
“Ahh..~” lenguhan tidak jelas dari mulutnya Jellyna pun akhirnya muncul juga selepa Arvin membelai salah satu dua gunungan kembar itu.
Walaupun tidak sampai menyentuhnya secara langsung, karena masih terbungkus rapi di dalam Lingerie itu, tetap saja sensasi yang di dapatkannya pun dapat.
‘Ini sangat nikmat, teruskan, lakukan lagi Adolv. Apa mungkin karena kau sudah meniduri perempuan di belakangmu itu, makannya kau bisa semahir ini dalam membelai milikku?’ pikiran Jellyna pun semakin kacau, saat lutut dari kaki kirinya Arvin, tiba-tiba saja sudah berada di pawah persis pangkal pahanya, dan membuatnya semakin menggila karena rasa yang cukup memuaskan itu.
“Aku tidak tahu ternyata kau semahmphh~” seperti biasa, bahkan sebelum lawan mainnya bicara bebas sampai habis, Arvin pun kembali memberikan ciuman yang begitu menggelora.
Sebagai penyeimbang dari gerakan dan segala sentuhan yang di lakukan oleh Arvin kepadanya, Jellyna pun segera merentangkan tangannya ke bawah pakaian dari kemeja milik Arvin, sehingga dengan jelas dia bisa merasakan semua otot-otot tubuhnya, bahkan aroma tubuh Arvin yang cukup maskulin.
“Ahh..itu, sangat enak, lagi Adolv.” pinta Jellyna sesaat setelah bibi diantara mereka berdua lepas, namun tidak perlu waktu yang lama, bibir mereka berdua pun kembali bertautan. ‘Kalau seperti ini, aku sudah jelas memilih dia untuk bisa mengeluarkannya di dalam.’ pikir Jellyna.
Ashera yang diam di tempatnya, tanpa sadar meneteskan air matanya tanpa adanya tangisan yang membuat dua orang itu terganggu dengan responnya itu.
Sampai di satu titik ketika Jellyna sedang menikmati semua sentuhan itu, tiba-tiba saja lidah Arvin berhasil menyusup masuk kedalam mulutnya Jellyna.
SLURP…
Dan di saat itu pula, Arvin diam-diam menyusupkan obat yang sebenarnya masih tertahan di balik lidahnya kedalam mulutnya Jellyna.
Jellyna yang seketika sadar dengan perasaan itu, langsung membelalakkkan matanya dengan sempurna, dan mencoba untuk mendorong tubuh Arvin dari atas tubuhnya.
“Umphh…!” Jellyna memberontak, tapi semuanya sia-sia karena Arvin adalah yang terkuat di dalam sana. ‘Kenapa dia malah masih menyimpan obatnya di dalam mulutnya? Tidak, jangan sampai obatnya di telan.’ batin Jellyna, sangat berharap kalau dirinya itu bisa meloloskan diri dari Arvin.
Karena tidak bisa lepas dari cengkraman pria ini, Jellyna pun langsung menecoba untuk menendang perutny Arvin, di samping dia juga mencoba untuk menghantamkan jidatnya ke kepalanya Arvin.
Tapi bahkan sebelum itu terjadi, Arvin lebih dulu menekan kepalanya Jellyna ke tempat tidur sambil terus menciumnya dengan sangat erat.
GRRTT….
“Ahh!” Arvin sempat di gigit, tapi hal itu tidak membuat dirinya mundur untuk terus membuat Jellyna terdiam dan tidak berteriak, karena di luar kamar itu ada empat orang penjaga.
“To-mphh..!” Jellyna kehabisan suara ketika mulutnya langsung di bungkam lagi, tapi kini dengan tangannnya Arvin, sehingga saat Jellyna yang sudah kesusahan bernafas itu tiba-tiba bisa mengabil nafas dengan bebas, obat yang sudah ada di kerongkongan itu pun akhirnya tertelan.
GLUK…
‘Huh, aku pikir dia bisa bela diri, ternyata hanya anak manja saja. Ini masih bisa aku atasi dengan mudah.’ Arvin memang berpikir seperti itu, tetapi tidak dengan Ashera.
“Ahh, apa yah-mphh..” suara Jellyna kembali di telan sendiri karena Arvin kembali membungkam mulutnya itu dengan tangannya.
Sebagai tambahan juga, Arvin pun duduk di atas tubuhnya Jellyna dan terus menjaga Jellyna untuk tidak bisa berkutik.
__ADS_1
“Hera?” panggil Arvin sambil menoleh ke belakang.
Tapi Ashera sendiri bahkan tidak meresponnya dan hanya berdiri melamun seperti patung saja.
Inilah yang di khawatirkannya, Ashera masih belum sadar dari pegaruh hipnotisnya Jellyna?
“Mphh…mphh!” Jellyna terus memberontak. ‘P-panas, tubuhku serasa cukup panas, aku ingin di sentuh!’ terika Jellyna dengan mata sudah membulat sempurna, akibat dia tidak bisa bergerak bebas, tapi tubuh sudah memerlukan pelampiasan.
Arvin sendiri membiarkan hal itu terjadi, : “Panas ya?” tanyanya, dia mencoba untuk menyelesaikan masalahnya dengan Jellyna ini agar kedepannya bisa mudah di atur.
Jellyna yang sudah terpengaruh dengan obat itu pun mengangguk iya.
