Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
28 : Kesenangan diatas penderitaan.


__ADS_3

"Kenapa aku tidak boleh pergi ke rumahmu? Padahal aku sangat ingin sekali bisa bertamu ke rumahmu." Seorang wanita cantik, seksi, dengan rambut panjang bergaya Face-Framing Layer yang menjadi penampilannya kali ini, berhasil menyambut Arvin yang baru saja sampai di tempat pertemuan.


"Di rumahku ada pelayan menyebalkan. Kau mau berhadapan dengan pelayanku itu?" Arvin membuka helm nya, lalu sedikit menggelengkan kepalanya itu untuk memperbaiki posisi rambutnya tanpa perlu ia sentuh.


"Ha? Memangnya semenyebalkan apa?"


"Dia itu itu, meskipun selalu tersenyum, tapi kau tidak akan tahu niat apa yang sebenarnya akan pelayan itu lakukan. Lagi pula dia adalah orang yang sangat menjaga rumahku, dia tidak suka ada orang lain masuk, bahkan jika itu kau, ada kemungkinan dia akan melaporkannya pada bokapku."


"Hmmm?" Wanita ini tidak begitu percaya dengan penjelasan dari Arvin ini. "Masa kau kalah dengan bokap sih, sebegitu takutnya kena marah dengan bokapmu? Kan kau tinggal buat alasan jika ke bokapmu jika pelayanmu itu melakukan sesuatu ya-"


Belum menyelesaikan ucapannya, Arvin segera menyela. "Asal kau tahu saja, bokapku lebih percaya pelayan itu ketimbang aku. Jadi dari pada membuat keributan dengan hal yang tidak perlu, kita pergi dari sini. Apa kau tidak merasa gerah? Lihat keringatmu itu."


Wanita ini hanya tersenyum manis, melihat rasa perhatian Arvin terhadapnya sampai mau mengingatkan permasalahan yang di miliki oleh wanita ini.


"Mungkin, gara-gara wajahmu itu, aku sampai lupa kalau aku mau saja berdiri di sini berbicara denganmu terus." Ucapnya, lalu ia pun mengeluarkan beberapa tisu yang ia bawa dan menyeka dahi dan lehernya.


Arvin yang melihat pacarnya berkeringat banyak, sampai memperlihatkan buliran air yang meluncur dari leher sampai masuk dan menyerap ke pakaian yang dikenakannya membuat Arvin tiba-tiba saja teringat dengan insiden yang belum lama ini terjadi antara dirinya dengan Ashera.


Adegan panas yang mencurahkan jiwa dan raganya sampai sama-sama berkeringat banyak, dan menyisakan kemenangan ******* paling nikmat yang pernah Arvin dapatkan, membuatnya tidak mampu untuk mengubur memori akan perasaan itu sendiri dari dalam kepalanya.


'Kenapa aku tiba-tiba jadi teringat dengannya? Apa aku sudah begitu gila sampai aku mengakui kalau waktu itu aku cukup menikmatinya?' Pikir Arvin seraya menatap pacarnya itu.


Padahal kalah cantik dengan pacarnya ini, bahkan kalah seksi, tapi kesan yang begitu mendalam dari diri Ashera saat berhasil Arvin setubuhi membuatnya tidak mampu menyangkal perasaan itu sendiri.


"Ada apa Arvin? Kau sampai menatapku seperti itu, jangan-jangan kau mau ya?" Goda wanita ini kepada Arvin yang memang tanpa sadar terus menatap ke arah pacarnya itu, padahal di satu sisi, isi pikirannya sedang melayang jauh ke tempat lain.


"Kau ini, apa kau mengatakan hal seperti itu hanya kepadaku saja?"


"Apa maksudmu? Apa kau mengira kalau aku akan mengatakannya kepada pria lain?" Tanyanya, dengan mulut manyun.


