
"Aku kira kau tidak akan datang kesini, kenapa tiba-tiba datang lagi?" tanyanya secara langsung.
"Kau tahu kemarin aku datang kesini?" Fajar terheran karena dia pikir dia tidak akan ketahuan, karena kemarin saja, Ashera terlihat begitu fokus dalam percakapannya dengan Arvin.
"Siapa yang tidak tahu, kalau kau bahkan memasang ekspresi wajahmu yang cukup terkejut itu. Aku hanya berpura-pura kalau tidak ada," jelasnya .
Fajar tertegun, dia benar-benar melihat sesuatu yang berbeda dari diri Ashera yang Fajar pikir dia cukup mengenal perempuan di hadapannya ini.
"Apa- kau butuh bantuan untuk menyuapimu?" melirik ke arah bubur yang sempat menetes ke permukaan meja, serta beberapa diantaranya cukup berantakan di area bibirnya Hera.
"Tidak usah, aku bisa makan sendiri," jawabnya dengan singkat, lalu kembali melanjutkan makan bubur itu. "Duduklah dulu, aku mau menghabiskan makananku dulu," imbuhnya.
Dan benar saja, Hera menghabiskan bubur itu cukup lahap, sampai tandas dan tidak menyisakan apapun, karena lidahnya saja sampai di gunakan untuk menjilat semua area mangkuk tersebut.
'Dia memang berbeda dari Ashera. Jadi apa yang aku dengar tadi, dia ini memang benar-benar bukan Ashera?' pikir Fajar.
__ADS_1
"Ahh~ Akhirnya perutku kenyang. Walaupun perutku sempat di isi hal lain, tapi ini lebih enak," Hera yang punya sisi untuk blak-blakan, sempat meng kode hal lain soal di dalam perutnya itu, karena pernah ada janin di dalamnya, tapi sekarang sudah tidak ada lagi.
Bahkan Fajar sendiri pun tahu apa yang baru saja di katakan oleh Hera tadi.
"Jadi- apa kau mendengar percakapanku dengan Arvin tadi?" tanya Hera, dia tidak mau basa basi lagi, karena dari raut mukanya Fajar memang sudah cukup jelas, arti dari tujuan Fajar datang di saat semua orang sudah pada pulang.
Menghela nafas dengan berat, Fajar pun menjawab, "Karena sudah begini- jadi benar, kau bukan Ashera?"
"Hmm, hanya kau dan Arvin yang tahu," ada sedikit kebohongan di dalam ucapannya itu, karena nenek Tina serta Luna adalah dua orang yang lebih dulu tahu sisi dari Hera adalah eksistensi yang sudah ada sejak lama jika Ashera dalam kondisi terburuknya.
"Ya? Ashera itu bukan orang yang akan menghubungi orang asing, jadi akulah yang meneleponmu waktu itu, juga menerima undangan ulang tahunmu itu, serta hadiah." Jawabnya dengan lugas.
Dari situlah, Fajar pun tahu alasan kenapa Ashera waktu itu menolak hadiah yang ingin di berikan nya.
'B-berarti ini ada urusannya dengan Arvin juga. Jika itu Hera, dia akan menerimanya dengan senang hati, tapi karena waktu itu yang menerima jepit rambutku adalah Ashera yang asli, makannya dia mengembalikan hadiah dariku.' pikir Fajar.
__ADS_1
Maka dari itu, begitu Fajar sudah memecahkan teka-teki soal hadiah dan sikap yang di perlihatkan Ashera kepadanya, akhirnya hal tersebut membuat Fajar yang sudah tahu soal segala permasalahan yang dia miliki dengan Ashera yang menolak hadiahnya, karena bukan Ashera yang memberikannya hadiah melainkan Hera, tiba-tiba saja sosok dari pria yang sangat berhubungan dekat dengan Ashera itu, kembali.
"Diam-diam masuk ke kamar pasien di saat jam kunjungan sudah habis. Apakah ini cara dari wakil ketua Osis sepertimu memahami peraturan jam kunjung rumah sakit?" sela Arvin.
Dia kembali dengan membawa kantong plastik berisi bir kaleng serta beberapa minuman dingin lainnya yang akan dia simpan di kulkas untuk antisipasi saat Arvin adu mulut lagi dengan Hera saat berdua di kamar.
"Baru juga lewat dua menit," Fajar langsung menyela perkataannya Arvin.
Melangkah masuk ke dalam kamar, Arvin mulai berjalan menghampiri Fajar yang baru saja berdiri dari tempat duduknya dan membalas, "Ternyata kau bukan orang yang disiplin ya? Apa kau perlu didikan dariku? Kebetulan juga, akulah yang menempati sebagai komite disiplin di sekolah, jadi sepertinya kau perlu bimbingan dariku langsung, apa arti dari tepat waktu itu bagaimana,"
'Seperti biasa, dia terus bersikap arogan. Kenapa Ashera menikah dengan anak seperti ini? Sayang sekali dengan usianya yang masih muda, tapi malah- eh sebentar-' menyadari adanya sesuatu yang baru saja dia simpulkan, Fajar pun mulai menemukan sebuah jawaban, 'Apakah ini ada hubungannya dengan kehamilannya? Jangan-jangan karena anak ini, Ashera jadi menderita seperti itu?'
'Apa yang di lakukan Fajar disini? Apakah Hera juga mengungkapkan identitas dari kepribadiannya itu kepada Fajar?' sama-sama memiliki kecurigaan besar, Arvin pun membalas tatapan tajam dari Fajar, sehingga Fajar dan Arvin pun menciptakan kilatan dendam pribadi yang tidak dapat di ucapkan dengan kata-kata lagi.
'Fajar, ternyata dia bisa punya ekspresi wajah yang seperti itu. Tapi apa-apaan ini? Kenapa mereka saling memusuhi?!' pikir Hera.
__ADS_1