Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
56 : Pikirkanlah


__ADS_3

Dan seketika Arvin terdiam. Dia tidak bisa menyangkalnya, karena baginya, Marlina salah satunya, adalah orang miliknya.


"Kau harus tahu, aku melakukan ini juga karena aku tidak ingin kau adu mulut dengan nenekmu. Ayo pergi, sebelum mereka melihatmu di sini tapi tidak bawa-bawa aku." Papar Ashera.


Ashera, begitu dia melihat ekspresi wajah Arvin yang diam melamun, Ashera tiba-tiba menarik dasinya Arvin, sehingga Arvin otomatis jadi langsung membungkuk.


"Lalu, walaupun aku terdengar tidak peduli kalau kau ternyata punya pacar padahal kau sudah menikahiku, tapi aku sebenarnya cukup peduli denganmu.


Daripada kau bermain dengan orang-orang seperti mereka, bukannya lebih baik kau harus urus hidupmu untuk kedepannya?" Imbuh Ashera dengan nada berbisik.


"Ashera dengar, aku ini tidak sepertimu. Aku ini termasuk orang yang pintar, jadi khawatirkan dirimu saja yang selalu dapat nilai merah di setiap ulangan.


Juga, jika kau terus mengatasnamakan pekerjaanmu adalah untuk mendisiplinkanku, sebagai Istri juga, bukankah kau seharusnya punya peranmu sendiri dari posisimu itu?


Jangan terlalu bebas hanya karena aku menganggapmu pelayan juga, ingat, kau ini istriku juga. Kau paham posisimu yang juga sama-sama penting kan?" Balas Arvin dengan panjang lebar. "Aku pintar, aku bisa melakukan apun yang aku suka karena aku bisa menguasainya dengan mudah, tapi beda denganmu.


Walaupun kau punya otot untuk menundukkanku seperti kemarin, tapi coba pikirkan soal otakmu yang pasti dangkal itu, kira-kira pantas tidak ada disisiku?"


"Baiklah, aku pikir apa yang kau katakan memang benar. Tapi itu urusanku sendiri, jadi mau kau menghasutku agar aku merasa minder, itu salah besar. Karena aku juga pasti bisa sepertimu." Balas Ashera, lantas dia pun melepaskan cengkraman dari dasi seragamnya Arvin. "Jadi Arvin, apa kau benar-benar masih mau melanjutkan pacaran dengan perempuan itu?" Tanya Ashera saat itu juga.


"Iya, lagi pula sudah terlanjur. Apa kau mau mencegahnya juga?"


'Dia tampan, ya, pantas saja banyak yang menyukainya.' Sesaat Ashera jujur kalau wajah dari Arvin ini cukup tampan, sampai banyak dari para perempuan yang tidak sengaja melewati mereka berdua, mereka menyempatkan diri mereka untuk menatapnya. 'Tapi- walaupun wajahnya cukup beracun, hanya saja dia tetap saja anak yang harus di didik dengan benar.


Hah, tapi yang aku herankan itu, kenapa bisa orang seperti dia malah jadi ketua seksi keamanan? Padahal tingkahnya ini sudah cukup bar-bar.' pikir Ahsera panjang lebar dia kembali menatap pria di depannya itu.


Betapa arogannya ketika laki-laki ini bicara soal kepintaran.


Ashera memang kalah pintar dengan anak itu, tapi apa pedulinya Ashera?


Yang Ashera harapkan saat ini adalah bisa hidup baik-baik.


"Ayo pergi, temani pelayan sekaligus istrimu ini pergi belanja." ucap Ashera, berjalan memimpin Arvin yang terlihat masih berdiri dan terus menatapnya saja.

__ADS_1


'Enak sekali dia main suruh-suruh.' pikir Arvin, dengan langkah malas, dia pun berjalan mengekori Ashera dari belakang.


___________


"Sial! Sebenarnya perempuan tadi itu siapa? Berani sekali dia mempermalukanku di muka umum. " Gumam Marlina, dia masih saja belum bisa melupakan kejadian dimana dirinya malah dipersalahkan dalam berbagai sudut dari banyak orang yang mendengarnya.


"Aku kira kau benar-benar sudah tahu siapa dia." Ucap salah satu temannya Marlina.


"Tidak, aku saja baru bertemu dengannya. Tapi jika di lihat dari situasinya tadi, dia sepertinya memang kenal dengan Arvin, tapi- kenapa dia bahkan tidak memberitahuku?" Beber Marlina. Dia jadi kesal sendiri dan ingin menendang sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melepaskan amarah yang tidak bisa ia keluarkan secara langsung itu.


"Hahh~ Benar-benar ya, perempuan tadi cukup sombong." ucap salah satu teman Marlina ini.


