Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
120 : Provokasi


__ADS_3

"Kau dengar itu? Lepaskan," ketus Arvin sambil menepis kasar tangan dari lawannya itu dari kerah bajunya.


Begitu sudah di lepas, Arvin langsung menepuk-nepuk area dari kerah bajunya tersebut, seolah ada banyak kotoran yang menempel di pakaiannya.


"Aku pasti akan mengalahkanmu," ucapnya.


"Iya-iya, aku sudah dengar beberapa kali, apa kau tidak bosan bicara berulang kali denganku?" sela Arvin saat itu juga dengan nada malas.


"Tch," dengan raut wajahnya yang kesal, pria ini langsung menendang salah satu kakinya Arvin tepat di bagian tulang kering.


Tapi, sebagai catatan, Arvin justru tidak bisa mendapatkan tendangan itu dari lawannya tersebut, selain lebih dulu mundur lebih dulu kebelakang.


Alhasil remaja itu hampir terjungkal, karena objek yang akan dia tendang itu sudah lebih dulu mundur.


"Pfft, sok-sokan mau melawanku, padahal nyali saja pasti hanya seujung jari ini saja," kata Arvin sekali lagi, kembali memprovokasi remaja tersebut dengan cara yang cukup terang-terangan.


Dengan wajah kesal, remaja ini pun langsung pergi dan masuk kedalam mobil sportnya, sedangkan Julio yang datang sebagai penengah diantara mereka berdua tadi, menatap Arvin dan Ashera secara bergantian sebelum dia memutuskan untuk pergi dari sana di ikuti oleh para fans nya.


'Pftt, walaupun dia menyamar sekalipun, aku masih sadar kalau itu kau, Ashera. Ada-ada saja perempuan itu. Tapi kenapa pakai menyamar segala.' pikir Julio, berjalan pergi dari sana seraya memasukkan kedua tangannya kedalam saku dari jaketnya.


"Kau bukannya Arvin dari sekolah itu kan?" sampai salah satu penggemar Arvin yang sering pergi ke bar, saat Arvin masih bersama dengan Marlina itu datang menghampiri Arvin.


"Apa aku kenal denganmu?" tanya Arvin dengan wajah juteknya.


"Aku penggemarmu, bisa minta fotomu?" ucapnya. Sebenarnya dirinya sudah cukup lama memperhatikan Arvin, meskipun dari kejauhan saja, tapi malam ini, bisa bertemu dengannya secara langsung, membuatnya tidak ingin meninggalkan kesempatannya untuk meminta foto kepadanya.


"Fotoku itu mahal, memangnya apa yang bisa kau berikan kepadaku? Tidak ada yang gratis di dunia ini, mengerti?" sahut Arvin.


"...! T-tapi bahkan bukannya saat kau ada di bar, kau bahkan memberikan fotomu kepada semua orang yang ingin foto denganmu tanpa imbalan?" ucapnya, membuat Arvin seketika mengernyitkan matanya, karena dia akhirnya jadi harus mencoba untuk mengingat perempuan tersebut.


"Terserahku dong. Beda tempat beda syarat," sahut Arvin, memutuskan untuk tidak perlu memikirkannya terlalu panjang.


Meskipun sebenarnya di belakang Arvin persis, sudah ada satu orang yang sedang menatapnya dengan tatapan yang cukup tajam.


"Pasti banyak ya, fotomu yang beredar di medsos dengan perempuan lain?" tanya Ashera, tiba-tiba nongol di balik punggungnya Arvin.


Arvin sontak menoleh ke samping kanannya dan melihat Ashera yang terlihat sudah mulai dalam mode siaga lagi.


"Berarti jika kita bertemu di bar, apa aku boleh minta fotomu?" tanyanya, tanpa tahu malu sama sekali, sebab di tatap banyak orang.


"Entahlah, aku itu sibuk, intinya aku tidak bisa foto denganmu. Jika kau tahu posisiku, harusnya sebagai perempuan, kau harus mengerti," jelas Arvin. Gara-gara Ashera, dia pun jadi menolaknya dengan berbagai alasan yang tidak bisa dia katakan dengan gamblang.


TIINNN....!


Hingga suara klakson yang sedikit panjang, langsung mengisi suasana di sana, dan berhasil menarik perhatian dari semua orang di sana untuk segera bersiap pada pertandingan utamanya.

__ADS_1


"Ya sudah deh," dengan raut wajahnya yang cukup sedih, perempuan ini pun murung dan berjalan pergi.


