
'Ashera, bagaimana mungkin pak Guru bisa mengizinkannya masuk? Padahal dia kan kena skors? Aku harus tanya langsung dulu.' Dengan langkah kaki cepat dan lebar, Arvin pun mengunjungi ruang BK, dan di sana ada satu orang pria paruh baya memakai kacamata bundar tengah membaca koran.
Tok....tok...tok...
"Masuk."
Arvin pun masuk dengan mata beringas, dan langsung bertanya sebelum guru tersebut bertanya. "Pak, apa yang sebenarnya terjadi pada Ashera? Bukankah dia seharusnya masih kena skors? Tapi kenapa malah di perbolehkan masuk?"
"Oh, ini ada laporan dari seseorang kalau Ashera akan menyelidiki penyebab dari kasusnya itu, jadi saja bapak mengizinkannya masuk untuk mencari tahu seperti apa kinerja dari nak itu untuk menyelesaikan masalahnya." Jawab pria ini.
"Bohong, jangan-jangan ada pihak luar ya-" belum sempat bicara dengan benar, Arvin langsung menutup mulutnya itu dan segera berbalik lalu dengan buru-buru dia pun pergi membuka pintu.
KLEK...
"Nah, apa yang kau lakukan disini ha? Doni? Menguping?" seringai Arvin, memergoki keberadaan Doni yang ada di luar pintu.
Doni yang belum sempat kabur itu, langsung terkejut setengah mati dengan keberadaan dari Arvin yang langsung menyadari keberadaannya dengan cepat.
'D-dia mengerikan. Padahal aku memang tidak sengaja lewat. Tapi karena aku sempat mendengar suaranya Arvin, aku jadi berhenti sebentar, dan siapa sangka kalau aku akan ketahuan seperti ini?!' Dengan wajah pucat pasi, Doni tanpa sadar langsung menelan salivanya sendiri.
"Apa yang kau dengar tadi?" Tanya Arvin dengan wajah garangnya.
Siapapun, bahkan guru yang sempat lewat pun langsung tersenyum tawar melihat Arvin seperti sedang menginterogasi temannya sendiri itu.
"Arvin, kondisikan raut wajahmu kenapa? Padahal tampan, tapi kalau kau begitu terus, siapa yang mau dekat denganmu?" Tiba-tiba saja Arlina menyela pembicaraan mereka berdua.
"Wajah-wajahku, kenapa kau begitu memperhatikanku? Jika kau suka, bilang saja, walaupun pada akhirnya aku aku juga akan menolakmu juga."
"...!" Arlina yang baru saja datang ingin mencairkan suasana diantara mereka berdua, tiba-tiba jadi ikut terseret dalam urusan masalah suka yang langsung di tolak tanpa Arlina ucapkan lebih dulu. "Kau, siapa yang suka denganmu?"
"Tidak ada wanita yang tidak suka kepadaku, jadi akui saja." Jawab Arvin dengan cepat, lalu setelah bicara singkat dengan Arlina, Arvin pun langsung mencengkram tangan kanan Doni sebelum Doni kabur dari hadapannya. "Dan kau, keliling sekolah satu putaran."
"A-apa?! Kau keterlaluan. Pak, lihat ini, aku hanya tidak sengaja lewat, tapi kenapa Arvin memutuskan seenaknya seperti ini?" Tanya Doni pada pria yang ada di dalam ruang BK tersebut.
__ADS_1
"Itu sudah jadi ketentuan mutlak yang di pegang oleh Arvin sebagai dewan keamanan sekolah. Jika termasuk dalam menguping sesaat juga pelanggaran, kau harus turuti konsekuensinya."
"Dengar kan?"' Arvin tiba-tiba jadi merasa senang dengan keputusan yang di ambil oleh guru Bk itu cukup memuaskan untuk di dengar oleh mereka berdua.
"Jadi termasuk kau, yang mau membela dia yang sudah melakukan kesalahan juga, kau juga kena hukuman, sapu lorong itu, jika sudah jam isitrahat belum selesai tapi kau sudah selesai menyapu, aku akan membebaskanmu, Arliana." Ucap Arvin lagi, membuat tambahan hukuman pada dua orang yang memang tidak ingin Arvin lihat wajah mereka berdua.
Dan sekaligus, dia melakukan ini sebagai balas dendamnya kepada kedua orang ini karena insiden yang terjadi beberapa hari yang lalu.
"Apa?! Aku menyapu lantai?! Arvin, kau tahu siapa aku kan?! Dan kau berani memberikan perintah kepadaku untuk menyapu?!" Tanya Arliana, dia tidak rela jika dirinya harus menyapu, padahal ia adalah anak tunggal yang selalu di manja, jadi bahkan memegang sapu saja, ia tidak pernah, dan kalau pernah sekalipun, maka ia gunakan untuk memukul pelayannya yang tidak becus bekerja.
