Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
149 : Singgungan


__ADS_3

Dari pagi menjadi siang, dan siang pun menjadi sore.


Meskipun Ashera bisa berhenti untuk beraktivitas, tapi dia tidak bisa berhenti untuk menunggu.


Untuk ukuran orang yang sedang berbelanja, bagi Ashera itu adalah waktu yang terbilang cukup lama.


"Ashera, ini pekerjaanku, lebih baik istirahat saja," kata Daseon, merebut selang air dari Ashera.


"Tapi-" Ashera agak ragu untuk memberikan selang air itu kepada Daseon.


Daseon yang melihat keraguan di mata Ashera, dengan buru-buru langsung menyela ucapannya, "Sepertinya kau kurang pengetahuan, disini tidak ada sistem menyiram dengan cara manual, tapi otomatis. Dan selang ini hanya di gunakan jika ingin mencuci mobil, bukan untuk menyiram tanaman." jelasnya, memberitahu kegunaan dari selang yang tersimpan di dalam lemari tadi.


Ashera yang merasa bodoh karena dia lupa, dengan cepat dia jadi langsung menjatuhkan selang air tersebut.


"B-begitu ya, aku tidak tahu-" sahut Ashera, dia cukup gugup untuk menjawab perkataannya Daseon yang terdengar seperti memperingatkan.


Daseon yang terus memperhatikan tingkah Ashera yang terlihat mencurigakan itu, membuatnya ingin bertanya, "Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tatapnya.


"Tidak ada, dan kalau pun ada, aku seharusnya tidak mempermasalahkannya," jawabnya.


Namun, karena kebiasaan Ashera yang ketika berbohong itu adalah akan menatap ke arah lain, Daseon pun tahu kalau sebenarnya ada yang sedang membuat Ashera kepikiran dengan tingkat yang cukup berat.


Walaupun berat, tapi dia tidak bisa mengungkapkannya dengan mudah, karena itu berkaitan dengan perasaan.


"Jika memang seperti itu, lebih baik masuk kedalam rumah. Dan akan lebih bagus kalau kau tidak usah melakukan pekerjaan rumah, karena jika tidak Nyonya besar akan tahu, dan akibatnya Tuan muda juga yang akan di salahkan.

__ADS_1


Ingat, kalau kau dan Tuan muda di sini itu adalah karena kalian berdua sedang bulan madu." papar Daseon seraya merapikan kembali selang air itu dan memasukkannya kedalam lemari penyimpanan.


Sedangkan Ashera, dia dalam diam langsung pergi dari sana dengan wajah yang jelas terlihat sedang tidak baik.


Daseon yang menjadi satu-satunya orang yang lebih dewasa dari mereka berdua, serta orang yang lebih peka dari pada yang terlihat, begitu dia sudah meletakkan selang air kedalam lemari, dengan cepat Daseon segera mengeluarkan handphone nya dan melihat medsos miliknya.


Dan bang..!


Dalam seketika itu, begitu Daseon menekan salah satu medsos yang paling populer saat ini, dalam satu kali refresh itu, Daseon tiba-tiba di kejutkan dengan satu unggahan dari seseorang yang memperlihatkan Tuan muda nya yang sedang duduk di atas perahu.


Hanya saja yang membuat Daseon lumayan terkejut adalah rupanya Tuan muda nya itu tidak duduk sendirian. Dia di temani oleh seorang wanita yang tidak lain adalah Vina, mantan pacar Tuan muda Arvin.


Dengan apa yang sudah Daseon lihat itu, dia pun paham, alasan kenapa Ashera bersikap seperti khawatir, takut, dan termasuk sedih juga?


Sedih memang ada, tapi dari sudut pandang Ashera sendiri, kesedihan yang di milikinya itu bukanlah sesuatu yang harus di buat serius, karena bagi gadis itu, hal tersebut tidaklah berguna, karena dia merasa kalau itu bukanlah hak nya, sebab satu hal, yaitu karena hubungan antara diri Ashera dan Arvin hanyalah sekedar hubungan paksa saja.


"Ashera~"


___________


"Kenapa sampai sekarang saja dia belum pulang?" Ashera yang tidak begitu terbiasa dengan hidupnya yang berbeda dari pada sebelumnya, jari merasa ada yang aneh sendiri di dalam hatinya. "Padahal Arvin, terserah mau apa, silahkan saja. Urusan dia sudah mau bertanggung jawab kepadaku, seharusnya sudah bisa aku syukuri.


