
CUP....
Satu kecupan mendarat di permukaan rambut yang sedang di pegang oleh Arvin. Dan saat itu juga, Ashera pun melihat tatapan mata milik Arvin yang menyiratkan dari orang yang menginginkan sesuatu kepadanya, membuat Ashera terpana.
Bagaimana tidak terpana, ketika pemilik dari wajah penuh pesona ini, malah memberikan tatapan tajam yang begitu berani.
Tidak seperti Ashera yang satunya lagi, kepribadiannya yang ini justru suka dengan cara dan bagaiman Arvin menatapnya.
Walaupun terkesan seperti orang yang sedang menatap musuhnya, tapi justru di mata Ashera ini, Arvin tetap terlihat sangat keren.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Ashera saat itu juga. Dia terus menjaga kewarasannya agar tidak begitu terpengaruh dengan daya tahan dari pesona alias feromon yang terasa sedang berkeliaran di sekitar tubuhnya Arvin, dan aroma dari tubuh Arvin seolah sedang mencoba untuk mengikat tubuhnya juga.
Setidaknya, agar dirinya masuk dalam sebuah perangkap yang cukup mengancam.
"Kenapa kau menanyakan hal yang sudah jelas?" Tanya balik Arvin kepada Ashera dengan nada yang begitu lirih. Nada yang cukup membuat si empu merasakan sapuan dari nafas Arvin yang cukup panas, sampai telinga yang sempat terkena hembusan nafasnya, jadi memerah.
"Apa kau tidak tahu bahasa manusia? Aku tidak mau." tegas Ashera terhadap apa yang di katakan oleh Arvin itu.
Mau bagaimanapun, Ashera masih tahu batasan, karena dirinya bukanlah kepribadian asli dari tubuh yang sedang dia gunakan itu, ia tidak ingin merebut apa yang seharusnya Ashera yang satunya lagi dapatkan.
"Ini bukan soal mau atau tidak, tapi soal kau bisa lolos dariku atau tidak, itulah situasimu saat ini." Kata Arvin dengan senyuman simpul yang menyiratkan lebih dari sekedar senyuman untuk mengeluarkan pesona.
Ashera yang baru menyadari kalau salah satu tangannya sudah di cengkram oleh tangan kanan Arvin, dan lutut kanan Arvin berada di tengah diantara kedua kakinya, Ashera pun hanya bisa terpaku, mematung di tempatnya saat Arvin menjatuhkan kepalanya di bahu Ashera dan seketika bahunya langsung di gigit dan membuat Ashera segera memekik.
"Arvin! Itu sakit!" pekik Ashera seraya mencoba untuk menyingkirkan kepalanya Arvin dari bahunya Ashera.
__ADS_1
Namun satu yang pasti, pria yang terlihat dewasa itu memang benar-benar sudah tahu bagaimana caranya untuk merayu, menggoda, sekaligus bagaimana caranya bermain-main dengan tubuhnya.
Apakah itu sangat membantu?
Ya, sebenarnya sangat membantu untuk merangsang lawan mainnya itu, dan Ashera sat ini sedang terkena dampak dari apa yang sedang di lakukan oleh Arvin kepadanya.
Rasanya cukup sakit, juga lidah milik Arvin yang cukup panas itu, sontak membuat Ashera harus menahan de*sahan yang bisa saja keluar kapanpun itu.
Dan jika itu terjadi, maka ia menganggap kalau des*ahan itu sebagai penentu kekalahan nya.
"Begitu ya? Aku memang sengaja, agar bisa membuat tanda di sana. Sekaligus setidaknya mencicipi kembali rasa yang sudah lama tidak aku rasakan. Ya, ini cukup manis, rasanya bahkan seperti stroberi yang bercampur dengan rasa vanila." jawab Arvin seraya menjilat bibirnya, selepas mengigit bahu polos Ashera yang terpampang cukup jelas di depan matanya itu.
Bahu yang nampak putih, bahkan cukup manis untuk sekedar di jilat serta di gigit saja.
Aroma yang cukup memabukkan, juga cukup menyita rasa hati yang entah sejak kapan tumbuh dalam benaknya.
"Mulutmu itu berani juga ya." sahut Arvin saat itu juga.
Arvin ada berpikir, kalau lawan bicaranya adalah Ashera yang satu itu, jelas perempuan ini tidak akan sembarangan bicara kepadanya.