"Di sekolah, semua orang di mataku derajatnya itu sama. Apa kau tidak paham aturan yang paling berlaku di sini? Arliana Liwnstone?" Menekan marga milik Arliana, Arliana seketika jadi tersinggung besar.
'Sial, masa lari? Ini melelahkan! Memangnya aku ini seperti dia?' Batin Doni, tidak puas hati dengan hukuman yang di berikan Arvin kepadanya.
'Gara-gara ingin menyelamatkan Doni ini, aku jadi kena imbasnya. Lalu kenapa aku jadi harus menyapu juga?' Arliana, dia pun menatap jijik sapu yang sudah di berikan oleh Arvin.
"Kebanyakan mikir, semakin banyak pula waktu kalian yang terbuang." Peringat Arvin. "Tidak ada bergerak sekarang, aku tambah huk-"
"I-iya! Jangan berisik lagi!" Sela Doni.
'Itulah, jika bukan karena malam itu kau merubah keputusan dari pertandingannya, aku tidak mungkin punya balas dendam kepadamu. Rasakan, kau pasti anak manja kan? Aku tahu karena tanganmu tentu saja selalu memegang benda ringan seperti uang, barang belanja, dan hanya tahu berhias diri. Dia jadi tidak tahu apa yang seharusnya dia lakukan di saat dia bersalah. Arliana, tanggung sendiri kesalahanmu gara-gara waktu itu.' pikir Arvin dengan senang. "Ayo, aku awasi, jadi cepat kerjakan." Perintah Arvin sekali lagi.
Dan seperti itulah, kedua orang itu pun mendapatkan hukuman mereka.
__________
Lima belas menit kemudian. Di dalam kantin yang cukup ramai itu, Lidia yang sedang mengantri makanan, karena ia sedang tidak bawa bekal makanan, tanpa sengaja melihat Arliana yang sedang duduk di temani air dingin yang di bawakan oleh Dini.
"Dia kenapa?" Tanya Arliana pada Arin yang kebetulan berbaris di belakangnya persis.
"Dia kena hukuman dari Arvin. Untuk pertama kalinya ia kena hukuman untuk menyapu, dan hasilnya tentu saja Tuan Putri kita jadi kelelahan seperti itu." Jawab Arin, dia menyodorkan nampan yang sudah berisi mangkuk, piring, gelas, dimana semua alat makannya sudah di isi dengan hidangan bernutrisi yang memang sudah punya jadwal sendiri hari ini makan dan lauk apa yang akan mereka dapatkan itu.
"Arvin itu, dia laki-laki yang gila juga."
__ADS_1
"Kenapa kau baru menyadari kalau dia anak yang gila?" tanya balik Arin.
PRANG....
Sampai di tengah kantin itu ada keributan yang tidak terduga, dimana Ashera baru saja ketumpahan makanan yang di bawa oleh adik kelasnya sendiri.
Itu jelas terlihat dari perbedaan warna dasi yang mereka gunakan. Jika kelas satu berwarna merah, kelas dua berwarna hitam, maka untuk kelas tiga dasi mereka berwarna biru.
Dan nasib sial pun melanda diri Ashera.
"M-maafkan aku kak, aku tidak sengaja." Ucap perempuan itu dengan nada yang bergetar, saking takutnya kena marah oleh kakak yang dia anggap sebagai seorang senior.
Ashera pun melihat ke arah kakinya itu, Untung saja seragamnya tidak kena, tapi sayangnya ia harus berhadapan dengan kakinya yang kena tumpah makanan bahkan sup yang masih separuh panas itu.
Ashera hanya mengernyitkan matanya, karena rasa panas yang cukup menyengat.
Tapi walaupun separuh panas, karena untungnya ia memperkirakan kalau suhunya di kisaran di bawah enam puluh derajat, dia tidak akan mengalami kulit melepuh.
"Sudahlah, makannya hati-hati, bersihkan lantainya sendiri." Ucap Ashera tanpa begitu memperdulikan adik kelas yang sempat membuat ulah dengannya itu.
"I-iya, akan saya bersihkan sendiri." jawabnya dengan nada yang begitu gugup.
"Dia tidak memarahinya? Baik sekali dia."
"Pasti kakinya panas tuh, sedikit merah juga."
"Eh, dia bukannya pergi, apa dia mau lanjut makan dengan penampilannya yang seperti itu?"
Banyak bisikan demi bisikan mengganggu ketentraman yang di inginkan oleh Ashera itu.
Ashera, dia memang kena tumpahan makanan sehingga kaki dan sepatunya pun kotor. Tapi karena jam istirahat itu di gunakan untuk mengisi perutnya, ia tidak memperdulikan soal kakinya, selain ia makan lebih dulu.
'Hanya masalah seperti ini, kenapa mereka jadi berisik sih? Menganggu saja.' batin Ashera.
__ADS_1
Begitu pula Arvin, dia yang ada di pojok kantin, hanya memperhatikannya dalam diam.