Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
148 : Berdua di perahu


__ADS_3

TING...


Suara dari notifikasi handphone nya Ashera, membuat Ashera yang pelan-pelan bisa makan dengan baik, walaupun dia harus menahan eneg untuk beberapa waktu, demi menghindari apa yang sudah dia telan malah keluar lagi, membuat Ashera melirik ke arah handphone nya.


//Aku sedang pergi keluar untuk beli kebutuhan di rumah, apa kau mau titip atau apa?//


Satu pesan singkat dari Arvin berhasil membuat Ashera senang bukan main, karena Arvin mau membalas pesan teks nya yang dia kirim sepuluh menit waktu yang lalu.


'Mungkin karena dia sibuk sedang ada di supermarket pilih-pilih barang, dia tidak mungkin sempat memegang handphone. Yang penting dia mau balas pesanku saja aku sudah bersyukur.' senyuman Ashera tidak pernah padam, karena di balik dia senang karena Arvin mau membalas pesannya, dia pun jadi teringat dengan apa yang terjadi malam tadi, dimana Arvin benar-benar keren, bisa tampil di konser yang cukup meriah itu.


Semua bayangan dari memori yang terus tersimpan dengan baik di dalam kepalanya itu pun sukses besar membuat Ashera tidak bisa berhenti tersenyum sendiri.


//Aku mau dibelikan sosis juga, nugget, ayam goreng dan sarung tangan saja. Nanti uangnya aku ganti, jadi titip belikan itu saja.//


Selesai memesan makanan dan sattu barang kepada Arvin, Ashera pun kembali mencoba untuk menyantap makanan yang di masak oleh Daseon dengan pelan-pelan.


"H-huekk~" meskipun harus memuntahkan lagi, dan lagi, agar makanan yang di masak oleh Daseon tidak sia-sia, Ashera pun terus memaksa mulutnya untuk makan dan makan, agar perutnya bisa di isi dengan makanan. "Huekk~" Ashera mengeluarkan makannya lagi ke dalam tong sampah yang sudah dia berikan kantong plastik, agar bisa di tampung saat itu juga.


Walaupun melihatnya saja jadi ikutan merasa jijik sendiri, padahal muntahannya sendiri, Ashera pun tidak bisa berhenti untuk makan.


"Jangan-jangan maagku kambuh? Semalam kan, aku menolak makan, karena sudah keburu lelah ingin tidur, mungkin karena itulah aku jadi terus mual seperti ini." gumam Ashera, menimbang-nimbang apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.


__________


Di tempat sebenarnya.


"Arvin, setelah ini kau mau pergi kemana?" Vani kini berada di perahu dayung bersama dengan Arvin.


Sebagai tempat yang cukup romantis, bisa berada di tempat itu kembali setelah sekian lama, Vani dan Arvin pun jadi merasa seperti kembali di masa-masa mereka berdua sekolah SMP dulu.

__ADS_1


Karena pernah ada study tour ke Korea, untuk beberapa alasan, mereka pergi ke tempat tersebut sebagai awal mereka berdua menjalin kasih dengan berpacaran.


Tapi itu dulu, karena sekarang posisi mereka berdua adalah mantan pacar saja, tidak kurang dan tidak lebih.


"Aku akan pergi ke supermarket. Kenapa? Mau ikut?" Arvin memang bicara dengan menimpali sebuah pertanyaan juga kepada Vani.


Tapi mendengar nada dan cara Arvin menatap ke arahnya itu seperti seseorang yang sedang mengancam, Vani pun terkekeh, karena tingkah Arvin yang begitu waspada sekali kepadanya. "Tidak, aku punya urusanku juga, tidak perlu khawatir aku ikut denganmu, aku kan punya banyak pelayan yang bisa membeli kebutuhan rumahku." jawab Vani.


Sepanjang danau yang di telusuri, mereka benar-benar melihat banyak pengunjung yang rata-rata ditemani sang kekasih.


Apakah itu akan berlaku bagi mereka berdua seandainya tidak pernah putus?


