Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
166 : Pendapat


__ADS_3

Di dalam kamar mandi, Arvin saat itu sedang berdiri di depan wastafel dengan cermin besar yang terpampang cukup jelas di depannya. 


Menatap wajah miliknya yang ternyata begitu serius, kilatan memori dari dua momen yang berbeda pun langsung menghampiri Arvin itu sendiri. 


Yang pertama, dia mengingat soal Neneknya yang ingin segera punya cicit, tapi di satu sisi dia juga mengingat dengan jelas ekspresi macam apa yang di perlihatkan Ashera saat ia tiduri. 


‘Kenapa aku begitu sangat memikirkan masa depan yang terlihat konyol ini? Padahal waktu di hari pertama setelah kejadian itu, aku terus mengutuk diriku sendiri kalau aku benar-benar tidak sudi, menyesal meniduri perempuan itu karena hubungan ini berasal dari kesalahan, tapi apa yang terjadi sekarang?


Kenapa aku malah begitu sensi saat mendengar dia menolak punya anak?


Apa-apaan dengan otakku ini?’ gerutu Arvin, sampai dia yang merasa  cukup frustasi dengan pikirannya sendiri yang begitu aneh itu, membuat dia langsung mengacak rambut serabainya dengan kasar, sehingga rambutnya pun semakin acak-acakan. 


Ada satu hal yang sebenarnya membuat Arvin ini cukup penasaran, yaitu latar belakang dari Ashera itu. 


Karena pada dasarnya Arvin adalah orang yang begitu teliti untuk orang-orang yang beriteraksi dan dekat dengannya, hal tersebut pun menimbulkan sudut hatinya yang paling dalam itu, menuntut Arvin untuk segera mencari tahu soal asal muasal dari latar belakangnya Ashera, mengingat neneknya sendiri terlihat begitu memperhatikannya, seakan Ashera ini adalah orang yang begitu berarti?


“Konyol!” refleks tangannya yang mengepal itu, tiba-tiba menggebrak wastafel, sehingga dengan buru-buru Arvin langsung menyalakan keran air, untuk membuat alibi sendiri. ‘Pasti ada sesuatu yang tidak aku ketahui, ini bukan sekedar soal dia bekerja jadi pelayan karena Ibunya pelayan. Pasti ada alasan lain, ya aku yakin itu. Aku tidak bisa menunggu untuk mendengar ocehan dari nenek atau kedua orang tuaku yang bahkan lebih suka memikirkan urusannya sendiri ketimbang aku.’ 


Dengan demikian, Arvin pun sudah punya rencana sendiri, tidak seperti Ashera yang bingung harus melakukan apa, karena dia benar-benar tidak terbiasa dengan kehidupannya sekarang, sebab sama sekali tidak ada yang bisa dia lakukan, karena biasanya dia akan meayani Neneknya Arvin sepanjang hari, bahkan meskipun dirinya libur sekolah. 


‘Apa yang harus aku lakukan setelah ini?’ batin Ashera, selagi Arvin sedang berada di dalam kamar mandi, Ashera pun memakai handuk kimono dan berjalan menuju meja makan yang ternyata benar-benar di siapkan oleh Daseon sepenuh hati. 


Terbesit rasa kecewa, karena dirinya yang harus meninggalkan masa lajangnya dengan cepat, padahal awal sebelum kejadian dimana dirinya bersama Arvin mendapatkan kecelakaan di hari itu, Ashera sebenarnya sudah punya rasa kepada Daseon. 

__ADS_1


Tapi, dikarenakan waktu itu Daseon menolak perasaannya, Ashera pun dalam diam tetap saja merasa canggung kepada Daseon, meskipun pria yang berprofesi sebagai butler pribadinya Arvin itu bersikap profesional, seakan tidak ada yang pernah terjadi di antara mereka berdua. 


“Ini membuatku pusing, padahal bukan masalah yang terlalu besar, tapi kenapa aku terus merasa kecewa dengan setiap keputusanku?” gerutu Ashera, dia yang sudah duduk di depan meja makan, langsung memegang kedua kepalanya, karena kepalanya yang tiba-tiba saja pusing, sebab merasa dia kebanyakan tidur, dan baru sadar kalau sekarang saja jam sudah menunjukkan jam dua belas siang lewat lima menit. 


