
Mendengar suara serak dan begitu rendah itu menghampiri telinganya persis, Ashera seketika jadi merinding, tapi sentuhan saat tangan dari orang tersebut perlahan menyusuri perutnya, Ashera tiba-tiba jadi lebih merasa dingin.
"Tidak mau! Kau pergilah, aku tdiak akan terjebak dalam permainan kalian!" Ashera yang tidak mau di sentuh oleh laki-laki lain, langsung merangkak dari sana. Tapi usahanya untuk pergi, langsung di gagalkan ketika pria itu langsung menyeret salah satu kakinya Ashera.
BRUK....
"Kau mau pergi kemana? Disinilah tempat kita, Ashera."
"Kyaa! Ahuwahh!" Ashera meronta, tapi mulutnya langsung di bungkam oleh tangan dari pria yang sudah menindih di atas tubuhnya. "Mphh! Mphh!"
Tangannya mencoba untuk mencakar wajah dari laki-laki di atasnya itu, tapi di situlah, akhir dari pemberontakannya Ashera saat Ashera tiba-tiba saja lehernya langsung di berikan kecupan dari hisa* pan yang membekas menjadi ******.
'Aku harus bagaimana ini? Kalau Arvin tahu aku di perlakukan seperti ini oleh laki-laki lain, bagaimana aku harus menghadapinya?!' hatinya yang begitu gelisah itu, tetap tidak bisa membuat rasa nyaman dari sentuhan yang di berikan oleh pria ini menjadikannya tenang sepenuhnya, karena sekarang ini, dia dalam kondisi bahaya.
"Apa kau sadar, kalau wajah panikmu itu, justru semakin membuatku menginginkannya? Ashera?" sebuah bisikan kecil yang menyentil hatinya Ashera yang sudah tergoyahkan oleh pandangannya yang semakin buram, bahkan ketika mulut dari laki-laki yang ada di atasnya itu sedang bicara, Ashera pun hanya diam dengan kedua kaki dan tangan yang terus mencoba untuk memberontak.
'Aku aku nantinya akan benar-benar di habisi olehnya?' kata hati Ashera, dia sangat terpukul dengan kondisi dari dirinya saat ini yang justru akan menjadi bahan mainan dari laki-laki lain di dalam bar ini?
Padahal tujuan utamanya adalah membawa Arvin pulang, tapi sepertinya Ashera justru akan membawa pulang benih lain dari pria lain?
'Maaf, aku bahkan tidak bisa melindungi diriku sendiri dari laki-laki lain.' gumam Ashera di benak hatinya yang paling dalam.
Dan di malam itu pun dia langsung di eksekusi oleh orang lain di dalam kamar yang akan menjadi saksi bisu atas peristiwa yang menimpanya.
__ADS_1
Entah apa yang akan terjadi ke depannya , Ashera bahkan sudah seperti tidak punya harapan lain lagi, begitu dia di sentuh oleh pria ini.
"Arvin-" begitu sakit mendapatkan siksaan lagi dan lagi dalam cara yang menurutnya tidak begitu manusiawi, Ashera pun dalam diam menangis.
Setiap keringat yang keluar dair tubuhnya, menjadi air penuh dosa yang dia lakukan dengan orang ini.
Dosa besar yang di lakukannya dengan cara yang sama seperti dia lakukan dengan Arvin dulu.
'Apakah aku ini perempuan murahan, makannya aku sering di jadikan bahan pelampiasan seperti ini?' Ashera mengernyitkan matanya, begitu di dalam rumahnya, dia merasakan adanya sesuatu yang mulai keluar menuju pintu rumahnya.
Dia menahannya, bahkan suara lenguhannya, dia tahan, karena dia sendiri tidak sudi untuk di perlakukan seperti itu oleh orang lain.
'Maaf-' Ashera memejamkan matanya, begitu dia menerima hadiah yang tidak diinginkannya itu dari orang ini.
"Ahh~" Ashera pun mendadak jadi melenguh tidak jelas, sampai dia memutuskan mencengkram kembali sprei kasur sampai benar-benar kusut sekali, begitu dia harus mendapatkan tamu tidak di undang dengan menyerobot masuk.
Dan di situlah, begitu mereka menghabiskan malam mereka berdua di dalam kamar, tepat di salah satu vas bunga yang ada di seberang sana, ada sebuah kamera tersembunyi, yang merekam aksi dari mereka berdua.
_____________
"Hahaha, kalau seperti ini, dia pasti akan jadi lebih terkenal. Tepatnya nama buruknya jadi terkenal." tawa milik dari wanita yang tadi berperan jadi pelayan untuk mengantarkan Ashera ke kandang jebakannya, langsung mengisi kesunyian di dalam kamar lain yang dia sewa secara pribadi untuk menonton langsung akasi dari pertunjukkan yang di pertontonkan di dalamnya itu. "Hah, wig ini membuat kepalaku terasa gatal."
Merasa risih dengan kepalanya yang di timpali dengan rambut palsu, dia pun akhirnya melepaskan rambut palsunya, dan dan akhirnya dia memperlihatkan rambut hitam miliknya yang asli.
__ADS_1
Dia adalah Dini, orang yang berhasil mencoba untuk membalaskan dendamnya kepada Ashera.
'Nanti giliran kau Arvin, sekarang Ashera dulu yang kena, baru Arvin yang akan jadi target berikutnya.' kata Dini dalam hatinya. Dia sungguh, merasakan senang karena bisa mendengar dua orang yang saling bercinta itu benar-benar bergairah.
-"Ahh..ahh.., berhenti aku lelah!"-
-"Memangnya aku peduli?"-
Dua suara yang saling berbicara itu, sukses memicu Dini yang sedang menonton itu untuk berulah sendirian di dalam kamar.
'Kenapa aku jadi ingin mencobanya ya?' benak hatinya Dini, merasa cukup menggugah seleranya, sampai dia sendiri spontan menggesek-gesekkan kedua kakinya, yang menimbulkan sentuhan di bawah sana.
-"Ahhh!"-
Sampai mendengar suara erangan yang begitu bergairah, Dini jadi agak kecewa sendiri.
"Aku pikir ini bisa membuatku sepenuhnya jadi senang, tapi kelihatannya aku jadi merasa cukup iri sendiri." gumam Dini, menatap video siaran langsung itu dengan sangat intens. "Hoammh, kenapa aku jadi mengantuk ya? Sudah ah, aku istirahat saja dulu. Lagi pula rekamannya otomatis langsung tersimpan di galeriku." papar Dini.
Merasa cukup lelah, karena pintunya sudah dia kunci dari awal dia masuk, Dini pun tidak begitu mengkhawatirkan siapapun, dan menganggap kalau dia sekarang seorang diri di dalam kamar.
BRUK....
"Hahh, sebentar lagi harimu akan hancur! Hehehe." tutur Dini, mengutuk Ashera.
__ADS_1
Begitu Dini perlahan mulai terlelap tidur, seseorang yang berdiri di balik tirai, tiba-tiba saja langsung keluar, dan spontan menatap perempuan yang ada di atas tempat tidur sana.