Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
43 : Bisikan saling menggoda


__ADS_3

"Bahkan dari cara bicaramu, apa kau punya kepribadian ganda?"


Satu pertanyaan itu pun berhasil menjawab semua rasa penasarannya, hanya dengan melihat keterdiaman dari Ashera.


Dan senyuman manis itu seolah mengatakan "Kalau sudah tahu, kenapa tanya?"


Perempatan siku dahi Arvin pun muncul juga. Aneh saja, kenapa dirinya tiba-tiba saja jadi merasa serba tahu dengan hanya sekilas melihat senyumannya Ashera tadi?


"Lagi pula, ini kan perbuatanmu juga?"


"Kenapa aku juga yang di salahkan?" Arvin jadi merasa tidak terima, karena ia tidak suka tiba-tiba di salahkan seperti itu, padahal sikap Arvin sendiri justru adalah sebaliknya.


Ashera yang sudah bukan lagi Ashera sebelumnya, dengan cukup berani, menunjuk wajah Arvin secara langsung di depan matanya, dan berkata : "Jika bukan karenamu, tidak akan mungkin aku punya tekanan pikiran yang berlebihan sampai membuatku sakit. Dan apalagi semuanya gara-gara ini-"


Arvin sontak melirik ke bawah, karena jari telunjuk Ashera sudah berpindah ke bawah, tepatnya ke titik diantara kedua selangkangannya Arvin.


Berbeda dengan Arvin yang terlihat begitu langsung memasang ekspresi waspada, karena jari itu menunjuk sesuatu yang tidak seharusnya di tunjuk-tunjuk, maka tidak dengan Ashera sendiri.


Ashera yang ini, begitu tegas berbicara : "Jika bukan karena ini, aku tidak akan melepas kesucianku. Ya- karena inilah, banyak perempuan jadi korban." Matanya jadi semakin menyipit, menyalahkan sang junior yang terbungkus rapi di dalam sana, sekaligus tersangka atas semua kasus yang sering di permasalahkan oleh banyak perempuan.

__ADS_1


Wajah Arvin jadi makin datar, karena Ashera berani menyentuhnya.


"Ya, tapi bukan sepenuhnya salah dari pada pria kan? Salah dari perempuan itu sendiri kenapa tidak bisa menjaga dirinya sendiri."


"'Hei, kemana akal sehatmu itu? Padahal pada umumnya banyak yang kalah dengan tenaga pria, mereka tidak bisa melarikan diri karena perbedaan itu sendiri, tapi- pada akhirnya, semuanya hanya lebih suka untuk terus menyalahkan perempuan sepertiku." Ungkap Ashera. Meskipun dia bukanlah dia, karena ia adalah dirinya yang lain yang selama ini tersembunyi di dalamnya, tetap saja, semua ingatan yang ada pada tubuhnya itu, akan terus terpatri dengan jelas.


Bagaimana bisa menghilangkannya?


Tidak ada yang bisa, selain membuat kepalanya geger otak.


Mungkin dengan cara seperti itu, kenangan paling menyakitkan itu bisa di lupakan dengan mudah.


Walaupun hanya untuk ingatan nya saja, dan tidak dengan tubuhnya yang sudah jelas pasti akan terus mengingatnya secara otomatis, apalagi jika sudah berhadapan pada orang yang berhasil menodainya.


Arvin tidak suka dengan situasinya saat ini. Sebab, Ashera terlihat sudah tidak mudah di permainkan seperti sebelumnya. Dan semua itu hanya bisa di nilai dari sikap dan cara dari Ashera menatap objek nya.


Dia bukan lagi orang yang akan melepaskan mangsanya dengan mudah.


"Jadi? Kira-kira apa yang ingin kau lakukan sekarang, pada pria yang sudah merebut keperawananmu itu hm?" Tapi, Arvin berpikir kalau apa salahnya menghadapi perempuan yang terlihat lebih menantang seperti Ashera ini?

__ADS_1


Arvin akan mencobanya, sejauh mana sisi Ashera yang lain ini, bisa bertindak untuk menghadapinya.


"Entahlah, kau kan sudah mau bertanggung jawab membuatku jadi istrimu. Aku jadi bingung, kira-kira apa-"


Melihat ekspresi bingung Ashera, Arvin justru terkekeh melihatnya. Apakah ini yang namanya tranformasi dari pelayan menjadi Istri?


Padahal mereka berdua masih SMA, tapi sayang sekali, mereka berdua sudah punya hubungannya sendiri.


"Bukannya ini lucu?" Sinis Arvin, lantas dia berjalan mendekati Ashera, yang mana Ashera sendiri malah berjalan mundur, dan seperti itu terus sampai Ashera kepentok dengan meja kecil yang ada di belakangnya.


"Lucu kenapa?" Tanya Ashera dengan tatapan datar.


"Kau itu hanyalah pelayan, tapi bisa-bisanya kau mendapatkanku, bukannya kau terlalu untung untuk sekedar seorang pelayan rendahan?" Begitu wajahnya sangat dekat, Ashera yang tidak bisa pergi kemanapun itu, wajahnya langsung di cengkram oleh tangannya Arvin.


"Apa kau mau mencoba untuk menghukumku karena aku mendapatkan anak dari cucu yang aku layani?" Seringai Ashera.


Benar, kali ini yang Arvin hadapi bukan Ashera penakut, tapi si pemberani.


"Menurutmu?" Arvin mulai memancing Ashera. Dan sebagai tanda ancamannya, Arvin pun mengeluarkan satu bungkus jajan yang tidak bisa di makan, yaitu alat kontrasepsi yang Arvin dapatkan dari kegiatan razia kelas tadi.

__ADS_1


"Kau- jangan-jangan kau memang sudah jadi anak nakal yang suka dengan begituan ya?"


Mendengar hal itu, Arvin sedikit membungkukkan tubuhnya, menempatkan wajahnya di samping wajah Ashera, tersenyum bagaikan sudah mendapatkan sebuah kemenangan, Arvin berbisik : "Apakah masalah jika aku memang sudah jadi orang seperti itu?" Tanya Arvin, berbisik dengan nada menggoda.


__ADS_2