Karena sudah ada satu contoh orang yang di tolak untuk di mintai foto, hal itu pun berefek pada semua perempuan yang tadinya sudah mau mengantri ingin foto bersama dengan Arvin, jadi segera mengurungkan niatnya.


Meskipun mereka tidak bisa mendapatkan foto berdua, setidaknya mereka mendapatkan foto Arvin dan Ashera secara diam-diam untuk menjadi koleksi milik mereka.


"Sudah mau mulai, cepat masuk kedalam mobil lagi," perintah Arvin terhadap Ashera, berjalan mendahului Ashera dan segera masuk kedalam mobilnya lagi.


"Kau mau ikut masuk juga?" tanya Ashera, ketika dia melihat Arvin sudah duduk manis seperti pangeran, di dalam mobilnya sendiri.


"Iya lah, uangku, mobilku, yang daftar juga aku, jelas aku ikut. Apa kau punya masalah denganku?" tanya Arvin dengan nadanya yang cukup tegas, seperti orang yang sedang tidak mau di ajak bicara lebih dari itu lagi.


'Sebenarnya kenapa ini terbalik ya? Seharusnya kan yang menyetir itu dia. Hanya saja, bagaimana dia bisa tahu kalau aku bisa menyetir mobil? Tapi kenapa juga aku pula yang harus ikut balapan, jika dia sendiri punya mobil, sudah jelas kalau dia bisa mengendarai mobilnya, ya kan?' gerutu Ashera dalam hati.


Dia masih tidak bisa mengerti jalan kerja dari otaknya Arvin. Dalam artian, Ashera tidak tahu apa alasan sebenarnya di balik rencananya kali ini.


______________


Sebagai tempat paling cocok, dan bisa di anggap paling adil dalam dunia balapan, pihak penyelenggara benar-benar menggunakan arena balap resmi sebagai tempat pertandingan untuk mereka yang menginginkan sebuah kemenangan.


Entah dalam pertandingan nanti akan ada kecurangan atau tidak, itu urusan dari siapa yang bisa mendapatkan urutan pertama.


Dan taruhan dengan nominal uang yang cukup banyak, menjadi momentum mereka agar bisa mendapatkan kemenangan itu.


BRRMM...BRRMM.......


"Woi! Kau yakin mau ikut balapan dengan mobil murahan seperti itu?!" tanya salah satu peserta, pemilik dari mobil berwarna kuning yang cukup mencolok, pria ini terus memacu pedal gas mobil, untuk memanas manasi peserta lain, kalau mobilnya punya suar knalpot yang bagus.


"Hanya modal tampang doang, kalian berdua lebih baik minggir deh, dari pada malu-maluin diri sendiri," ucap peserta yang berada di posisi sebelah kirinya Ashera.


Mobil sport berwarna hitam yang cukup menawan layaknya bulu dari seekor bulu gagak itu juga sama-sama mulai mengendalikan suasana garis start dengan suara knalpot mobilnya itu.


Meskipun dikatai dari samping kanan dan kirinya, sepasang suami Istri ini pun hanya diam dan artian tidak merespon mereka, dan lebih memilih untuk menikmati suasana mereka sendiri.


"Aku hanya bertanya, apa yang terjadi jika aku kalah?" tanya Ashera, kembali menyalakan mesin mobilnya dengan menekan tombol start yang ada di samping kemudinya.


"Aku akan menjualmu," ketus Arvin, lalu dia pun merogoh saku dari hoodie nya, dan mengeluarkan satu permen lolipop rasa apel. Begitu sudah di buka, dia langsung melahap permen itu dan mengemutnya.


"Woi! Kau tuli ya?! Lebih baik kau mundur! Mobil kalian itu tidak layak ada di jalan ini!" pekik laki-laki yang berada di sebelah kanannya Arvin.


"Masa aku di jual, harga dari orang yang sudah di nodai juga tidak mahal," sindir Ashera sambil merebut permen lolipop yang baru saja masuk kedalam mulutnya Arvin, kemudian setelah berhasil merebutnya, Ashera dengan jahilnya, mengemut permen bekasnya Arvin tanpa ada masalah apapun.


Melihat kelakuan dari Ashera yang tetap saja menggodanya, sekalipun di situasi yang bahkan bukan tempat yang pas, Arvin pun melirik ke samping kirinya.


Benar, bahkan saat Arvin melihatnya dari samping, Ashera yang sedang menyamar menjadi seorang laki-laki ini benar-benar seperti sungguhan.

