Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
19 : Jaket


__ADS_3

TIN...TIN...!


Suara klakson terus mengisi keramaian dari jam pagi itu. Karena hari ini adalah hari libur, maka banyak kendaraan yang berlalu lalang untuk pergi, entah itu pergi shopping, liburan bersama keluarga, atau hanya sekedar pergi mencari teman.


Melihat deretan mobil yang tidak ada hentinya lewat, ekspresi wajah Ashera jelas terlihat sedih, sebab ia sudah melihat bahwa jaket yang ia cari, sekarang sudah ada di jalan raya dan jaket tersebut pun terus terlindas oleh kendaraan yang lewat.


Hatinya jadi berkecamuk, ia langsung nangis di bawah pohon sambil melihat jaket tersebut di lindas oleh ban kendaraan.


"Huwaa..!" Tak kuasa menahan tangis sedari tadi tertahan, akhirnya Ashera pun berteriak dengan tangisan yang langsung pecah saat itu juga.


Betapa nahasnya ketika pakaian terakhir dari mendiang ayahnya, malah terus terlindas kendaraan?


Semua itu benar-benar membuat hatinya teriris, membuat Ashera kembali masuk dalam memori paling buruk ketika sepuluh tahun yang lalu, Ayahnya meninggal karena sebuah kecelakaan.


________________


Flashback On.


Di bawah langit yang mendung, seorang pria dengan senyuman lebarnya sedang berjongkok sambil berhadapan dengan gadis kecil.


"Ashera tunggu disini saja ya, nanti Ibu juga keluar. Dan Ayah akan membelikanmu permen kapas yang Ashera inginkan dari tadi kan?"


"Iya." Dengan wajah polos dan pipi chuby, Ashera mengangguk paham, maka dari itu Ashera pun duduk di bawah pohon untuk menunggu Ayahnya kembali ke tempatnya.


Melihat anaknya begitu menurut, pria ini pun mengusap ujung kepala Ashera dengan wajah ramah dan senyuman lembut yang terasa musim semi.


"Ayah,"


"Hmm? Apa ada yang ingin Ashera titip kepada Ayah?"

__ADS_1


Ashera terdiam sejenak, lalu kembali berdiri sambil meraih wajah Ayah nya itu, sebelum akhirnya Ashera mendaratkan kecupan basah di pipi nya sang Ayah.


"Hati-hati." Kata Ashera sebagai ucapan terakhirnya.


"Iya, Ayah akan hati-hati." Jawab pria ini, tanpa memudarkan senyumannya yang begitu tulus itu. "Jangan pergi, ya."


"Iya." Jawab Ashera singkat.


Lalu setelah itu, Ayah nya Ashera pun menyebrang jalan, menghampiri sebuah kedai yang menjual permen kapas.


Terlihat permen kapas yang di belinya ada dua, dan warnanya pun cantik seperti warna pelangi, apalagi ditambah dengan bentuknya yang memang cukup menarik perhatiannya, membuat Ashera jadi semakin senang, bahwa permen kapas itu sebentar lagi akan menjadi miliknya.


Dan tidak perlu waktu lama, Ayah nya Ashera pun menyebrang jalan lagi dengan santai, karena lampu lalu lintas kebetulan berwarna merah, dan pejalan kaki bisa menyebrang.


Tapi di saat Ayah nya Ashera menyebrang jalan, tepat di trotoar ada seorang pria paruh baya turun ke zona penyebrangan tanpa menoleh ke kanan dan kiri, padahal di tikungan di sebelah kiri itu adalah tikungan yang diperuntukan untuk kendaraan yang ingin langsung berbelok.


Dan hasilnya....


TIN....!


Klakson yang berbunyi begitu panjang itu langsung mengagetkan Ashera.


BRAKK.....


"A-Ayah...!" Teriak Ashera. Dia yang terkejut dengan Ayahnya yang tiba-tiba di tabrak, langsung berlari dengan tangisan yang sudah di gantikan dengan teriakan yang cukup keras.


Ashera berlari menghampiri Ayahnya, dan berteriak dengan air mata sudah membasahi wajahnya.


"Ayah! Ayah! Bangun Ayah!" Racau gadis ini sambil memeluk kepala Ayah nya yang sudah berdarah hebat.

__ADS_1


"A-Ashera," Bahkan di saat tangisan terus menyerang dalam diri Ashera, senyuman lemah tapi terkesan lembut itu tetap saja menghiasi bibirnya. "M-maafkan Ayah ya."


"Ayah! Jangan senyum begitu, jangan membuat Ashera takut." Kata Ashera, tangan kecilnya itu mengusap pelupuk mata sang Ayah yang terkena darah merah.


"Ashera, jaga Ibu untuk A-yah ya?"


"Ayah! Ja-jangan...jangan tutup mata ayah! Ayah! Ayaaahh..!" Dan akhirnya permintaan dari Ashera untuk membuat mata Ayah nya tidak menutup, sama sekali tidak di kabulkan, dalam artian, satu orang yang begitu baik, yang terus mengisi hari-harinya dengan caranya yang tidak cukup biasa tapi membuat Ashera terkesan, sekarang sudah tidak ada lagi.


Dan permen kapas yang tadi di beli oleh Ayah nya, sudah pergi terbawa oleh angin, sampai terus terbawa ke tengah jalan yang ada di perempatan jalan di ujung sana, hingga permen kapas layaknya bung yang mekar, langsung terlindas menyatu dengan jalanan aspal.


___________


Flashback Off.


"Huwaahh! Kenapa harus seperti ini?! Dari sekian banyak barang yang bisa dilindas, kenapa jaket itu?! Kenapa?!" Pekik Ashera dengan nada tersedu-tersedu.


Saking tidak kuat untuk melihat jaket itu terus di lindas, Ashera langsung terduduk lemas di atas trotoar.


Niatnya ingin pergi ke tengah jalan untuk mengambil jaket itu. Tapi setiap kali jaket itu di lindas, yang terlihat, Ashera seperti melihat ayahnya ada di sana dengan darah membasahi jalanan tersebut.


"Hiks....hiks...., Ayah. Kenapa aku tiba-tiba jadi teringat kejadian itu lagi? Kenapa?" Gumam Ashera.


Hingga tangisannya yang tidak berhenti itu, berhasil mengundang satu orang yang tiba-tiba saja berjalan ke arahnya, dan langkah kaki itu berhenti tepat di depan Ashera, sampai akhirnya Ashera yang merasakan tidak ada lagi air hujan yang menerpa tubuhnya, membuat Ashera mendongak ke atas.


"Ini."


Karena matanya sedang dipenuhi dengan air mata yang tidak dapat berhenti-berhenti, Ashera pun sedikit kesulitan dengan penglihatannya yang buram. Sampai Ashera mengusap air matanya yang yang menggenang di pelupuk matanya dengan sekali seka.


"Fajar?" Panggil Ashera secara spontan, ketika ia melihat wajah dari orang yang mendekatinya dengan membawakan jaket yang tadinya berada di tengah jalan.

__ADS_1


__ADS_2