Tapi kenapa aku jadi seserakah ini?


Sejak kapan aku jadi serakah ingin mendapatkan hatinya juga? Padahal aku ini hanyalah anak dari seorang pelayan rendahan, tapi- kenapa aku ingin hatinya juga? Arvin, bahkan untuk menyebutnya Tuan muda saja, lidahku begitu kelu.

__ADS_1


Tapi kenapa dia tidak begitu mempermasalahkan aku yang terus memanggil namanya? Padahal di dalam kontrak yang dia buat untukku, aku harus memanggilnya Tuan muda.


Apa ada yang Arvin rahasiakan saat kepribadian gandaku menguasai tubuhku ini?"


Segala ucapan yang keluar dari mulutnya itu pun terus saja membuat Ashera begitu bingung, serta lelah untuk memikirkannya.


Sangat di sayangkan, dari sekian banyak ingatan yang dia miliki sebelum kepribadian yang Ashera miliki itu menguasai tubuhnya, Ashera ingat waktu itu dirinya berada di sebuah klinik yang di jalankan oleh seorang dokter, dokter cantik yang tidak lain adalah mantan pacarnya Arvin.


"Apa dia masih suka dengannya? Cinta pertama kan, meskipun pernah membuat kesalahan besar, yang namanya rasa suka, pasti tidak bisa menghilang begitu saja. Arvin-" merasa beban pikirannya bertambah berat, ketika dirinya harus di hadapi dengan kemunculan foto dari Arvin dan Vani yang ada di medsos, Ashera pun jadi semakin pusing dan terasa mual untuk satu hal, dia tidak suka. "Huekk~"


TING....


Ashera melirik ke arah handphone yang dia letakkan di atas nakas. "Fajar? Sejak kapan aku pernah menyimpan nomor anak itu? Tunggu, aku ingat aku memang pernah mendapatkan kartu nama beserta alamat rumah juga nomor teleponnya, tapi aku tidak pernah sekalipun merasa menyimpannya, dan apalagi di sini aku melihat ternyata aku punya riwayat teleponnya, sebenarnya apa yang di lakukan kepribadianku yang satu itu? Dia tidak membuat masalah dengan orang lain, ya kan?" gerutu Ashera.


Tapi ekspresi wajahnya tetap menyatakan kalau dia tidak percaya kalau dirinya pernah menghubungi Fajar, pria paling disegani di segala penjuru sekolah, karena selain Fajar adalah seorang wakil ketua Osis, kedua orang tuanya merupakan orang yang cukup berpengaruh, makannya tidak ada orang yang tidak bisa menyukainya, karena pria itu memang cukup ramah, dan bahkan jadi pujaan banyak gadis di sekolah.


Tapi, begitu Ashera menyadari kalau dirinya pernah di hubungi juga, Ashera pun jadi merasa cukup terbebani, apalagi ketika ia baru saja mendapatkan pesan singkat dari Fajar.


//Ashera, aku kebetulan sedang berada di Korea, apakah kau ingin oleh-oleh sebagai tanda terima kasihku waktu itu, karena hadiah ulang tahun yang kau berikan sangatlah bagus.


Balas pesan ini, jika kau sudah memutuskan apa yang kau inginkan.//


Itulah pesan yang baru saja Ashera terima dari Fajar.


Tentu saja, siapa yang akan membayangkan kalau rupanya dirinya pernah memberikan hadiah ulang tahun kepada Fajar yang terjadi beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Hanya dengan memikirkan itu saja, Ashera pun jadinya tertawa hambar, "Ha- hahaha, padahal aku sendiri tidak tahu hadiah macam apa yang aku berikan kepada Fajar sebagai hadiah ulang tahunnya, jadi kenapa aku harus meminta imbalan kepadanya, jika dia suka dengan hadiahku? Bukannya itu artinya tukar hadiah?"


Karena dirinya merasa tidak pernah sekaligus tidak ingin mendapatkan imbalan apapun dari Fajar, Ashera pun membalas pesan Fajar dengan penolakan, dengan alasan yang cukup sederhana, yaitu dirinya tidak ingin apapun, sekaligus tidak ingin terlibat apapun lagi dengannya.


__ADS_2