Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
126 : Ashera Marah


__ADS_3

BRAKK.....


Dengan cukup kasar, Ashera langsung masuk kedalam rumah sampai pintu yang tidak salah apapun itu pun di banting dengan keras, sampai Arvin yang berada di belakang Ashera persis tadi, hampir saja wajahnya jadi kena hantaman pintu yang langsung di tutup tanpa menunggu diri Arvin masuk lebih dulu kedalam rumah.


"Jika saja mulutmu tidak jadi ember pecah, tidak mungkin uang itu di tahan! Kau benar-benar bodoh, harusnya kau tidak usah bilang kalau itu mobilmu. Sudah aku bela-belain agar bisa membantumu, tapi kau juga yang menghancurkan rencanamu sendiri. Sampai melibatkanku seperti ini, kau benar-benar tidak bisa diharapkan!" marah Ashera, dia sangat tidak suka jika waktunya pada akhirnya harus terbuang dengan sia-sia dengan hal yang pada akhirnya sama sekali tidak berguna.


Tiga jam berlalu, dan dia baru saja membuangnya dengan cukup percuma.


Padahal kemenangan sudah jelas menjadi miliknya, tapi apa yang terjadi?


Kemenangan itu terasa sudah di tiup angin kebodohan milik Arvin sendiri.


Ya, jika bukan karena mulut dari suaminya itu bicara seenak jidat mentang-mentang bisa menang, padahal usahanya itu bukan dari Arvin sendiri, melainkan Ashera, hasilnya pun adalah seperti ini, mereka berdua jadi harus menanggung rasa malu yang benar-benar sangat besar.


"Ta-"


"Jangan bicara kepadaku! Aku ingin sendirian!" pekik Ashera, dia yang tidak bisa menahan emosinya, jadi memarahi Arvin yang mau bicara kepadanya. 'Padahal aku benar-benar ingin merasakan kemenanganku sendiri, tapi sekarang? Hasilnya zonk, dasar Ashera, kenapa kau harus percaya dengan omongan dari Arvin?!' geram Ashera dalam hati.


Dia yang cukup lelah karena harus mengeluarkan sebagian besar tenaganya untuk mendapatkan hasil yang justru menjadi sia-sia, langsung berjalan menuju kamar mandi dan lagi-lagi tangannya yang tidak sabaran itu, menutup pintu kamar mandi tersebut dengan kasar.


BRAKK.....


Di dalam kamar mandi pun, Ashera masih tidak bisa mengontrol raut wajahnya yang begitu seram. Dan tiba-tiba jadi muak dengan apa yang dia lihat, Ashera segera mengguyur tubuhnya itu dengan air shower.


SRASSHH....


'Arvin ini, lebih baik kedepannya aku tidak akan menerima apapun permintaan dia. Yang paling utama di sini adalah dia harus berhenti dari dunia yang berhubungan dengan balapan.


Ini cukup berbahaya, karena jika saja mulutnya itu tidak memprovokasi orang lain, hasilnya pasti tidak akan kacau balau seperti ini, sampai banyak orang yang ingin menyingkirkan kami.' pikir Ashera.

__ADS_1


Dengan riasannya yang akhirnya semakin luntur, dan pakaiannya yang sudah basah itu langsung dia tanggalkan dari tubuhnya, Ashera pun akhirnya melanjutkan aktivitasnya untuk membersihkan diri.


Ya, setidaknya dia berharap kalau pikirannya bisa lurus lagi dan tidak terbawa emosi terus menerus, karena yang rugi adalah dirinya sendiri, sebab emosi berupa marah-marah saja membuat tenaganya terkuras.


____________


Sedangkan di luar pintu.


'Aku ceroboh! Ini kecerobohanku paling fatal! Bagaimana bisa aku keceplosan mengatakan mobil itu milikku? Padahal hanya tinggal membawa uangnya pulang bersamaku. Tapi gara-gara aku terbawa emosi karena cemburu, sekarang yang aku justru membawa pulang Ashera yang marah-marah.' Arvin yang frustasi dengan nasibnya itu, langsung mendesah kasar sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


Arvin sekarang masih berada di ruang tamu. Sambil menunggu Ashera keluar, dia menyempatkan dirinya untuk minum air dingin.


