
Arvin pun terus memperhatikan Ashera dan Ashera sendiri menyadari tatapan dari laki-laki di sampingnya itu, "Kau mau apa?" tanya Ashera dengan nada lirih.
"Kenapa kau berpura-pura terhipnotis waktu di kamar tadi?"
"Lagi pula kau sendiri juga melakukannya kan? Apalagi kau bahkan sampai mencium dan membelai wanita itu
Yah aku berusaha untuk tidak peduli tapi sayangnya pikiranku ini sangat mengganggu jika aku tidak mengatakannya padamu," jawab Ashera dia pun sedikit membongkar perasaannya sendiri kepada Arvin sembari menyentuh kepalanya sendiri.
terdiam sejenak dia mencoba memikirkan soal ekspresi asera waktu di kamar milik Jellyna. "Apa itu sebabnya kau menangis?"
"Aku tidak akan menjawabnya," cetus Ashera.
"Tapi kau tidak apa-apa kan soal bekas suntikan itu? Itu bukan jarum suntik yang disuntik oleh Jellyna kan?" tanya Arvin bertubi-tubi.
Jujur saja Arvin sempat panik karena di tangannya Ashera ada bekas jarum suntik. Pikirannya tentu saja langsung mengarah ke hal negatif, karena bisa saja bekas suntikan itu bisa jadi adalah obat narkoba yang sengaja ditanam ke dalam tubuhnya Ashera.
Orang jahat selalu melakukan banyak hal di luar akal sehat manusia pada umumnya, dan demi mencapai tujuannya untuk kesenangannya sendiri, pasti akan selalu ada kejadian seperti itu.
"Oh ini ini bukan dari dia kok, ini dari dari jarum infus cairan vitamin. Karena saat mau di letakkan di punggung tangan, tapi nadi di punggung tanganku tidak bisa dimasukkan jarum, makannya aku meletakkannya di sini saja." jelas Ashera dengan panjang lebar.
Dan hal itu pun akhirnya memperlurus kesalahpahaman yang dimiliki oleh Arvin terhadap Ashera.
"Kalau begitu, apa kau malam ini bisa?" tiba-tiba saja Arvin bertanya demikian, membuat Ashera seketika langsung terkoneksi dengan jutaan sel di dalam otaknya kalau Arbin sedang bertanya soal tidur bersama, lagi?
"Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu. Kenapa tidak cari yang lain saja? Biasanya juga begitu. Apalagi tadi kau bahkan bisa menyentuh Jellyna dengan leluasa." Ashera ngambek.
"Ashera, kau lagi-lagi memancingku. Apa kau benar-benar berharap aku melakukannya dengan perempuan lain?" tanya Ashera. Lagi-lagi Ashera menguji kesabarannya.
Sungguh, Arvin sebenarnya ingin sekali menerkam perempuan ini saat ini juga. Tapi mengingat sekarang mereka berdua ada di dalam helikopter, Arvin pun harus menahannya lebih dulu tidaknya untuk saat ini tapi tidak untuk selanjutnya lagi
______
__ADS_1
10 menit kemudian.
Langkah kakinya begitu cepat, pria tersebut terus membawa seorang perempuan di gendongannya dengan cara paksa.
Sungguh dia benar-benar sudah tidak tahan lagi, dan dia tidak ingin mendapat protes dari perempuan yang sedang dia pikul di bahunya.
"Arvin! Aku ini bukan karung! Kenapa kau terus memikulku? Kau pikir aku ini bukan manusia? Perutku ini sakit tahu. Kalau kau membawaku seperti ini, ini sama saja dengan penyiksaan!" protes Ashera.
"Apa kau bisa diam kau menanti akan mendapatkan jatah paling memuaskan dariku, jadi setidaknya kau harus merelakan seperti ini karena aku tidak mau berjalan dengan langkah kakimu yang begitu pendek dan berjalan sangat lambat seperti seekor kura-kura." balas Arvin dengan mulutnya yang terus mengatakan kalimat sindiran kepada Ashera.
"Tapi tidak begini juga kali? Aku jadi merasa mual sendiri karena kau memikul tubuhku dengan cara seperti ini." ucap Ashera. Dia sangat memperhatikan kalau Arvin benar-benar terlihat tidak sabaran.
Ya, itu sudah jelas terlihat dari ekspresi wajahnya yang sudah penuh dengan amarah.
"Tapi ngomong-ngomong apa kau benar-benar rela melakukannya denganku lagi? Padahal dulu kau benar-benar membenciku, kau tidak ingin menyentuhku, aku itu bagaikan seorang parasit yang tiba-tiba menempel kepadamu." ocehnya.
Masuk ke dalam lift, Arvin pun langsung memencet tombol angka empat puluh sebagai tempat di mana dia akan melakukan bercocok tanam dengan Ashera, itulah yang bisa dia lakukan malam ini.
Dengan kata lain dalam dua hari ini dirinya benar-benar melakukannya dengan sangat serius
"Melupakan? Enak sekali kalau bicara. Waktu itu aku benar-benar terpuruk, kau tahu betapa tersiksanya aku, traumanya aku saat kau melakukannya denganku tanpa belas kasih."
