Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
85 : Menempuh Rintangan bersama


__ADS_3

TOK...TOK...TOK....


"Woi, apa kau tidak bisa keluar? Aku sudah kebelet." Protes Arvin. Begitu sudah selesai makan, hal paling nahas adalah ia harus buang air besar. 'Sudah makan enak, jadi harus bayar dengan BAB.'


Itu adalah salah satu hal yang paling tidak Arvin suka. Tapi apa boleh buat, karena perutnya itu sudah tidak bisa di ajak kompromi sekalipun ia sudah kekenyangan, mau tidak mau harus berhadapan dengan kloset dan mengeluarkan kotorannya.


Tapi yang jadi masalahnya adalah kamar mandi yang paling dia sukai yang letaknya di atas, sekarang malah sedang di pakai oleh Ashera yang sedang mandi itu.


"Ashera, kau dengar aku kan? Apa kau tenggelam di dalam bathtub?" Arvin terus saja membebel sendiri kana Ashera tidak bisa di ajak kerja sama.


Sebenarnya ada kamar mandi di bawah, tapi dia tidak mau memakainya, karena pintunya juga masih belum di perbaiki.


"Ashera!" Arvin menggedor-gedor pintu, dan Ashera yang tadinya sempat tertidur itu, dengan buru-buru segera bangkit dan menarik handuk yang sudah tersampir di dinding.


"S-sebentar. Hoaammh..." Kata Ashera.


Arvin pun mencoba untuk menunggunya, dan kurang dari lima belas detik, pintu itu akhirnya terbuka juga.


KLEK...


"Kau tidur ya?" Delik Arvin.


"Iya, lagian enak, anget."


"Kalau kau memang mau yang anget, bahkan lebih anget lagi, aku bisa membantumu. Tapi tunggu dulu, aku harus BAB dulu."


BRAK....


Dengan perasaan yang tidak tahan, Arvin bergegas masuk, tapi dia justru melihat sesuatu yang membuatnya mengomel lagi.


"Ashera! Jika kau sedang datang bulan, lebih baik jangan kotori bathtub milikku! Ini menjijikan. Kau meninggalkan darah."


Ashera yang sudah lelah itu, tidak ingin mendengar omelan lagi, maka dari itu, dia pun masuk kedalam kamar mandi lagi sambil berkata : "Kan kau yang menyuruhku agar aku keluar, jadi karena kau terlihat buru-buru ya aku tidak sempat buang air kotornya."


Mungkin karena itu adalah darahnya sendiri, Ashera pun sama sekali tidak merasa jijik.


'Kenapa aku lupa kalau dia sedang datang bulan. Yah.., syukurlah jika dia ternyata datang bulan. Berarti dia tidak akan hamil.' Terbesit rasa lega di dalam benak hatinya, karena ia akhirnya tidak berhasil membuat Ashera hamil.


Dengan kata lain, ia masih bebas dari sesuatu yang kemungkinan akan membuat diri Arvin seperti di dalam penjara, walaupun itu adalah kiasan dari posisinya yang akan mempunyai tanggung jawab yang besar.


ZRASSH....


Dan bathtub akhirnya bisa bersih kembali, hanya saja ketika dia mau keluar, tiba-tiba saja tangannya di cegat.


"Ada apa?" Lirik Ashera melihat pergelangan tangannya di cengkram oleh tangannya Arvin.


"Tutup pintunya dan berdiri di situ." Arvin yang sudah duduk di atas kloset akhirnya menyuruh Ashera untuk berdiri di depannya.


'Apa yang mau dia lakukan? Dia pasti mau berbuat mes*m.' pikir Ashera, dia terus menatap penuh selidik pada pria di depannya itu.


"Kunci." perintah Arvin.


KLEK...


Sudah sepenuhnya di kunci, Arvin tiba-tiba menarik Ashera ke dalam pangkuannya.


"Hei, apa yang kau lakukan? Aku ini sedang datang bulang." Ucap Ashera.


"Memangnya kenapa klau kau datang bulan? Yang penting kan, kau bisa membuat suara manis yang bisa membuat semua orang salah paham." Jawab Arvin dengan berbisik.

__ADS_1


Karena melihat Arvin menatapnya dengan intens, dan bahkan saat menjawab saja suaranya jadi lebih di rendahkan dan membuat suara yang cukup lirih, Ashera pun jadi punya pertimbangan sendiri kalau ada sesuatu yang tak berkenan ada di sekitarnya?


Dengan mata yang kemudian mengernyit, Ashera yang masih duduk di atas pangkuannya Arvin yang sedang duduk tengah buang air besar, dia pun mulai mendekatkan wajahnya ke samping kanannya Arvin, memeluknya dan berbisik. "Apa maksudmu kau ingin aku mede*sah?"


Arvin tidak berkata apapun, selain diam dan membalas tatapan mata Ashera yang cukup cerah itu.


Ya, Ashera pun, tanpa harus mendengar jawaban dari mulutnya Arvin, Ashera sudah tahu jawabannya.


"Apa alasannya?" Tanya Ashera, berbisik lagi.


