
BUKH...
BUKH....
"Hei-hei, kalian ini, ini wilayahku, kenapa kalian merusak di sini?!" marah Alfian, karena geng motor itu membuat rumahnya tidak luput dari kekacauan yang mereka semua buat, terutama Enzo yang ternyata menjadi dalang pembuat gara-gara.
BUKH....
Suara dari sebuah tinju itu berhasil membuat sebagian besar jadi langsung takut, karena aksi dari pertarungan yang sedang di jalani oleh Enzo dan juga musuhnya itu.
"Heh, jika kau ingin ganti rugi, kau seharusnya meminta ganti rugi pada anak ini." Ucap laki-laki ini, dia adalah pemimpin dari geng motor Snake, yang menjadi dalang awal keributan, karena mencari Enzo, sebagai orang yang sudah berhasil menipunya.
"Tapi kau juga salah! Kau harus di tahan karena melakukan pencemaran di rumahku!" marah Alfian, dia masih tidak rela karena pestanya jadi hancur gara-gara mereka semua.
"Ya ampun, kau mau menahan kami?" Tanya salah satu anak buah dari anggota snake tersebut. "Itu jika kau bisa!" Dengan seringaian tipisnya yang cukup mengganggu, karena berhasil membuat Alfian merasa terancam, Alfian pun jadi memejamkan matanya karena melihat salah satu dari mereka yang berlari dan ingin menghajarnya.
BUKH....
"Apa?" Terkejut anak ini, karena tinjunya berhasil tertahan oleh tangan milik seseorang, dan membuat Alfian akhirnya berhasil di lindungi dari serangan itu.
"Siapa kau?" Tanya pemimpin dari kelompok geng snake tersebut pada Arvin.
Dialah orang yang berhasil menahan tinju dari salah satu anak buahnya yang hendak menyerang Alfian dengan satu tangannya saja.
__ADS_1
'Kesempatan, dia beraninya meninju wajahku, akan aku kembalikan seranganmu itu."' Enzo yang merasa ada sebuah kesempatan untuk menyerang musuhnya yang sedang teralihkan dengan keberadaan Arvin, sontak langsung memberikan serangan balik dengan sebuah pukulan.
BUKH.....
"Apa kalian bisa berhenti?" Tanya Arvin. Dia masih berbicara baik-baik.
"Tidak, kau bahkan tidak punya hak untuk menghentikanku untuk mengurus penipu ini!" Kata pria ini, dia yang berhasil menangkis serangan dari Enzo, langsung memberikan Enzo sebuah tendangan dan karena gerakannya yang cukup cepat, dia pun berhasil menendang pinggang Enzo.
BUAKH...
BRUKH...
Enzo akhirnya langsung jatuh tumbang, dan Arvin hanya melihatnya sesaat dalam diamnya lalu berkata : "Aku bukan mau menghentikanmu, silahkan saja urus dia, tapi setidaknya jangan rusak semua fasilitas di sini, ini bukan rumahnya, tapi rumah temanku.
Dan jika kalian tidak bisa mengganti semua kerusakan di sini, aku tidak yakin kalian akan keluar dari sini baik-baik saja." ucap Arvin. Dan setelah berbicara dengan cukup baik, Arvin membuka matanya lebih lebar dan kembali berkata : "Jika kau memang mau menghajarnya, maka hajar dia di tempat yang sepi, itulah yang seharusnya kalian lakukan, ya kan?"
Mereka awalnya mengira kalau Arvin ingin menghentikan mereka dalam berkelahi, karena membuat Enzo babak belur, tapi di luar nalar semua orang, justru Arvin baru saja memberikan solusinya yang paling bagus.
"Dengan begitu, maka tidak ada yang tahu, selain kalian semua." imbuhnya lagi, dan ekspresi wajahnya yang sedang tersenyum lebar itu, membuat bulu kuduk mereka semua, termasuk dengan para tamu undangan yang hadir dalam pesta renang, ikutan merasa merinding, sebab aura dari senyuman itu bukanlah sesuatu yang baik.
