
Padahal Fajar sudah menyesuaikan hatinya untuk bertemu dengan Ashera. Namun melihat Arvin pergi lagi dengan kedua temannya belum sampai lima menit lamanya, Fajar pun jadi merasa curiga.
Maka dari itu, dengan cepat Fajar segera kembali masuk ke dalam lift, setelah dia mengetahui kalau tujuan dari Arvin, Yuli dan Vian adalah lantai tiga.
'Padahal Ashera kan di rawat i lantai ini? Tapi kenapa mereka langsung pergi?' batin Fajar.
____________
"Wah, apa mereka bertiga itu seorang model?"
"Bukannya mereka dari sekolah SMA yang terkenal itu? Bagaimana mereka ada di sini? Siapa yang akan mereka jenguk?"
Karena baru pertama kali datang ke rumah sakit dengan menggunakan seragam SMA mereka, identitas mereka dari SMA yang terkenal di kota tersebut pun membuat banyak orang yang melihatnya langsung merasa iri.
Ya, tidak banyak orang yang bisa mendapatkan pendidikan di SMA yang hanya di peruntukan untuk kalangan orang kaya saja, maka dari itu mereka menganggap kalau seseorang yang sekolah di sana, sebagai murid yang sama standarnya dengan sekolah bangsawan, dan standar penampilannya saja sudah seperti model.
"Ei, Arvin, jangan mentang-mentang kakimu panjang, jalannya jadi cepat seperti cheetah," sindir Vian, karena dia tidak mau dirinya dan Yuli tertinggal karena Arvin yang berjalan cukup cepat.
"Kenapa menyalahkanku? Yang salah kan kaki kalian yang seperti kura-kura," balas Arvin, meledek kedua temannya dengan terus terang, sampai beberapa orang yang sempat berpapasan dengannya antara takut sebab ekspresi wajah Arvin yang cukup datar juga ingin tertawa karena ledekan yang di buat oleh Arvin.
"Kau ini benar-benar sama sekali tidak ada satu pun kalimat baik yang keluar dari mulutmu," rungut Vian, dia sering kali mendapatkan hinaan yang lebih pedas ketimbang Vian sendiri.
__ADS_1
"Aku tidak akan bicara seperti itu jika bukan karena kau dulu yang meledekku," timpal Arvin, membuat Vian sama sekali tidak bisa menyangkalnya.
"Lagi-lagi aku yang di salahkan, padahal kan hanya memperingatkanmu saja," sesal Vian.
"Makannya, kalau bicara di pikir dulu,"
"Iya, iya, kau menang." ketus Vian, sebal dengan satu temannya yang satu itu, karena benar-benar sangat arogan.
"Kalian berdua, berhenti bicara, kita sudah sampai di kamarnya yang baru, jadi jangan berisik dan buat keributan lagi," sela Yuli, sudah bosan dengan pertengkaran yang sering terjadi antara Vian dengan Arvin yang terkenal tidak mau mengalah dalam segala hal.
Arvin dan Vian akhirnya berhenti bicara, tepat setelah mereka bertiga sama-sama sampai di kamar dari tujuan mereka yang baru.
Selagi dia menyelesaikan studi belajarnya, dia sama sekali belum punya keinginan untuk membeberkan identitas sebenarnya kepada semua orang.
Maka dari itu, Arvin cukup hati-hati untuk segala keputusan yang dia ambil, salah satunya adalah dalam semua tindakannya, setelah itu ucapannya.
'Dia mau bicara soal memecat? Apakah maksudnya memecat dokter dan suster yang merawat Ashera?' Vian mulai ceuriga dengan Arvin.
Namun, karena sempat mendapatkan delikan mata yang yang sangat tajam, Vian pun langsung mengalihkan pandangannya dari menatap wajah Arvin yang sangat serius itu.
"Kenapa kau menatapku? Vian?" tanya Arvin dengan nada rendah, yang mana setiap kalimat yang baru saja keluar itu cukuplah mengintimidasi Vian untuk tidak berpikir macam-macam tentangnya.
__ADS_1
"Tidak,"
"Kau pikir aku tidak tahu?" balas Arvin, dia tidak mau tahu dia harus membuat Vian menjawab pertanyaannya.
"Hushht!" Yuli yang sudah bosan dengan pertengkaran antara Arvin dan Vian, langsung menengahi pandangan diantara mereka berdua sambil mendorong tubuh mereka berdua untuk sedikit menjauh. "Arvin, hentikan itu, jangan membuat orang-orang takut dengan matamu yang seperti elang. Cepat buka saja, pintunya, dan jangan banyak bicara lagi," imbuh Yuli.
Meskipun tidak puas hati dengan perkataan Yuli yang menengahi urusan diantara dirinya dengan Vian, mau tidak mau Arvin pun menyudahi adu mulutnya dengan Vian, dan segera mendorong pintu dari kamar yang di gunakan oleh Ashera.
KLEK ...
Cahaya matahari yang mulai terbenam, menyelinap masuk melewati semua celah dedaunan dari pohon yang tumbuh di samping jendela.
Suara yang tenang, menciptakan sebuah kedamaian yang tidak sepenuhnya abadi.
Dan sosok dari orang yang di harapkan oleh mereka bertiga, kini rupanya tengah duduk sambil menyandarkan tubuhnya di tumpukan bantal yang sedikit tinggi.
Mata yang sering memperlihatkan mata yang cukup sayu itu, rupanya sedang terpejam.
Lihat... Arvin, Yuli dan Vian, yang biasa melihat Ashera lebih suka diam saat tidak ada yang mengganggunya, ternyata bisa jadi lebih diam layaknya seorang boneka saat terlihat kalau Ashera hanya tinggal sendirian seperti itu.
"Sedang tidur," bisik Vian.
__ADS_1