Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
Ashera Pergi?


__ADS_3

"Yul, kau acara setelah pulang sekolah mau kemana?" tanya salah satu teman Yuli kepada si empu.


"Oh, aku ada acara kencan dengan Vian, kenapa? Mau ikut?" balas Yuli dengan terus terang.


Mendengar hal tersebut, teman Yuli pun langsung memasang senyuman tawar.


Mana mungkin ingin pergi ikut kencannya orang lain? Maka dari itu, mereka pun secara serentak langsung menggelengkan kepalanya tidak mau.


"Ok lah, jika tidak mau, aku peri dulu ya, bye~" kata Yuli sekali lagi.


"Semoga kencannya lancar ya,"


"Hmm!" dehem Yuli, padahal itu hanyalah dalih semata untuk pergi ke suatu tempat yang membuat Arvin tampak punya mood seburuk seperti Iblis yang mengatur alam neraka.


BRUKHH...


"M-maafkan ak,"


"Maaf memang mudah, tapi apakah aku harus menjadi pusat perhatian karena minumanmu tumpah ke seragamku?" tanyanya.


Suara milik Arvin yang begitu mendominasi untuk mengintimidasi lawan bicaranya pun terdengar oleh Yuli juga.


"M-maaf, akan aku ganti, aku akan membawakan seragam baru untukmu pakai," kata laki-laki sebayanya Arvin.


Menghela nafas dengan kasar, Arvin yang sedang punya mood buruk itu pun menjawab, "Beli memang mudah, tapi apa kau akan menemukan ukuran seragam yang muat dengan tubuhku?"


Yuli yang mendengar tersebut pun otomatis langsung memindai sosok Arvin dari atas sampai bawah.


"Kau seperti beruang," ketus Yuli kepada Arvin.


Arvin menoleh ke belakang dan menyahut perkataan Yuli, "Nah, dia sudah mengatakan itu, jadi apa kau mengerti, kenapa seragamku ini begitu langka? Dan aku sering marah setiap kali ada yang menabrakku?"


"Y-yah, itu- itu aku hanya tinggal membelikanmu kemeja orang dewasa saja," jawab anak ini dengan perasaan canggung.

__ADS_1


Memang, jika saja bukan karena fisik tubuh Arvin yang tinggi dan lebih besar dari kebanyakan anak seusianya, membuat dia memang selalu menarik perhatian banyak orang, meskipun hanya berdiri dan membelakangi orang.


"Jika itu maumu, belikan sekarang. Tahu tida, betapa menyebalkannya seragamku basah seperti ini," tekan Arvin, memberikan peringatan kepada anak tersebut.


"B-baik, akan aku belikan untukmu sekarang juga,"


"Ah, jangan lupa di pel! Aku tidak mau melihat koridornya kotor dan mengandalkan tukang bersih-bersih, itu tanggung jawabmu, mengerti?!"


"Mengerti!" teriaknya, lalu dengan buru-buru dia pun pergi berlari dari sana untuk membereskan kekacauan yang dia buat.


"Kenapa kau disini terus?" tanya Arvin dengan nada yang begitu dingin, saat melihat Yuli masih berdiri di belakangnya persis.


"Aku ingin mengajakmu juga, apa kau mau?" tanya Yuli kepada Arvin.


Arvin mengernyitkan matanya dengan maksud dari ajakan yang dibuat Yuli kepadanya.


"Kemana? Aku bukan orang yang punya waktu luang sepertimu yang suka kencan dengan Vian," ledek Arvin detik itu juga.


"Yah, kau benar sih, tapi bukan itu juga, aku ingin-"


"Kenapa kau tidak bilang dari awal jika kau ingin mengajakku kerumah sakit?!" protes Vian melihat mobil milik Yuli yang Vian naiki, ternyata sudah ada banyak bingkisan yang di bawa, sedangkan Vian? Dia malah hanya menggendong tas sekolahnya.


"Kenapa kau marah sih? Aku kan juga sudah menyiapkannya barang untuk kau bawa juga, jadi tidak perlu repot-repot banyak berpikir mau bawa apa," sahut Yuli.


"O-oh begitu, maaf ya, jangan ngambek," pinta Vian, merasa bersalah.


"Iya, iya, jangan mempermalukanku, diam duduk manis saja," kata Yuli mendorong wajah Vian yang mau mendekat ke arahnya. "Tapi- apakah Arvin lagi nggak kesetanan? Kenapa dia malah ngebut begitu?"


BRRMMM....


BRRMMM....


Arvin yang memimpin perjalanan Yuli dan Vian sedang mamacu gas motornya lalu langsung ngebut di tengah jalan raya, sampai supir yang di membawa mobilnya Yuli langsung mengikuti kepergian Arvin yang terlihat begitu buru-buru itu.

__ADS_1


"Y-yul, supirmu gila, kenapa malah mengekori Arvin yang sedang ngebut?"


"Entahlah, mungkin sedang cari mati dengan kita juga," ledek Yuli.


BRRMM... !


Karena Arvin sadar mobil yang membawa Yuli hendak mendahuluinya, Arvin pun langsung menarik gas motornya lebih dalam lagi.


'Sekarang apa lagi? Aku jadi heran, kenapa anak itu terus saja membuatku khawatir? Padahal sebelum ini aku dan dia bahkan sama sekali tidak saling mengenal satu sama lain. Ashera, apalagi yang sedang kau perbuat?' pikir Arvin, dia cukup khawatir?


Ya, anehnya hatinya cukup khawatir karena dia menerima informasi kalau Ashera tidak ada di dalam kamar, maka dari itu, asal muasal alasan kenapa Arvin langsung mengebut.


________


Sesampainya di rumah sakit, Yuli, Vian, dan Arvin saling berlari mengejar satu sama lain.


"Arvin! Kenapa kau lari begitu sih? Sebenarnya ada apa?!" tanya Yuli penasaran.


Tidak memperdulikan pertanyaan dari Yuli, Arvin langsung berhenti tepat di depan pintu dari kamar inap yang dia tahu.


BRAK ..!


Dengan kasar, tangannya membuka pintu itu dengan cukup keras.


"Ashera?!" Arvin langsung masuk ke dalam kamar, tapi sosok dari orang yang seharusnya di rawat di sana, justru malah tidak ada.


"Ashera tinggal di kamar ini? Tapi kenapa tidak ada?" kata Vian.


Itulah yang sedang di tanyakan oleh Arvin juga sedari tadi.


"Kemana anak itu? Padahal masih terluka begitu, tapi masih saja merepotkan orang lain saja," keluh Arvin, dia mah kesal sendiri, karena Ashera yang bahkan tidak bisa bergerak banyak, tapi malah tidak ada di dalam kamar.


Melihat ada seorang suster yang kebetulan lewat, Arvin berlari keluar. "Suster! Tunggu, apa kau melihat Ashera yang di rawat di kamar ini?"

__ADS_1


"Maaf, saya bagian Shift baru, jadi tidak tahu," jawab suster tersebut, kemudian pergi dari sana.


'Kemana? Hish, sakit saja, masih membuat aku kerepotan seperti ini.' kutuk Arvin sambil mengacak rambutnya sendiri saking lelahnya mengurus satu perempuan.


__ADS_2