Ya, ada kegelapan di balik senyuman itu.
Dan alasan sebenarnya Arvin berkata seperti itu, karena ia ingin membuat Enzo merasakan akibatnya, sebab waktu itu sudah membuat diri Arvin malu di depan semua orang, karena di anggap curang, ini dan itu, sampai Ashera yang seharusnya pergi untuk membeli kopi, justru di jebak oleh sepupunya Enzo untuk di jadikan sebagai gadis taruhan.
__ADS_1
Dengan kata lain, Enzo yang tidak tahu kalau pembalap yang berhasil dia permalukan waktu itu adalah Arvin, itu adalah sebuah awal pemicu untuk Arvin agar Arvin memiliki dendam kepadanya.
"Kau ternyata punya saran yang bagus." Ucap pemimpin dari geng motor snake tersebut. "Bawa dia." Perintahnya kepada beberapa orang anak buahnya.
"A-arvin! Kenapa kau bicara seperti itu? Apa kau punya dendam kepadaku?" Tanya Enzo, dia sedang berusaha berdiri dan mencoba menepis tangan yang hendak menangkapnya.
"Entahlah." Cuek Arvin, lalu dia pun melirik pada Arliana yang berdiri bersembunyi di balik tembok. "Dan Arliana, aku pikir kau harus menebus kekacauan ini, dengan membereskan semua kerusakan pada rumahnya Alfian. Jika tidak, aku akan memberikan pesan pribadi pada kedua orang tuamu. Bukan tentang masalah malam ini, tapi yang lain." ucap Arvin, mengancam Arliana.
'Tch, gara-gara Enzo, aku juga yang kena.' Decih Arliana di dalam hati, lalu dia pun pergi dari sana dan membiarkan Enzo di pukuli, karena semua masalah ini berasal dari Enzo sendiri.
Dengan begitu, karena ucapannya Arvin yang begitu masuk di akal mereka, mereka pun pergi dari sana dengan membawa Enzo sebagai jaminannya, karena ingin membereskan Enzo lebih dulu.
Sedangkan pesta kolam, berhasil di lanjutkan, namun kali ini, tidak ada lagi permainan bola voli air yang di ikuti oleh Arvin, sebab Arvin memilih untuk pulang. Begitu juga dengan Ashera yang sudah menyelinap pergi dari sana, tapi dia tetap meninggalkan sebuah pesan singkat yang ia tulis di dalam jaket nya Arvin.
Dan begitu Arvin memakainya, dia pun menemukan surat itu, tanpa ada yang tahu siapa yang menaruh surat kecil itu.
Dan isinya cukup sederhana tapi sengaja di buat panjang.
Pulang sekarang, batas waktumu untuk bermain sudah selesai. Karena kau berhasil meleraikan kerusuhan tanpa membuatmu campur tangan secara langsung, akan aku hadiahkan sesuatu.
Selama kau berbuat hal baik, masuk akal, tidak melenceng dari kodratmu sebagai pria yang sudah punya istri, aku pasti akan memberikanmu hadiah.
Jika mau, tidak ya tidak apa-apa, tapi jangan salahkan aku, karena nanti aku akan laporkan pada Nyonya besar kalau kau suka dengan pesta se*ks dan kau baru saja melakukannya di rumah temanmu."
__ADS_1
KRESS....
Dalam sekejap, kertas itu jadi kusut karena di remas. Dengan senyuman miringnya, Arvin bergumam sendiri dalam batin. 'Ashera, nyalinya itu ternyata besar juga. Tapi asal kau tahu saja, jika kau berpikir untuk mengadukannya kepada Nenekku kalau aku pesta *****, justru akulah yang akan membuatmu terjebak dalam ucapanmu sendiri itu. Kaulah yang akan aku jadikan target pesta se*eks tersebut.'