"Yah~ Kau lihat saja orang-orang yang ada di sekitar. Hanya berdiri saja, kau bisa mengundang mereka tanpa kau sadari kan? Ayo naik, kita pergi ke tempat yang dingin." Memberikan helm kepada pacarnya tersebut.


Tidak mau berdebat panjang lebar, wanita ini pun mengambil helm tersebut dan langsung memakainya.


"Mereka saja yang matanya jelalatan." Cetus wanita ini, naik ke atas motor, lalu memeluk punggung Arvind engan erat.


"Padahal kau juga matanya jelalatan, kepadaku."

__ADS_1


"Kan hanya kau saja, jadi jangan bandingkan aku dengan orang-orang seperti mereka." Ucapnya, membela diri.


"Iya, iya. Pegangan yang erat, atau kau bisa jatuh, tapi aku tidak bisa menangkapmu."


"Memang, tidak bisa menangkapku, tapi setidaknya jika jatuh, kita jatuh bersama, ya kan?" Balasnya dengan nada menggoda, sampai dengan sengaja, ia mendesak kedua buah dadanya ke punggung Arvin agar lebih menempel dan membuat kesan diantara mereka berdua yang cukup intim.


"Darimana kau belajar menggombal hmm?" Tanya balik Arvin.


"Tidak dari mana-mana, hanya karena..., aku merasa kaulah yang membuatku belajar seperti ini untuk menyenangkanmu." Selepas mengatakan itu, wanita ini langsung memberikan kecupan basah di pipi kiri Arvin.


Sehingga Arvin yang hendak memakai helm nya lagi, jadi melihat adanya noda lipstik di pipinya itu, sehingga Arvin pun menoleh ke belakang, untuk meminta pipinya di bersihkan dari noda lipstik itu.


"Heheh, padahal sudah cakep, kau mau menghilangkan stempelku?" Mencubit pipi Arvin dengan nada gemas.


Arvin yang harus bersabar dengan tingkah dari wanita ini, segera menutup mata dan berkata dengan nada penuh dengan kesabaran. : "Hapus lipstik di pipiku ini. Ini menggangguku."


"Padahal sudah keren, ya sudahlah." Sambil merungut, tangannya mengambil tisu dan membantu Arvin membersihkan pipinya itu.


Begitulah yang terjadi, Arvin mengajak pacarnya untuk jalan-jalan bersama ke suatu tempat yang sudah Arvin pikirkan.


_________


Mata yang tadinya masih terpejam, perlahan terbuka, memperlihatkan manik mata berwarna hitam sedikit kecoklatan milik dari Ashera, gadis yang tadinya sempat terbawa arus lelah yang membuatnya sempat tidak sadarkan diri.


'Kenapa aku orang yang tidak pernah pingsan malah pingsan? Jadi seperti itu ya rasanya pingsan? Aku bahkan seperti baru saja bangun dari tidurku.' Tidak mau berlama-lama di lantai yang sudah mulai menyeruak bau tidak sedap, gara-gara ada di depan matanya ada hasil muntahan nya, Ashera bergegas pergi mencari kain lap dan pel untuk membersihkan lantai itu.


Karena tidak tahu ada di mana, ia pun mencari-carinya sampai ke segala ruangan yang ada di dalam kamar tersebut.


Di tengah-tengah Ashera sedang mencari kain pel, Arvin baru saja pulang, dan masuk kedalam rumah lalu naik ke atas.


'Itu tadi menyenangkan. Setidaknya aku bisa mencegah dia pergi ke rumahku.' Pikir Arvin, hatinya merasa senang, bisa jalan-jalan, selain itu bisa mencegah pacarnya itu ke rumahnya.


Walupun mau pergi ke rumahna, ia bisa memakai ruangan sebelah yang sengaja di kosongkan, tapi tetap saja, Arvin tetap tidak akan membiarkan seseorang datang ke rumahnya.


Baginya, rumah adalah tempat ternyaman untuk melindungi privasinya.


Sampai, di kala Arvin serius bermain handphone, tiba-tiba saja langkah kakinya itu langsung terhenti setelah ia merasakan adanya sesuatu yang becek.