"Kau benar, padahal di lihat dari wajah dan penampilannya itu, dia tentu saja begitu polos, tapi siapa yang akan berpikir, dia yang sendirian saja, malah membuat kita semua di usir dari mall ini." Jelas pacar dari salah satu temannya Marlina.


"Seharusnya kau tadi menamparnya saja, lagi pula Arvin kelihatannya tidak akan menyalahkan tindakanmu itu."


"Kau benar. Marlina, jika kau bertemu lagi dengannya, lebih baik kau labrak saat itu juga. Kau dengar tadi kan? Dia bahkan memanggil pacarmu Arvin, berarti ada hubungan diantara mereka berdua loh."


Padahal aku dulu yang mengajaknya ke mall duluan, tapi bisa-bisanya perempuan itu malah mengusirku dan Arvin, dia malah masih ada di sana. Aku harus telepon dia.' begitu Marlina sadar kalau Arvin masih berada di dalam mall, Marlina segera menelponnya.


"Haduh, padahal kita mau menghabiskan waktu ke mall untuk shopping. Tapi kenapa kita semua berakhir disini?"


"Iya nih, cuaca lagi panas juga. Dan para satpam, masih menatap kita."


Mereka berempat, kecuali Marlina melirik ke arah empat orang penjaga pintu yang beberapa saat tadi berhasil mengusir mereka semua dari sana.


Sebuah kasus yang berhasil mempermalukan mereka semua.


"Marlina, daripada kita disini terus dilihat banyak orang, mending kita ke cafe."


'Arvin, untuk pertama kalinya dia bahkan tidak menjawab teleponku.' Karena Marlina sendiri sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari Arvin, karena tidak mengangkat teleponnya, dengan begitu enggan, Marlina pun mengangguk.


"Lagian karena aku dulu yang mengajak kalian kesini tapi rencananya jadi kacau seperti ini, aku yang akan traktir kalian." ucap pacar salah satu dari sahabat Marlina itu.

__ADS_1


______________


Kembali kedalam mall.


"Apa kau gila? Kenapa kau malah membawaku pergi ke tempat ini?" Tanya Arvin, begitu terkejut dirinya malah memegang troli belanja.


"Kenapa kau protes? Kau juga butuh makan ya kan?" Tanya balik Ashera. Dia berjalan di sebelah Arvin.


"Tapi ini kan tugasmu, kenapa aku harus ikut?" ketus Arvin, dia tidak suka kalau ia harus ikut belanja. "Kenapa tidak menyuruh Daseon saja untuk belanja, atau seharusnya itu kau! Bukan aku. Ini menjijikan, pasti banyak kuman." Arvin segera melepaskan tangannya dari pegangan troli itu sendiri.


Melihat Arvin begitu tidak suka memegang pegangan troli, Ashera tiba-tiba saja mengeluarkan saputangan medis juga sanitizer. "Padahal rumah saja aku yang membereskan, kan juga hidupnya cukup jorok, tapi jika kau bahkan punya alasan untuk mengelak ikut aku belanja karena kuman, ya tinggal pakai ini kan?"


Tanpa izin apapun, Ashera pun memegang kedua tangan Arvin, menyemprotkan pembersih tangan, lalu segera memasangkan sarung tangan kepada Arvin itu sendiri.


"Bagaiman kau pergi dengan membawa ini segala?" Arvin terpegun begitu melihat kedua tangannya sudah menggunakan sarung tangan.


Ashera berbalik dan memasangkan sarung tangannya ke tangannya sendiri dan menjawab : "Aku ini sebenarnya lebih darimu. Aku lebih tidak suka kotor ketimbangmu, jadi aku memang selalu membawa sanitizer ini."


'Di jelas-jelas memang sangat berbeda.' Pikir Arvin.


"Siapa dia? Artis ya? Tampannya."


"Tapi yah, dia sudah punya kekasih tuh."


"Padahal aku tadinya ingin kenalan, tapi kelihatannya kita tidak diperbolehkan oleh kekasihnya."


Para perempuan yang tidak sengaja berpapasan itu, hanya bisa diam dan tidak menyapa Arvin, yang padahal jika Arvin di sapa Arvin jelas akan menatapnya untuk sesaat.


Tapi, semua perhatiannya lagi-lagi kembali tertuju pada Ashera yang terlihat sedang memusuhi mereka, agar tidak ada satu pun diantara mereka yang berani mendekati Arvin sendiri.


"Kau mengundang dosa."


"Kenapa kau mengatakan itu lagi? Yang dosa bukan aku, tapi kalian sendiri kenapa terpesona denganku." Cetus Arvin, dia tidak mau lagi beradu mulut dengan Ashera yang benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat itu. "Cepat, aku tidak punya waktu lagi." imbuh Arvin, lantas dia pun pergi lebih dulu dari Ashera yang terus saja memberikan semua orang tatapan sengit, karena mereka berani menatap wajah Arvin.

__ADS_1


__ADS_2