______________


‘Sudah-sudah, aku akan mencaritahunya sendiri.’ bisik Arvin dalam hatinya. Sebab dia tidak mau berlama-lama di dalam kamar mandi, dia pun segera keluar dari sana, dan begitu dia keluar, dia malah melhat Ashera yang duduk di depan meja makan sambil meletakkan separuh tubuhnya di atas meja makan itu sendiri. 


Penasaran dengan apa yang terjadi kepada Ashera, dia pun menilik wajah Ashera yang tergeletak di atas meja. 


Dan ekspresi dari tatapan matanya yang nampak sendu itu, terlihat begiut jelas. 


“Kenapa kau tidak makan?” tanya Arvin seraya menyeret kursi yang akan dia duduki. 


“Kau bilang kita akan makan bersama,” jawab Ashera dengan nada lemah, lalu dia akhirnya mengangkat tubuhnya agar bisa duduk dengan benar. 


Mendengar ucapannya, tentu saja Arvin seketika jadi terdiam, sebab Ashera ternyata benar-benar mendengar ucapannya itu. 


“Setelah makan kau bisa istirahat, karena hari ini tidak ada jadwal sampai sore.” kata Arvin, memberitahu. 


‘Memangnya setelah sore hari, apa yang akan terjadi?’ pikir Ashera, menatap sup yang rupanya berisi daging ayam. 


________________

__ADS_1


“Luna, kira-kira apakah sampai sekarang identitas Arvin masih belum diketahui oleh banyak orang?” tanya Nenek Tina, dia mencoba menggali informasi untuk berjaga-jaga, sebab tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya jika tidak segera mempersiapkan diri. 


“Belum Nyonya,” jawab Luna sambil menuangkan teh herbal kepada Nyonya besar yang dia layani itu. “Tapi apakah akan lebih baik seperti ini? Menutupi keberadaan dari Tuan muda dari semua orang?”


“Ini demi kebaikan Arvin sendiri. Aku memang menyuruh agar Arvin mulai tahu diri dengan posisinya, dia harus mulai lebih banyak belajar untuk menggantikan posisiku suatu saat nanti, tapi akan lebih baik memang lebih baik kalau keberadaan Arvin terus di sembunyikan. Banyak musuh di luar sana yang terus mengincar posisiku, tapi karena Arvin terus disembunyikan, makannya tidak ada orang yang pernah tahu kalau dia adalah pewaris selanjutnya Ravarden.


Semoga saja, setelah ini aku tidak lama lagi akan punya cicit, aku sudah tidak sabar menunggunya,” jelas Nenek Tina dengan senyuman simpul yang menyiratkan sebuah harapan besar kepada kedua anak yang sudah dia kirim ke Korea. 


“Walaupun anda memang punya harapan seperti itu, tapi bagi saya ucapan anda terlalu kejam untuk Ashera. Dia masih belum siap untuk mengemban beban itu, apalagi masih sekolah, bisa-bisa ia akan di cap sebagai perempuan yang tidak baik. 


Sekalipun suatu saat nanti Tuan muda akan mengatakan posisinya di muka umum sekaligus mengumumkan hubungannya dengan Ashera, tapi yang namanya cap tidak akan bisa dihilangkan dengan mudah. 


Dan itu akan jadi konsekuensi paling besar, karena hal tersebut tidak akan membuat julukannya menghilang seiring waktu berlalu. Walaupun tubuhnya bisa saja siap, tapi tidak dengan mental yang akan ditanggungnya, itu bisa mempengaruhinya untuk kedepannya.”


Selesai menyiapkan makan sore untuk Nyonya besar, Luna pun menghentikan aktivitasnya sekaligus menghentikan mulutnya untuk berbicara kepada majikannya tersebut. 


Nenek Tina yang bahkan sama sekali tidak memikirkan bagian itu, jika tidak dijelaskan oleh Luna, akhirnya jadi merasa bersalah dengan angan-angannya yang cukup besar. 


Memang, ego miliknya benar-benar besar, dan dirinya hampir saja menyeret kembali Ashera untuk masuk dalam mimpi besarnya itu. 


“Kau benar, ini bukan masalah yang harus membuatku ikut campur. Mereka berdua masih terlalu muda, dan pikiran serta mental mereka juga belum cukup untuk menanggung hujatan jika hal itu benar-benar terjadi.”


Harapan dan ucapan yang saling berkontradiksi antara diantara mereka berempat, dua setuju dan dua menolak, manakah perbedaan pendapat yang akan dikabulkan oleh apa yang ada di atas?

__ADS_1


__ADS_2