Vani tahu untuk tidak berharap lebih pada stau hal yang posisinya sudah terus menjauh dari jangkauannya, karena mau bagaimanapun, Arvin sudah punya kehidupannya sendiri yang lebih baik ketimbang SMP dulu.


"Tuan dan Nona, anda berdua ternyata populer ya? Apa kalian artis atau model?" tanya seorang wanita paruh baya yang sedang bekerja untuk mendayung untuk mereka berdua.


"Apa kalian berdua tidak sadar, kalau banyak dari mereka yang sedang memotret kalian?" wanita ini pun tersenyum cerah sambil mengangkat tangan kanannya dan menunjuk pada area sebelah kanan mereka yang memperlihatkan banyak anak muda yang kegirangan sedang memotret Arvin juga Vani di saat itu juga.


"Hei kakk! Lihat ke sini!" teriak salah seorang perempuan yang membawa kamera di tangannya.


"Kakak! Senyum! Ayo senyum kesini!" teriak perempuan yang lainnya lagi.


"Yang Nona di situ, coba menoleh kesini!"


Satu per satu dari mereka pun meminta mereka berdua untuk mengabulkan keinginan mereka semua.


"Kan, ini sudah pasti terjadi, untung saja aku pakai masker," cetus Arvin, sambil merapikan rambut miliknya dengan gaya ada belahan rambutnya di tengai-tengah, tapi poninya itu sedikit mengembang.


Hanya saja, sebagai pria yang bahkan punya pesona walaupun sedang jongkok sambil membersihkan hidung saja, tetap saja kelihatan ketampanannya.

__ADS_1


"Kakak tampan! Lihat kesini dong! Buka maskernya sekalian!" akhirnya ada salah satu diantara penonton yang ingin agar Arvin melepaskan maskernya.


"Enak saja, kalian yang mengambil foto kami saja sudah jadi tindakan ilegal, kalian mau di penjara karena mengambil gambar orang seenaknya? Dan sekarang mau aku lepas masker?" protes Arvin dengan suara yang sedikit keras.


"Huuu, sombong,"


"Dasar, orang seperti dia itu memang sombong,"


Beberapa diantaranya langsung menyerukan suara tidak suka dengan sikap Arvin.


"Sudah-sudah, dari pada marah-marah lebih baik diam saja," Vani mencoba menenangkan.


Namun, diantara banyaknya orang yang menjadi pengunjung dari danau tersebut, ada salah satu orang yang diam-diam mengikuti mereka berdua.


"Hohh, ternyata dia punya kekasih secantik itu y?" perempuan adik dari Doni ini pun tersenyum-senyum sendiri di balik masker yang dia gunakan.


Sambil mengambil beberapa gambar, dia pun terus mengutuk seseorang yang paling dia tidak suka, yaitu Ashera dan Arvin tentunya.


'Arvin, lihat saja apa yang akan terjadi kali ini. Lalu Ashera, kira-kira dia harus di apakan ya? Berkat mereka berdua, aku jadi kena skors sampai dua bulan. Huh, gara-gara yang aku ambil itu undangan palsu, aku jadinya di permalukan di pestanya Fajar. Dan Fajar pula, dia juga waktu itu benar-benar terlihat menatap Ashera dengan tatapan apa itu? Ah! Menyebalkan, aku tidak mau tinggal diam seperti ini.'


Dini yang sudah selesai merekam serta mengambil beberapa gambar dari dua orang yang sedang duduk bersama di atas perahu itu, dia pun segera pergi dari sana.


"...." tetapi Arvin, dia yang sempat merasa ada yang begitu janggal dengan insting yang ia miliki, sempat menoleh ke belakang.


Ada satu orang memakai jaket berwarna merah terlihat sedang berjalan dengan tergesa-gesa, entah itu siap, dia ada merasakan sesuatu yang tidak berkenan di hatinya.


"Ada apa?" tanya Vani penasaran dengan cara Arvin menatap itu seperti orang yang sedang menatap curiga seseorang.


"Tidak ada," ketus Arvin, tidak ingin apa yang ia lihat ia katakan kepada Vani, karena baginya, itu tidak ada gunanya.

__ADS_1


__ADS_2