Setelah selesai minum, dan terdengar kalau suara dari air shower itu akhirnya berhenti, Arvin pun mulai menunggu Ashera keluar.


KLEK....


"Kenapa kau masih ada di sini? Lakukan saja semaumu dulu sana, aku sedang marah padamu, tidak dapat uang, dapat lelah, dapat sakit ini dan itu, biarkan aku sendirian!" bebel Ashera.


Pada akhirnya pikirannya itu jadi kacau balau lagi berkat Arvin yang sedang di anggap sebagai malapetaka itu.


"Tunggu sebentar. Walaupun ini kesalahanku, aku akan tetap memegang janjiku padamu," sela Arvin, dia yang hendak menyentuh bahunya Ashera, seketika Ashera tepis dengan kasar tangan tersebut, sampai rasa sakit khas dari tepukan yang cukup keras, membuat Arvin sadar kalau Ashera kali ini benar-benar ngambek.


"Terserah, mau janjimu itu di tepati atau tidak, aku tidak ingin memikirkannya dulu. Gara-gara kau waktu berhargaku jadi terbuang sia-sia, aku bahkan tidak dapat sepeserpun uang.


Walaupun aku tidak mengharapkanmu memberikanku uang, tapi setidaknya lakukan pekerjaan yang bermanfaat sedikit, jangan seperti ini. Untungnya aku yang menyetir, kau tidak kena tabrak oleh mereka yang membencimu, gara-gara mulutmu yang beracun itu, bagaimana jika aku tidak ada?


Kau pasti akan menyetir dipenuhi dengan emosi, mengingat kau itu emosian.


Akan jadi apa itu? Bisa-bisa kaulah yang kehilangan nyawa. Tidak ada pekerjaan yang tidak ada resikonya, tapi lebih baik cari uang yang lebih berfaedah, Nenekmu itu mengharapkan agar kau bisa cepat sadar dengan posisimu, ingat itu." jelas Ashera dengan panjang lebar, tanpa menoleh ke belakang, dia pun masuk kedalam kamar yang ada di lantai tersebut.

__ADS_1


Satu-satunya kamar yang menjadi saksi bisu dari awal hubungan mereka berdua.


BRAKK....


Arvin terdiam, dia tidak bisa berkata apapun, karena apa yang di katakan oleh Ashera saat ini memang ada benarnya.


Posisinya, saat ini identitas sebenarnya dirinya itu harus mulai mempelajari semua pengetahuan tentang dunia usaha. Karena Ravarden sendiri memang pendiri dari perusahaan baik itu di bidang infrastruktur, otomotif, maupun makanan.


DRRTT....


DRRTT....


"Arin," karena Arin tiba-tiba menghubunginya, Arvin pun mengangkat teleponnya.


Entah apa alasan dari Arin tiba-tiba saja menghubunginya, Arvin pun tetap mendengarkan.


-"Arvin, mana janjimu itu? Apa kau mau ingkar janji lagi? Kami berdua sudah menunggumu, jadi cepat datang kesini, agar masalah dari satu orang tua ini bisa cepat selesai."- bebel Arin di ujung telepon, dan dengan cepat, tanpa adanya tambahan apapun, Arin langsung mematikan telepon.


TUT...


"Sialan juga ya, bahkan aku sampai lupa tujuanku yang lain. Padahal sore tadi aku sudah menjawab kalau aku akan pergi ke sana, tapi aku malah ikutan balapan," seperti yang di janjikan di sore hari tadi saat dirinya pulang sekolah, Arvin pun dengan berat hati terpaksa pergi keluar, karena Ashera sendiri lagi ngambek.


KLEK...


Arvin pun memutuskan pergi, meninggalkan Istrinya, untuk membereskan satu masalah lainnya.


Ashera yang sekarang masih berada di dalam kamarnya, terus terdiam dan menggerutu di dalam hatinya.


'Kalau saja aku tidak ikut dalam permainannya, aku pasti tidak akan merasa sekecewa ini kepadanya.' Ashera yang merasa lelah itu, perlahan kelopak matanya pun tertutup sampai akhirnya dia tertidur, di atas kasur yang menjadi saksi bisu dirinya dengan Arvin.

__ADS_1


__ADS_2