__ADS_1


Ketika melihat ke bawah, barulah Arvin sadar, ia baru saja menginjak kotoran!


Dan Arvin tentu saja tahu, kira-kira siapa yang berhasil membuat tensi darahnya jadi kembali naik, yaitu "ASHERA! Apa yang kau lakukan dengan lantai rumahku!" Teriak Arvin sampai menggema dan mengisi ke segala penjuru ruangan.


Ashera yang sedang ada di kamar mandi bawah, dengan kain pel yang sudah ia pegang di tangannya, serta ember kecil di tangan kirinya, dia bergegas berlari naik.


Dan betapa terkejutnya Ashera melihat Arvin tidak sengaja menginjak kotoran dari muntahannya Ashera beberapa waktu lalu.


"M-maaf! Akan saya bersihkan sekarang juga!" Jawab Ashera dengan keras juga. Dia kembali k pikiran normalnya untuk berbicara dengan menggunakan bahasa formal kepada Arvin, suaminya sendiri.


Dengan begitu gugupnya, Ashera berlari menghampiri Arvin, dan menolongnya lebih dulu dengan membantunya melepaskan sepatunya Arvin.


Tentu saja, dengan teriakan dan nada yang begitu tinggi dari Arvin barusan, sukses membuat tangannya jadi gemetar untuk menarik tali sepatunya Arvin, dan berusaha untuk tidak membuat anak itu marah lagi kepadanya?


Dia akan tetap marah kapanpun dan di manapun selama tidak sesuai dengan hatinya, dan kali ini, Ashera lah yang kena marah oleh Arvin lagi, lagi, dan lagi.


"Bagaimana sih kau tinggal di sini? Bukannya dibersihkan sebelum aku pulang, kau membuatku menginjak kotoran menyebalkan ini. Bau tahu!" Sarkas Arvin, benar-benar merasa marah dengan keberadaan dari Ashera yang super duper mengganggu nya.


Padahal selama ini hidupnya aman-aman saja, tapi semenjak ada Ashera, semuanya jadi berantakan.


Lantas Ashera juga tidak mungkin akan memberitahu Arvin kalau sebenarnya beberapa waktu setelah muntah-muntah, dirinya pingsan dan terbawa sampai ketiduran. Jadi dia pun menggunakan alasan lain.


"Saya minta maaf, lagi pula saya juga tidak tahu kepulangan anda." Jawab Ashera, dia tidak mengalihkan perhatiannya dari sepatu boots berwarna hitam yang di pakai oleh Arvin itu, sungguh harus ia cuci.


"Apa kau baru saja mencoba menyalahkanku?"


Ashera tidak berani menatap wajah garang Arvin ini. Bagaimanapun, seorang pria yang sedang marah, baginya sungguh menakutkan.


"Tidak, bukan itu maksud saya, saya ha-"


"Pasti banyak sekali alasan yang mau kau katakan kepadaku. Kerja saja tidak becus, kau bisa merasakannya kan? Kamarku jadi ikutan bau karena kotoran menjijikan ini. Bersihkan!" Setelah itu, Arvin menyempatkan kakinya yang baru saja sepatunya di lepaskan oleh Ashera, untuk ia tendang, dan hasilnya sepatu miliknya yang kotor itu, langsung mendarat di pakaiannya seragam nya Ashera.


"Iya." Dengan nada lirih, Ashera melihat seragamnya sendiri yang sudah kotor karena terkena kotoran dari telapak sepatu boots yang sempat di tendang dan terlempar ke pakaian serta rok nya juga.


BRAK...


Pintu kamar Arvin langsung tertutup, menciptakan keterkejutan untuk Ashera sendiri.

__ADS_1


Dengan wajah lemas, lelah juga, ia terpaksa membersihkan lantai depan kamar Arvin. Bagaimanapun juga itu adalah tanggung jawabnya, walaupun sebenarnya cukup malas.


__ADS_2