TES....TES....
Keringat yang mengalir dari dahinya, akhirnya terus menyusuri wajahnya sampai air keringat itu turun ke dagu dan menetes ke permukaan lantai.
Arvin terus memperhatikan Ashera dengan tatapan penuh selidik.
Dia terus mencoba untuk memahami apapun yang barusan Ashera katakan ini.
'Perempuan lain, dia takut aku selingkuh saat dia hamil, ha? Begitukah? Lagi pula dia tidak akan pernah hamil, karena sebenarnya aku memang sudah selalu siap sedia kontrasepsi untuk diriku sendiri.
Dan dia juga minum obatnya, jadi apa lagi yang harus di khawatirkan?
Apa dia berharap banyak memilik anak dariku?' Pikir Arvin, dia kembali melakukan push up dengan beban tubuh Ashera sebagai ujian yang harus dia hadapi untuk bisa bertahan dari latihan ototnya.
Tapi, Arvin sama sekali tidak tahu, bahwa pil dari obat kontrasepsi yang dia punya itu, sebenarnya pernah di ganti seseorang saat berada di klub dengan sebuah obat sakit kepala tapi punya rasa pahit yang sama dengan obat tersebut.
Maka dari itu, ketika mereka berdua berada di hadapi dengan pikirannya masing-masing, sebenarnya mereka harus menghadapi kenyataan apa yang akan datang.
Kalau hubungan mereka berdua akan semakin terikat jika apa yang sudah mereka berdua lakukan kala itu, membuat sebuah kehidupan baru, maka artinya mereka berdua harus tetap bersama, apapun alasannya.
Termasuk alasan paling kuatnya adalah Neneknya Arvin.
"Walaupun kau dan aku sudah punya hubungan sebagai suami dan Istri, tapi mengingat kau bahkan sampai membuat surat kontrak di dalamnya, kau memang akan terus bermain dengan perempuan luar.
__ADS_1
Tapi ngomong-ngomong, apa kau akan terus sampai seperti itu, jika saja aku hamil?"
DEG...
Satu pernyataan yang sebenarnya mudah di tanyakan, tapi Arvin sendiri rasanya berat untuk menjawab.
"Entahlah. Aku akan jujur saja padamu, tidak ada satu manusia pun yang akan langsung berubah dalam hitungan detik, perlu pembiasaan.
Lagi pula ya Ashera, kita berdua sudah seperti ini, kau jadi Istriku dan aku juga jadi suamimu. Ukh, lidahku bahkan terasa kelu untuk mengatakannya suami.
Aku akan tetap berusaha apa yang aku bisa, tapi juga jangan terlalu berharap juga kalau aku bisa berubah, walaupun kau memaksa sekalipun.
Mumpung aku lagi bolong, aku akan memberitahumu, yang pastinya kau sudah tahu sifatku itu cukup keras, jika aku tidak suka aku akan mengatakan tidak suka saat itu juga, jadi jangan coba-coba melawan saat aku sedang emosi-- itu cukup berbahaya jika kau terus melawanku," bebel Arvin.
"Huh, sombong, memangnya mentang-mentang kau adalah laki-laki, dan kau punya tenaga kuat, aku tidak bisa melawanmu?"
"Iya-iya, cerewet, kaya emak-emak," sindir Ashera.
Perempatan siku di dahi Arvin pun muncul juga. "Ashera, sebaiknya jaga mulutmu itu sebelum aku menjahitnya." peringat Arvin, tidak suka jika di sindir, apalagi oleh perempuan, rasanya harga dirinya sedang di injak melebihi saat di sindir oleh sesama laki-laki.
"Heh, coba saja kalau bisa," goda Ashera, dia yang begitu punya sifat yang jahil, langsung meraih mulutnya Arvin, padahal di saat itu juga, Arvin sedang push up. "Kalau mulutku di jahit, tentu aku tidak akan bisa bicara, tapi yang lebih penting lagi, kau jadinya tidak akan mendapatkan bibirku untuk di cium," imbuhnya.
"Kau memang benar-benar sedang memancingku ya?" tanya Arvin, dia pun menghentikan acara olahraganya, karena Ashera yang sedang memprovokasinya.
"Entahlah, lagian bahkan melihatmu bicara seperti ini dengan mulutmu ini saja, aku sebenarnya sudah merasa tertarik sih, tapi kira-kira apa kau mau memberitahuku, seberapa banyak kau mencium wanita lain dengan bibir seksi ini?" taya Ashera dengan terus terang, akhirnya dia pun memicu perang dengan Arvin yang sedang dalam kondisi lelah, bahkan emosi yang merasa mulai terguncang.
"Aku makan kau, baru tahu rasa,"
__ADS_1
"Itu pun kalau bisa," sahut Ashera dengan nada sombongnya.
______________
Suatu hari, tepatnya esok hari setelah pesta tersebut selesai di adakan dan rutinitas sekolah pun di adakan kembali untuk mereka, agar tidak ada satu mata pelajaran pun yang tertinggal untuk di berikan kepada semua murid sekolah.
Tapi- tetap saja. Meskipun Arvin yang di tugaskan sebagai komando dari pihak keamanan, mengawasi semua murid satu sekolah untuk menertibkan mereka yang berbuat onar, masih saja ada yang berani untuk membuat perkara secara diam-diam, dan itu adalah Dini.
BRAKK....
"U-ukh..!" rintihnya, saat lehernya benar-benar merasa sangat sakit ketika di cekik oleh Dini.
"Kau pasti sudah merencanakan sesuatu padaku, ya kan?" Tanya Dini kepada Ashera, orang yang paling Dini benci di dunia, karena keberadaan Ashera saat ini benar-benar seperti sebuah magnet, karena terus mendapatkan perhatian dari banyak orang, dan salah satu yang paling penting itu adalah ketika Fajar rupanya juga tertarik dengan gadis udik yang ada di depannya itu.
"Apa yang..ukh, sebenarnya kau maksud?" Tanya Ashera, dia mencoba untuk bertahan dari cengkraman tangannya Dini.
Tentu saja, itu memang cukup sakit, tapi demi mendapatkan jawaban apa yang dia mau dari mulutnya Dini ini, dia setidaknya harus bertahan dari siksaan yang di lakukan dini terhadapnya.
"Tidak usah berpura-pura tidak tahu, aku itu sudah tahu kalau kau ternyata sudah tahu dengan rencanaku, sehingga kau lebih dulu bergerak dariku, ya kan?"
"Ha, ternyata itu. Jadi apa kau merasa puas, bisa pergi ke pesta ulang tahun pacar idamanmu itu?" Tanya Ashera, dengan nada dan ekspresi wajah yang justru terlihat cukup menantangnya.
"Kau-!" Dengan perasaan geram, Dini pun jadi semakin mencengkram lehernya Ashera, sampai Ashera akhirnya mengerang sakit. "Kalau saja ini bukan sekolah, aku pasti sudah menghajarmu habis-habisan."
Dan setelah puas menyiksa Ashera di dalam sebuah gudang sekolah yang tidak terpakai lagi itu, Dini pun melepaskan cengkraman tangannya dari lehernya Ashera.
BRUK...
__ADS_1
"Uhuk...uhuk..uhuk. Apa kau takut, karena Arvin adalah orang yang terus berkeliaran seperti anj*ing penjaga?"' tanya Ashera dengan sengaja.