"Akan aku beritahu jika kau mengerjakan pekerjaanmu dulu." Jawab Arvin, dia masih saja berbisik di telinganya Ashera, agar tidak terdengar keluar.


Tapi, bagaikan kesempatan di dalam kesempitan, Ashera pun memanfaatkan hal tersebut untuk berbuat sesukanya, dengan kata lain bar akting lebih serius dari pada sebuah pura-pura.


"Kau kau mau aku ingin bertingkah seperti itu, kau harus memulainya lebih dulu." Kata Ashera. Bisikannya pun jadi semakin lirih. Dengan tatapan sayunya itu, Ashera kemudian memiringkan kepalanya ke samping kanannya Arvin, menghembuskan nafasnya lewat hidung, dia berbicara lagi. "Kau pasti lebih tahu cara memulainya kan?" Tanya Ashera dengan nada menggoda sebelum akhirnya Ashera memberikan sebuah kecupan yang berakhir dengan gigitan kecil di lehernya Arvin.


______________


'Hah, perintah dari majikan selalu saja nyleneh. Aku harus memeriksa rumah Tuan muda, memangnya sebenarnya ada apa? Kenapa tiba-tiba?' Pikir Daseon. Dia tidak berani berbicara karena saat ini telepon genggamnya masih terhubung dengan seseorang, yaitu Nyonya besar.


KLEK...


Daseon, di malam-malam jam sembilan ini, dia di suruh sang Nyonya besar untuk mengunjungi rumah apartment milik Arvin.


Entah tujuannya apa, Daseon sendiri belum mengerti. Jadi Daseon pun pergi ke rumah majikan muda nya.


'Ada bekas wadah makanan?' Daseon memeriksa rantang tersebut, ada yang sebagian habis, ada juga yang tersisa.


Tapi, lebih dari pada itu, sebuah suara lenguhan tidak jelas menyelimuti rumah tersebut.


"Anghh..ah...A-arvin, lebih cepat lagi. Gosok itumu dan masukkan lebih dalam." Dan suara yang paling familiar itu berhasil merusak suasana hati Daseon sendiri.


Dengan langkah senyap, Daseon pun berhasil naik ke lantai dua, dan arah dari suara tadi berasal dari sebuah kamar mandi.


"A-Ashera, punyamu se-sempit."


"Tapi enak kan? Makananku lebih enak ini dari pada yang aku bawa itu? Argghh~"


Dan suara benturan daging itu sukses membuat Daseon dan nenek Tina punya pikirannya masing-masing yang sudah jelas kedua orang di depan sana sedang melakukan apa.


"Mana tenagamu? Ayo, cepat, ah...ah..angh!"


'Apa yang di maksud Nyonya besar itu adalah ini?' Pikir Daseon. Dia pun memejamkan matanya dan berusaha untuk tetap fokus agar tidak terpancing dengan suasana yang ada di dalam sana.


Begitu sudah puas mendengar suara itu dengan cukup jelas, Nenek Tina langsung mematikan panggilannya secara sepihak dan segera mengirimkannya sebuah pesan kepada Daseon untuk pergi dari sana, sebab sudah puas dengan keinginannya itu.


_____________


"Nyonya, apa yang anda perbuat dengan Tuan dan Ashera?" Tanya Luna kepada Nyonya besar.


"Aku memberikannya ini." Dengan bangga Nenek Tina memperlihatkan sebuah bubuk putih yang merupakan obat untuk menambah gairah.


"N-nyonya, kenapa anda melakukan itu kepada Tuan muda?" Tanya luna lagi, dia pun merasa khawatir.


"Kalau dia waras, dia tidak akan melakukannya secara sembarangan agar tidak langsung jebol. Yah, walaupun malam pertama mereka, mereka berdua melakukannya secara langsung, jadi aku pikir tidak masalah.


Lagi pula- aku hanya merasa iri dengan Desty, sebentar lagi temanku akan punya cicit, masa aku kalah?"


"Ya ampun Nyonya." Luna jadi menggeleng-gelengkan kepalanya tidak heran kalau Nyonya besar nya itu sangat bersemangat saat berbicara dengan Desty. "Saya pikir, Nyonya besar harus evaluasi diri, tidak baik memberikan obat kepada anak muda, itu akan mempengaruhi mereka berdua. Mungkin sekarang belum ada efek sampingnya, tapi takutnya jika ada yang kedua dan ketiga kalinya, meskipun Nyonya tidak memberikannya, melainkan Tuan muda yang mengkonsumsi secara pribadi dan di berikan kepada Ashera, itu akan jauh lebih berbahaya.

__ADS_1


Jadi saya harap anda harus bersabar. Lagi pula bersabar akan membuahkan hasil yang setimpal." Jelas Luna panjang lebar.


"Yah, tapi sudah terlanjur tuh." Nenek Tina yang merasa menyesal, melempar sisa obat itu ke belakang dan langsung di tangkap oleh Luna. "Ya sudahlah, jika kau sudah berkata seperti itu, aku akan menuruti katamu. Aku masu istirahat, matikan lampunya." Perintah Nenek Tina kepada Luna.