Tapi karena yang ada di depannya bukan dia, jadi seperti inilah sekarang.
Selain adu mulut, mereka juga sering adu tatap mata. Seolah itu adalah pertandingan yang tidak boleh di lewatkan, bagaimanapun caranya.
"Dimana bra ku." Tanya Ashera dengan mata melotot, dia berusaha untuk melepaskan diri, tapi karena lutut Arvin benar-benar menekan area pangkal paha nya, Ashera pun tidak bisa berkutik, bahkan karena posisi itu pula, ia jadi merasakan sensasi panas akibat rangsangan secara tidak langsung itu.
__ADS_1
Sangat menyiksa, dia harus menahan apapun yang bisa saja keluar dari pangkal pahanya itu.
"Kau sangat gigih sekali, sudah aku bilang, sudah aku buang. Lagian kekecilan, apa kau bahkan mau memakai bra yang tidak sesuai dengan ukuran milikmu yang bahkan kelihatannya jauh lebih kecil." Arvin dengan sengaja meletakkan telapak tangannya itu di atas salah satu buah dada itu.
Rona pipi Ashera pun jadi semakin merona.
Padahal di mata Arvin, wajah Ashera bahkan tidak secantik teman-temannya, tapi saat rona merah di pipi dan telinganya kambuh, itu jauh lebih imut.
'Mataku pasti sudah mulai bermasalah.' detik hati Arvin, dia merasa kalau pikiran dan matanya yang menganggap kalau Ashera ini imut adalah satu kesalahan yang cukup besar.
Ya, bagaimana mungkin jika wajah yang bahkan terlihat ada beberapa jerawat kecil, serta bagian samping hidung yang nampak pori-porinya yang besar, membuat pikirannya malah menjerumus kalau Ashera ini imut?
Secara logika, wajah imut itu jika wajahnya, tentu saja nampak cantik. Dan kebodohan itu memang sedang menjerumus masuk kedalam kepalanya Arvin.
"Kalau kau melihat waktu itu saat mereka pesta kolam renang, kau seharusnya tahu, punya mereka lebih baik daripada punyamu. Apa gaji dari nenekku bahkan kurang sampai tidak mampu untuk membeli bra yang baru?" tanya Arvin dengan terus terang.
Dia tidak henti-hentinya untuk menyentuh benda kenyal yang selalu di bawa oleh gadis ini.
Sangat menarik, tapi sayangnya kecil, itulah yang Arvin pikirkan saat dia mengingat kembali hari dimana dirinya berhasil merebut kesucian dari gadis yang ada di depannya ini.
"Kan lagian mumpung masih bisa di pakai, jadi apa masalahnya. Jika kau bahkan menganggapnya tidak bagus, kau tidak usah melihat punyaku juga. Apa kau kurang pekerjaan sampai mengambil bra milikku?" balas Ashera detik iu juga, tidak membiarkan dirinya kalah bicara dengan Arvin yang banyak trik untuk bicara panjang lebar dan membuat mereka berdua lagi dan lagi, terus saja berdebat.
"Itu hanya suatu kebetulan, aku tidak sengaja melihat kotak di pojok lemari, dan saat aku membukanya juga terasa mengganggu karena sudah cukup jadul, makannya aku memilih untuk membuangnya, agar memancingmu membeli yang baru.
Apalagi karena kau menyuruh Luna-" senyuman milik Arvin pun jadi semakin merekah. "Aku jelas jadi penasaran pakaian da lam seperti apakah yang dia pilihkan untukmu?" Imbuh Arvin dengan senyuman bangganya, penasaran dengan apa yang akan Luna beli untuk gadis di depannya ini.
__ADS_1
"Kau- memang pria mesum,"
"Ya, seperti itulah aku, mesum. Karena aku memang sudah melakukan banyak hal mesum, bahkan terhadap tubuh ini. Makannya, jadi jangan heran lagi jika aku melakukan ini dan itu, apalagi mengingat kalau kau ini sudah jadi Istriku, aku seharusnya bisa mendapatkan jatah dari tempat ini setiap hari," imbuh Arvin seraya menyentuh pangkal paha milik Ashera dengan lututnya itu dengan lebih kuat, dan dengan sengaja lututnya itu pun dia gerakkan.