Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
23 : Pertengkaran


__ADS_3

Siang harinya. 


“Lihat dia, pencuri kecil dari kelas kita sudah selesai menjalani hukumannya.”


“Aku tidak percaya, kalau Ashera rupanya punya hobi mencuri. Jangan-jangan selama ini kita terkecoh dengan wajah polosnya itu.”


“Kalau begitu, apa mungkin tanpa kita sadari ada yang sudah dicuri dari kita?” 


Lidia, Dini, Doni, mereka pun saling bicara  satu sama lain, dan satu-satunya orang yang mereka bicarakan adalah Ashera yang menjadi topik mereka. 


‘Citraku sudah hancur. Padahal aku dituduh. Tapi, walaupun aku bicara banyak dan membantahnya, aku sama saja seperti orang yang sedang menyangkalnya. Tambah panjang juga tambah lebar. Ujung-ujungnya aku tetap berada di posisi untuk digunjing oleh mereka.’ Sebenarnya selama awal dirinya masuk ke sekolah ini, dirinya sudah diperlakukan dengan buruk.


Dan diantaranya semua itu berasal dari Dini dan Doni. Di saat kelas satu, meja yang ia gunakan selalu kotor, berisi sampah, ataupun buah-buahan busuk yang di letakkan di sana. 


Sebagai awal dari kebencian dari mereka yang tidak suka dengannya hanya karena dirinya berasal dari keluarga biasa. 


‘Sebenarnya apa salahku? Padahal aku sama sekali tidak memiliki niat jahat kepada mereka? Kenapa?’ Benak hati Ashera lagi, dia pun duduk di kursinya dan dan langsung menyembunyikan wajahnya di atas tumpukan kedua tangannya di atas meja. ‘Kenapa aku punya situasi sulit seperti ini? Aku jadi benci pada diriku sendiri, apa aku hidup hanya untuk dijadikan bahan kebencian mereka?’


Jengkel karena ucapan dari mereka tidak ada satu pun yang di respon, Lidia yang hari ini menjadi korban dari semua itu, jadi ikutan jengkel dan langsung mendekati Ashera yang sedang duduk diam dengan wajah disembunyikan, lalu Lidia pun segera membuat perkara awal sebagai balasannya. 


“Weh! Apa kau sekarang sedang menangis?!”


“Akhh…!” Ashera meringis sakit karena rambutnya yang tiba-tiba saja di jambak, dan membuat kepalanya secara otomatis langsung mendongak ke atas melihat wajah Lidia yang sudah marah. “Sakit.”


“Segini saja sakit? Ada yang lebih sakit dari ini perempuan udik! Gara-gara kau, namaku jadi semakin terkenal, tapi di satu sisi karena aku jadi bahan pembicaraan mereka adalah karena kau! Pencuri sialan, seharusnya kau tidak diterima di sini!” 


“Akhh! Lepaskan..! Aku sama sekali tidak mencuri, walaupun aku dituduh seperti ini, yang penting tuhan tahu kalau salah satu diantara kalian lah yang menjebakku.” Akhirnya setelah sekian lama terdiam, Ashera pun bicara penuh. Walaupun harus merasakan sakit di kepalanya, tapi setidaknya ia bisa mengatakan hal yang ingin ia ucapkan kepada mereka. 


“Oh, jadi kau sedang sok alim?” Dini yang dari tadi diam di tempat duduknya, menoleh ke arah kiri sedikit ke belakang. Sambil menyangga kepalanya, mulutnya pun kembali berkata : “Jadi maksudmu ada yang mengerjaimu? Kalau begitu menurutmu siapa yang melakukannya?”


“Aku tidak perlu bil-akhh..!” belum sempat bicara, Ashera langsung mendapati tarikan dari cengkraman tangan Lidia di rambut Ashera semakin kuat, dan membuat Ashera langsung dibuat berdiri dari kursinya karena di tarik sampai serasa kulit kepalanya mau tercabut, dan akhirnya tarikan itu membawa Ashera langsung di dorong kuat oleh Lidia sampai terjatuh. 


BRUKK…

__ADS_1


Ashera yang kesakitan di kepalanya, lalu di dorong kuat oleh Lidia dengan kuat, membuat tubuh Ashera pun terjatuh tersungkur sampai sempat terseret ke belakang kelas.


Dengan sorotan mata penuh dengan kebencian, nafasnya yang sudah tidak teratur, Lidia langsung sedikit berlari dan mencengkram kerah baju Ashera. “Dari awal kau masuk kelas ini, aku juga sudah menduga pasti akan ada sesuatu yang terjadi selama kau masuk kelas ini. Dan buktinya kau mencuri dompetku! Dasar, perempuan miskin tidak tahu diri!”