Luna pun membungkuk hormat dan pergi dari sana seraya mematikan lampu kamarnya .


'Padahal, walaupun aku mendengar mereka berdua terdengar cukup bergairah seperti itu, pasti jelas tidak mungkin mereka berdua sedang melakukan itu. Karena aku saja melihat gulungan pembalut, jadi jika pikirannya Ashera masih waras, dia tidak mungkin mengizinkan Tuan muda untuk tidur bersama.' Begitulah, melayani majikan penuh dengan kekuasaan, dia pun harus ekstra sabar, serta terus mengingatkan majikannya agar berbuat benar.


____________


Lalu di dalam rumah, tepatnya di dalam sebuah kamar mandi.


Seperti yang di pikirkan oleh Luna yang mempunyai mata yang jeli, Ashera dan Arvin pun sebenarnya memang tidak melakukan apapun di dalam kamar kecil tersebut.


Ashera hanya bertahan di pangkuannya Arvin. Dengan tubuh nyang masih di balut dengan handuk kimono, dia duduk di pangkuan Arvin sambil bersandar ke dada bidangnya Arvin.


Dan di situlah, asal muasal akting dari improvisasi mereka berdua untuk mengecoh seseorang.


"Anggh...anggh..Arvin, kau sungguh hebat." Ucap Ashera, dia justru menikmati akting nya sendiri dengan ujung jari telunjuknya yang ia mainkan di dada nya Arvin dengan cara membuat sebuah lingkaran. "C-cepat, a-aku mau keluar, tolong cepat lebih cepat lagi...angghh...kau hebat Arvin."


Suara menggoda milik Ashera pun benar-benar sangat jelas di samping telinganya Arvin, membuat Arvin sendiri terdiam dengan sepasang telinga yang sudah merah padam.


"Tunggu, k-kenapa punyamu lebih besar?" Tanya Ashera, dia masih saja akting dengan sangat khidmat.


Dan suara tersebut terus saja mengisi suasana di dalam kamar mandi menjadi lebih panas.


"Hahh..hah..hah...hah...A-ashera, caramu mende*sah itu cukup memikat, siapa yang tidak bisa lebih terang*sang dengan suaramu yang menggoda itu? Bersiaplah, aku akan memakanmu sampai habis." Ucapnya.


Tapi sayangnya yang membalas ucapannya Ashera tadi itu bukanlah Arvin, melainkan Ashera sendiri.


"Aku akan memasuk ekkhh...!" Belum selesai bicara, lehernya tiba-tiba langsung di cekik.


"Apa kau bisa diam? Jangan membuat suaraku lagi." Tegas Arvin kepada Ashera yang rupanya benar-benar memiliki kemampuan yang cukup berguna namun juga melenceng.


Gara-gara Ashera, yang berlakon dengan baik dengan suara desa*annya, dan bisa bersuara mirip dengan Arvin, membuat Arvin terdiam dengan ekspresi wajah tercengang juga jijik?


"Lepas!" Ucap Ashera, menepis tangannya Arvin dari lehernya Ashera. "Apa kau akhirnya tahu kehebatanku hem? Jakunmu, suaramu itu, aku bisa menirukannya lebih baik dari pada suara aslimu itu, benar kan?" Tanya Ashera dengan anda menggoda, dia mengelus-elus lehernya Arvin.


"Terserahmu, yang penting kau akhirnya bisa memerankan tugasmu dengan baik." Jawab Arvin, mencoba menyingkirkan Ashera dari atas pangkuannya.


"Tapi kenapa kau ingin aku melakukan itu?"'


Arvin membuka matanya dan menatap wajah Ashera yang menginginkan jawaban. "Karena makanan yang kau bawa itu sudah di campur dengan obat. Entah kau sendiri yang melakukannya atau bukan, intinya pasti ada yang menginginkan aku melakukan sesuatu dengan hasil dari efek obat itu." Jawab Arvin.


Dengan tatapan matanya yang begitu polos, Ashera dengan cukup berani, dia pun menatap benda pusaka yang ada di sana. "Apa artinya kau terkena efek obat itu?"


"Apa kau pikir kau berharap kalau aku bisa terpengaruh obat itu dan memakanmu hidup-hidup?" Tanya balik Arvin.


"Tapi bukan aku loh, aku hanya masak di tempat nenekmu, dan membawanya pulang."


"Berarti itu ulah nenekku." Jawab Arvin dengan tenang?


"Tapi kelihatannya kau butuh bantuan." Cemas melihat pria di depannya itu sudah punya menara sendiri yang menjulang tinggi.


"Apa kau tidak punya urat malu?" kernyit Arvin, dia mulai merasakan berdenyut.


"Kau sendiri, apa kau bahkan tidak punya urat malu juga? Tidak, lupakan saja. Ngomong-ngomong, pahamu jadi berdarah tuh, maaf ya. Aku akan keluar jadi kau bisa mandi dengan tenang." kata Ashera, tiba-tiba jadi tidak peduli, dan benar saja, dia pun pergi dari sana meninggalkan Arvin sendirian menempuh rintangan yang akan berlangsung lama.


BRAK...

__ADS_1


__ADS_2