“Kalau begitu kau harus turuti perkataanku.” Arvin yang masih duduk di atas tubuh Jellyna pun terus menatap mata jenaka milik Jellyna dengan tatapan mata yang serius, dan kemudian dia berkata : “Jellyna, setelah ini kau beritahu semua yang kau lakukan selama ini di kapal ini. Beritahu aku lokasi dimana semua orang yang kau tangkap itu di kumpulkan.
Setelah itu berikan semua propertimu padaku atas namaku. Bila sudah, kau beberkan semua rahasia yang kau sembunyikan ini di depan semua publik.” kata Arvin, mulai mencuci otaknya Jellyna.
Sebagai seorang Arvin, dan sebagai seseorang yang biasa di juluki berandalan, dia memang sudah tahu banyak sisi gelap kota dari kehatan yang sering viral di semua berita.
Maka dari itu, selain punya mulut beracun, emosi yang tinggi, menggertak, mengintimdasi, bahkan bertarung dan bersikap bar-bar seperti orang yang tidak punya pendidikan, dia juga mempelajari untuk tidak perpengaruh dengan hipnotis sampai cara untuk menghipnotis balik lawannya.
Maka dari itu, sebagai balasan apa yang di perbuat oleh Jellyna terhadapnya, dia pun menghipnotis balik Jellyna.
Meskipun Jellyna bisa menghipnotis orang, tapi rupanya kemampuan untuk tidak di hipnotis balik masih lemah, inilah kesempatan yang dimiliki oleh Arvin.
Namun, Ashera?
“Karena kau bilang panas, kau telanjang dan lakukan sendiri di sini.” perintah Arvin tanpa tahu malu.
TES…
Ashera yang mendengar hal itu pun jadinya meneteskan air matanya lagi.
Arvin yang belum tahu dengan raut muka Ashera saat ini, hanya fokus pada Jellyna yang sudah menggeliat seperti cacing kepanasan.
“....” dirasa sudah cukup aman, Arvin mencoba untuk melepaskan bekapannya dari mulutnya Jellyna.
“Hahh…ahh…panas, kenapa seperti ini? Aku ingin- ingin mengeluarkannya.” ochenya.
Setelah di buat seperti itu, Arvin pun turun dari tempat tidurnya dan menghampiri Ashera.
“Hei, Hera,” Arvin mencoba untuk menepuk pundaknya Ashera agar tersadar dari hipnotisnya.
__ADS_1
Tapi bahkan setelah di tepuk pun tidak ada respon apapun, Arvin pun jadi semakin cemas.
“Hera, kau dengar aku kan? Sadarlah,” panggil Arvin kepada gadis yang terus melamun itu.
Arvin mencoba memegangi wajah Ashera dengan kedua telapak tangannya, dan mendekatkan wajahnya di depan wajahnya Ashera.
“Hera, kau dengar aku? Kau harus sadar, kau tidak perlu terpengaruh oleh perkataannya untuk terus diam di sini.” kata Arvin di depan wajahnya Ashera langsung.
Tapi, bahkan setelah mencobanya beberapa kali, Ashera tetap bergeming di situ tanpa respon apapun selain tatapan matanya yang kosong.
“Ashera, kau mendengarku kan? Kau hanya perlu mengedipkan matamu jika kau sebenarnya mendengar suaraku.” bisik Arvin, agar tidak ada satu orang pun yang mendengar ucapannya itu.
Namun seperti biasa, Ashera tidak dapat merespon apapun dengan semua permintaannya Arvin itu.
‘Apa yang sebenarnya terjadi kepadanya? Ashera-’ curiga dengan kondisi dari perempuan ini, Arvin pun melepaskan pakaian luar yang Ashera pakai.
Di situlah dia melihat tepat di area lekukan tangan kanan yang dekat dengan pembuluh darah, ada satu titik seperti bekas suntikan.
Arvin seketika jadi tercengang, kalau itu bukanlah bekas dari suntikan biasa.
“Hera! Bangun, kau-”
“Ahh- ahh.. ini enak,” racau Jellyna, belum berbuat apa-apa kepada Arvin, tapi sendrinya sudah kena karma balik oleh Arvin.
Karena itu, Arvin yang seketika sudah marah itu, langsung naik ke atas tempat tidur dan menjambak rambutnya Jellyna.
“Arggh! Lagi, kurang keras-”
Seperti orang gila yang sudah terpengaruh jenis obat lain, Arvin pun langsung meludah sembarangan dan langsung menarik rambutnya Jellyna lebih kuat lagi sambil berkata : “Jelly, katakan sekarang juga semua yang sudah kau lakukan, dari awal sampai akhir dengan singkat, jelas dan padat.” perintah Arvin dengan perasaan sudah geram.
“Ahh..Adolv, sentuh itu udlu, aku akan bicara padamu sejujur-jujurnya.” jawab Jellyna yang terdengar seperti orang gila.
Mendengar kalimat gila, Ashera pun meneteskan air matanya lagi.
Begitukah cara Arvin memperakukan perempuan selama ini? Betapa kasarnya, brutal dan juga ganasnya anak itu.
Bahkan sampai menjambak rambut dengan cara seperti itu.
Kira-kira bagaimana jika teman-temanya tahu kalau sifat milik Arvin lebih parah dari pada yang terlihat?
Ashera yang melihat hal tersebut jadi semakin memikirkan kira-kira apa yang sedang di pikirkan Arvin itu, kenapa perlilakunya itu benar-benar sangat gila seperti serigala liar?
__ADS_1