PLAK…


“Akh..!”


Setelah tamparan yang cukup kuat, Lidia masih belum sampai di situ saja, segera menarik kerah baju seragam Ashera, sehingga Ashera yang di buat kembali berdiri langsung kembali di dorong ke belakang, hingga Ashera menabrak dinding. 


BRUKK….


“Lidia, kau hebat. Lukai saja wajah jelek itu jadi tambah jelek.”


“Kau benar, dia sangat mengganggu, biarkan dia merasakan pukulan mautmu itu Lidia.”


“Ayo..ayo.., ayo..”


Sorak sorai di kelas tersebut pun berhasil membuat suasana semakin tegang dengan dua orang yang sudah mulai melakukan perkelahian. 


“Orang yang tidak pantas di tempat ini kan hanya dia saja, seharusnya di dibuang saja dari kelas ini.”


“Ah, sangat membosankan juga, melihat wajah jeleknya setiap hari. Lidia, buat dia dikeluarkan dari sekolah ini.”


“Iya, buat dia tidak tahan di tempat ini. Buat dia ingat bahwa statusnya itu benar-benar tidak pantas untuk sekolah di tempat khusus untuk orang-orang seperti kita.”


“Dengar itu, mereka saja tidak mau kau ada di sini. Mereka sudah bertahan hanya untuk satu semester saja, tapi tidak untuk kali ini.” Seringai Lidia, lalu dengan semangatnya yang bercampur dengan amarahnya karena tangannya jadi harus kotor sebab memegang rambut dan tubuh dari Ashera, Lidia tanpa sungkan lagi langsung memberikan siksaan. 


PLAK…


“Akh…kalian jahat!” Teriak Ashera sudah mulai menangis selain karena mendapatkan siksaan lagi, ia juga mendapatkan hinaan baru yang membuatnya sangat marah. 


“Jahat? Kami jahat hanya kepada orang sepertimu ini.” Balas Lidia.

__ADS_1


“Hahaha, teruskan lidia.” Lagi-lagi teman-temannya terus mendukungnya. 


“Hari ini akan jadi hari akhirmu di tempat ini, Ashera.” Dengan wajah beringas, Lidia kembali memperlakukan Ashera dengan sebuah pukulan. 


Tapi sebelum itu terjadi, Ashera yang ketakutan itu memejamkan matanya dan mengambil langkah pertama, dimana tangannya pun akhirnya ia gunakan untuk menjambak rambutnya Lidia. 


“Akkhh…! Kau! Sialan! Aku balas kau!” Lidia pun membalas jambakan rambut dari Ashera dengan kuat. 


Adu jambak rambut pun terjadi. ‘Sekarang aku tidak peduli lagi jika aku keluar. Daripada aku diperlakukan tidak adil seperti ini, lebih baik aku keluar dari sekolah ini dengan cepat, tapi setidaknya aku harus membalas perlakuan dari Lidia ini!’ 


“AKhh…! Kau akhirnya punya keberanian ya?!”


“Waduh, kita tolong Lidia.” Dini yang kaget dengan Ashera yang tiba-tiba saja berani memberontak kepada Lidia, langsung berdiri dan mencoba membantu Lidia. 


“Hei, hei, ini semakin menarik.” Tapi ada juga yang lebih suka untuk menonton pertunjukkan itu 


“Akkhh! Ashera!”


“Kau yang melakukan ini duluan kepadaku kan! Rasakan ini!” Ashera yang tiba-tiba jadi berani, selain sedang menjambak rambutnya Lidia, salah satu kakinya pun dia angkat untuk dia gunakan untuk menendang Lidia. 


Tapi Dini berhasil mencegatnya lebih dulu sebelum tendangan kaki itu mencapai perutnya Lidia. 


Dan karena sudah berhasil menangkap kakinya Ashera, dengan cepat Dini pun menariknya dengan kuat, sehingga Ashera yang kehilangan keseimbangan itu terseret ke depan dan tubuhnya langsung jatuh ke belakang.


‘T-tunggu.’ Ashera yang terkejut itu, akhirnya merasakan sakit di tubuhnya. 


BRUKK…..


“Kau hebat Dini.” Brian tiba-tiba aja bersuara, karena ia pada dasarnya memang sudah naksir kepada Dini yang kuat itu. 


BRAKK!


Sampai suara pintu yang terbuka, langsung mengagetkan mereka semua. 

__ADS_1


“Kenapa kelas ini ribut sekali ha?!” Teriakan yang begitu lantang, sukses membuat kekacauan yang ada di dalam kelas IPS 11-B langsung terdiam. 


__ADS_2