"Apa kau sedang berceramah denganku agar malam ini aku bisa melakukannya dengan lembut padamu?" Arvin melirik ke arah panta*nya Ashera dia menggosoknya dengan perlahan.
"Terserah jika kau masih trauma aku akan membuatmu trauma lagi, tapi dengan cara yang lebih bagus lagi. Setidaknya cara pandangku terhadap terhadapmu perlahan mulai berubah, apa kau puas dengan jawabanku ini?" tanya Arvin dia menuntut ingin mendapatkan jawaban yang jelas dari Ashera.
"Arvin kau ini benar-benar-"
Seperti biasa sebelum dirinya selesai bicara tiba-tiba ada yang menyala.
Dan salah satunya adalah ketika bel Lift tanda tujuan sudah sampai, Arvin tiba-tiba berjalan dengan langkah yang lebih cepat dan itu membuat Ashera jadi semakin pusing karena kepalanya berada di bawah.
__ADS_1
Tidak perlu waktu yang lama Arvin pun sudah berada di depan pintunya. Dia langsung membuka pintu tersebut, tentu saja hanya dengan mengandalkan sidik jarinya, dia pun bisa masuk tanpa perlu menggunakan kartu.
Begitu sudah masuk, Arvin langsung membawa Ashera ke kamarnya dan saat itu juga Arvin tanpa basa-basi langsung menanggalkan pakaiannya dari atas sampai bawah. Tidak hanya dirinya saja, Arvin pun langsung merobek pakaiannya Ashera, yang lantas membuat Ashera angsung tersipu malu dan bahkan matanya membulat dengan sempurna.
"Arvin kau sungguh akan melakukannya secara langsung lagi? Apa kau tidak takut kalau aku bisa saja hamil?" Ashera mencoba bertanya lebih dulu agar Arvin tidak terburu-buru langsung melakukannya, karena mau bagaimanapun hal itu harus dipikirkan lebih dulu bukan?
"Kau kan hanya tinggal minum obat kontrasepsi," tatap Arvin.
Jawaban yang sungguh singkat padahal jika Asherea meminum itu terus itu bisa menjadi permasalahan untuk jangka waktu yang lumayan untuk rahimnya sendiri.
"Lagi pula jauh lebih enak
melakukannya tanpa pengaman, aku bisa langsung merasakan kau merem*ku." kata Arvin. Dia benar-benar bisa bicara dengan begitu gamblangnya bahkan lawan bicaranya pun langsung dibuat terdiam saking syoknyaya.
Setelah mereka berdua tidak memakai pakaian apapun, Arvin tanpa memperdulikan peringatan dari Ashera, Arvin pun langsung mengeksekusi perempuan ini dengan segenap hatinya.
dan malam itu pun kembali terulang, mereka berdua bermain bersama di dalam kamar serta tempat tidur sebagai saksi bisu atas pergulatan mereka berdua dalam mendapatkan kesenangan yang hanya bisa dilakukan oleh mereka berdua.
D*sah*n demi d*sah*n keluar dari mulutnya Ashera, dan hal itu membuat Arvin merasa baru saja mendapatkan stimulan yang lebih bagus daripada sebuah obat yang hampir saja dia minum beberapa waktu lalu.
Dan tentu saja Arvin pun benar-benar sangat menikmatinya, ia serasa berada di atas awan. Bahkan dengan beraninya dia mengeluarkannya di dalam perutnya Ashera berulang kali.
Ashara sendiri dia sadar kalau semua rasa dari yang Arvin berikan selalu menyakitinya. Akan tetapi, kata cinta sebagai pembawa kebodohan membuatnya terus saja menerima apa yang dilakukan Arvin kepadanya. Sungguh bodoh bukan?
Dan ketika Arvin mencapai puncaknya lagi, Ashera benar-benar jadi orang yang lebih rakus, karena dia jadinya menginginkan lebih.
'Hahh, aku mendapatkannya lagi. Benarkan? dia terus saja m*rem**ku, aku tidak bisa berhenti aku terus menginginkannya.' pikir Arvin, dia mulai egois dengan dirinya sendiri sehingga dia pun tidak memperhatikan apapun yang diekspresikan oleh Ashera kepadanya, sebab Arvin mempedulikan dirinya sendiri.
"Hah...hah...hah..." nafas Arvin pun semakin memburu, seiring berjalannya waktu berlalu.
Tidak hanya Arvin saja, Ashira pun nafasnya sudah mulai tersengal-sengal saking lelahnya karena harus menghadapi kebrutalannya Arvin ini.
__ADS_1
Tetes demi tetes keringat mulai keluar dari pori-pori kulit tubuh mereka. Bahkan AC yang dalam kondisi suhu terdinginnya tidak bisa membuat mereka kedinginan, yang ada justru mereka semakin diselimuti rasa panas yang mulai menggelora.
Untung saja mereka berdua sudah menikah kalau belum apa jadinya nanti?