__ADS_1


'Bagaimana dia bisa memerankan perannya sebagus ini? Jangan-jangan dia memang sudah di latih bahkan untuk berakting? Luna, apa saja yang sudah kau ajarkan padanya?' kernyit Arvin. Dia bisa tahu Ashera bisa mengendarai mobil adalah karena Luna yang memberitahunya.


Dan alasan paling utama dari sisi kedua dari Ashera ini, adalah sisi yang cukup berani.


Jadi, Arvin yang cukup penasaran, ingin tahu sampai sebatas mana dari sisi Ashera yang satu ini bisa berbuat hal tak terduga lainnya?


Memasak, membersihkan rumah, bisa bela diri, sekalipun tidak pasti dengan otaknya jika sudah berkaitan dengan pelajaran, tapi Ashera justru ahli dalam bidang lain.


KLANG....


Sampai akhirnya, lamunan Arvin seketika dia tarik semua setelah ada yang berani melemparnya botol kaleng ke kepalanya.


"Ngeselin juga ya, kalian berdua itu benar-benar merusak pemandangan. Pergi saja sana," usir anak laki-laki yang memang posisinya berbaris di posisi sebelah kanannya Arvin persis.


"Kalau begitu, kau hanya tinggal menutup mata," sela Ashera saat itu juga. Matanya melirik tajam ke arah orang di seberang sana, mengambil kaleng yang sempat mendarat di pangkuannya Arvin, Ashera pun langsung membalasnya dengan melempar kaleng tersebut ke arahnya langsung.


KLANG...


"Tuh, aku kembalikan, jangan buang sampai sembarangan. Yang buang sembarangan itulah orang yang merusak pemandangan kehidupan orang lain," celoteh Ashera.


"..." sedangkan Arvin yang terdiam di tempatnya itu, terus menatap kepala Ashera yang begitu dekat dengan wajahnya, gara-gara posisinya yang sedang merangkak di depannya persis.


Dibanding meladeni orang yang membuat masalah dengannya, dengan jahilnya Arvin tiba-tiba saja menyeringai dan mengangkat tangannya untuk menyentuh dadanya Ashera.


"...!" Ashera seketika membulatkan matanya dengan lebar, dan mendelik tajam ke arah Arvin. "Apa yang barusan kau lakukan tadi? Apa kau sengaja?" tanyanya, dia bahkan sampai tidak bergerak sedikitpun dari hadapannya Arvin.


"Bahkan karena kau membalutnya, aku tidak begitu menyentuhnya kan? Heh, ini bahkan lebih rata dari papan kayu," ledek Arvin, entah kenapa jadi merasa terhibur sendiri karena perempuan ini.


"Kalau mengganggu, tidak usah menyentuhnya juga, kali," sahut Ashera, tidak suka dengan ledekan nya Arvin.


'Aku lagi-lagi tidak di hiraukan, orang ini, aku akan membuat kalian keluar dari arena ini dengan cukup mengejutkan. Hah, awas saja ya, sudah mempermalukanku,' kata laki-laki ini, orang yang dari tadi terus berteriak, menggeber gas mobilnya dan berlomba dengan mobil yang lainnya.


Di satu sisi lagi, Arliana yang berada di depan persis, dia sudah menggerutu dalam dirinya sendiri. 'Dia, rasanya aku cukup familiar, tapi apa benar dia laki-laki? Hah, yang benar saja, dia menghinaku seperti itu di depan orang lain, betapa memalukannya ini, aku harus buat dia kalah.' pikir Arliana.


Dengan mobilnya yang berwarna pink penuh dengan warna, dan suara mesin dari knalpot yang cukup bagus, sehingga sama-sama mencolok dan tidak mau kalah dengan mobil yang lain, dia pun juga menekan pedal gas agar memberikan sensasi menegangkan.


TAP...TAP....TAP...


Untuk memberikan kesan yang cukup mendalam, seorang perempuan cantik dan seksi berjalan ke depan garus start dan berhenti tepat di tengah-tengah.


Sambil memegang sebuah bendera, perempuan tersebut pun memberikan kode kepada semua orang dengan mengangkat bendera tersebut cukup tinggi, dengan artian agra semua mobil menyalakan mesinnya, dan sekaligus bersiap untuk kode kedua.


BRMMM....


BRMMM.....

__ADS_1


BRMMM......


Dan seketika itu suasana disana jadi semakin berisik, karena mobil mereka yang sudah bersiap untuk bertanding.


__ADS_2